Articles

Found 19 Documents
Search

REVIEW : PENINGKATAN KELARUTAN OBAT DALAM BIDANG FARMASI RAHMAWATI, NURUL FITRI; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.815 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22251

Abstract

ABSTRAKKelarutan obat sangat mempengaruhi tingkat efektivitas dan dosis yang digunakan. Peningkatan kelarutan dengan berbagai macam metode dapat menunjang efektivitas obat.. Review ini bertujuan untuk mengetahui penelitian apa saja yang sudah pernah dilakukan, metode yang digunakan serta hasil dari penelitian. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa peningkatan kelarutan obat sudah lumrah dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Jenis metode yang digunakan mengacu pada jenis senyawa ataupun obat yang akan direkayasa, serta tujuan peningkatan kelarutan dalam bidang farmasi.Kata Kunci : kelarutan, peningkatan, obat ABSTRACTDrug solubility greatly affects the level of effectiveness and dosage used. Increasing solubility with various methods can support the effectiveness of the drug. This review aims to find out what research has been done, the methods used and the results of the study. The results of research conducted by the researchers indicate that an increase in drug solubility is commonplace with satisfactory results. The type of method used refers to the type of compound or drug to be engineered, and the purpose of increasing solubility in the pharmaceutical field.Keywords : Solubility, Increase, Drug.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E-TPGS (D-α-TOCOPHEROL POLYETHYLENEGLYCOL SUCCINAT) TERHADAP PENINGKATAN KELARUTAN OBAT PANEO, MOHAMAD APRIANTO; Rusdiana, Taofik; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.045 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15420

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisika kimia dari suatu zat terlarut dalam pelarutnya. Kelarutan zat dalam suatu obat berpengaruh terhadap jumlah kadar obat didalam tubuh. Peningkatan kelarutan suatu obat dapat menggunakan beberapa metode, salah satunya dengan menambahkan suatu agen peningkat kelarutan. Vitamin E-TPGS merupakan hasil esterifikasi dari Vitamin E suksinat dengan Polietilenglikol. Vitamin E-TPGS banyak diaplikasikan pada formulasi sediaan obat, karena terbukti dapat meningkatkan kelarutan suatu sediaan obat.Kata kunci : Kelarutan, Vitamin E-TPGS, Obat
PENGARUH SUHU TERHADAP STABILITAS OBAT SEDIAAN SUSPENSI zaini, alifa nur; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.52 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10820

Abstract

Stabilitas obat merupakan salah satu pengujian yang penting dalam evaluasi obat, salah satunya adalah dengan mengetahui pengaruh suhu terhadap stabilitas obat. Adapun jika dilihat dari beberapa jurnal penelitian menujukkan bahwa suhu dapat mempengaruhi stabilitas obat, khususnya sediaan suspensi. Dalam jurnal penelitian yang menjelaskan mengenai suspensi diklofenak pada suhu 4oC, 22oC, 40oC,60oC, suhu yang paling stabil adalah pada suhu 4oC (96,3%) dan terjadi penurunan kadar yang signifikan pada suhu 40oC (89,58%) dan 60oC (85,17%). Pada jurnal lain yang membahas mengenai suspensi asam folat menunjukan bahwa obat stabil pada suhu 4oC dan 25oC kecuali pada hari ke 90 terjadi kenaikan pH. Dalam jurnal lain yang membahas mengenai suspensi cefuroxime axetil pada suhu 20o C konsentrasi dari suspensi cefuroxime axetil adalah 87,68% dan pada suhu 5o C adalah 92,35%. Untuk jurnal penelitian yang membahas mengenai suspensi amoksisilin-klavulanat menunjukkan bahwa konsentrasi amoksisilin mulai mengalami penurunan pada hari ke 7 yaitu di bawah 80% dalam sementara klavulanat yaitu kurang dari 70%. Keempat sediaan suspensi tersebut dapat dikatakan stabil pada suhu yang diujikan.Kata Kunci : Stabilitas obat, suspensi, suhu.
EVALUASI SEDIAAN FISIK EMULGEL MENGANDUNG MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria, (Berg.) Roscoe) Mahdi, Nur; Mudhakir, Diky; Gozali, Dolih
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.893 KB) | DOI: 10.12928/mf.v15i2.12657

