Susi Susanah, Susi
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Jalan Pasteur No. 38 Bandung

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

Prevalence of Hematotoxic Effect of Intravenous Chemotherapy among Retinoblastoma Population in Tertiary Hospital in Bandung, Indonesia Hadiman, Jennifer; Susanah, Susi; Sugianli, Adhi Kristianto
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.591 KB) | DOI: 10.15850/ijihs.v7n1.1520

Abstract

Objective: To observe the prevalence of hematotoxic effect in retinoblastoma patients who were given intravenous chemotherapy with vincristine, etoposide, and carboplatin (VEC) regimen. Retinoblastoma is the second most common cancer in children in Indonesia. Standard chemotherapy agents used in retinoblastoma treatment is VEC given in 7 cycles intravenously. The most common side effect of VEC regimen is hematotoxic effect which might lead to chemotherapy failure.Methods: This study used descriptive method with cross sectional study design. Data were collected from medical records of retinoblastoma patients in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia, from 2014 until 2016 using total sampling technique.Results: Forty-six patients were included in this study. Of those subjects, 36 (78.3%) patients experienced hematotoxic effect. The most common hematotoxic effect occurred were anemia and neutropenia, that occurred in 32 (69.6%) and 18 (39.1%) patients, respectively. The most common hematotoxic effect severity occurred were grade 1 anemia, grade 1 leukopenia, grade 1 neutropenia, and grade 3 thrombocytopenia. Percentage of patients experienced anemia tended to increase until the 7th cycle. Seven (15.2%) patients had anemia prior to chemotherapy administration.Conclusion: The majority (78.3%) of the patients experienced hematotoxic effect on intravenous chemotherapy administration with VEC regimen. Anemia was the most common hematotoxic effect occurred.Keywords: Hematotoxic effect, intravenous chemotherapy, retinoblastoma 
EVALUASI FUNGSI GINJAL PADA PENYANDANG TALASEMIA-β MAYOR ANAK Manurung, Berton Juniper; Susanah, Susi; Gurnida, Dida A.
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.89-95

Abstract

Latar belakang. Informasi keterlibatan ginjal pada penyandang talasemia-? mayor anak masih sedikit. Disfungsi ginjal dipengaruhi berbagai faktor seperti anemia kronis, hipoksia kronis, dan hemosiderosis. Neutrophil gelatinase associated lipocaline urin (NGALu) merupakan penanda biologis dini yang sensitif dan spesifik terhadap gangguan ginjal. Tujuan. Menilai disfungsi ginjal pada penyandang talasemia-? mayor anak menggunakan NGALu.Metode. Penelitian dengan rancang potong lintang dilaksanakan Oktober?November 2018. Subjek adalah penyandang talasemia ? mayor anak di RS. Hasan Sadikin yang menggunakan kelasi besi deferiprondan dipilih secara consecutive sampling. Heteroanamnesis pada orang tua mengenai riwayat penyakit dan frekuensi transfusi. Terhadap subjek penelitian dilakukan pemeriksaan feritin serum, kreatinin serum, dan NGALu. Uji statistik menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil. Sebanyak 71 subjek yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 46 laki-laki dan 25 perempuan. Kadar rerata kreatinin serum 0,38±0,08 mg/dL, median feritin 2897,1 ng/mL, median NGALu 13,8 ng/mL. Peningkatan kadar NGALu ditemukan 11 (15%) subjek. Didapatkan korelasi negatif antara frekuensi transfusi dan kadar NGALu (r= -0,294, p=0,006). Tidak terdapat korelasi baik antara feritin serum dengan kreatinin serum maupun feritin serum dan NGALuKesimpulan. Disfungsi ginjal sudah terindikasi terjadi pada penyandang talasemia-? mayor anak.
Korelasi Kadar Feritin dengan Jumlah CD4, CD8, dan Rasio CD4/CD8 pada Penyandang Talasemia Mayor Anak Arseno, Bonnie; Setiabudi, Djatnika; Susanah, Susi
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.834 KB) | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.76-80

