Articles

Found 29 Documents
Search

TEKNIK PENGINDERAAN JAUH UNTUK PEMILIHAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN Avicienna, Muya; Tjahjono, Boedi; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 2 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.956 KB) | DOI: 10.29244/jitl.14.2.56-65

Abstract

Konversi lahan pertanian ke lahan non-pertanian kini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, oleh karenanya perlindungan terhadap lahan pertanian yang produktif sangat diperlukan (UU No 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau PLPPB). Namun bagaimanakah teknis pelaksanaan yang efektif dan efisien untuk dapat menentukan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LPPB)? Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model (metode dan teknik) seleksi dan zonasi LPPB, khususnya untuk lahan sawah agar menjadi LPPB. Studi ini mengambil daerah di Kabupaten Karawang sebagai salah satu kabupaten lumbung padi nasional. Metode yang dipakai merupakan perpaduan antara teknik penginderaan jauh, sistem informasi geografis, dan analisis statistik Hayashi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPPB untuk Kabupaten Karawang dapat diformulasikan sebagai lahan pertanian sawah beririgasi (teknis, semi teknis, sederhana), memiliki produktivitas lebih dari 4.5 ton ha-1, memiliki nilai Benefit Cost Ratio (BCR) > 1.497, dan memiliki Luasan Kesatuan Hamparan Lahan Sawah (LKHLs) > 10 ha. Data sistem irigasi dan LKHLs dapat diidentifikasi dari citra ALOS AVNIR-2, adapun data produktivitas diduga dari nilai Enhanced Vegetation Index (EVI) yang diturunkan dari citra MODIS Terra dan Aqua (time series 2005-2009). Nilai EVI pada periode picpoint dan nilai Produktivitas Lahan Sawah dari hasil survei lapangan memiliki korelasi yang positif dan diperole persamaan Prod. = 2.9785 + 6.0751 x nilai EVI. Nilai BCR diperoleh dari perhitungan Produktivitas dan Indeks Penanaman (didapat dari citra MODIS) yang dikombinasikan dengan Biaya Produksi Lahan Sawah dari hasil survei lapangan. Teknik zonasi LPPB selanjutnya dapat dibangun dengan cara di atas, yaitu melalui identifikasi data penginderaan jauh, survei lapangan, pengembangan kriteria sesuai kondisi lapangan, dan penentuan kawasan LPPB melalui sistem informasi geografis. Berdasarkan metode ini Kawasan LPPB di Kabupaten Karawang dapat dibedakan menjadi lima, yaitu LPPB1, LPPB2, LPPB3, LPPB4, dan cadangan LPPB. Yang pertama mencerminkan prioritas yang tinggi dan yang terakhir mencerminkan yang rendah.
INTERPRETASI BENTUKLAHAN GUNUNGAPI GUNTUR MENGGUNAKAN CITRA IKONOS Handayani, Luluk Dwi Wulan; Tjahjono, Boedi; Trisasongko, Bambang Hendro
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.756 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.76-83

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dilalui oleh jalur gunungapi aktif (ring of fire), memiliki lebih dari 400 gunungapi dan 130 di antaranya termasuk dalam kategori gunungapi aktif. Letusan gunungapi sangat berbahaya bagi makhluk hidup, namun dibalik itu banyak memberikan manfaat bagi manusia, di antaranya abu vulkanik merupakan bahan induk tanah yang subur untuk pertanian. Identifikasi dan pemetaan bentuklahan gunungapi sangat penting untuk keperluan mitigasi bencana dan dapat dilakukan melalui analisis geomorfologi dengan memanfaatkan data penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemanfaatan citra IKONOS untuk mengidentifikasi dan analisis bentuklahan vulkanik di Gunungapi Guntur. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa interpretasi geomorfologis dengan citra IKONOS pada tubuh G. Guntur dapat membedakan 16 bentuklahan, di antaranya adalah 3 kawah yang berbeda kronologi, 1 kubah lava, 7 aliran lava yang berbeda kronologi, 4 bentuklahan dari kerucut vulkanik, dan 1 bentuklahan terdegradasi oleh proses antropogenik. Kenampakan detil morfologi yang dapat direkam dan ditampilkan oleh citra IKONOS dapat membantu memilah bentuklahan G.Guntur dengan lebih baik dan rinci.
EARTHQUAKE RISK ANALYSIS IN CILACAP, CENTRAL JAVA PROVINCE: ANALISIS RISIKO GEMPABUMI DI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH Muhaimin, Muhaimin; Tjahjono, Boedi; Darmawan, Darmawan
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.905 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.28-34

