I Gusti Made Krisna Erawan, I Gusti Made Krisna
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

PRODUKSI ANTIBODI ANTI-DIROFILARIA IMMITIS UNTUK PENGEMBANGAN DIAGNOSIS DIROFILARIASIS PADA ANJING Erawan, I Gusti Made Krisna; Tjahajati, Ida; Nurcahyo, Wisnu; Asmara, Widya
Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dirofilaria immitis (D. immitis) sebagai agen penyebab penyakit cacing jantung tidak hanya menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis. Untuk mendiagnosis dirofilariasis (penyakit yang disebabkan oleh D. immitis) secara serologis dibutuhkan antibodi anti-D. immitis.  Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi antibodi terhadap antigen ekskretori-sekretori cacing jantan dan cacing betina untuk pengembangan diagnosis berbasis deteksi antigen. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa antigen ekskretori-sekretori jantan (male excretory-secretory antigens/MES), antigen ekskretori-sekretori betina (female excretory-secretory antigens FES) dan antigen ekskretori-sekretori jantan dicampur dengan betina (MES+FES) D. immitis dapat merangsang pembentukan antibodi poliklonal pada mencit BALB/c dengan pola produksi yang sama. Antibodi telah terbentuk pada hari ke-21 dan titernya mencapai puncak pada hari ke-35 setelah imunisasi.
LAPORAN KASUS: ANAPLASMOSIS PADA ANJING POMERANIAN Erawan, I Gusti Made Krisna; Duarsa, Bima Satya Agung; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seekor anjing ras Pomeranian, berjenis kelamin jantan, bernama Dodo, berumur tiga tahun dengan bobot badan 8,5 kg  mengalami epistaksis pada kedua lubang hidung sejak seminggu sebelum dilakukan pemeriksaan. Anjing kasus tampak lemas dan pada bagian punggung ditemukan caplak Rhipichepalus. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia, eosinofilia, dan trombositopenia. Pada pemeriksaan ulas darah tipis tidak teramati agen asing secara jelas. Untuk membantu menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan dengan rapid test kit yang dapat mendeteksi antobodi E. canis dan Anaplasma sp.  Hasil rapid test kit menunjukan pada darah anjing kasus terdeteksi antibodi Anaplasma sp. Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium, anjing kasus didiagnosis menderita anaplasmosis dengan prognosis fausta. Setelah diberikan pengobatan selama 10 hari dengan antibiotik doxycicline, asam traneksamat, dan Livron B-pleks anjing kasus secara klinis tampak sehat.
KEMANJURAN FLURALANER UNTUK PENGOBATAN DEMODEKOSIS PADA ANJING PERSILANGAN Erawan, I Gusti Made Krisna; Puspaeni, Ni Ketut Juni; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demodekosis adalah penyakit dermatologis yang diakibatkan oleh infeksi Demodex sp. Tungau Demodex canis dalam jumlah kecil pada kulit tidak menimbulkan gejala klinis pada anjing yang sehat dan jumlahnya tetap rendah karena sistem imun anjing. Namun, bila kondisi imun anjing menurun maka Demodex sp. akan berkembang menjadi lebih banyak dan menimbulkan penyakit kulit. Telah dilakukan pemeriksaan anjing betina ras persilangan bernama Putih berumur dua tahun, bobot badan 7 kg dengan keluhan rambut rontok, kegatalan, dan kemerahan pada kulit. Pemeriksaan klinis ditemukan adanya kebotakan, kemerahan, hiperkeratosis, dan kegatalan pada kulit di leher, dada, abdomen, kaki depan dan kaki belakang, dan pada daerah punggung ditemukan scale. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopik ditemukan adanya tungau D. canis dan hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik normokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, anjing kasus didiagnosis menderita demodekosis. Pengobatan kausatif dilakukan dengan pemberian fluralaner tablet kunyah 250 mg secara oral sekali pemberian. Anjing kasus juga diterapi dengan chlorfeniramin maleat (0,5 mg/kg BB; q12h; selama lima hari), fish oil, dan vitamin B-kompleks sebagai pengobatan suportif sekali sehari selama 10 hari. Anjing juga dimandikan dengan sampo antiparasit dua kali seminggu. Setelah ditangani selama 10 hari, frekuensi menggaruk dan kemerahan pada kulit berkurang, dan rambut mulai tumbuh. Pada minggu kelima sudah tidak ditemukan lesi pada kulit dan rambut tumbuh dengan baik sehingga rambut tampak sehat dan bertambah lebat. Dapat disimpulkan bahwa pengobatan demodekosis pada anjing dengan menggunakan fluralaner memberikan hasil yang baik.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI KULIT ANJING PENDERITA DERMATITIS (HISTOPATHOLOGICAL FEATURES OF DOG’S SKIN WITH DERMATITIS) Purnama, Komang Andika; Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Erawan, I Gusti Made Krisna; Kardena, I Made; Suartha, I Nyoman
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.486