Abstract

Latar belakang. Pada talasemia mayor, peningkatan penyerapan besi dan transfusi darah regular mengakibatkan penumpukan besi pada berbagai organ dan gangguan sistem imun melalui berbagai mekanisme. Keadaan ini berkaitan dengan risiko infeksi pada penyandang talasemia mayor anak.Tujuan. Untuk menganalisis korelasi kadar feritin dengan jumlah CD4, CD8, dan rasio CD4/CD8 pada penyandang talasemia mayor anak.Metode. Penelitian observasional analitik menggunakan rancangan potong lintang, subjek 30 anak yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data menggunakan uji korelasi.Hasil. Didapatkan jumlah CD4 absolut, CD4%, CD8 absolut dan rasio CD4/CD8 menurun. Selain itu, terdapat jumlah CD4 absolut, CD8 absolut dan CD8% meningkat. Pada kelompok usia ≤5 tahun, korelasi kadar feritin dengan CD8 absolut, CD8%, dan rasio CD4/CD8 berturut-turut menghasilkan koefisien korelasi 0,691, 0,557, -0,680, dan p<0,05. Sementara pada kelompok lama terapi ≤5 tahun korelasi kadar feritin dengan CD8 absolut, CD8%, dan rasio CD4/CD8 menghasilkan koefisien korelasi 0,709, 0,571, -0,726 dengan p<0,05. Kesimpulan. Tidak terdapat korelasi antara kadar feritin dengan jumlah CD4, CD8, rasio CD4/CD8. Peningkatan kadar feritin akan diikuti dengan peningkatan jumlah CD8 absolut dan CD8%, serta penurunan rasio CD4/CD8 pada penyandang talasemia mayor anak berdasar atas usia dan lama terapi ≤5 tahun.
Perbedaan Kadar Feritin Serum Pada Penyandang Talasemia β Mayor yang Mengalami Hipotiroid dan Eutiroid Nasaruddin, Burhan; Susanah, Susi; Sudarwati, Sri
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.161-5

Abstract

Latar belakang. Komplikasi penumpukan besi pada organ tiroid berupa hipotiroid. Sebagian besar penelitian yang meneliti hubungan feritin serum dan hipotiroid mendapatkan hasil yang tidak bermakna. Penumpukan besi pada organ dapat dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga menyebabkan perbedaan hasil penelitian.Tujuan. Menentukan perbedaan feritin serum pada penyandang talasemia β mayor dengan hipotiroid dan eutiroid.Metode. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional rancangan cross sectional pada penyandang talasemia β mayor di poliklinik anak Hemato-Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin. Subjek diperiksakan TSH, FT4, T3 dan feritin, dibagi menjadi kelompok hipotiroid dan eutiroid, kemudian diklasifikasikan menjadi hipotiroid nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid. Analisis menggunakan Uji Mann Whitney dan Kruskall Wallis.Hasil. Subjek penelitian 68 anak, 38 subjek (55%) mengalami hipotiroid. Feritin serum kelompok hipotiroid 3275 ng/dL, berbanding 3648 ng/dL pada eutiroid, tidak berbeda bermakna (p=0,443). Terdapat hubungan feritin serum dengan klasifikasi hipotiroid. Feritin serum berdasarkan klasifikasi hipotiroid nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid secara berurutan sebesar 6575, 2687, 4089, dan 3648 ng/mL (p=0,027). Analisis posthoc mendapatkan hipotiroid nyata dan subklinis berbeda bermakna.Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan feritin serum tidak berbeda pada kelompok hipotiroid dan eutiroid, tetapi berbeda pada hipotiroid nyata dan subklinis. Hasil penelitian mendorong dilakukan evaluasi profil tiroid secara rutin sejak dini.
Burden of Pediatric Cancer Treatment: Results of Online Pediatric Cancer Registry Prototype 1 at A Third Referral Hospital in Indonesia Sari, Nur Melani; Reniarti, Lelani; Suryawan, Nur; Susanah, Susi; Wahyudi, Kurnia
Althea Medical Journal Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.214 KB) | DOI: 10.15850/amj.v4n3.1204