Abstract

Gempabumi merupakan kejadian yang datangnya secara tiba-tiba. Hingga kini kejadian gempa bumi tersebut masih belum dapat diprediksi kedatangannya. Wilayah yang berdekatan dengan jalur subduksi pada umumnya merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana gempabumi, seperti Kabupaten Cilacap yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa. Gempabumi Tasikmalaya yang terjadi tanggal 2 September 2009, dengan magnitudo M 7.3 terbukti telah berdampak besar terhadap wilayah Kabupaten Cilacap. Hal ini yang membuat perlunya penelitian risiko gempabumi di wilayah Cilacap. Studi bahaya gempabumi dan kerentanan akan sangat mendukung untuk penilaian risiko maupun program mitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dan pemetaan bahaya, kerentanan, dan risiko gempabumi di kota Cilacap. Metode untuk analisis bahaya gempabumi menggunakan nilai percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dari hasil metode probabilistik. Untuk kerentanan gempabumi ditentukan berdasarkan jenis penggunaan lahan. Adapun untuk perhitungan risiko bencana gempabumi digunakan persamaan R = H × V. Berdasarkan hasil analisis bahaya, didapatkan bahwa seluruh Kota Cilacap tergolong ke dalam kelas bahaya sedang dengan nilai PGAM bervariasi dari 0.405 ? 0.494 gal. Berdasarkan hasil analisis kerentanan, diperoleh bahwa kerentanan tinggi terdapat di penggunaan lahan permukiman yang meliputi Desa-desa Tambakreja, Sidanegara, Donan, Tritih Kulon bagian selatan, Cilacap, Mertasinga, dan Kamulyan. Adapun hasil analisis risiko menunjukkan bahwa kelas risiko tinggi di daerah penelitian meliputi area seluas 3,237.40 ha yang terdapat di Desa-desa Lomanis, Tambakreja, Tritih Kulon, Sidanegara, Donan, Mertasinga, dan Cilacap, sehingga di desa-desa tersebut perlu mendapat perhatian dan prioritas untuk program mitigasi bencana ke depan. Kata kunci: Kota Cilacap, risiko gempabumi, percepatan tanah maksimum di permukaan, metode probabilistik
HAZARD ASSESSMENT AND MITIGATION DIRECTIVES OF FLOOD DISASTER IN CEKUNGAN BANDUNG AREA: PENILAIAN BAHAYA DAN ARAHAN MITIGASI BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG Irawan, Muhammad Fitrah; Hidayat, Yayat; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.306 KB) | DOI: 10.29244/jitl.20.1.1-6

Abstract

Banjir di Cekungan Bandung terjadi setiap tahun di wilayah cekungan terendah seperti di Kecamatan Majalaya, Ciparay, Deyeuhkolot, Rancaekek, Bojongsoang, dan Baleendah, Kab. Bandung. Kajian analisis bahaya dan arahan mitigasi banjir merupakan salah satu upaya untuk mengurangi risiko dari bencana tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bahaya dan menyusun arahan mitigasi banjir di wilayah Cekungan Bandung. Bahaya banjir diidentifikasi dengan menganalisis daerah bahaya banjir menggunakan Modification Topography Wetness Index (MTWI), sedangkan arahan mitigasi banjir dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil analisis bahaya dengan data penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2.36% daerah Cekungan Bandung termasuk kelas bahaya tinggi, 7.15% termasuk bahaya sedang, dan 90.49% termasuk daerah bahaya rendah. Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan yang rendah juga menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Cekungan Bandung. Pada zona prioritas arahan mitigasi banjir dilakukan dengan pembuatan saluran drainase tambahan untuk mengalirkan air dari cekungan terendah. Selain itu, perlu dilakukan pengendalian penggunaan lahan dengan cara penegakan hukum terhadap penggunaan lahan yang tidak sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan pada lahan kritis di DAS Citarum Hulu. Kata kunci: Cekungan Bandung, banjir, bahaya, mitigasi
KAJIAN GEOMORFOLOGI, BAHAYA DAN RISIKO BANJIR, SERTA APLIKASINYA UNTUK EVALUASI TATA RUANG KOTA SINTANG Pramulya, Muhammad; Gandasasmita, Komarsa; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 2 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.681 KB) | DOI: 10.29244/jitl.13.2.63-71

