Fahmi Aldiamar, Fahmi
Kementerian Pekerjaan Umum

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

EVALUASI PETA PERCEPATAN GEMPA SUMATERA (SNI-1726-2002) TERHADAP PETA PERCEPATAN GEMPA MENGGUNAKAN SOFTWARE PSHA Aldiamar, Fahmi
Widyariset Vol 12, No 1 (2009): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.884 KB)

Abstract

Evaluation on seismic hazard map in Sumatra bedrock was needed because the Indonesian seismic hazard map standard (SNI-1726-2002) was built using the 2D seismic source model and a lot of seismic activity around Sumatera occurred after the 8N1-1 7 26-2002 was published. Probabilistic Seismic Hazard (PSHA) software was developed by USGS in 2007 to gain bedrock acceleration value derivedf rom Probabilistic calculation on 3D seismic source using the Next Generation Attenuation (NGA). Therefore this software represented the newest theory to build seismic hazard map and it was used in this research to evaluate and validate the Indonesian standard, particularly Sumatra seismic hazard map. Several phases were done to gain the seismic hazard map, such as collecting and processing earthquake data, calculating seismic risk parameter, acceleration calculation using PSHA software and developing a seismic hazard map using ArcGis Software. Evaluation result indicated that SNI-1726-2002 seismic hazard map in Sumatera bedrock, particularly in region 3,4 and 5 was lower than seismic hazard map developed using PSHA software. The deviation was range between ± 0.05-0.20g.   
PEMODELAN NUMERIK PENENTUAN PANJANG LAJU PENGGALIAN UNTUK TEROWONGAN JALAN Aldiamar, Fahmi; Ariestianty, Susy K
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 31, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1521.924 KB)

