Articles

Found 24 Documents
Search

ANTIBACTERIAL ACTIVITY TESTING OF N-HEXANE FRACTION OF RED DRAGON (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) FRUIT PEEL ON Staphylococcus aureus ATCC 25923 Amalia, Sri; Wahdaningsih, Sri; Untari, Eka Kartika
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.716 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8146

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai menyebabkan mikroorganisme patogen menjadi resisten sehingga pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. Salah satu bakteri yang saat ini mengalami resistensi adalah Staphylococcus aureus. Penemuan senyawa antibiotik baru yang belum mengalami resistensi menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas dan diameter zona hambat yang dihasilkan fraksi n-heksan kulit buah naga merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 2593. Kulit buah naga merah dimaserasi menggunakan kloroform, kemudian difraksinasi dengan pelarut n-heksan. Hasil fraksinasi diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode Disc Diffusion (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 20 dan 40 mg/mL. Kontrol positif yang digunakan adalah ampisilin dan kontrol negatif yang digunakan adalah Dimetil sulfoksida (DMSO). Berdasarkan skrining fitokimia fraksi n-heksan kulit buah naga merah mengandung terpenoid dan alkaloid. Zona hambat yang dihasilkan oleh konsentrasi 40 mg/mL adalah 12,80±1,69 mm dan konsentrasi 20 mg/mL adalah 11,17±1,11 mm. 
ANTIBACTERIAL ACTIVITY TESTING OF N-HEXANE FRACTION OF RED DRAGON (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) FRUIT PEEL ON Staphylococcus aureus ATCC 25923 Amalia, Sri; Wahdaningsih, Sri; Untari, Eka Kartika
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.716 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss2pp89-94

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai menyebabkan mikroorganisme patogen menjadi resisten sehingga pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. Salah satu bakteri yang saat ini mengalami resistensi adalah Staphylococcus aureus. Penemuan senyawa antibiotik baru yang belum mengalami resistensi menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas dan diameter zona hambat yang dihasilkan fraksi n-heksan kulit buah naga merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 2593. Kulit buah naga merah dimaserasi menggunakan kloroform, kemudian difraksinasi dengan pelarut n-heksan. Hasil fraksinasi diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode Disc Diffusion (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 20 dan 40 mg/mL. Kontrol positif yang digunakan adalah ampisilin dan kontrol negatif yang digunakan adalah Dimetil sulfoksida (DMSO). Berdasarkan skrining fitokimia fraksi n-heksan kulit buah naga merah mengandung terpenoid dan alkaloid. Zona hambat yang dihasilkan oleh konsentrasi 40 mg/mL adalah 12,80±1,69 mm dan konsentrasi 20 mg/mL adalah 11,17±1,11 mm. 
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DARI BATANG PAKIS (Alsophila glauca J.Sm) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL) Wahdaningsih, Sri; Wahyuono, Subagus; Setyowati, Erna Prawita
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.41 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss1pp%p

Abstract

Stress oksidatif yang diinduksi oleh radikal bebas diketahui dapat mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Sebagai upaya dalam pencarian senyawa antioksidan alami maka telah dilakukan penelitian isolasi dan identifikasi senyawa  antioksidan dari batang pakis (Alsophila glauca J.Sm) dengan metode DPPH. Penyarian batang pakis dilakukan secara maserasi dengan wasbenzen dan metanol. Ekstrak didapat dengan menguapkan pelarut wasbenzen dengan rotavapor. Setelah semua wasbenzen menguap bahan dimaserasi lagi dengan metanol. Dengan cara yang sama seperti pada wasbenzen hingga didapat ekstrak metanol. Ekstrak ini diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH secara KLT. Ekstrak yang aktif kemudian dipartisi dengan metanol 80%. Ekstrak yang larut dan ekstrak yang tidak larut dalam metanol 80% diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH (KLT). Ekstrak yang aktif difraksinasi dengan kromatografi cair vakum dengan menggunakan fase gerak dengan gradient kepolaran yang berbeda (wasbenzen : kloroform) dengan berbagai konsentrasi. Fraksi yang aktif diisolasi dengan metode KLT preparatif dan diperoleh senyawa yang kemurniannya diuji secara KLT. Isolat yang diperoleh diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH menggunakan alat spektrofotometri. Diketahui mempunyai aktivitas antioksidan penangkap radikal dengan IC50 178,4µg/mL.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN BAWANG MEKAH (Eleutherine americana Merr.) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL) Pratiwi, Dina; Wahdaningsih, Sri; Isnindar, Isnindar
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.591 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss1pp%p