Abstract

Complex dermatitis is a disorder of the skin caused by the combination of several agents such as fungi, ectoparasites, bacteria, and metabolic diseases with combined clinical symptoms of primary lesions and secondary lesions. This study aims to determine the histopathology of dog skin with complex dermatitis. There were 15 samples of dogs with complex dermatitis, skin biopsy and histopathology. The results showed that the incidence of complex dermatitis in young dogs was 60%, long-haired 67%, male sex 73%, and domestic race 73%. Macroscopic examination found a change in hyperkeratosis. Microscopically observed that infiltration of polymorphonuclear cells, monomorphonuclear cells and macrofag from moderate to severe in the dermis. In hair follicles and epidermis occured akantosis, and keratin proliferation. There were segment fragments from infectious agents such as Demodex canis, Sarcoptes scabiei, and yeast from Malasezia sp. Other changes were observed in the presence of hydrophic degeneration, necrosis, and ulcers. Dogs suffering from complex dermatitis have chronic infections with more than one infectious agent. Disabilities based on histopathological observation of dogs with complex dermatitis with moderate severity of 33%, and severe 67%. 
PREVALENSI DAN INTENSITAS INFEKSI ANCYLOSTOMA SPP. PADA ANJING DI JAWA Erawan, I Gusti Made Krisna; Widyastuti, Sri Kayati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ancylostoma spp. dilaporkan menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang dan masyarakat miskin. Tingginya prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing memainkan peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap kejadian cutaneous larva migrans pada populasi manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Ancylostoma spp. pada anjing di Pulau Jawa. Pada penelitian ini diperiksa 13 sampel tinja anjing berasal dari Yogyakarta, 88 sampel tinja anjing dari Jawa Tengah, dan 40 sampel tinja anjing dari Jawa Barat. Pemeriksaan tinja dilakukan dengan metode apung dan Mc.Master. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing yang berasal dari Yogyakarta adalah 92,31%, Jawa Tengah adalah 88,64%, dan Jawa Barat adalah 92,5%. Disimpulkan bahwa angka prevalensi infeksi Ancylostoma spp. pada anjing di Pulau Jawa sangat tinggi dengan intensitas infeksi dari ringan sampai berat.
LAPORAN KASUS: PENANGANAN TOKSOKARIOSIS DAN SKABIOSIS PADA KUCING DOMESTIK BETINA BERUMUR ENAM BULAN Calista, Ruli Mauludina Djaya Putri; Erawan, I Gusti Made Krisna; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksokariosis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing nematoda, dari genus toxocara. Toksokariosis pada kucing disebabkan oleh Toxocara cati. Hewan kasus adalah kucing domestik berjenis kelamin betina, berumur enam bulan dengan berat satu kilogram. Kucing mengalami diare selama satu minggu. Berdasarkan pemeriksaan klinis ditemukan perbesaran abdomen dan kelainan pada kulit. Pemeriksaan kulit dengan skin scrapping yang dilakukan pada kulit bagian telinga yang mengalami hiperkeratosis menunjukkan hasil positif terhadap agen Notoedres cati. Pemeriksaan feses yang dilakukan dengan metode natif ditemukan telur cacing Toxocara cati. Berdasarkan hasil pemeriksaan kulit dan feses maka kucing kasus didiagnosis menderita toksokariosis dan skabiosis. Pengobatan toksokariosis dilakukan dengan pemberian obat pyrantel pamoat 1 ml (25 mg/kg BB) per oral. Pengobatan skabiosis pada kucing diberikan injeksi ivermectine sebanyak 0,02 ml (0,2 mg/kg BB) secara subkutan dan diulang dua minggu sekali. Kucing juga diberikan pengobatan suportif berupa vitamin B kompleks (S3dd ½ tab PO). Hasil pengobatan selama satu minggu menunjukkan perkembangan yang sangat baik, abdomen terlihat mengecil dan hiperkeratosis pada telinga berkurang.
HEART RATE OF RETICULATED PYTHONS (MALAYOPYTHON RETICULATUS) FROM BALI BASED ON ITS BODY LENGTH (DETAK JANTUNG ULAR SANCA BATIK (MALAYOPYTHON RETICULATUS) BERDASARKAN PANJANG TUBUH DI BALI) Purbantoro, Steven Dwi; Govendan, Puveanthan Nagappan; Erawan, I Gusti Made Krisna; Christiani, Zefanya; Erika, Erika; Rumbay, Yedija Putra Kusuma Wardana; Raharjo, Slamet
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.541