Abstract

Kota Sintang di Kalimantan Barat dikenal sebagai kota yang sering tergenang banjir pada musim penghujan. Kota ini tumbuh tepat pada pertemuan dua sungai besar, yaitu Kapuas dan Melawi, atau secara geomorfologi tumbuh di dataran banjir yang luas/dataran aluvial kedua sungai. Bencana banjir pernah terjadi pada tahun 1963, menggenangi sebagian besar pemukiman, menelan banyak korban, dan kerusakan. Meskipun akhir-akhir ini banjir tidak begitu besar, namun banjir besar seperti masa lalu dapat terulang kembali di waktu mendatang. Untuk mengurangi bencana seperti ini, maka diperlukan kajian tentang banjir dan program penanggulangan bencana. Tujuan penelitian ini adalah (1) melakukan analisis dan pemetaan bahaya dan risiko banjir dan (2) evaluasi tata ruang (RDTR) Kota Sintang berdasarkan pada bahaya banjir. Pendekatan geomorfologis digunakan untuk menganalisis bahaya banjir melalui kajian morfogenesis dan morfologi bentuk lahan serta sejarah banjir. Untuk menilai risiko digunakan data bahaya banjir dan kerentanan penggunaan lahan. Scoring terhadap parameter geomorfologi dan penggunaan lahan dibuat dan dikombinasikan dengan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% wilayah Kota Sintang dibentuk dari bentuk lahan asal proses fluvial dan menurut penilaian bahaya banjir, 0.8% dari wilayah Kota Sintang terklasifikasi ke dalam bahaya sangat rendah, 57.2% rendah, 31.5% sedang, dan 10.5% tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir separuh wilayah kota terancam banjir pada tingkat sedang hingga tinggi. Berdasarkan hasil analisis bahaya banjir tersebut dikaitkan dengan kerentanan penggunaan lahan, didapatkan bahwa 0.9% dari wilayah kota memiliki risiko banjir sangat rendah, 70.1% rendah, 22.5% sedang, dan 6.5% tinggi. Dua kelas terakhir, menurut persebarannya, mencakup seluruh area terbangun, seperti perumahan, perkantoran, dan kawasan komersial. Keadaan ini menandakan bahwa hampir sepertiga dari area terbangun Kota Sintang terancam oleh banjir baik pada tingkat bahaya sedang maupun tinggi. Hasil evaluasi RDTR menunjukkan bahwa hampir separuh dari alokasi ruang terbangun (44.4%) mempunyai risiko sedang dan hanya sebagian kecil (4.10%) mempunyai risiko tinggi. Dengan demikian upaya penanggulangan bencana harus menjadi prioritas utama oleh Pemerintah untuk menurunkan tingkat risiko.
PEMANFAATAN CITRA QUICK BIRD UNTUK VERIFIKASI PETA BERBASIS KEPEMILIKAN LAHAN (STUDI KASUS: DELTA CIPUNAGARA, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT) Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 1 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.397 KB) | DOI: 10.29244/jitl.14.1.37-43

