Untung Sudadi, Untung
Departemen Imu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN SAWAH DI WILAYAH PESISIR PROVINSI KALIMANTAN BARAT Yustian, Yustian; Sudadi, Untung; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.605 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.31-37

Abstract

Wilayah Pengembangan (WP) Pesisir merupakan sentra produksi beras bahkan penyuplai untuk tiga WP lainnya di Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2015, penduduk di WP Pesisir diperkirakan 2.29 juta jiwa. Bila terjadi konversi lahan basah 30,000 ha tahun-1 dan tanpa penambahan luas lahan baku sawah, ada indikasi berkurangnya suplai beras diluar WP Pesisir dan tahun 2016 bahkan mengalami defisit beras. Oleh karena itu, diperlukan arahan yang komprehensif dan strategi untuk pengembangan sawah sawah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi lahan potensial, (2) menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif, (3) menentukan tipologi lahan dan klaster, dan (4) menyusun arah secara spasial dan strategi untuk pengembangan sawah lahan basah di WP Pesisir. Hasil analisis spasial diperoleh luasan lahan potensial 411,950 ha untuk pengembangan padi sawah dari 5,664,580 ha luas total WP Pesisir. Berdasarkan analisis LQ dan SSA ada lima dari tujuh kabupaten/kota sebagai wilayah basis pertanian padi, sedangkan analisis tipologi membentuk tiga klaster wilayah. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten yang paling besar luas lahan potensialnya disusul oleh Kota, merupakan wilayah basis unggulan dan aktivitas pertaniannya yang sudah berkembang sehingga paling diprioritaskan untuk pengembangan kawasan padi sawah.
SPATIAL MODEL OF LAND DEGRADATION AND WATER POLLUTION CAUSED BY ILLEGAL GOLD MINING ACTIVITIES IN RAYA WATERSHED, W Romiyanto, Romiyanto; Barus, Baba; Sudadi, Untung
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 17 No 2 (2015): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.742 KB) | DOI: 10.29244/jitl.17.2.47-53

Abstract

Aktivitas pertambangan emas tanpa izin menyebabkan terbentuknya lubang tambang, tailing, vegetasi tercekam dan lahan terbuka. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengembangkan model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan akibat penambangan emas tanpa izin di DAS Raya, Kalimantan Barat. Model kerusakan lahan dikembangkan berdasarkan perkalian skor umur tambang dan jenis tailing, sedangkan skor untuk model pencemaran perairan didasarkan hasil analisis distribusi spasial kadar total dissolved solids (TDS) dan Hg air Danau Serantangan. Vegetasi di area terdegradasi menunjukkan gejala defisiensi dan toksisitas hara. Berdasarkan NDVI (normalized difference vegetation index), area terdegradasi menghasilkan kisaran nilai 0.1-0.6. Tingkat kerusakan lahan di areal penelitian diklasifikasikan agak rusak (29.33%), rusak (28.70%) dan sangat rusak (41.97% dari total luas 4,551 ha), sedangkan 65.87% atau 83 ha areal perairan Danau Serantangan diklasifikasikan sangat tercemar berdasarkan kadar Hg dan TDS. Tingkat akurasi model spasial kerusakan lahan dan pencemaran perairan yang dikembangkan masing-masing mencapai 88.30 dan 82.57%. Kata kunci: Pertambangan emas tanpa izin, kerusakan lahan, model spasial, pencemaran air
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN PADI BERBASIS PREFERENSI PETANI DAN SUMBERDAYA LAHAN DI KABUPATEN BANGKA SELATAN Akbar, Ardilles; Sudadi, Untung; Gandasasmita, Komarsa
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.851 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.9-15

Abstract

Sebagai penghasil padi terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Bangka Selatan belum mampu mencapai swasembada beras. Meningkatnya aktivitas penambangan timah dan perkebunan di wilayah ini memicu petani padi untuk beralih profesi menjadi penambang timah atau bekerja di sektor penunjang pertambangan timah. Diperlukan strategi yang tepat untuk mengantisipasi permasalahan terkait ketahanan pangan tersebut. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis prioritas strategi pengembangan pertanian padi berdasarkan hirarki preferensi petani, (2) mengidentifikasi sumberdaya lahan tersedia untuk pengembangan pertanian padi berbasis interpretasi citra Landsat dan evaluasi kesesuaian lahan, serta (3) menyusun arahan pengembangan lahan pertanian padi di Kabupaten Bangka Selatan. Dua strategi utama yang diprioritaskan petani adalah pengembangan infrastruktur pertanian dan sarana-prasarana produksi padi. Strategi penting lainnya yang dipilih petani daerah cukup berkembang adalah peningkatan pemasaran hasil, sedangkan petani daerah belum berkembang lebih memilih peningkatan insentif dari pemerintah. Sumberdaya lahan yang sesuai untuk budidaya padi ladang teridentifikasi berkelas S1 dan S3 masing-masing seluas 8,460 dan 12,630 ha, sedangkan untuk padi sawah berkelas S1, S2 dan S3 masing-masing seluas 8,680; 30 dan 3,070 ha. Strategi pengembangan di daerah cukup berkembang terutama diarahkan untuk peningkatan produktivitas usahatani, sedangkan di daerah berkembang untuk melindungi eksistensi aktivitas pertanian padi.
ACACIA AURICULIFORMIS AND ERAGROSTIS CHARIIS: POTENTIAL VEGETATIONS FROM TIN-MINED LANDS IN BANGKA ISLAND AS PB AND SN PHYTOREMEDIATOR: ACACIA AURICULIFORMIS DAN ERAGROSTIS CHARIIS: VEGETASI POTENSIAL DARI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH PULAU BANGKA SEBAGAI FITOREMEDIATOR PB DAN SN Sari, Eka; Giyanto, Giyanto; Sudadi, Untung
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.849 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.1-7