Abstract

ABSTRAKPanjang laju penggalian terowongan jalan harus direncanakan dengan mempertimbangkan perilaku batuan, bentuk penampang dan tahapan penggalian yang dilakukan. Pendekatan empiris berdasarkan kategori massa batuan umumnya digunakan untuk menentukan panjang laju penggalian. Untuk mengetahui efektivitas dan kesesuaian pendekatan empiris ini, maka dilakukan pemodelan numeric 3 dimensi dengan metode elemen hingga. Dua kategori massa batuan yaitu kelas massa batuan dari Bieniawski (1989) dan klasifikasi dari Jepang (JSCE, 2007) dibandingkan untuk mendapatkan parameter desain yang akan dimodelkan. Terowongan jalan dua lajur dengan diameter 10 m yang melewati jenis batuan dengan kategori V (sangat jelek) digunakan dievaluasi dalam pemodelan. Bentuk penampang penggalian terowongan yang dimodelkan terdiri 3 (tiga) model, yaitu: penggalian muka bidang galian dengan bench tambahan, bench kecil dan bench ganda. Pemodelan dilakukan untuk mengetahui dua kondisi, yaitu kondisi mendekati kondisi keruntuhan (krisis), yaitu FK ≈ 1,dan kondisi diatas FK minimum yang disyaratkan (FK≥1,8). Hasil analisis menunjukkan bahwa metode penggalian bench ganda dengan panjang laju penggalian maksimum 1,00 m memenuhi kriteria faktor keamanan minimum yang disyaratkan. Hal ini juga menunjukkan kriteria panjang laju pengendalian berdasarkan JSCE (2007) lebih mendekati dibandingkan dengan Bieniawski (1989) yang mensyaratkan laju penggalian 1,5 m.Kata kunci :  laju penggalian, terowongan jalan, metode elemen hingga, model 3D, penampang penggalian 
ANALISIS DAN EVALUASI FAKTOR AMPLIFIKASI PERCEPATAN PUNCAK GEMPA DI PERMUKAAN TANAH Aldiamar, Fahmi; Ridwan, M; Asrurifak, M.; Irsyam, Masyhur
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 27 No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan infrastruktur tahan gempa, umumnya memerlukan data percepatan di permukaan tanah. Saat ini American Society of Civil Engineers (ASCE) 07-2010 memberikan faktor amplifikasi untuk kebutuhan perencanaan bangunan tahan gempa sehingga perencana bisa mendapatkan percepatan dipermukaan dengan mengalikan nilai percepatan Peta Gempa Indonesia 2010 dengan faktor amplifikasi tersebut. Untuk mengetahui kesesuaian faktor amplifikasi tersebut terhadap analisis seismic hazard menggunakan piranti luak PSHA-07-USGS maka dilakukan kajian dengan analisis grid di Sumatera menggunakan variasi kecepatan gelombang geser (VS) yang mewakili Klasifikasi jenis tanah ASCE 07-10 untuk tanah sangat padat dan batuan luak (SC), tanah sedang (SD) dan tanah lunak (SE). Perbandingan faktor amplifikasi antara hasil analisis dan ASCE 07-2010 terhadap 2 (dua) tinjauan periode (PGA dan 0.2 detik) menunjukkan bahwa utuk site SC  dan SD, hasil analisis menunjukkan hasil yang cukup mendekati ASCE 07-2010. Untuk site SE dan periode T = 1 detik, untuk permodelan dengan VS30 < 175m/detik diperoleh deviasi yang cukup besar antara analisis dan ASCE 07-2010. Hal ini kemungkinkan disebabkan oleh keterbatasan permodelan, yaitu hanya dapat menggunakan persamaan atenuasi tertentu yang hanya mewakili sumber gempa sesar. Untuk mendapatkan faktor amplifikasi yang baik disarankanuntuk melakukan analisis respon dinamik spesifik berdasarkan kondisi tanah lokal yang sesuai dengan klasifikasi ASCE 07-2010.   Kata kunci : Analisis seismic hazard, faktor amplifikasi, percepatan puncak di permukaan, respon spektra di permukaan.
ANALISIS RESIKO GEMPA DI BATUAN DASAR Aldiamar, Fahmi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 26 No 3 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peta percepatan gempa maksimum di batuan dasar Indonesia merupakan salah satu bagian dari Standar Nasional Indonesia tentang Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung yang menggambarkan tingkat resiko kegempaan untuk wilayah Indonesia yang digunakan sebagai dasar perhitungan beban gempa pada struktur. Dengan banyaknya kejadian gempa-gempa besar dalam beberapa tahun terakhir ini yang tentu sangat mempengaruhi tingkat resiko kegempaan Indonesia. Untuk itu, dilakukan pembuatan peta percepatan gempa di Sumatera, Jawa-Sumba dan Kalimantan sebagai bagian dari analisa resiko gempa untuk seluruh Indonesia berdasarkan data-data terbaru dengan menggunakan permodelan sumber gempa 3D dan bantuan piranti lunak PSHA-07-USGS. Berdasarkan hasil analisis yang mengacu pada Unified Building Code 97 yaitu untuk periode ulang 475 tahun diperoleh rentang PGA maksimum untuk Sumatera yaitu 0.02-0.85g. Jawa-Sumba yaitu 0.02-0.65g dan Kalimantan yaitu 0.005-0.2g. Keseluruhan hasil menunjukkan nilai yang lebih besar dibandingka peta percepatan gempa yang terdapat di Standar Nasional Indonesia tentang Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung. Hasil penelitian menunjukkan nilai yang cukup komparatif hanya di wilayah Sumatera dengan penelitian-penelitian lain yang belum lama ini dipublikasikan. Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi hasil perhitungan antara lain : data gempa, permodelan sumber gempa dan pemilihan fungsi atenuasi.   Kata kunci : Analisis resiko gempa, peta percepatan gempa, batuan dasar, permodelan sumber gempa 3D, pemilihan fungsi atenuasi, sumber gempa 
Analisis Respons Tanah Di Permukaan Pada Beberapa Lokasi Pemboran Dangkal Stasion Gempa Bmkg Ridwan, Mohamad; Aldiamar, Fahmi
Jurnal Permukiman Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.45-57

