Haryo Triajie, Haryo
Universitas Trunojoyo Madura

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pemetaan Lokasi Fishing Ground dan Status Pemanfaatan Perikanan di Perairan Selat Madura Muhsoni, Firman Farid; Efendy, Mahfud; Triajie, Haryo
Jurnal Fisika FLUX Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Fisika Flux Edisi Februari 2009
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v6i1.3049

Abstract

This research aims at finding the map of waters quality to predictfishing ground, examining the determinant of modeling parameter of fish catchingregion, analyzing catch unit effort (CpUE) and status of fish utilization. Mappingwaters quality parameter is constructed with method of field sample datainterpolation. Besides, the mapping of surface temperature and chlorophyll isextracted from satellite image Landsat. ETM+. In addition, the mapping ofcatching region is resulted in scoring and weighting factors. Accuracy test isdone by method of RMSE. Fishery utilization status is acquired from method ofapproaches holistic (production surplus model). Map waters salinity at straitsMadura ranges between 27 ppm - 46 ppm, pH range from 8-9, brightnessranges from 0-2 m. Sea level temperature from image landsat in dry seasonranges from 24,1 0C - 27,3 0C in rainy season between 24,7 0C - 28,6 0C.Optimum temperature in rainy season is lower than in dry season. Chlorophyll indry season ranges between 0 mg/m3 - 19,6 mg/m3, in rainy season between -0,02 mg/m3 - 41,95 mg/m3. In dry season, the most appropriate catching regionis 58,04 %, appropriate region 36,99% and inappropriate region 4,96 %, while inrainy season, inappropriate region achieves 94,44 %, appropriate 2,89 % andinappropriate 2,65 %. Sea level temperature accuracy test gets RMSE 2,32 andfor chlorophyll content 2,31. Fishery estimation result pelages get CpUE 0.10ton/trip with utilization status indicating over-fishing in tahun1997 and fisherydemersal CpUE 0.03 ton/trip with utilization status indicating a surplus incatching in last three year.
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN Indriyawati, Novi; Abida, Indah Wahyuni; Triajie, Haryo
Jurnal Kelautan Vol 5, No 2: Oktober (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i2.868

Abstract

Fitoplankton (plankton tumbuhan) merupakan produsen dalam rantai makanan sehingga sangat penting untuk mendukung kehidupan biota laut, sedangkan zooplankton (plankton hewan) merupakan konsumen pertama sehingga sangat penting sebagai penghubung antara produsen dengan hewan – hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan zooplankton di perairan sekitar Jembatan Suramadu. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan zooplankton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kelimpahan fitoplankton tinggi pada saat nilai kelimpahan zooplankton rendah dan nilai kelimpahan zooplankton tinggi pada saat nilai kelimpahan fitoplankton rendah. Hasil analisis regresi linear sederhana bahwa diketahui nilai R2 = 0.307 yang artinya bahwa kelimpahan zooplankton dipengaruhi 30.7 % oleh kelimpahan makanan yang dalam hal ini adalah fitoplankton, sedangkan 69.3 % dipengaruhi oleh faktor lain yaitu dapat berupa parameter perairan dan faktor ekologis seperti terjadi pemangsaan oleh predator. Kata kunci : Fitoplankton, zooplankton, Jembatan Suramadu
UJI PERBEDAAN SALINITAS TERHADAP DAYA TETAS TELUR (Hatching Rate) KEPITING BAKAU (Scylla serrata) Mulyawan, Budi; Triajie, Haryo; Perwitasari, Yudhita
Jurnal Kelautan Vol 3, No 2: Oktober (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i2.926

Abstract

Mud crabs (Scylla sp.) is one of marine commodities that is profitable. Mangrove crabs are able to hatch and breed within large variety of salinity. One of the main factors affecting hatching rate and also breeding is salinity. This research is aimed to know the effect of salinity to hatching rate of mud crabs. The design used was complete random sampling through three treatments: those are 15%o, 25%o and 30%o with 3 repetitions. Result of this research shows that hatching rate of mud crabs is affected by salinity. Treatment B (25 %o ) is significantly different with treatment A (15%o) and C (30%o). The most appropriate hatching condition is gained from treatment B with average value 91.8%.Keywords: mud crab, Scylla sp, mangroves
TINGKAT KEKRITISAN DAN KESESUAIAN LAHAN MANGROVE DI KABUPATEN SAMPANG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Muhsoni, Firman Farid; Efendy, Mahfud; Triajie, Haryo; Siswanto, Aries Dwi; Abida, Indah Wahyuni
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.786