Abstract

Timbal (Pb) dan Timah (Sn) merupakan logam berat yang paling umum ditemukan di lahan bekas tambang timah, Pulau Bangka. Pemulihan tanah tercemar logam berat dapat dilakukan dengan teknologi fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi dan struktur vegetasi di lahan bekas tambang timah, mengevaluasi akumulasi Pb dan Sn di dalam tanah dan jaringan vegetasi dominan, serta menentukan vegetasi potensial untuk dimanfaatkan sebagai fitoremediator Pb dan Sn. Pengamatan dilakukan di lahan bekas tambang timah yang sudah direklamasi (LBTR), lahan bekas tambang timah yang belum direklamasi (LBTB), dan lahan hutan sekunder sebagai kontrol. Vegetasi dominan ditentukan berdasarkan kurva spesies area dan analisis vegetasi dengan metode Kuadrat. Akumulasi Pb dan Sn dalam tanah dan jaringan vegetasi dominan masing-masing ditetapkan menggunakan pengekstrak Morgan dan toxicity characteristic leaching procedure (TCLP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sn-tanah  tidak terdeteksi. Kadar total Pb-tanah di LBTR dan LBTB melebihi baku mutu. Kadar total Pb-tanah tertinggi terukur di LBTR. Kadar Pb dan Sn pada jaringan vegetasi dominan tidak melebihi batas normal. Acacia auriculiformis di lahan hutan sekunder dan Eragrostis chariis di LBTB berpotensi sebagai fitoremediator Pb dan Sn. Kata kunci: Acacia auriculiformis, Eragrostis chariis, Pb, fitoremediator, Sn
POTENTIAL USE OF ALKALINE-ACTIVATED INDONESIAN PUMICE POWDER AS LEAD ADSORBENT IN SOLUTION SYSTEM Hasanah, Faridlotul; Anwar, Syaiful; Hartono, Arief; Sudadi, Untung
SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 16, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/stjssa.v16i2.34621

Abstract

Pumice is a volcanic material that found abundant in Indonesia. Owing to its physicochemical characteristics it can be utilized as a low-cost natural adsorbent for cationic contaminants. This study aimed to assess the performances of adsorbents prepared from NaOH-activated powder of Lombok and Kediri pumices for lead removal in solution systems based on their maximum adsorption capacity and removal efficiency parameters. The adsorption tests were done in batch experimentation using pumice powder of 74 ?m particle size activated with 0.5, 1, and 2 M NaOH and lead solutions with initial concentrations of 0-260 mg.L-1. The most favorable NaOH activation concentration for both pumices was 0.5 M which resulted from Lombok pumice prepared-adsorbent with Pb maximum adsorption capacity based on linearized conventional and rearranged Langmuir isothermal adsorption models of 236.4 and 186.3 mg.g-1, while those of Kediri pumice were of 218.4 and 210.8 mg.g-1, respectively. The removal efficiency of both adsorbents were >80% at the initial Pb concentration of <100 mg.L-1 and around 50-80% at 100-260 mg.L-1. Both pumices are therefore considered potential to be utilized as an adsorbent for cationic contaminants in solution systems with reliable performances.
PRODUKSI BIODIESEL DARI BIOMASSA Chlamydomonas sp. ICBB 9113 DIKULTIVASI MENGGUNAKAN MEDIA YANG MURAH: EFEKTIFITAS DARI BEBERAPA METODE EKSTRAKSI Patmawati, Patmawati; Ibrahim, Bustami; Setyaningsih, Iriani; Sudadi, Untung
Widyariset Vol 17, No 2 (2014): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.292 KB)