Abstract

Background: Despite the impressive progress of high-income countries, childhood cancer survival remains low in low and middle-income countries. Cancer is yet to be considered as a significant public health issue which has implicate only few pediatric cancer registry has been well established. The study aimed to describe the burden of pediatric cancer treatment in a third referral hospital in Indonesia through pediatric cancer registry.Methods: A-three-year retrospective analysis of 15 pediatric cancer diagnosed in children aged under 14 years was conducted at Dr Hasan Sadikin General Hospital, Bandung.  Data were extracted from Online Bandung Pediatric Cancer Registry Prototype 1 and analyzed for age, gender, type of cancer. The outcomes were classified as treatment abandonment, treatment refusal, interrupted treatment, death during treatment, and completed treatment.Results: Seven-hundred and seventy-three children, 452 males and 321 females, were diagnosed with 15 types of malignancies.  Peak incidence for each malignancy was different: at a young age was found in retinoblastoma and hepatoblastoma (mean; 3yo) while at adolescence in bone tumor and chronic myelocytic leukemia (9.1; 10 yo respectively). Distribution of the foremost malignancies recorded was: acute lymphoblastic leukemia (44.5%), retinoblastoma (15.2%), and non-Hodgkin lymphoma (8.9%). The cancer cure rate was very low (9.5%), treatment abandonment was still high (41.7%) and most patients died (27.8%) in the course of therapy either from advanced disease, infection, or late presentation. Meanwhile, 167 patients still continued the interrupted treatment.Conclusions: Cancer management is the burden for hospital, however the general outcome is very poor. 
Burden of Pediatric Cancer Treatment: Results of Online Pediatric Cancer Registry Prototype 1 at A Third Referral Hospital in Indonesia Sari, Nur Melani; Reniarti, Lelani; Suryawan, Nur; Susanah, Susi; Wahyudi, Kurnia
Althea Medical Journal Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.214 KB) | DOI: 10.15850/amj.v4n3.1204

Abstract

Background: Despite the impressive progress of high-income countries, childhood cancer survival remains low in low and middle-income countries. Cancer is yet to be considered as a significant public health issue which has implicate only few pediatric cancer registry has been well established. The study aimed to describe the burden of pediatric cancer treatment in a third referral hospital in Indonesia through pediatric cancer registry.Methods: A-three-year retrospective analysis of 15 pediatric cancer diagnosed in children aged under 14 years was conducted at Dr Hasan Sadikin General Hospital, Bandung.  Data were extracted from Online Bandung Pediatric Cancer Registry Prototype 1 and analyzed for age, gender, type of cancer. The outcomes were classified as treatment abandonment, treatment refusal, interrupted treatment, death during treatment, and completed treatment.Results: Seven-hundred and seventy-three children, 452 males and 321 females, were diagnosed with 15 types of malignancies.  Peak incidence for each malignancy was different: at a young age was found in retinoblastoma and hepatoblastoma (mean; 3yo) while at adolescence in bone tumor and chronic myelocytic leukemia (9.1; 10 yo respectively). Distribution of the foremost malignancies recorded was: acute lymphoblastic leukemia (44.5%), retinoblastoma (15.2%), and non-Hodgkin lymphoma (8.9%). The cancer cure rate was very low (9.5%), treatment abandonment was still high (41.7%) and most patients died (27.8%) in the course of therapy either from advanced disease, infection, or late presentation. Meanwhile, 167 patients still continued the interrupted treatment.Conclusions: Cancer management is the burden for hospital, however the general outcome is very poor. 
Korelasi Feritin Serum dengan Neopterin Serum pada Penyandang Talasemia-β Mayor Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Fadhillah, Idham; Susanah, Susi; Hakim, Dzulfikar Djalil Lukmanul
Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.719 KB) | DOI: 10.14238/sp20.2.2018.85-89