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kondisi kekritisan dan kesesuaian lahan mangrove di kabupaten Sampang. Tahap pekerjaan: (1) tahap persiapan; (2) proses pengolahan citra; (3) cek lapangan; (4) analisis data; (5) uji akurasi; dan (6) hasil analisis. Penentuan tingkat kekritisan dan kesesuaian lahan dengan menggunakan pemodelan SIG dengan model indeks. Hasil analisis citra mendapatkan mangrove di Kabupaten Sampang mencapai 914,54 Ha, yang tersebar di 6 Kecamatan. Tingkat kekritisan mendapatkan mangrove dalam kondisi rusak 600,8 Ha (65,7%), mangrove dalam kondisi baik  292,5 Ha (32%) dan mangrove dalam kondisi rusak berat 21,1 Ha (2,3%). Mangrove dalam kondisi tidak rusak sebagian besar terdapat di Kecamatan Sampang mencapai 109,6 Ha atau 11,98%. Mangrove kondisi rusak sebagian besar di Kecamatan Sreseh (39,39 Ha atau 39,39%), mangrove dalam kondisi rusak berat sebagian besar di Kecamatan Sreseh (11,1 ha  atau 1,21%). Kesesuaian lahan mangrove mendapatkan lahan yang sesuai untuk mangrove seluas282,9 Ha (30,9%), cukup sesuai untuk lahan mangrove 624,1 Ha (68,2%) dan sesuai bersyarat mencapai 7,6 Ha (0,8%). Daerah yang sangat sesuai sebagian besar di Kecamatan Sampang (155 Ha).Kata Kunci: kekritisan mangrove, kesesuaian lahan, sistem informasi geografis
UJI AKTIVITAS EKSTRAK TERIPANG PASIR YANG TELAH DIFORMULASIKAN TERHADAP KEMAMPUAN SEX REVERSAL DAN KELANGSUNGAN HIDUP UDANG GALAH (Macrobrachium rosembergii) Triajie, Haryo
Jurnal Kelautan Vol 3, No 1: April (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i1.841

Abstract

Teripang atau Timun laut (Echinodermata) adalah salah satu jenis komoditi laut yang bernilai domestik maupun internasional sub sektor perikanan yang cukup potensial. Salah satu zat bioaktif yang terkandung dalam teripang adalah senyawa steroid. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat efektivitas ekstrak kasar daging teripang yang telah diformulasikan dalam air media pemeliharaan juvenile udang galah terhadap keberhasilan mendapatkan jantan fenotif. Hipotesa yang dipakai pada penelitian ini adalah bahwa masa aktif pemberian ekstrak kasar daging teripang hasil formulasi yang diberikan dalam air media, efektif dapat berpengaruh dalam perkembangan juvenil menjadi jantan fenotif. Metode perendaman dengan dosis ekstrak teripang 10 mg/L, 15 mg/L dan 25 mg/L, dapat menghasilkan populasi jantan lebih tinggi dari kontrol (kontrol negatif/tanpa perlakuan hormon). Kata Kunci : teripang, steroid, jantan fenotif
ANALISA KANDUNGAN GIZI DAN SENYAWA BIOAKTIF KEONG BAKAU (Telescopium (elescopium) DI PERAIRAN SEPULU DAN SOCAH KABUPATEN BANGKALAN Marjuki, Kirno; Hafiludin, H; Triajie, Haryo
Jurnal Kelautan Vol 5, No 1: April (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i1.939