Abstract

Penggunaan dan permintaan terhadap tanaman obat tradisional saat ini semakin bertambah sehingga penelitian ke arah obat-obatan tradisional juga semakin meningkat. Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat yaitu bawang mekah (Eleutherine americana Merr.). Tanaman ini biasanya digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari daun bawang mekah. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) yang diawali dengan ekstraksi secara maserasi. Simplisia daun bawang mekah (150 g) direndam dengan etanol 70% selama 3x24 jam pada suhu kamar. Ekstrak etanol cair yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator dan dipekatkan menggunakan waterbath sehingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian terhadap ekstrak dilakukan skrining fitokimia serta uji pendahuluan dengan metode DPPH secara kromatografi lapis tipis (KLT) dengan fase gerak BAA (4:1:5). Aktivitas antioksidan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan dibandingkan dengan vitamin C. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak mengandung senyawa flavonoid, saponin, fenol dan tanin. Pada uji pendahuluan menggunakan KLT, diperoleh 3 spot yang divisualisasi dengan sinar UV 366 nm dan disemprot dengan DPPH 0,2%. Ketiga spot menunjukkan perubahan warna kuning dengan latar belakang ungu yang menandakan ekstrak positif memiliki aktivitas antioksidan. Hasil pengukuran secara spektrofotometri menunjukkan bahwa ekstrak mempunyai IC50 pada 31,97437 µg/ml, sedangkan vitamin C memiliki nilai IC50 yang lebih rendah (3,90186 µg/ml).
AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI KULIT JERUK PONTIANAK TERHADAP Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Sari, Rafika; Mustari, F. Nour Aulia; Wahdaningsih, Sri
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.8 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss2pp%p

Abstract

Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh bakteri patogen diantaranya Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri adalah minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak (Citrus nobilis Lour. var. microcarpa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan metode disc diffusion. Penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial kemudian hasil dianalisis menggunakan program CoStat metode Two Way ANOVA dan diuji lanjut menggunakan LSD (Least Significant Different). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak mengandung flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil analisis, menunjukkan bahwa minyak atsiri dari kulit buah jeruk Pontianak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, dimana rata-rata zona hambat terhadap bakteri diperoleh dari konsentrasi 0,5; 1,5; dan 2,5 mg/mL secara berurutan 16,33; 18; dan 21 mm dan  15; 16, dan 19 mm. Konsentrasi terbaik yang memberikan zona hambat terbesar terhadap kedua jenis bakteri adalah konsentrasi 2,5 mg/mL.
AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL BEBAS DARI BATANG PAKIS (Alsophila glauca J. Sm) Wahdaningsih, Sri; Setyowati, Erna Prawita; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.305 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss3pp%p