Abstract

Temu putih atau disebut juga kunir putih merupakan salah satu spesies dari familiZingiberaceae yang telah dikomersilkan penggunaan rimpangnya sebagai tanaman obat.Komponen terbesar dari rimpang temu putih, yaitu minyak atsiri yang mempunyai efekantiinflamasi. Penggunaan rimpang temu putih sebagai antiinflamasi di masyarakatmasih secara empiris, dengan mengoleskan air perahan rimpang temu putih pada kulit.Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan minyak atsiri yang terkandung dalam temuputih, dilakukan formulasi emulgel yang mengandung minyak atsiri denganpenambahan PEG 8 beeswax agar didapat sediaan emulgel yang stabil, baik dan amandigunakan. Tahap penelitian yang dilakukan meliputi penyiapan bahan, determinasibahan, skrining fitokimia, destilasi menggunakan uap-air, analisis komponen kimiadengan GC-MS, serta uji kualitatif minyak atsiri dengan sediaan emulgel yangmengandung minyak atsiri, formulasi emulgel mengandung minyak atsiri denganmenggunakan emulsifying wax konsentrasi 6,5%, 7%, 7,5%, dan 8%. Evaluasi sediaanmeliputi pengamatan organoleptik, pH, viskositas, sentrifugasi, serta uji hedoniksediaan. Berdasarkan hasil evaluasi pengamatan organoleptik, pH, viskositas,sentrifugasi, serta uji hedonik sediaan menunjukkan bahwa kestabilan dalam batasrentang yang dibolehkan. Formulasi emulgel yang terbaik ditunjukkan pada formula ke-4 pada konsentrasi PEG 8 beeswax 8%.
Formulasi dan Evaluasi Tablet Dispersi Padat Kalsium Atorvastatin Gozali, Dolih; Wardhana, Yoga Windhu; Shofa, Shofa
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 2, No 2 (2015): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kalsium Atorvastatin  merupakan obat antihiperlipidemia golongan statin.  Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS),   Kalsium Atorvastatin termasuk dalam golongan obat yang memiliki kelarutan rendah. Kelarutan atorvastatin yang rendah dalam air menyebabkan laju disolusi rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan disoluisi adalah dengan  dispersi padat. Dispersi padat  yaitu suatu keadaan dimana satu atau lebih bahan aktif terdispersi dalam polimer pembawa pada keadaan padat. Pada penelitian sebelumnya (Lakshmi, 2010), dispersi padat atorvastatain kalsium dengan PEG 6000 (1:3) menunjukkan hasil laju disolusi yang tertinggi. Pada penelitian ini dispersi padat kalsium atorvastatain (ATC) dengan PEG 6000 sebagai pembawa hidrofilik dalam perbandingan 1:3, 1:6, 1:9 Kemudian hasilnya dibuat tablet dengan metode kempa langsung. Uji disolusi dilakukan dengan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil disolusi yang dilakukan, menunjukkan bahwa  bahwa adanya peningkatan laju  disolusi dilihat dari persen terdisolusi yang dihasilkan setelah 30 menit yaitu sebesar  formula 1 (ATC tanpa PEG 6000)  25,63%, formula 2  (1:3) 27,90 %), formula 3 (1:6)  31,83 % dan  formula 4  (1:9)   13,61 %. Kata Kunci :  Kalsium Atorvastatin, Dispersi Padat, Disolusi, PEG 6000 ABSTRACTAtorvastatin calcium is anti-hyperlipidemia drugs known as statins. Based on Biopharmaceutical Classification System (BCS), Calcium Atorvastatin belongs to a class of drugs which have low solubility. The low solubility of atorvastatin in water causes low dissolution rate. One way to improve disolution is by solid dispersion. Solid dispersion is a condition which one or more active ingredients dispersed in a polymer carrier in the solid state. In the previous study (Lakshmi, 2010), solid dispersion of calcium atorvastatain with PEG 6000 (1: 3) showed the results of highest dissolution rate. In this study, solid dispersions of calcium atorvastatain (ATC) with a hydrophilic PEG 6000 as a carrier in a ratio of 1: 3, 1: 6, 1: 9 Then the results are made into tablet by direct compress method.  Dissolution rates are tested by UV-Vis spectrophotometry. The dissolution result shows that there is an increase of the  dissolution rate, viewed by percent dissolved after 30 minutes in the amount of formula 1 (ATC without PEG 6000) 25.63%, formula 2 (1: 3) 27.90%), formula 3 (1: 6) 31.83% and the formula 4 (1: 9) 13.61%.Keyword : Atorvastatin calcium, Solid Dispersion, Dissolution, PEG 6000
Hubungan Kesesuaian Penulisan Resep dengan Formularium Nasional Terhadap Mutu Pelayanan pada Pasien Jaminan Kesehatan Nasional di Rumah Sakit Umum di Bandung Pratiwi, Winda Ratna; Kautsar, Angga Prawira; Gozali, Dolih
Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Directorate of Research and Community Engagement, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.708 KB) | DOI: 10.7454/psr.v4i1.3713