Abstract

Keong Bakau (Telescoplum telescopium), merupakan salah satu jenis gastropoda yang ditemukan dalam jumlah melimpah pada daerah bakau dan tambak. Biota ini memiliki nilai ekonomis dan banyak dikonsumsi difadikan lauk pauk serta memiliki khasiat sebagai obat asma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan proksimat Telescopium telescopium di perairan Sepulu dan Socah, serta senyawa bioaktif Telescopium telescoplum. Hasil analisa proksimat pada perairan Sepulu memiliki protein sebesar 12,43 %; lemak 4,12 %; kadar air 77,08 %; kadar abu 2,77 % dan karbohidrat 3,60 %. Hasil analisa proksimat di perairan Socah didapatkan protein sebesar 12,26 %; lemak 4,60 %; kadar air 77,66 % dan kadar abu 2,50 %; serta karbohidrat 2,98 %. Ekstrak kasar dengan pelarut metanol pada perairan Sepulu dan Socah yang dikomposit, didapatkan rendemen sebesar 0,27 %. Hasil uji senyawa bloaktif ekstrak kasar daging Telescopium telescopium adalah alkaloid, steroid, flavonold, gula pereduksi, dan ninhidrin. Sedangkan untuk senyawa fenol hidrokuinon, karbohidrat, peptide, saponin, dan tannin tidak terdeteksi.Kata kunci : telescopium telescopium, analisa proksimat, senyawa bioaktif
PENGARUH JARAK LOKASI PEMELIHARAAN TERHADAP MORFOLOGI SEL DAN MORFOLOGI RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI DESA LOBUK KECAMATAN BLUTO, KABUPATEN SUMENEP Rozaki, Ardiansyah; Triajie, Haryo; Wahyuni, Eva Ari; Arisandi, Apri
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.783

Abstract

Lokasi pemeliharaan rumput laut pada jarak yang berbeda akan dipengaruhi oleh parameter oceanografi. Rumput laut memiliki syarat hidup pada kondisi yang baik dan mendukung pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi sel dan rumput laut terhadap jarak lokasi pemeliharaan berbeda pada rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii di desa Lobuk, kecamatan Bluto, kabupaten Sumenep. Pemeliharaan Kappaphycus alvarezii menggunakan  metode rakit apung  sebanyak 3 buah diletakkan pada jarak 300 m, 600 m, 900 m. Rancangan percobaan menggunakan RAK kemudian hasil dianalisis dengan sidik ragam untuk mengetahui perbedaan perlakuan. Hasil penelitian didapatkan rata – rata panjang thallus utama rumput laut 13,85 cm (300 m), 13,58 cm (600 m), 14,26 cm (900 m). Rata – rata diameter thallus utama rumput laut 10,19 mm (300 m), 9,97 mm (600 m), 10 mm (900 m). Kemudian untuk hasil ADG, diperoleh 2,43 % (300 m), 3,09 % (600 m), 3,46 % (900 m). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa  morfologi sel dan morfologi rumput laut tidak menunjukkan perbedaaan yang nyata dari setiap jarak lokasi pemeliharaan. Jarak lokasi pemeliharaan 300 m dari garis pantai masih layak digunakan untuk pembudidayaan rumput laut.Kata Kunci: jarak lokasi, morfologi , Kappaphycus alvarezii
STUDI KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PESISIR KENJERAN SURABAYA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN Hariyati, Lutfia; Syah, Achmad Fahruddin; Triajie, Haryo
Jurnal Kelautan Vol 3, No 2: Oktober (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i2.921