Abstract

Analisis hazard gempa untuk wilayah Indonesia sudah disusun dalam peraturan gempa Indonesia (SNI-1726-2012) untuk Peak Ground Acceleration (PGA) dan spektrum respons dibatuan dasar, sedangkan aplikasi untuk disain struktur harus dihitung dipermukaan dengan mempertimbangkanefek tanah lokal. Analisis respon spesifik site dapat dilakukan dengan menggunakan analisis perambatan gelombang dari batuan dasar ke permukaan berdasarkan input parameter tanah dan goyangan di batuan dasar. Pada penelitian ini dilakukan analisis respon spesifik situs pada empat lokasi yang telah diketahui kondisi tanahnya berdasarkan hasil uji pengeboran dan Standard Penetration Test (SPT) yaitu di Serang, Sukabumi, Cilacap, dan Wonogiri yaitu lokasi stasion seismograf milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hasil analisis pada seluruh lokasi tersebut diperolehspektrum respons dipermukaan pada perioda 1,0 detik terjadi amplifikasi, sedangkan pada PGA dan spektrum respons 0,2 detik terjadi deamplifikasi. Bila dibandingkan dengan ASCE-07-10 untuk jenis tanah sedang (SD) memperlihatkan nilai amplifikasi hasil penelitian yang lebih rendah. Hal ini tentunya akan menjadi bahan kajian dan evaluasi lebih lanjut untuk kebutuhan praktis. 
Kajian Awal Kelas Situs Untuk Perencanaan Ketahanan Gempa Struktur Bangunan Gedung Di Dki Jakarta Aldiamar, Fahmi; Ridwan, Mohamad; Rusli, Rusli
Jurnal Permukiman Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.108-114

Abstract

Untuk kebutuhan perencanaan ketahanan gempa struktur bangunan gedung, diperlukan parameter disain berupa percepatan puncak dan spektra disain di permukaan tanah. Untuk mendapatkan parameter tersebut diperlukan klasifikasi kelas situs, sehingga parameter gempa di permukaan dihasilkan dari percepatan di batuan dasar atau pada kelas situs B (SB) dikalikan dengan faktor koefisien situs. Klasifikasi kelas situs ditentukan oleh SNI 1726 : 2012 untuk lapisan tanah setebal 30 m dapat ditentukan berdasarkan nilai uji penetrasi standar ( N ), kecepatan rambat gelombang geser ( V s ) atau kuat geser niralir ( S u ). Mengingat umumnya uji penetrasi standar dilakukan di Indonesia, maka pada tulisan ini disampaikan evaluasi kelas situs berdasarkan data penetrasi standar hingga kedalaman 30 m yang dikumpulkan dari kegiatan microzonasi Jakarta yang dilakukan oleh kerjasama antara Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Litbang Pemukiman, Pemerintah DKI dan Institut Teknologi Bandung. Analisis awal menggunakan metode fungsi berbasis radial dengan fungsi spline Kernel pada data uji penetrasi standar di DKI Jakarta menunjukkan bahwa hampir keseluruhan area Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masuk dalam kategori kelas situs E (tanah lunak) dengan nilai N <15, sedangkan beberapa bagian di Jakarta Barat, Timur dan Selatan terlihat area dengan nilai N >15 yang menunjukkan bahwa beberapa area di daerah tersebut masuk dalam kategori kelas situs D (tanah sedang).
EVALUASI NUMERIK METODE PENGGALIAN TEROWONGAN CISUMDAWU Indrawan, I Gde Budi; Umbara, Ridwan; Aldiamar, Fahmi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 36 No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menampilkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi metode penggalian Terowongan Cisumdawu sisi kiri (barat) menggunakan metode numerik. Menggunakan data hasil penyelidikan tapak dalam proses perancangan dan data hasil face mapping di delapan stasiun titik amat, penggalian terowongan dengan metode bench cut (multiple), full face with bench cut dan centre diaphragm dimodelkan secara numerik dalam dua dimensi menggunakan metode elemen hingga. Hasil pemodelan numerik dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan untuk menentukan metode penggalian yang paling sesuai diterapkan di Terowongan Cisumdawu. Hasil penelitian menunjukkan roof displacement terowongan dengan metode penggalian bench cut (multiple) yang diperoleh dalam pemodelan numerik mendekati roof displacement pada pengukuran lapangan. Metode penggalian bench cut (multiple) yang diterapkan di lapangan menghasilkan nilai roof displacement lebih rendah dibandingkan metode full face with bench cut dan centre diaphragm. Namun demikian, ketiga metode penggalian tersebut masih memenuhi batasan nilai displacement maksimum 10 cm yang ditentukan dalam JSCE (2007) dan menghasilkan nilai roof strength factor &gt; 1,25 yang menunjukkan terowongan &nbsp;dalam kondisi stabil.