Abstract

Stress oksidatif yang diinduksi oleh radikal telah diketahui dapat mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung koroner dan penuaan dini. Tubuh yang  tidak mempunyai sistem pertahanan antioksidan dalam jumlah berlebih sehingga tubuh membutuhkan antioksidan dari luar melalui makanan atau asupan nutrisi lainnya. Batang pakis (Alsophila glauca J. Sm.) diketahui mengandung senyawa fenol. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa senyawa fenol mempunyai aktivitas antioksidan. Sebagai upaya dalam pencarian senyawa antioksidan alami maka telah dilakukan penelitian pengujian aktivitas antioksidan penangkap radikal bebas dari batang pakis. Penyarian batang pakis dilakukan secara maserasi dengan wasbenzen. Ekstrak didapat dengan menguapkan pelarut wasbenzen dengan rotavapor. Setelah semua wasbenzen menguap bahan dimaserasi lagi dengan metanol. Ekstrak diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH secara KLT. Ekstrak aktif kemudian dipartisi dengan metanol 80 %. Memberikan ekstrak larut dan tidak larut dalam metanol 80 % yang kemudian diuji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (KLT). Ekstrak aktif lebih lanjut difraksinasi dengan kromatografi cair vakum dengan menggunakan fase gerak dengan gradient kepolaran yang berbeda (wasbezen : kloroform). Fraksi yang didapat diuji aktivitas antioksidannya. Fraksi yang aktif diisolasi dengan metode KLT preparatif dan diperoleh senyawa yang kemurniannya diuji secara KLT. Isolat yang diperoleh diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH secara spektrofotometri. Isolat aktif mempunyai aktivitas antioksidan penangkap radikal lebih rendah dibandingkan quercetin sebagai kontrol positif ( IC50 178,4 v/s 2,17 µg/mL)
Pengaruh Pemberian Fraksi Metanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocerecus polyhizus) Terhadap Kadar Malondialdehid Pada Tikus (Rattus novergicus) Wistar Yang Mengalami Stres Oksidatif Wahdaningsih, Sri; Untari, Eka Kartika
JURNAL PHARMASCIENCE Vol 3, No 1 (2016): JURNAL PHARMASCIENCE
Publisher : JURNAL PHARMASCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi radikal bebas berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif. Salah satu indikator stres oksidatif pada manusia adalah kadar Malondialdehid (MDA). Kulit Hylocereus polyrhizus berpotensi sebagai antioksidan eksogen alami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek fraksi metanol kulit H. polyhizus terhadap kadar MDA dan mengetahui dosis fraksi metanol kulit H. polyhizus yang dapat menurunkan kadar MDA. Kulit H. polyhizus dimaserasi menggunakan kloroform p.a, kemudian difraksinasi dengan pelarut metanol. Kadar MDA diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 532 nm. Tikus dibagi menjadi 7 kelompok yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif vitamin E(18 mg/ kgBB), kontrol positif kuersetin (4 mg/ 200gBB), dosis I (5 mg/ 200gBB), Dosis II (10 mg/ 200gBB) dan dosis III (20 mg/ 200gBB). Setiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus dan diberikan stres oksidatif berupa perenangan 10 menit perhari dan puasa pakan selama 5 hari. Analisis data dilakukan dengan menggunakan One way ANOVA dan uji LSD (Least Significant Difference). Hasil analisis data kadar rata-rata MDA pada kelompok normal, negatif, vitamin E, kuersetin, dosis I,II dan III berturut-turut adalah 0,042; 0,051; 0,034; 0,042; 0,037; 0,033; 0,030 µg/ml. Dosis fraksi metanol kulit H. polyhizus berpotensi sebagai antioksidan karena dapat menurunkan kadar malondialdehid pada tikus yang mengalami stres oksidatif.   Kata Kunci : Stres oksidatif, Malondialdehid, Antioksidan, Hylocereus polyrhizus, Metanol
Efek Fraksi n-Heksana Kulit Hylocereus polyrhizus Terhadap Aktivitas Katalase Tikus Stres Oksidatif Untari, Eka Kartika; Wahdaningsih, Sri; Damayanti, Agustia
Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Directorate of Research and Community Engagement, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.792 KB) | DOI: 10.7454/psr.v1i3.3489

