J B SUPARYATMO, J B
Bagian/SMF PPDS Patologi Klinik dan Laboratorium Fakultas Kedokteran UNS/RSUD Dr. Moewardi

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Status Gizi dan Umur Ibu Hamil Primigravida dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) di Kabupaten Boyolali Sulistyowati, Anita; Suparyatmo, J B; Hanim, Diffah
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Status  gizi ibu merupakan faktor yang sangat penting berkaitan tidak hanya dengan kesehatan dirinya,tapi juga kesehatan bayi dan pertumbuhannya dimasa datang bahkan dapat digunakan sebagai penentu dari BBLR. Umur ibu saat pertama kali hamil pada beberapa penelitian berkaitan erat dengan kejadian BBLR. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan umur  ibu hamil primigravida dengan  kejadian BBLR.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional kohort. Subjek penelitian adalah ibu hamil primigravida trimester 3 diwilayah Kabupaten Boyolali. Penentuan Puskesmas dipilih menggunakan metode simple random sampling. Penentuan sebanyak 128 subjek penelitian yang dipilih dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara langsung, pengukuran antropometri, pengisian kuesioner dan pemeriksaan hemoglobin dengan metode Cyanmethemoglobin. Data  bivariat dianalisis dengan uji Kaplan Meier untuk melihat hubungan status gizi dan umur dengan kejadian BBLR dan analisa multivariat dianalisis dengan Cox Regression Hazard Ratio diolah dengan SPSS 22.0 for Windows dengan nilai signifikansi p<0,05 pada tingkat kemaknaan 95%.Hasil: Terdapat hubungan secara signifikan antara status gizi berdasarkan penambahan berat badan ibu selama kehamilan dengan kejadian BBLR ditunjukkan dengan nilai p = 0.026 dan pada Confidence Interval = 95% serta tidak ada hubungan antara status gizi berdasarkan IMT  sebelum hamil, LILA, kadar Hb serta umur dengan kejadian BBLR ditunjukkan dengan nilai  p>0,05.Hasil analisa multivariat ditunjukkan bahwa tidak variabel yang berpengaruh terhadap BBLR dengan nilai p>0,05 pada tingkat kemaknaan 95%.Kesimpulan : penting untuk mengetahui status gizi ibu saat awal kehamilan dan penambahan berat badan ibu selama kehamilan. Kata kunci : Status gizi, umur, BBLR.
Pengaruh Konseling Gizi di Puskesmas pada Ibu Hamil Trimester III Penderita KEK terhadap Berat Badan Bayi Lahir di Kabupaten Jember Febriyatna, Ayu; Suparyatmo, J B; Hanim, Diffah
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kekurangan energi kronis (KEK) merupakan kondisi yang sering dijumpai pada ibu hamil. Ibu hamil dengan kondisi KEK dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandungnya sehingga memiliki risiko melahirkan dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Prevalensi kejadian BBLR pada ibu hamil KEK yang tidak mendapatkan konseling gizi secara intensif di kabupaten Jember sebesar 20,1%. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh konseling gizi pada ibu hamil trimester III yang menderita KEK terhadap berat badan bayi lahir di Puskesmas Kabupaten Jember.Metode: Jenis penelitian ini quasi exsperimental dengan rancangan “Pretest-Postest Control Group Design". Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling didapat 37 responden dengan 18 responden pada kelompok kontrol dan 19 responden pada kelompok konseling. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner dan body scale. Data yang didapat di uji menggunakan Independen Sampel T Test, Mann-Whitney, Chi-Square, Kolmogorov-Smirnov dan Fisher’s Exact Test.­Hasil : Konseling gizi tidak berpengaruh langsung terhadap berat badan bayi lahir dengan p=0,380. Konseling gizi meningkatkan asupan energi dan protein yang dilihat dari nilai p=0,000 dan p= 0.014. TFU (tinggi fundus uteri) berkontribusi 4,681 kali terhadap berat badan lahir (BBL). Berat badan ibu berkontribusi 1,375 kali terhadap berat badan bayi lahir. Asupan energi  dan protein masing-masing berkontribusi 1,003 kali dan 0,961 kali terhadap berat badan bayi lahir.Kesimpulan: Konseling gizi dapat meningkatkan asupan energi dan protein pada ibu hamil trimester III. Konseling gizi tidak berpengaruh terhadap BBL pada ibu hamil KEK trimester III di Puskesmas kabupaten Jember karena TFU, BB ibu hamil, asupan energi dan protein berkontribusi terhadap BBL. Konseling gizi pada ibu hamil KEK trimester III tidak mempunyai dampak terhadap kejadian BBLR karena waktu yang terlalu pendek. Kata Kunci : Konseling Gizi, Berat Badan Bayi Lahir, KEK
TAMPANG JENUH TRANSFERIN PENDONOR DARAH ANEMIA Roosarjani, Christina; Wahyuono, Titis; Suparyatmo, J B
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 15, No 3 (2009)
Publisher : PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PATOLOGI KLINIK INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v15i3.977

Abstract

Iron deficiency remains one of the most frequent adverse effects of blood donation. Iron status test used on blood donor screeningis haemoglobin concentration. Other iron status parameters are transferrin saturation. The study aims to determine the profile oftransferrin saturation among certain groups of blood donors at the Blood Transfusion Unit of the Indonesian Red Cross SurakartaBranch. The samples were drawn from blood donors at the Blood Transfusion Unit from June to December 2005. A total of 148 specimenswere classified into 3 groups consist of 49 first time blood donations as group I, 50 of fifth time blood donations as group II, and 49of tenth time blood donations as group III. Transferrin saturation was measured by ratio between serum iron and Total Iron BindingCapacity (TIBC). The data analysed by Anova test to distinguish the difference of transferrin saturation among three groups. The resultsshowed the transferrin saturation decreased from group I to group II and from group II to group III. The transferrin saturation amongthree groups showed significantly difference (p=0.000). It can be concluded that there is a decrease in transferrin saturation accordingto the blood donation frequency among blood donors at the Blood Transfusion Unit of the Indonesian Red Cross Surakarta Branch.Transferrin saturation measurement is needed for another parameter of iron deficiency anaemia among blood donors.