Abstract

Pemetaan kadastral atau pemetaan berbasis kepemilikkan lahan telah diamanatkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan yaitu pada Pasal 1 ayat 3. Namun kebijakan ini belum terrealisasi secara nasional. Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Kabupaten Subang, Jawa Barat telah melakukan pemetaan lahan berbasis kepemilikan lahan, yaitu peta persil lahan tambak di Delta Cipunagara yang dilakukan secara terestris. Di sisi lain, telah banyak tersedia data penginderaan jauh resolusi tinggi seperti Citra Quick Bird yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari manfaat Citra Quick Bird untuk verifikasi peta persil lahan tambak. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan bentuk Delta Cipunagara yang bersumber dari PBB dan Citra Quick Bird; (2) persil tambak yang dibatasi dengan ?galengan? saja mudah diidentifikasi dari Citra Quick Bird; (3) terdapat perbedaan posisi blok dan persil tambak antara Peta Persil dari Kantor PBB dan Citra Quick Bird; dan (4) terdapat pergeseran posisi persil tambak antara peta yang bersumber dari Kantor PBB dengan Citra Quick Bird, berkisar (1.5-57.2) m, dengan rata-rata 19.9 m. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa luas persil yang bersumber dari Kantor PBB memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil hasil pengukuran lapang (R2=93.0%). Demikian juga untuk luas persil dari Citra Quick Bird memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil dari Kantor PBB (R2=94.3%). Namun tingkat kesesuaian antara luas persil dari Citra Quick Bird dan pengukuran lapang relatif lebih rendah (R2 = 63.2%).
MITIGASI BANJIR DAS CITARUM HULU BERBASIS MODEL HEC-HMS: FLOOD MITIGATION OF UPPER CITARUM BASE ON HEC-HMS MODEL Listyarini, Diah; Hidayat, Yayat; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 20 No 1 (2018): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.19 KB) | DOI: 10.29244/jitl.20.1.40-48

Abstract

Floods that occur almost every year in the Upper Citarum River Watershed cause these watersheds to be in the spotlight of various parties. Hydrological modeling is one of the flood mitigation techniques for predicting flood discharge in a watershed. The HEC-HMS model can be used for prediction flood discharge base for analysis of a catchment system, particularly for calculating the unmeasured rainfall-runoff. HEC-HMS consists of rainfall and catchment characteristics as input and flow discharge and runoff volume as output. The objectives of this research are: (i) to the overview performance of the HEC-HMS model to predict peak discharge in Upper Citarum Watershed; (ii) to analyst of flood discharge using simulation HEC-HMS model; (iii) to recommend flood mitigation scenario to reduce peak discharge in Upper Citarum Watershed. Primary preparation of HEC-HMS model parameter input calculated by HEC-GeoHMS with the SCS method. Flood discharge calculated in the HEC-HMS model by SCS- Unit Hydrograph method for transform component, recession method for baseflow component, and lag method for routing component. The result showed that the HEC-HMS model has good performance in predicting flood discharge with R2 and NSE value in the calibration process by 0.81-0.96 and 0.56-0.87. The validation process in predicting flood discharge produced R2 and NSE value by 0.81-0.94 and 0.45-0.76 respectively. 4th scenario is best practice management that can be implemented in reduced peak discharge up to 61.96%, to increase time to peak by 3.75 hours and reduce volume discharge up to 49.58%. Keywords: Citarum upstream, flood mitigation, HEC-HMS, peak discharge, SCS method
PENGEMBANGAN WILAYAH PETERNAKAN SAPI POTONG BERBASIS KESESUAIAN FISIK LINGKUNGAN DAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK PAKAN DI KABUPATEN CIANJUR Suhaema, Ema; Widiatmaka, Widiatmaka; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 2 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.86 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.2.53-60