Abstract

The main challenges to overcome in biodiesel production from microalgae are lower oil yield, as compared to those derived from plant and animal biomass, and expensive culture media. This work was aimed to compare the effectivity of three extraction methods differed in solvent used, e.g. n-hexane (N-hex), ethanol (Eth), and mixture of chloroform-methanol-water (CMW), to extract crude lipid and biodiesel from dry biomass of Chlamydomonas sp. ICBB 9113. This microalgae was cultivated in a cheap culture media using N and P soil fertilizers as nutrient sources. The results showed that, by using N-hex, Eth, and CMW methods, it could be extracted, respectively, 0.06%, 4.51%, and 20.45% crude lipid, and 384.2, 1333.8, and 2430.6 mg/100g biodiesel. The fatty acid profile of the studied microalgae biomass was: C8:0 (0.11%), C10:0 (0.09%), C14:0 (7.70%), 16:0 (1.39%), C18:0 (0.85%), C14:1 (5.12%), C16:1 (7.09%), C18:1 (8.28%), C18:2 (12.80%), and C18:3 (42.57%). Fatty acid characterization showed that Chlamydomonas sp. ICBB 9113 was dominated by C18: 3 and C16:0. Therefore, these microlagae were suitable to be used as raw material for biodiesel production to substitute the conventional fuel.
APLIKASI KLEINANO DARI TUF VOLKAN GUNUNG SALAK INDONESIA SEBAGAI ADSORBEN ALAMI KONTAMINAN ANIONIK: FOSFAT PERAIRAN Sudadi, Untung; Anggriawan, Rendy; Anwar, Syaiful
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol. 9 No. 4 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.9.4.1032-1040

Abstract

Indonesia is rich with volcanic tuff-derived Andisols that contain variable charged minerals. This research was aimed at to extract nanoclays (diameter <200 nm) from volcanic tuffs, and to evaluate their potential as natural adsorbent of phosphate as contaminant in waters. Volcanic tuffs were taken from the 3rd (tv3) and 4th(tv4) layers of an Andisol profile at the foot slope of Salak Mountain Indonesia using dispersion-ultrasonication-centrifugation-dialysis separation procedure. By dispersing the materials in an acid condition (pH 4.0) followed with ultrasonication, it could be separated positively-charged nanoclays (nc3 and nc4) from the negative ones. The separated nanoclays were then purified using centrifugation and membrane dialysis techniques. Potential of the extracted nanoclays as natural phosphate adsorbent was evaluated by characterizing their adsorption maxima (b values) according to the Langmuir isothermal adsorption model. It could be extracted 2.82 mg nc3/g tv3 and 4.29 mg nc4/g tv4. The b values of nc3 at 12, 24, and 48 hours equilibration time (76.48, 92.10, and 117.54 mg P/g nc3) were higher than those of nc4 (50.17, 59.52, and 71.99 mg P/g nc4). The most effective equilibration-time was 48 hours. The extracted nanoclays were considered prospective as natural adsorbent for removal phosphate contaminant in waters
POLA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG DI KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Ramadhan, Risky; Widiatmaka, Widiatmaka; Sudadi, Untung
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 6, No 2 (2016): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.6.2.159

Abstract

Perkembangan sosial ekonomi wilayah yang dinamis memberikan dampak terhadap penggunaan lahan. Ketersediaan lahan yang tetap mengakibatkan terjadinya persaingan dalam pemanfaatan lahan, dengan konsekuensi perubahan penggunaan lahan yang semakin intensif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pola perubahan penggunaan lahan pada beberapa titik tahun (2001, 2008 dan 2015) di Kabupaten Banjarnegara, dan (2) mengevaluasi kesesuaian antara pemanfaatan ruang saat ini dengan alokasi ruang berdasarkan RTRW Kabupaten Banjarnegara. Metodologi yang digunakan adalah analisis spasial pada citra dan analisis inkonsistensi alokasi pola ruang dalam RTRW dan pemanfaatan ruang. Penggunaan lahan di Kabupaten Banjarnegara tahun 2001 didominasi kebun dengan proporsi 40.018,5 ha, tegalan 28.524 ha, sawah 18.319,1 ha , hutan 10.163,8 ha, lahan terbangun 8.895,1 ha, semak belukar 7.203,4 ha, tubuh air 1.716,4 ha dan lahan terbuka 103,2 ha. Pada tahun 2008 terjadi penambahan luasan kebun 1.781,2 ha, lahan terbangun 977,5 ha, semak belukar 618,3 ha, dan tegalan sebesar 155,1 ha. Sementara itu, hutan mengalami penurunan luasan yang siginifikan sebesar 2.498 ha, diikuti oleh sawah sebesar 1.025 ha dan lahan terbuka 9 ha. Pada tahun 2015 terjadi penambahan luasan kebun sebesar 464,1 ha, lahan terbangun 1.048,1 ha, semak belukar 238,6 ha, dan tegalan 474,1 ha. Hutan mengalami penurunan sebesar 1.342,8 ha, sawah 872,8 ha dan lahan terbuka 9,2 ha. Pengaturan alokasi lahan pada pola ruang tahun 2011-2031 Kabupaten Banjarnegara menunjukkan inkonsistensi dengan peta penunjukan kawasan hutan sebesar 13.737 ha atau 11,9% dari luas wilayah. Sementara itu, kondisi penggunaan lahan tahun 2015 di Kabupaten Banjarnegara menunjukkan inkonsistensi dengan alokasi pola ruang sebesar 37.032,7 ha atau 32,1% dari luas wilayah
ANALISIS DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA PANGAN DI KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI Kurniawan, Agus; Ardiansyah, Muhammad; Sudadi, Untung
GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2013.19-2.205

