Nanang Fakhrudin, Nanang
Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK METANOLIK BUAH MANGGA KASTURI (Mangifera casturi) MELALUI PENGHAMBATAN MIGRASI LEUKOSIT PADA MENCIT YANG DIINDUKSI THIOGLIKOLAT Fakhrudin, Nanang; Putri, Peni Susilowati; Sutomo, Sutomo; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.981 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ18iss3pp151-156

Abstract

Mangga kasturi (Mangifera casturi) adalah mangga  khas Kalimantan Selatan. Buah mangga   kasturi dilaporkan memiliki  aktivitas antioksidan dan potensial untuk pengobatan berbagai penyakit termasuk penyakit yang berhubungan dengan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiinflamasi dari ekstrak metanol buah mangga kasturi melalui uji migrasi leukosit pada mencit yang diinduksi thioglikolat. Secara singkat, mencit diinduksi dengan thioglikolat untuk menaikkan jumlah leukosit, dan dihitung penghambatan migrasi leukosit oleh ekstrak metanolik buah mangga kasturi. Thioglikolat diberikan selama 4,5 jam (i.p.) sedangkan ekstrak metanolik buah mangga kasturi (i.p.) diberikan 30 menit sebelum pemberian thioglikolat. Keduanya diberikan  secara injeksi intra peritoneal (i.p.). Penghitungan jumlah leukosit dilakukan menggunakan haemositometer dengan bantuan mikroskop. Jumlah leukosit pada kelompok normal, indometasin, ekstrak dosis 625; 125; dan 2,5 g/Kg BB berturut-  turut adalah 38,24%; 11,28%; 65,24%; 19,72%; dan 7,18%. Analisis statistik dengan menggunakan uji post hoc multiple comparison Games Howell dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa ekstrak metanolik buah mangga kasturi dosis 1250 dan 2500 mg/Kg BB mempunyai potensi antiinflamasi  melalui penghambatan migrasi leukosit pada mencit yang diinduksi thioglikolat. Aktivitas ekstrak metanolik buah mangga kasturi tersebut lebih lemah dibandingkan indometasin yang menberikan respon antiinflamasi yang sama pada dosis yang lebih kecil. Uji Kromatrografi Lapis Tipis (KLT) menunjukkan ekstrak metanolik buah mangga kasturi mengandung senyawa triterpenoid dan fenolik.
AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK METANOLIK BUAH MANGGA KASTURI (Mangifera casturi) MELALUI PENGHAMBATAN MIGRASI LEUKOSIT PADA MENCIT YANG DIINDUKSI THIOGLIKOLAT Fakhrudin, Nanang; Putri, Peni Susilowati; Sutomo, Sutomo; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 18, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.981 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8217