Abstract

Pharmaceutical service is one of the activities in hospital that support health service quality. One of the factors that can improve quality of pharmaceutical services is prescription services. In the era of National Health Insurance, prescription given to the patients should be based on the National Formulary. If prescriptions did not suit the national formulary, it would influence the services quality on pharmacy unit. The purposes of this study were to determine suitability of prescription outpatients national health insurance with national formulary and to determine the relationship of the suitability of prescription with a national formulary to service quality in pharmacy unit in one of general hospitals in Bandung. A cross sectional with servqual questionnaire was used to the patients and the 262 prescription samples needed were taken in January 2017. Mann Whitney test is used for bivariate analysis. The result indicated 91.7% prescriptions was suited the national formulary and the rest was not. There was a significant difference between prescription suitability with the national formulary to service quality in pharmacy unit in the hospital with p-value 0.00 (p< 0,05). It can be concluded that higher percentage of prescriptions suitability with the national formulary in hospital related with the better service quality of pharmacy unit.
Peningkatan Permeasi Mikroemulsi Ketoprofen Gozali, Dolih; Warhead, Fara; Levita, Jutti; Khoirunisa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.418 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7811

Abstract

Penggunaan obat yang sukar larut air tidak efisien apabila kadar penetrasi obat ke dalam tubuh sangat kecil. Mikroemulsi ialah satu sistem dispersi yang dapat meningkatkan kelarutan obat. Pada penelitian ini dilakukan formulasi mikroemulsi ketoprofen menggunakan zat peningkat penetrasi mentol (0%, 1%, 3%, 5%). Asam oleat digunakan sebagai fase minyak, tween 80 sebagai komponen surfaktan, dan propilen glikol sebagai kosurfaktan. Evaluasi sediaan mikroemulsi dilakukan dengan uji permeasi mikroemulsi ketoprofen secara in vitro menggunakan sel difusi Franz terhadap membran kulit ular dengan medium dapar fosfat pH 7,4 selama 90 menit. Formula F4 (mengandung mentol 5%) menunjukkan permeasi tertinggi setelah 90 menit (16,21 ppm) dibandingkan dengan F1 (tidak mengandung mentol). Keempat formula memiliki kestabilan yang baik selama pengamatan. Dapat disimpulkan bahwa mentol meningkatkan permeasi ketoprofen. Kata kunci: Ketoprofen, mentol, mikroemulsi, uji permeasi
Formulasi dan Evaluasi Tablet Dispersi Padat Kalsium Atorvastatin Gozali, Dolih; Wardhana, Yoga Windhu; Shofa, Shofa
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20600/jps.v2i2.5824

Abstract

ABSTRAK Kalsium Atorvastatin  merupakan obat antihiperlipidemia golongan statin.  Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS),   Kalsium Atorvastatin termasuk dalam golongan obat yang memiliki kelarutan rendah. Kelarutan atorvastatin yang rendah dalam air menyebabkan laju disolusi rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan disoluisi adalah dengan  dispersi padat. Dispersi padat  yaitu suatu keadaan dimana satu atau lebih bahan aktif terdispersi dalam polimer pembawa pada keadaan padat. Pada penelitian sebelumnya (Lakshmi, 2010), dispersi padat atorvastatain kalsium dengan PEG 6000 (1:3) menunjukkan hasil laju disolusi yang tertinggi. Pada penelitian ini dispersi padat kalsium atorvastatain (ATC) dengan PEG 6000 sebagai pembawa hidrofilik dalam perbandingan 1:3, 1:6, 1:9 Kemudian hasilnya dibuat tablet dengan metode kempa langsung. Uji disolusi dilakukan dengan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil disolusi yang dilakukan, menunjukkan bahwa  bahwa adanya peningkatan laju  disolusi dilihat dari persen terdisolusi yang dihasilkan setelah 30 menit yaitu sebesar  formula 1 (ATC tanpa PEG 6000)  25,63%, formula 2  (1:3) 27,90 %), formula 3 (1:6)  31,83 % dan  formula 4  (1:9)   13,61 %. Kata Kunci :  Kalsium Atorvastatin, Dispersi Padat, Disolusi, PEG 6000 ABSTRACTAtorvastatin calcium is anti-hyperlipidemia drugs known as statins. Based on Biopharmaceutical Classification System (BCS), Calcium Atorvastatin belongs to a class of drugs which have low solubility. The low solubility of atorvastatin in water causes low dissolution rate. One way to improve disolution is by solid dispersion. Solid dispersion is a condition which one or more active ingredients dispersed in a polymer carrier in the solid state. In the previous study (Lakshmi, 2010), solid dispersion of calcium atorvastatain with PEG 6000 (1: 3) showed the results of highest dissolution rate. In this study, solid dispersions of calcium atorvastatain (ATC) with a hydrophilic PEG 6000 as a carrier in a ratio of 1: 3, 1: 6, 1: 9 Then the results are made into tablet by direct compress method.  Dissolution rates are tested by UV-Vis spectrophotometry. The dissolution result shows that there is an increase of the  dissolution rate, viewed by percent dissolved after 30 minutes in the amount of formula 1 (ATC without PEG 6000) 25.63%, formula 2 (1: 3) 27.90%), formula 3 (1: 6) 31.83% and the formula 4 (1: 9) 13.61%.Keyword : Atorvastatin calcium, Solid Dispersion, Dissolution, PEG 6000
Peningkatan Permeasi Mikroemulsi Ketoprofen Gozali, Dolih; Warhead, Fara; Levita, Jutti; Khoirunisa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.418 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7811