Abstract

Sebagai wilayah “hinterland”, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi memiliki potensi sumberdaya lahan yang perlu dikembangkan dan diarahkan untuk mendukung penyediaan pangan di tingkat lokal maupun regional. Penelitian ini bertujuan menyusun arahan pengembangan lahan untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil analisis menunjukkan potensi ketersediaan lahan prioritas untuk pengembangan padi sawah seluas 55.899 ha dengan kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal) dan 100.870 ha lahan lainnya diarahkan untuk pertanian pangan lahan kering. Untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2031, Kabupaten Muaro Jambi membutuhkan sawah dan lahan kering masing masing seluas 30.545 ha dan 1.064 ha, sehingga potensi lahan yang tersedia masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan Kabupaten Muaro Jambi maupun untuk penggunaan lain. Di sisi lain, dalam Rencana Pola Ruang Kabupaten Muaro Jambi dialokasikan lahan untuk sawah dan pertanian lahan kering masing-masing seluas 6.271 ha dan 65.972 ha. Dari pola ruang lahan pangan tersebut, seluas 1.962 ha sawah dan 18.807 ha pertanian lahan kering tidak sesuai dengan kondisi eksisting. Oleh karena itu, Rencana Pola Ruang ini perlu direvisi.Kata Kunci: arahan pengembangan, swasembada pangan, kesesuaian lahan, ketersediaan lahan, pola ruangABSTRACTAs an hinterland, Muaro Jambi Regency, Jambi Province has potential land resource needs to be developed to support the provision of food both at local as well as regional levels. This research aimed to formulate a land development direction to achieve food self-sufficiency in Muaro Jambi Regency. Results of analyses showed the availability of prioritized land for rice fields development amounted to 55,899 ha with suitability class of S3 (marginally suitable), while another 100,870 ha of the land could be directed for dryland food-crop farming. To achieve the food self-sufficiency in the year 2031, Muaro Jambi Regency needs rice fields and drylands of 30,545 ha and 1,064 ha, respectively. Thus, the potentially available lands still can be developed to meet the food needs in Jambi City or allocated for other land uses as well. On the other hand, in the Spatial Regional Plan of Muaro Jambi Regency, lands allocated for rice field and dryland food-crop farming are 6,271 ha and 65,972 ha, respectively. Of this food-crop spatial pattern, area of 1.962 ha and 18,807 ha that are allocated for rice field and dryland food-crop farming do not match with the existing condition. Therefore, this Spatial Pattern Plan needs to be revised.Keywords: development direction, food self-sufficiency, land availability, land suitability, spatial pattern
ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AREAL BEKAS TAMBANG TIMAH SEBAGAI KAWASAN PARIWISATA DI KABUPATEN BANGKA Meyana, Lia; Sudadi, Untung; Tjahjono, Boedi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.5.1.51

Abstract

Bangka Island is known by the people of Indonesia and the world as the island's largest tin producer in Indonesia and has potential natural attractions such as beaches that surround the island of Bangka.This study is motivated by the former tin mining land that is not used optimally. One of waysis used to utilize former tin mine area is to develop it as a tourism area in Bangka Regency. The aim of this study is to identify and map the former tin mining area, to find out the priority areas of tourism development, to find out the types of tourism that can be developed, and to formulate strategies in the development of the former tin mining area as a tourism area. The analytical method used is the analysis of Geographic Information Systems (GIS), schallogram analysis, AHP and A'WOT (combination of AHP and SWOT). The result showed that the area of the former tin mines in Bangka spread six sub-districts. The priority areas for the development of the former tin mining area as a tourism area directed at Riau, Parit Padang, Kuto Panji and Kenanga Village. According to the perceptions of stakeholders, the types of tourism that can be developed on a former tin mining areas prioritized in the natural attractions of water recreation, culture tourism in the form of a tourist village, and artificial tourism in the form of edutourism. The main priority strategies that can be done is to develop mining tourism as a brand image. Keywords: former tin mining, mining tourism, development strategy