Abstract

Latar belakang. Penyandang talasemia-β mayor berisiko lebih tinggi mengalami infeksi akibat disfungsi sistem imun karena kelebihan besi. Beban besi tubuh dapat ditunjukkan oleh kadar feritin serum (FS) sementara kadar neopterin serum (NS) merupakan penanda sensitif imunitas seluler tubuh.Tujuan. Mengetahui korelasi kadar FS dengan NS pada penyandang talasemia-β mayor anak.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada penyandang talasemia-β mayor anak secara konsekutif yang telah mengalami kelebihan besi di Klinik Talasemia Anak RSUP Dr Hasan Sadikin pada Februari 2018. Subjek penelitian dipilih secara konsekutif. Kadar FS diperiksa dengan metoda immunoassay (CLIA), sedangkan NS dengan ELISA. Analisis statistik menggunakan korelasi rank Spearman, kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil. Empat puluh anak memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 58% laki-laki dan 48% berusia lebih dari 10 tahun. Median kadar FS dan NS adalah 3391,1 ng/mL dan 0,57 nmol/L dengan rentang FS dan NS, yaitu 1038,1–7490,2 ng/mL dan 0,118–2,220 nmol/L. Secara keseluruhan korelasi kadar FS dengan NS diperoleh r= -0,474; p=0,002, sementara pada kadar FS <2000ng/mL didapatkan korelasi positif (r= 0,250).Kesimpulan. Kadar neopterin serum berkorelasi dengan kadar feritin serum, FS tidak dapat digunakan untuk memprediksi status imun pada penyandang talasemia-β mayor anak.
Kajian Kualitatif Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pernikahan Remaja Perempuan Fitriyani, Dian; Irawan, Gaga; Susanah, Susi; Husin, Farid; Mose, Johanes Cornellius; Sukandar, Hadyana
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 3 (2015): September
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.013 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i3.75

Abstract

WHO bekerjasama dengan UNICEF untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di 25negara penyumbang angka kematian ibu tertinggi, salah satunya Indonesia. Kehamilan remaja akanmeningkatkan risiko kesehatan bagi ibu maupun bayinya. Kematian ibu mencapai 70.000 kematiansetiap tahun, dan kematian ibu tersebut berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran oleh remaja usia15−19 tahun diseluruh dunia. Tujuan Penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhipernikahan remaja perempuan di Wilayah Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif dengan paradigma fenomenologi. Pengambilan subyek diambil dengan teknik purposivesampling. Populasi penelitian adalah remaja perempuan yang telah menikah berusia <20 tahun,suaminya, dan keluarganya sebanyak 21 informan. Hasil penelitian menyatakan bahwa faktoreksternal yang memengaruhi pernikahan remaja perempuan di Wilayah Kabupaten Indramayu yaitusosial budaya, stigma di masyarakat tentang perawan tua, menutupi aib kehamilan diluar nikah,kontrol sosial yang masih tabu mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan, aprioripendidikan, prostitusi, dan pergeseran budaya. Keterbatasan penelitian yaitu terdapat subyek yangsetelah menikah tinggal diluar kota karena mengikuti suami ataupun bekerja, sehingga kemungkinanmasih banyak faktor yang belum terungkap. Simpulan dalam penelitian ini adalah faktor yangmemengaruhi pernikahan remaja perempuan di Wilayah Kabupaten Indramayu, yaitu faktor sosialbudaya yang meliputi, stigma, menutupi aib, kontrol keluarga, apriori pendidikan, prostitusi, danpergeseran budaya.
HUBUNGAN TIPE THALASSEMIA β SERTA POLIMORFISME C.-582 A>G PROMOTOR GEN HAMP DAN STATUS BESI THALASSEMIA β BERAT BARU Susanah, Susi; Idjradinata, Ponpon
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.04 KB)