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi fitoplankton serta hubungan tingkat pencemaran dengan fase saprobitas di pesisir Kenjeran Surabaya. Pengamatan dilakukan 3 kali pengulangan setiap 1 minggu. Lokasi pengambilan sampel dilakukan tegak lurus garis pantai yang terdiri atas 3 stasiun. Setiap stasiun ada 3 titik• Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapang menggunakan metode observasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai kelirnpahan fitoplankton pada stasiun 1 = 917 ind/l, pada stasiun 2 = 558 ind/l dan pada stasiun 3 = 361 ind/l. Indeks keanekaragaman (H') fitoplankton di lokasi penelitian mempunyai nilai berkisar antara 2,1644 — 2,3445 dengan kategori tingkat keanekaragaman sedang, indeks keseragaman (E) rnempunyai nilal berkisar antara 0,5377 — 0,5993 dengan kategori tingkat keseragaman sedang, indeks dominansi (D) mempunyai nilai berkisar antara 0,2516 — 0,2969 dengan kategori tingkat dominansi rendah atau tidak ada spesies yang mendominasi, dan nilal indeks saprobik di lokasi penelitian berkisar antara 1,3 — 1.9 menunjukkan kategori tingkat pencemaran ringan dengan fase 13-meso/oligosaprobik dan sangat ringan dengan fase oligo/13-mesosaprobik.Kata kunci : Kelimpahan, Struktur Komunitas, Fitoplankton, dan Fase Saprobitas
PENGGUNAAN ZAT ADITIF RAMSOL DALAM MENINGKATKAN MUTU GARAM RAKYAT Efendy, Mahfud; Sidik, Rahmad Fajar; Triajie, Haryo
Jurnal Kelautan Vol 6, No 1: April (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i1.834

Abstract

Garam merupakan benda yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembuatannya metode tradisional belum mampu untuk memenuhi kebutuhan garam nasional non industri. Oleh karena itu adanya pengembangan teknologi yang tepatguna, efektif, efisien, serta ramah lingkungan mutlak diperlukan dalam membantu proses pembuatan garam. Adapun tujuan penelitiannya yakni  untuk mendapatkan teknik/metode yang tepat dalam mengaplikasikan zat aditif (ramsol) yang telah beredar di masyarakat. Penelitian ini menggunakan zat aditif (ramsol) produksi PT. Sumber Alam Niagamas Indramayu Jawa Barat dan air tua (20oBe) dengan perlakuan: tanpa zat aditif (kontrol) (R0); metode Indramayu (R1) dan metode Madura (R2) yang dilakukan pada rumah demplot beralas terpal plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat aditif garam (ramsol) memiliki pengaruh dalam proses pembentukan kristal garam. Kualitas (bau, rasa, warna) garam yang dihasilkan secara visual lebih bagus. Metode madura (colok) merupakan teknik terbaik dalam menghasilkan garam Kata kunci: zat aditif, ramsol, mutu, garam rakyat
Pemetaan Lokasi Fishing Ground dan Status Pemanfaatan Perikanan di Perairan Selat Madura Muhsoni, Firman Farid; Efendy, Mahfud; Triajie, Haryo
Jurnal Fisika FLUX Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Fisika Flux Edisi Februari 2009
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v6i1.3049

Abstract

This research aims at finding the map of waters quality to predictfishing ground, examining the determinant of modeling parameter of fish catchingregion, analyzing catch unit effort (CpUE) and status of fish utilization. Mappingwaters quality parameter is constructed with method of field sample datainterpolation. Besides, the mapping of surface temperature and chlorophyll isextracted from satellite image Landsat. ETM+. In addition, the mapping ofcatching region is resulted in scoring and weighting factors. Accuracy test isdone by method of RMSE. Fishery utilization status is acquired from method ofapproaches holistic (production surplus model). Map waters salinity at straitsMadura ranges between 27 ppm - 46 ppm, pH range from 8-9, brightnessranges from 0-2 m. Sea level temperature from image landsat in dry seasonranges from 24,1 0C - 27,3 0C in rainy season between 24,7 0C - 28,6 0C.Optimum temperature in rainy season is lower than in dry season. Chlorophyll indry season ranges between 0 mg/m3 - 19,6 mg/m3, in rainy season between -0,02 mg/m3 - 41,95 mg/m3. In dry season, the most appropriate catching regionis 58,04 %, appropriate region 36,99% and inappropriate region 4,96 %, while inrainy season, inappropriate region achieves 94,44 %, appropriate 2,89 % andinappropriate 2,65 %. Sea level temperature accuracy test gets RMSE 2,32 andfor chlorophyll content 2,31. Fishery estimation result pelages get CpUE 0.10ton/trip with utilization status indicating over-fishing in tahun1997 and fisherydemersal CpUE 0.03 ton/trip with utilization status indicating a surplus incatching in last three year.