Abstract

Kondisi fisik optimal ternak dapat dicapai bila didukung oleh kesesuaian lingkungan fisik tempat ternak tumbuh dan kecukupan hijauan sebagai makanan ternak. Analisis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) pada berbagai peta digital (peta pengunaan lahan, peta suhu, peta tanah, peta elevasi, dan peta curah hujan) dan data- data tabular untuk menilai kesesuaian fisik lingkungan, kesesuaian hijauan makanan ternak dan daya dukung hijauan makanan ternak. Luas kesesuaian fisik lingkungan untuk ternak sapi potong di Kabupaten Cianjur yang digembalakan adalah 193,282 hektar (ha) (53.45% dari total luas wilayah), sedangkan lahan yang tidak sesuai 3,076 ha (0.85%). Lahan yang sesuai secara fisik lingkungan untuk pengembangan sapi potong yang dikandangkan seluas 112,877 ha (31.21%), lahan yang sesuai dengan pembatas Temperature Humidity Indexs (THI) seluas 60,616 ha (16.76%) dan lahan yang tidak sesuai seluas 22,865 ha (6.32%). Luas kesesuaian hijauan makanan ternak adalah 194,566 ha (53.80%) dan luas lahan yang tidak sesuai adalah 1,792 ha (0.50%). Daya dukung hijauan di Kabupaten Cianjur berada dalam kriteria aman seluas 186,479 ha (51.56%) dan wilayah yang rawan pakan ternak seluas 9,880 ha (2.73%). Wilayah untuk pengembangan peternakan sapi potong yang digembalakan di Kabupaten Cianjur seluas 126,626 ha (35.01%) dan untuk pengembangan peternakan sapi potong yang dikandangkan seluas 78,065 ha (21.59%).
PROSPEK PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN DI WILAYAH BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO Rahman, Rival; Baskoro, Dwi Putro Tedjo; Tjahjono, Boedi
TATALOKA Vol 17, No 4 (2015): Volume 17 Number 4, November 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.251 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.17.4.209-222

Abstract

Agricultural land use planning is essential for a region in developing their agricultural commodities. Boliyohuto region is a region which has the potential for very large land resources, especially for the development of agricultural commodities.The purpose of this study was to see how the development prospects of plantation commodities in the commodity Boliyohuto based economic development as well as physical resources of land. Data analysis method used is the image interpretation, Location Quotient (LQ) and Shift Share Analysis (SSA) to determine the main commodity and Land Suitability Analysis.The analysis showed the extent of the potential for development of superior commodities is an area of 24.655 ha. Then seeded commodities in this region are coconut, coffee, cocoa and cotton. Based on the results analsisi land suitability, land suitability classes for each commodity is moderately suitable (S2), marginally suitable (S3), and is not suitable (N). From these results, the prospects for the development of plantation commodities in the region Boliyohuto covers, palm development potential area of 16133.44 hectares, an area of 13159.41 ha of coffee, and cocoa area of 13543.94 ha.
PERENCANAAN KOTA HIJAU YOGYAKARTA BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KECUKUPAN RTH Ratnasari, Amalia; Sitorus, Santun R.P; Tjahjono, Boedi
TATALOKA Vol 17, No 4 (2015): Volume 17 Number 4, November 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.993 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.17.4.196-208

Abstract

Green City concept is a concept of sustainable urban development that harmonize the natural environment and man made environment as a response to environmental degradation. Actualizing the green city, one of its attributes green open space is strictly regulated in Law No. 26 Year 2007 about Spatial Planning. The total area of the city 30% must be used as green open space (RTH), 20% as public RTH and 10% as private RTH. The purposes of this research are identifying vast and distribution of land use and RTH existing in Yogyakarta city, analyzing the adequacy of RTH based on vast territory and total population, determining areas that could potentially be developed for RTH, and arranging development strategy toward to Yogyakarta Green City. Several methods were used in this research, among others : image interpretation and analysis the adequacy of RTH is calculated based on vast territory and total population. The results showed that RTH eksisiting is 584.45 ha or 17.78%, consisting public green open space covering an area of 329.63 ha and private green open space for 254.82 ha. Based on vast territory, Yogyakarta city still needs 390.55 ha of  green open space , while based on total population, green open space still lack for 220.91 ha. Potential area in Yogyakarta City is 30.94 ha. RTH development strategy of Yogyakarta City focused on maintaining and increasing the quality of existing RTH, adding unused area as public RTH and developing green corridor. This indicates that green open space in Yogyakarta city is not sufficient based on the standard needed toward Green City.