Abstract

Kelebihan besi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas penderita thalassemia ? berat. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi status besi thalassemia ? berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis  hubungan  tipe thalassemia ? serta polimorfisme c.-582 A>G promotor gen hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) dengan status besi thalassemia ? berat baru. Penelitian dengan metode potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung selama November?Desember 2012. Subjek penelitian adalah penderita thalassemia ? berat yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Subjek belum pernah mendapatkan transfusi darah dan memiliki kadar C-reactive protein normal. Status besi dinilai dengan mengukur kadar feritin serum (FS) dan saturasi transferin (ST). Analisis statistik yang digunakan adalah uji-t, Uji Mann-Whitney, dan uji chi-kuadrat. Didapatkan 29 subjek thalassemia ? berat baru, 24 thalassemia ? mayor dan 5 thalassemia ?/HbE berat. Tidak ada perbedaan status besi antara kedua tipe thalassemia ? berat baru maupun antara yang mengalami polimorfisme dan yang tidak mengalami polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP (p>0,05). Simpulan, tipe thalassemia ? berat dan polimorfisme c.-582  A>G promotor gen HAMP tidak berhubungan dengan status besi penderita thalassemia ? berat yang baru didiagnosis. [MKB. 2015;47(3):192-98]Kata kunci: Feritin, polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP, saturasi transferin, thalassemia ? berat Association of ?-thalassemia Type and Polymorphisms of c.-582 A>G Promoter HAMP Gene and Iron Status in Newly Diagnosed Severe ?-thalassemiaAbstractIron overload is the common  cause of morbidity and mortality in severe ?-thalassemia patients. Many factors influence the  iron status in severe ?-thalassemia. This study aimed to analyze the association of ?-thalassemia type, polymorphism c.-582 A>G promotor hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) gene,  and  iron  status in newly diagnosed severe ?-thalassemia. A cross-sectional study was performed at Dr. Hasan Sadikin General Hospital/Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung from November to December 2012. Subjects were newly diagnosed severe ?-thalassemia patients who were diagnosed based on clinical manifestation and laboratory examination. Subjects had not received any blood transfusion before and had normal CRP level. Transferrin saturation (TS) and serum ferritin (SF) levels indicate iron status. The statistical analysis was performed using t test, Mann-Whitney, and Chi square test. Twenty nine subjects were diagnosed as newly severe ?-thalassemia, 24 ?-thalassemia mayor and 5 with severe ?-thalassemia/HbE. There was no difference in the iron status between the two types of severe ?-thalassemia  and  between those with and without polymorphism of c.-582 A>G promotor HAMP gene in  newly  diagnosed severe  ?-thalassemia (p>0.05). In conclusiosn, the  ?-thalassemia type and polymorphism of c.-582 A>G  promotor HAMP  gene do  not  associate with the iron status  in  newly diagnosed severe ?-thalassemia patients.  [MKB. 2015;47(3):192-98]Key words: Ferritin, polymorphism of  c.-582 A>G  promotor HAMP gene, severe ?-thalassemia, transferrin ration DOI: 10.15395/mkb.v47n3.599
PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI POLIKLINIK TRIO HUSADA MALANG Susanah, Susi; Sutriningsih, Ani; Warsono, Warsono
Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 2, No 3 (2017): Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.759 KB)

Abstract

Hipertensi adalah salah satu penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia danmerupakan penyebab kematian ketiga untuk semua umur (7,4%). Hipertensi didefinisikan sebagai tekanandarah yang melebihi dari 140/90 mmHg. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan pendekatansecara farmakologi, non farmakologi, tersier dan komplementer. Salah satu terapi komplementer yang digunakan yaitu bekam. Bekam merupakan metode pembersihan dengan mengeluarkan darah dan angin dari dalam tubuh melalui permukaan kulit dengan cara menyedot. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi bekam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Desain penelitian ini adalah quasi experimental dengan one group pretest-posttest design. Jumlah sampel sebanyak 23 responden sesuai kriteria inklusi yaitu tahap 2 hipertensi dengan melakukan 1 kali intervensi sebelum dan sesudah terapi bekam. Hasil uji statistik ditemukan adanya perubahan pada tekanan darah yaitu terjadi penurunan dengan selisih nilai mean pada sistole (11,74) dan diastole (7,39). Uji statistik yang digunakan yaitu uji wilcoxon pada sistole dan diastole menunjukan nilai (p = 0,000) yang berarti nilai p < 0,50 sehingga H1 diterima yang artinya terdapat pengaruh terapi bekam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Poliklinik Trio Husada Malang. Saran peneliti untuk peneliti selanjutnya adalah meneliti faktor pola makan yang dapat mempengaruhi tekanan darah, menggunakan true experiment dan efek terapi bekam jangka panjang.