Abstract

Mangga kasturi (Mangifera casturi) adalah mangga  khas Kalimantan Selatan. Buah mangga   kasturi dilaporkan memiliki  aktivitas antioksidan dan potensial untuk pengobatan berbagai penyakit termasuk penyakit yang berhubungan dengan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiinflamasi dari ekstrak metanol buah mangga kasturi melalui uji migrasi leukosit pada mencit yang diinduksi thioglikolat. Secara singkat, mencit diinduksi dengan thioglikolat untuk menaikkan jumlah leukosit, dan dihitung penghambatan migrasi leukosit oleh ekstrak metanolik buah mangga kasturi. Thioglikolat diberikan selama 4,5 jam (i.p.) sedangkan ekstrak metanolik buah mangga kasturi (i.p.) diberikan 30 menit sebelum pemberian thioglikolat. Keduanya diberikan  secara injeksi intra peritoneal (i.p.). Penghitungan jumlah leukosit dilakukan menggunakan haemositometer dengan bantuan mikroskop. Jumlah leukosit pada kelompok normal, indometasin, ekstrak dosis 625; 125; dan 2,5 g/Kg BB berturut-  turut adalah 38,24%; 11,28%; 65,24%; 19,72%; dan 7,18%. Analisis statistik dengan menggunakan uji post hoc multiple comparison Games Howell dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa ekstrak metanolik buah mangga kasturi dosis 1250 dan 2500 mg/Kg BB mempunyai potensi antiinflamasi  melalui penghambatan migrasi leukosit pada mencit yang diinduksi thioglikolat. Aktivitas ekstrak metanolik buah mangga kasturi tersebut lebih lemah dibandingkan indometasin yang menberikan respon antiinflamasi yang sama pada dosis yang lebih kecil. Uji Kromatrografi Lapis Tipis (KLT) menunjukkan ekstrak metanolik buah mangga kasturi mengandung senyawa triterpenoid dan fenolik.
PERBANDINGAN INHIBISI BERBAGAI EKSTRAK TUMBUHAN DAN VITAMIN C PADA FOTODEGRADASI TIROSIN YANG DIINDUKSI KETOPROFEN DAN KANDUNGAN FENOLIK TOTALNYA Irianti, Tatang; Fakhrudin, Nanang; Efendi, Efendi; Hartomo, Sigit; Astuti, Siluh Putu Yuni; Kusumaningtyas, Ratih Anggar; Meiftasari, Argandita
Majalah Obat Tradisional Vol 21, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.886 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.17301

Abstract

Antioksidan mampu menghambat reaksi radikal bebas dan fotodegradasi tirosin dapat disebabkan oleh reaksi radikal. Antioksidan alami dari tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai inhibitornya dan saat ini meningkat dengan pesat penggunaannya. Uji inhibisi fotodegradasi dilakukan dengan menggunakan enam kelompok. Kelompok P1 berisi 2 mL tirosin 0,05 %. Kelompok P2 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam (ketoprofen topical) 1 %. Kelompok P3 berisi 2mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak air daun teh 0,15 %. Kelompok P4 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak air buah mahkota dewa 0,15 %. Kelompok P5 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL ekstrak etanol temu kunci 0,15 %. Kelompok P6 berisi 2 mL tirosin 0,05 %, 600 μL Rhetoflam 1 %, 100 μL vitamin C 0,15 %. Setiap kelompok ditambahkan akuades hingga 5,0 mL dan dipejani sinar lampu merkuri selama empat jam. Setelah pemajanan, dilakukan pengukuran kadar tirosin sisa menggunakan metode spektrofotometri visibel. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95 %. Analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Uji penentuan kadar fenolik total dilakukan menggunakan metode Follin-Ciocalteu. Hasil pengukuran diintrapolasikan ke dalam kurva baku asam galat. Hasil uji fotodegradasi menunjukkan bahwa ekstrak air daun teh, ekstrak air buah mahkota dewa, dan ekstrak etanol rimpang temu kunci dengan kandungan fenolik total 29,64 ± 0,86 %; 8,29 % 0,27 %; dan 7,11 % 0,15 % ekivalen asam galat (EAG) mampu menghambat secara fotodegradsi tirosin dengan aktivitas inhibisi 4,03; 1,58; dan 2,09 kali lebih besar dibanding vitamin C pada kadar sama yaitu 0,15 %.
Pembuatan Sediaan Tabir Surya Ekstrak Etanol Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa), Aktivitas Inhibisi Fotodegradasi Tirosin dan Kandungan Fenolik Totalnya Irianti, Tatang; Sulaiman, T. N. Syaifullah; Fakhrudin, Nanang; Astuti, Siluh; Testikawati, Nita; Farida, Sofa; Khasanah, Sari Rosiati Nur
Majalah Farmaseutik Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.539 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v15i2.44740

Abstract

Senyawa fenolik mempunyai potensi sebagai fotoprotektor, sehingga mampu melindungi kulit dari kerusakan oksidatif terutama menyerap Ultra Violet dari pancaran sinar matahari. Ekstrak etanolik buah masak mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.] mengandung senyawa fenolik dan memiliki peranan sebagai fotoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanolik buah mahkota dewa sebagai fotoprotektor dalam sediaan tabir surya dan oksibenson sebagai pembanding. Aktivitas fotoprotektor ditentukan dari tingkat fotodegradasi tirosin dan kadar fenolik totalnya, kemudian penelitian ini dilakukan dengan 8 formula; formula 1 sebagai kontrol negatif (basis); formula 2 sebagai kontrol positif (basis dan oksibenson); formula 3, formula 4, dan formula 5 mengandung ekstrak etanolik buah mahkota dewa dengan berbagai konsentrasi; formula 6, formula 7, dan formula 8 mengandung oksibenson dan ekstrak etanolik buah mahkota dewa dengan berbagai konsentrasi. Penentuan kemampuan fotoproteksi berdasarkan persen transmisi eritema dan persen transmisi pigmentasi. Uji inhibisi fotodegradasi dilakukan dengan menggunakan enam kelompok komposisi tirosin dan Rhetoflam. Uji penentuan kadar fenolik total dilakukan menggunakan metode Follin-Ciocalteu. Hasil pengukuran diintrapolasikan ke dalam kurva baku asam galat. Ekstrak etanolik buah mahkota dewa dalam sediaan tabir surya memberikan nilai Te sebesar 17,86-37,01 % dan nilai Tp sebesar 12,07-22,64 %. Efektivitas fotoproteksi ekstrak etanolik buah mahkota dewa lebih kecil dibandingkan oksibenson yang memiliki nilai Te sebesar 1,15.10-5 % dan Tp sebesar 0,67 %. Kombinasi ekstrak etanolik buah mahkota dewa dan oksibenson memberikan nilai Te sebesar 0,17-0,52 % dan nilai Tp sebesar 2,10-4,48 %. Sedangkan kandungan fenolik total ekstrak buah mahkota dewa adalah sebesar 8,29 ± 0,27 % dengan aktivitas penghambatan fotodegradasi tirosin 1,58 kali lebih besar dibandingkan dengan vitamin C pada kadar yang sama, yaitu 0,15%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanolik buah mahkota dewa dapat dimanfaatkan sebagai bahan 4aktif fotoprotektor dalam sediaan kosmetik.
Effects of Antioxidant, Anti-Collagenase, Anti-Elastase, Anti-Tyrosinase of The Extract and Fraction From Turbinaria decurrens Bory. Nurrochmad, Arief; Wirasti, Wirasti; Dirman, Arifin; Lukitaningsih, Endang; Rahmawati, Adillah; Fakhrudin, Nanang
Indonesian Journal of Pharmacy Vol 29 No 4, 2018
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.529 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm29iss4pp188

Abstract

Brown macroalgae (BM) which contain fucoxanthin exhibited high antioxidant activity. This study was performed to examine antioxidant, anti-collagenase, anti-elastase, anti-tyrosinase activities, and effect on cell viability of Human Dermal Fibroblast adult (HDFa) of BM, Turbinaria decurrens Bory. T. decurrens dried powder were macerated by ethanol to obtain extract (ETD) and was fractination by column chromatography to obtain fraction (FTD). Fucoxanthin content was determined using HPLC. The antioxidant activities, anti-collagenase, anti-elastase, and tyrosinase inhibitory assay were performed. The effect of ETD and fucoxanthin standard on cell viability were conducted on HDFa cell-induced by hydrogen peroxide (H2O2). The HPLC analysis showed that ETD and FTD contain fucoxanthin of 284.9±3.3µg/g and of 653.4±30.6µg/g dry-weight, respectively. The antioxidant assay showed that ETD and FTD produced high antioxidant activity by ferric reducing antioxidant power (FRAP) and b-carotene bleaching (BCB) methods that were comparable to fucoxanthin. ETD exhibited significantly higher tyrosinase inhibitory than kojic acid (p<0.01), while FTD had a comparable effect to kojic acid. The result also revealed that ETD and FTD produced anti-elastase and anti-collagenase (matrix metalloproteinase-1 (MMP-1). Fucoxanthin and ETD were able to maintain cell viability on HDFa cell-induced H2O2. This study suggests that T. decurrens may be effective to prevent skin aging and wrinkle formation, possibly through the antioxidant activity and maintain cell viability of fibroblast. 
ISOLATION AND IDENTIFICATION OF DPPH RADICAL (2,2-DIPHENYL-1-PIKRYLHIDRAZYL) SCAVENGING ACTIVE COMPOUND IN ETHYL ACETAT FRACTION OF PIPER ACRE BLUME Rijai, Hifdzur Rashif; Fakhrudin, Nanang; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 24, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mot.48173

Abstract

Piper acre Blume, known as Black Betel (local name), is a plant that is widely used by the people of East Kalimantan, especially in Samarinda, for the treatment of illness. Leaves (3-4 months old) are collected from Samarinda, extracted, fractionated, and monitored by DPPH antiradical activity. The isolation of the Piper acre Blume is performed on the active fraction, and the structure identification is based on spectroscopic data of the compound.  The leaves were dried, pulverized, and macerated with MeOH. Dried MeOH extract was obtained upon evaporation of the solvent. The extract was then fractionated by vacuum liquid chromatography (vlc), eluted gradually by solvents having different polarities (n-hexane, ethyl acetate and methanol). The fractions obtained were monitored using TLC [n-hexane: ethyl acetate (3: 1 v/v)] that was visualized by UV254 nm, UV366 nm and DPPH. The isolation was performed by preparative TLC [SiO2, n-hexane: ethyl acetate (3: 1)] on ethyl acetate fraction that showed the highest DPPH antiradical value. A single compound was obtained, and it appeared as a round spot and pure according to TLC performances at 3 different solvent systems. The isolated Piper acre Blume compound displayed the IC50 value on the anti-radical DPPH (measured at ? 520 nm) as 10.41µg/mL. The IR spectrum (KBr) showed ?OH band (3450 cm-1), aliphatic bands [alkene, 3010 cm-1; alkana 2900 cm-1), an aromatic overtone bands (1900-200 cm-1) and a strong C=O band (1725 cm-1). The NMR (1H- and 13C-) (mono and 2D) indicated the present of a p-di-substituted aromatic signals (?, 7.54 and 7.52, d, J =6 Hz, 1 H each), 2 methyl (?, 0.96, d, J = 7.0 Hz, 6 Hs), a triplet signal (?, 4.22 ppm). Other signals of CH- and CH2 were shown as m signals at ?, 1.64 and 1.34 ppm.  Based on those data, the compound was identified as isoamyl p-OH benzoate that is grouped as parabens used as a preservative in the pharmaceutical preparations. In conclusion, the anti-radical (DPPH) active compound present in the leaves of Piper acre Blume is identified as isoamyl p-OH benzoate, having IC50 value anti-radical DPPH 10,41µg/mL.
PROFIL PROLIFERASI SEL LIMFOSIT BENALU BATU (BEGONIA MEDICINALIS) ASAL KABUPATEN MOROWALI UTARA PROVINSI SULAWESI TENGAH Khumaidi, Akhmad; Widodo, Agustinus; Nugrahani, Arsa Wahyu; Sasmito, Ediati; Fakhrudin, Nanang
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 18 No 1 (2020): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.931 KB) | DOI: 10.35814/jifi.v18i1.785

Abstract

Tumbuhan Benalu Batu (Begonia medicinalis) asal kabupaten Morowali Utara telah digunakan secara empiris dan diketahui memiliki aktivitas antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil aktivitas proliferasi sel limfosit dari ekstrak dan fraksi Benalu Batu secara in vitro serta mengukur korelasi kadar flavonoid total terhadap indeks stimulasi proliferasi sel limfosit. Ekstraksi simplisia Benalu Batu menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol. Metode partisi cair-cair digunakan dalam fraksinasi ekstrak metanol dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan air secara berurutan. Uji proliferasi sel limfosit menggunakan metode MTT reduction (3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide) dengan seri konsentrasi 10, 20, 50 dan 100 µg/mL. Kadar flavonoid total ekstrak dan fraksi-fraksi ditetapkan berdasarkan metode kolorimetri. Indeks stimulasi (IS) digunakan dalam pengukuran aktivitas proliferasi sel limfosit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol, fraksi n-heksana, etil asetat dan air dapat meningkatkan proliferasi sel limfosit pada seluruh konsentrasi uji. Konsentrasi uji memiliki pengaruh terhadap peningkatan indeks stimulasi proliferasi sel limfosit. Konsentrasi uji 100 µg/mL memiliki indeks stimulasi tertinggi pada setiap sampel uji dan nilai indeks stimulasi dari fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, ekstrak metanol dan fraksi air adalah 10,12; 6,56; 4,82 dan 4,17 secara berurutan. Kadar flavonoid total dan indeks stimulasi memiliki korelasi yang sangat rendah (r=0,082) dan konsentrasi 10 µg/mL memiliki koefisien korelasi tertinggi (r2=0,18). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana dan fraksi etil asetat dapat dikembangkan sebagai bahan imunostimulansia guna agen terapi suportif antikanker meskipun memiliki korelasi yang sangat rendah terhadap kadar flavonoid.
PEMBUATAN SEDIAAN TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU KUNCI (BOESENBERGIA PANDURATA (ROXB.) SCHLECHT), AKTIVITAS INHIBISI FOTODEGRADASI TIROSIN DAN KANDUNGAN FENOLIK TOTALNYA Irianti, Tatang; Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah; Fakhrudin, Nanang; Astuti, Siluh; Testikawati, Nita; Farida, Soda; Addina, Jovanita Fara
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.999 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.49421

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi sehingga hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kulit manusia. Untuk mencegah kerusakan akibat dari cahaya matahari diperlukan suatu bahan yang bersifat fotoprotektor dengan mekanisme kerja menyerap atau menghalangi cahaya matahari masuk ke kulit. Flavonoid ekstrak etanol rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlecht) diketahui memiliki aktivitas sebagai fotoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol rimpang temu kunci dalam sediaan tabir surya yang mengandung bahan aktif oksibenson sebagai fotoprotektor; mengetahui aktivitas fotodegradasi tirosin serta kadar fenolik total ekstrak etanol rimpang temu kunci. Pada penelitian ini dilakukan dengan menguji delapan formula. Penentuan kemampuan fotoproteksi berdasarkan nilai transmisi eritema dan transmisi pigmentasi. Uji inhibisi fotodegradasi dilakukan dengan menggunakan enam kelompok komposisi tirosin dan Rhetoflam. Uji penentuan kadar fenolik total dilakukan menggunakan metode Follin-Ciocalteu. Hasil pengukuran diintrapolasikan ke dalam kurva baku asam galat. Penambahan ekstrak etanol rimpang temu kunci mampu menurunkan transmisi eritema 0,72-0,76 kali dan transmisi pigmentasi 0,57-0,61 kali dari sediaan tabir surya. Pemberian ekstrak etanol rimpang temu kunci 6% pada sediaan tabirsurya mengandung oksibenson 6% meningkatkan efektivitas tabir surya dengan menurunkan transmisi eritema 1,00 kali dan transmisi pigmentasi 1,02 kali lebih baik dari sediaan tabir surya mengandung bahan aktif oksibenson saja. Sedangkan kandungan fenolik total ekstrak etanol ripang temu kunci adalah sebesar 7,11 ± 0,15 % EAG dengan aktivitas penghambatan fotodegradasi tirosin 2,06 kali lebih besar dibandingkan dengan vitamin C pada kadar yang sama, yaitu 0,15%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanolik rimpang temu kunci dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif fotoprotektor dalam sediaan kosmetik.