Abstract

Production of excess free radicals cause oxidative damage and degenerative diseases. Catalase enzyme is one of the endogenous intracellular antioxidant that can be reduced by oxidative stress conditions. The peel of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) as a potent exogenous antioxidants could support the internal enzyme activity to prevent free radicals. The aim of this research was to determine the effect of n-hexane fraction of H.polyrhizus’s peel and the dose that could increase activity of catalase. The peel was maserated with chloroform, then fractionated by n-hexane. Stress condition was achieved by five days fasting and swimming for 10 mins/day to test animals. UV-Vis spectrophotometer was used to measure the activity of catalase. The rats were divided into 6 groups: normal control, negative control, dose I (10 mg/200 gBB), dose II (40 mg/200 gBB), positive control quercetin as (4 mg/200 gBB) and vitamin E (17.64 mg/kg). The activity of catalase enzyme in the normal control is 29.4 units/ml; negative control is 7.08 units/ml; dose I is 14.42 units/ml; dose II is 14.79 units/ml’quercetin is 28.18 units/ml; and vitamin E is 71.29 units/ml. Our conclusion is the activity of the catalase enzyme rat under oxidative stress can be increased by the n-hexane fraction of H. polyrhizus.
Efek Ekstrak Etanol Daun Premna cordifolia terhadap Malondialdehida Tikus yang Dipapar Asap Rokok Adyttia, Asri; Untari, Eka Kartika; Wahdaningsih, Sri
Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Directorate of Research and Community Engagement, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.096 KB) | DOI: 10.7454/psr.v1i2.3302

Abstract

Free radical from cigarrete smoke cause lipid peroxidation that could be identified by increasing levels of Malondialdehida (MDA). Premna cordifolia leaves known having antioxidant activity in in vitro study. This study aimed to know the effect of P. cordifolia leaves extract on the levels of MDA after exposure to cigarette smoke. The simplicia extracted by maseration using 70% ethanol. Twenty four male wistar rats were divided into six groups, i.e. : control normal, negative control, positive control received cigarette smoke exposure and vitamin E (18mg/kg BW) and three groups received cigarette smoke exposure and P. cordifolia leaves extract with doses 200; 400; 600 mg/kg BW. All rats were treated for 14 days. Measurement of MDA level using Spectrophotometer UV-Vis in 532,2 nm. MDA levels in the normal group was 0.0094±0.080 ppm; negative group was 13,733±2,829 ppm; positive group was 0,051±0,045 ppm; dose 200; 400; 600 mg/ kg BW were 9,142±2,364; 0,120±0,019; 0,053±0,041 ppm. The MDA level was analyzed by the Kruskal-Wallis test and following by Mann-Whitney test. The result showed that MDA level of group receiving P. cordifolia leaves extract significantly (p<0,05) lower than negative control group. These result show P. cordifolia leaves extract can reducing the MDA level on the rats that exposed by cigarette smoke.
Efek Fraksi n-Heksana Kulit Hylocereus polyrhizus Terhadap Kadar Malondialdehida Tikus Stres Oksidatif Sari, Wirna Maya; Wahdaningsih, Sri; Untari, Eka Kartika
Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Directorate of Research and Community Engagement, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.376 KB) | DOI: 10.7454/psr.v1i3.3487

Abstract

Excessive free radical production will lead to oxidative stress. One of the indicators used to determine stress oxidative is malondialdehyde (MDA). Hylocereus polyrhizus peel is potential to be used as a natural exogenous antioxidant. The aim of this research was to study the effect of n-hexane fraction of H. polyrhizus peel on MDA level and to determine the dose that could reduce the MDA level. H. polyrhizus peel was macerated with chloroform and fractionated with n-hexane. Rats were divided into 7 groups: normal control, negative control, positive control of vitamin E (18 mg/ kg BW), positive control of quercetin (4 mg/200g BW), as well as three H. polyrhizus peel extract groups treated with dose I (10mg/ 200g BW), dose II (20 mg/200g BW) and dose III (40 mg/200g BW). Each group was consisted of 4 rats and was induced to oxidative stress with 10 minute swimming each day and food restriction for 5 days. The measurement of MDA level used Spectrophotometer UV-Vis at the wavelenght of 532 nm. MDA levels were analyzed using One way Anova and LSD test. The data showed that MDA level at normal, negative, positive vitamin E, positive quercetin, dose I, II, III group were 0.042; 0.051; 0.034; 0.042; 0.038; 0.039; 0.042 µg/ml, respectively. The n-hexane fraction of H. polyrhizus peel was a potent antioxidant because it could lower the MDA level in rats with stress oxidative conditon.