Abstract

Penggunaan obat yang sukar larut air tidak efisien apabila kadar penetrasi obat ke dalam tubuh sangat kecil. Mikroemulsi ialah satu sistem dispersi yang dapat meningkatkan kelarutan obat. Pada penelitian ini dilakukan formulasi mikroemulsi ketoprofen menggunakan zat peningkat penetrasi mentol (0%, 1%, 3%, 5%). Asam oleat digunakan sebagai fase minyak, tween 80 sebagai komponen surfaktan, dan propilen glikol sebagai kosurfaktan. Evaluasi sediaan mikroemulsi dilakukan dengan uji permeasi mikroemulsi ketoprofen secara in vitro menggunakan sel difusi Franz terhadap membran kulit ular dengan medium dapar fosfat pH 7,4 selama 90 menit. Formula F4 (mengandung mentol 5%) menunjukkan permeasi tertinggi setelah 90 menit (16,21 ppm) dibandingkan dengan F1 (tidak mengandung mentol). Keempat formula memiliki kestabilan yang baik selama pengamatan. Dapat disimpulkan bahwa mentol meningkatkan permeasi ketoprofen. Kata kunci: Ketoprofen, mentol, mikroemulsi, uji permeasi
Formulasi Tablet Hisap Yang Mengandung Ekstrak Akar Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) Dan Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) Gozali, Dolih; Susilawati, Yasmiwar; Simorangkir, T.P.H.; Utami, Nadya Firdianna
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aims of this research is to find the best organoleptically acceptable formula of lozenges that contain ginseng and curcuma extract. Lozenges were prepared using wet granulation method with variation in concentration of sweetener (aspartame) and citric acid, i.e. for formula I aspartame 1% and citric acid 3%, formula II aspartame 0,75% and citric acid 4%, formula III aspartame 0,5% and citric acid 5%, and formula IV without aspartame and citric acid. The result of quality test of the tablets showed that tablets have a good quality and complied with the requirement. Thin Layer Chromatography indicated that all formulas still contain active ingredients from ginseng and curcuma extract after formulation process. Organoleptic test showed that formula II is the most suitable compared to the other three formulas. Keywords: formulation, lozenges, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan formula tablet hisap yang mengandung ekstrak Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) yang dapat diterima oleh masyarakat. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi pemanis (aspartam) dan asam sitrat, yaitu untuk formula I aspartam 1% dan asam sitrat 3%, formula II aspartam 0,75% dan asam sitrat 4%, formula III aspartam 0,5% dan asam sitrat 5%, dan formula IV tanpa aspartam dan asam sitrat. Pengujian kualitas tablet menunjukan bahwa tablet memiliki kualitas yang baik dan memenuhi persyaratan. Hasil uji kromatografi lapis tipis menunjukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak ginseng dan temulawak masih terdapat dalam tablet hisap. Hasil uji kesukaan yang dilakukan terhadap 30 responden menunjukan bahwa formula II lebih disukai dibandingkan ketiga formula lainnya. Kata kunci: formula, tablet hisap, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza