Articles

Found 6 Documents
Search

Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Buah, Daun, Batang dan Rimpang Tanaman Wualae (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) Leorita, Mesi; Mardikasari, Sandra Aulia; Wahyuni, W; Malaka, Muhammad Hajrul; Sartinah, Ari; Sahidin, S
Pharmauho Vol 4, No 2 (2018): Pharmauho
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wualae (Etlingera elatior (Jack) R.M Smith)  merupakan salah satu jenis tanaman dari famili zingiberaceae yang digunakan masyarakat Suku Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai bumbu masak dan obat secara empiris.  Wualae  diduga memiliki potensi antioksidan   karena mengandung flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi  antioksidan ekstrak etanol buah, daun, batang dan rimpang wualae  terhadap radikal bebas 1,1-difenil-2-pikrihidrazil (DPPH) dan toksisitas akut terhadap larva Artemia salina Leach menggunakan metode BSLT. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%  selama 3x24 jam dan dipekatkan pada suhu 60○C. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah, daun, batang dan rimpang  Wualae, diperoleh hasil bahwa semua bagian tanaman Wualae memiliki potensi sebagai  antioksidan dengan afektifitas masuk dalam katagori kuat. Nilai IC50yang paling baik terdapat pada bagian batang (52,345 mg/L), selanjutnya  pada rimpang (58,638 mg/L), pada buah   72,518 mg/L dan pada daun 99,890 mg/L. Hasil uji toksisitas akut  menunjukkan bahwa buah, daun, batang dan rimpang Wualae bersifat sedikit toksik (slightly toxic) dengan nilai LC50masing-masing sebesar 1302.31 µg/mL, 1162.84  µg/mL, 1174.52 µg/mL dan 1074.72 µg/mL.Kata kunci: wualae, Etlingera, antioksidan, toksisitas, obat tradisional, Sulawesi Tenggara
SKRINING FITOKIMIA DAN EVALUASI SEDIAAN SABUN CAIR EKSTRAK ETANOL 96% KULIT BUAH SALAK PONDOH (SALACCA ZALACCA (GAERTN.) VOSS.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Adjeng, Andi Nafisah Tendri; Hairah, Sania; Herman, Syahlan; Ruslin, R; Fitrawan, La Ode Muhammad; Sartinah, Ari; Ali, Nur Fitriana Muhammad; Sabarudin, S
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v5i2.10170

Abstract

Pemanfaatan kulit buah Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) sebagai sumber antioksidan alami dalam sediaan sabun cair merupakan salah satu cara untuk mencegah efek buruk radikal bebas terhadap kesehatan kulit. Tujuan penelitian ini adalah melakukan skrining fitokimia terhadap senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol 96% kulit buah Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) dan memformulasi serta mengevaluasi sediaan sabun cair dari ekstrak tersebut.  Skrining fitokimia ekstrak dilakukan dengan menggunakan metode tabung. Penentuan variabel evaluasi sediaan sabun cair meliputi uji organoleptik, uji pH, tinggi busa dan viskositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit buah Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) mengandung Flavonoid, Saponin, Tanin, dan Alkaloid. Sediaan sabun cair memilki karakteristik yaitu konsistensi yang cair, berwarna kuning kecoklatan, aroma rose. Tingkat keasaman (pH) adalah 10,46 dengan viskositas adalah 600 cPs dan Kestabilan busa mencapai 85% dimana semua hasil evaluasi karakteristik sediaan sabun cair ekstrak Salacca zalacca (Gaertn.) Voss.) sesuai dengan parameter Standar Nasional Indonesia (SNI)Kata kunci: ekstrak, etanol, sabun, Salacca zalacca, antioksidan
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIBAKTERI DARI DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit.) Sartinah, Ari; Astuti, Puji; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.242 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss3pp22 – 28

Abstract

Tumbuhan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dalam upaya pengobatan dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat. Salah satu tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah petai cina (Leucaena leucocephala). Secara etnobotani, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan daun petai cina sebagai obat-obatan diantaranya sebagai obat luka dan obat bengkak. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan secara ilmiah melalui isolasi dan identifikasi senyawa antibakteri dari daun L. leucocephala. Serbuk kering daun L. leucocephala diekstraksi dengan menggunakan Soxhlet secara bertingkat yang dimulai dengan washbenzen dan diikuti dengan metanol.  Kedua ekstrak kental diuji aktivitas antibakterinya pada Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan E. coli 25922 menggunakan metode difusi agar dan dilihat profil KLT-nya. Ekstrak yang menunjukkan aktifitas terhadap S. aureus difraksinasi menggunakan kromatografi vakum cair dengan fase gerak yang berbeda yakni washbenzen dan kombinasi washbenzen dan etilasetat.  Masing-masing fraksi yang diperoleh diuji aktivitas antibakterinya dan dilihat profil KLT-nya. Senyawa aktif pada fraksi aktif diisolasi dengan kromatografi lapis tipis preparatif (p1a, p2a, p3a). Senyawa aktif (p2a) yang diperoleh diuji kemurniannya secara KLT dengan tiga macam variasi fase gerak. Identifikasi struktur menggunakan spektrofotometer UV, IR, GC-MS dan NMR. Spektrum UV-Vis isolat p2a kloroform menampakkan serapan λmax 214 nm, ini menunjukkan tidak adanya gugus kromofor. Spektrum inframerah menunjukkan serapan pada 3409,4 cm-1 (OH), 2928,2 cm-1(CHalifatik), 2854,3 cm-1(CHalifatik), 1575,5 cm-1 (C=C), 1416,4 cm-1 (CH2), 1385,0 cm-1(CH3), 1258,3 cm-1 dan 1082,3 cm-1 (C-O). Spektra GC-MS menunjukan ion molekul pada m/z 482 (M + H+) dan ion fragmen padda m/z 427   (M + H+). Spektra 1H-NMR (CDCl3) menunjukkan resonansi pada δ 0,8; 1,4; 1,6; 2,0; 2,3; 3,6; 4,2 dan 5,4 ppm. Spektra ini mengindikasikan sebuah senyawa lupeol. 
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIBAKTERI DARI DAUN PETAI CINA (Leucaena leucocephala (Lam.) De Wit.) Sartinah, Ari; Astuti, Puji; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.242 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8138

Abstract

Tumbuhan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dalam upaya pengobatan dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat. Salah satu tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah petai cina (Leucaena leucocephala). Secara etnobotani, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan daun petai cina sebagai obat-obatan diantaranya sebagai obat luka dan obat bengkak. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan secara ilmiah melalui isolasi dan identifikasi senyawa antibakteri dari daun L. leucocephala. Serbuk kering daun L. leucocephala diekstraksi dengan menggunakan Soxhlet secara bertingkat yang dimulai dengan washbenzen dan diikuti dengan metanol.  Kedua ekstrak kental diuji aktivitas antibakterinya pada Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan E. coli 25922 menggunakan metode difusi agar dan dilihat profil KLT-nya. Ekstrak yang menunjukkan aktifitas terhadap S. aureus difraksinasi menggunakan kromatografi vakum cair dengan fase gerak yang berbeda yakni washbenzen dan kombinasi washbenzen dan etilasetat.  Masing-masing fraksi yang diperoleh diuji aktivitas antibakterinya dan dilihat profil KLT-nya. Senyawa aktif pada fraksi aktif diisolasi dengan kromatografi lapis tipis preparatif (p1a, p2a, p3a). Senyawa aktif (p2a) yang diperoleh diuji kemurniannya secara KLT dengan tiga macam variasi fase gerak. Identifikasi struktur menggunakan spektrofotometer UV, IR, GC-MS dan NMR. Spektrum UV-Vis isolat p2a kloroform menampakkan serapan ?max 214 nm, ini menunjukkan tidak adanya gugus kromofor. Spektrum inframerah menunjukkan serapan pada 3409,4 cm-1 (OH), 2928,2 cm-1(CHalifatik), 2854,3 cm-1(CHalifatik), 1575,5 cm-1 (C=C), 1416,4 cm-1 (CH2), 1385,0 cm-1(CH3), 1258,3 cm-1 dan 1082,3 cm-1 (C-O). Spektra GC-MS menunjukan ion molekul pada m/z 482 (M + H+) dan ion fragmen padda m/z 427   (M + H+). Spektra 1H-NMR (CDCl3) menunjukkan resonansi pada ? 0,8; 1,4; 1,6; 2,0; 2,3; 3,6; 4,2 dan 5,4 ppm. Spektra ini mengindikasikan sebuah senyawa lupeol. 
UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK DAN FRAKSI KULIT BATANG KETAPANG LAUT (TERMINALIA CATAPPA L.) MENGGUNAKAN METODE BSLT Sartinah, Ari; Yamin, Yamin; Arba, Muhammad; Akib, Nur Illiyyin; Adjeng, Andi Nafisah Tendri; Nurhasana, Nurhasana; Pascayantri, Asniar
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2020): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v6i1.11430

Abstract

AbstrakToksisitas akut merupakan kemampuan suatu bahan kimia (obat/bahan obat) dalam menimbulkan kerusakan  pada suatu organisme dalam waktu yang relatif singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ketoksikan akut dari ekstrak metanol, fraksi etil asetat dan fraksi air kulit batang ketapang laut (Terminalia catappa L.). Pengujian toksisitas akut dilakukan dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis program untuk mengetahui nilai LC50 dari ekstrak dan fraksi. Hasil uji toksisitas akut menunjukan nilai LC50  dari ekstrak metanol, fraksi etil asetat dan fraksi air kulit batang ketapang laut (Terminalia catappa L. )  berturut-turut 247,997 ppm; 400,666 ppm dan 618,046 ppm. Hal ini menunjukan bahwa ekstrak metanol batang ketapang laut (Terminalia catappa L.) bersifat paling toksik dibandingkan fraksi etil asetat dan fraksi air.Kata kunci: Ekstrak, Fraksi, Terminalia catappa L., BSLT, Artemia salina LeachAbstractAcute toxicity is the ability of chemical (drug/drug ingredient) to cause damage to organisms in a relatively short time. The purpose of this study was to determine the potential for acute toxicity of methanol extract, ethyl acetate and water fractions of sea ketapang stem skin (Terminalia catappa L.). Acute toxicity testing was performed using the BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) method and program analysis to determine the LC50 values of extracts and fractions. The results of the acute toxicity test showed the LC50 values of methanol extract, ethyl acetate and water fractions of the plant stem skin consecutively were 247,997 ppm; 400,666 ppm and 618,046 ppm. This shows that the methanol extract of sea ketapang stems (Terminalia catappa L.) is the most toxic compared to the ethyl acetate and the water fraction.Keywords: Extract, Fraction, Terminalia catappa L., BSLT, Artemia salina Leach
PENGARUH PROSES PEREBUSAN DAN PENGUKUSAN TERHADAP KANDUNGAN ALBUMIN DAN PROKSIMAT IKAN GABUS (CHANNA STRIATA) Salmatia, Siti; Isamu, Kobajashi Togo; Sartinah, Ari
Jurnal Fish Protech Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Fish Protech Vol. 3 No. 1 April 2020
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.39 KB)

Abstract

The Effect of The Boiling and Steaming Process on The Content of Albumin and Proximate Snakehead Fish (Channa striata). ABSTRACT         The aim of this study was to determine the effect of the boiling and steaming process on the content of albumin and proximate snakehead fish (Channa striata). This study used a complete randomized design (CRD) consisting of 3 treatments, namely: P1 = fresh, P2 = boiled and P3 = steamed and each treatment was repeated three times to obtain 9 experimental units. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA), if the results of the analysis showed significant differences, then the Duncan's Multiple Range Test (DMRT) was performed to determine the real difference between treatments with a confidence level of 95% (a = 0.05). The results obtained showed that the effect of boiling and steaming processes on cork fish albumin levels were observed to have a significant effect where the value of albumin levels at P1 produced albumin levels was 0,35 mg/ml, P2 was 0,24 mg/ml and P3 was 0,27 mg/ml. Proximate analysis value on water content and protein content produced has a very significant effect, where the highest value of water content is in P2 of 76,25% and the highest value of protein content is in P2 of 21,52% and the proximate analysis of ash content and fat content snakehead fish has a significant effect where the highest value of ash content is in P3 of 1,2% and the highest value of fat content is in P1 of 1,79%. Keywords: albumin, snakehead fish, boiling, steaming.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proses perebusan dan pengukusan terhadap kandungan albumin dan proksimat ikan gabus (Channa striata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan, yaitu : P1 = segar, P2 = rebus dan P3 = kukus dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 9 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), jika hasil analisis menunjukan beda nyata maka dilakukan uji Duncan?s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan dengan tingkat kepercayaan 95% (a=0,05). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pengaruh proses perebusan dan pengukusan terhadap kadar albumin ikan gabus yang diamati berpengaruh nyata dimana nilai kadar albumin pada P1 kadar albumin yang dihasilkan sebesar 0,35 mg/ml, P2 sebesar 0,24 mg/ml dan P3 sebesar 0,27 mg/ml. Nilai analisis proksimat pada kadar air dan kadar protein yang dihasilkan berpengaruh sangat nyata, dimana nilai tertinggi kadar air terdapat pada P2 sebesar 76,25% dan nilai tertinggi kadar protein terdapat pada P2 sebesar 21,52% dan pada analisis proksimat kadar abu dan kadar lemak ikan gabus berpengaruh nyata dimana nilai tertinggi kadar abu terdapat pada P3 sebesar 1,2% dan nilai tertinggi kadar lemak terdapat pada P1 sebesar 1,79%.Kata kunci: Albumin, Ikan gabus, perebusan, pengukusan.