Abstract

This study was aimed to determine the correlation between heart rate and body length of reticulated python (Malayopython reticulatus) from the island of Bali. The study offers data of the M. reticulatus heart rate value to exotic animal veterinary practitioner. Fifteen clinically healthy snakes, consists of 9 females and 6 males were used in this study. Heart rate was measured twice a day during day and night using a fetal Doppler (BF-500 eBestman®, China) and body length using a measurement tape. Heart rate was analyzed with independent t-test to time collection and correlation to body length. Results show that heart rate mean value at day and night of the M. reticulatus from the island of Bali was each 65.68±14.093 bpm and 64.53±13.637 bpm. Heart rate value of wild-caught snakes is higher (67.90±15.290 bpm) than captivebred snakes (60.92±10.039 bpm). Total length (TL), snout-vent length (SVL), and snout-heart length (SHL) mean value of M. reticulatus from the island of Bali was each 168.6±90.67 cm, 149.53±82.77 cm, and 38.7±19.28 cm. Correlation between heart rate and total length has higher R-value (R = 0.802), and followed by snout-heart length (R = 0.800) and snout-vent length (R = 0.792). Statistically, it could be concluded that heart rate during day and night time shows no significant difference, heart rate value based on how it is kept is significantly different, and heart rate was negatively correlated to body length. 
GAMBARAN SITOLOGI CAIRAN PERITONEAL DAN SINOVIAL ITIK BALI (CYTOLOGIC FIGURES OF PERITONEAL AND SYNOVIAL FLUIDS IN BALI DUCKS) Utama, Iwan Harjono; Widyastuti, Sri Kayati; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Erawan, I Gusti Made Krisna; Winaya, Ida Bagus Oka; Ardana, Ida Bagus Komang; Rasid, Achoiro Wati; Yoga, Tyas Pandieka
Jurnal Veteriner Vol 17 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aim was to observe cellular composition and morphology in peritoneal and synovial fluids ofbali ducks. This study used 50 ducks, which were composed of 21 males and 29 females aged 8 to 12 weeks.After being declared clinically healthy, the sample ducks were slaughtered and peritoneal fluid specimenfrom the abdominal cavity and the synovial fluid of joints tibiotarsal were collected. Then, in preparationfor the specimen, each of fluid was smeared and stained with Giemsa. Observations were made under amicroscope with a magnification of 1000 times and observations expressed in the average number of cellsper field of view observation. The results showed (duck population that most of the observed sample): inthe peritoneal fluid there was 36% eosinophils observed and 38% had heterophile cells with 0-3 cells perfield of magnification 1000x view. Similarly, 28% ducks had lymphocytes with 13-16 cells, and as much as28% of ducks had macrophage cells with 5- 8 cells in observation . In the synovial fluid, however, 64%sample ducks had monocytes, while 72% having lymphocytes with 1-18 cells each of view field withmagnification 1000x. In addition, in the synovial fluid, as much as 62% of ducks also observed had 1 to 3cells heterophiles and 60% ducks had eosinophils (polimorphonuclear cells) per view field observation.Macrophage cells that were found in the peritoneal fluid were mainly hyper granulated. It can be concludedthat the amount of mononuclear cells in both types of body fluids is likely more dominant compared to thenumber of polymorphonuclear cells.
BASAL CELL EPITHELIOMA PADA ANJING PERSILANGAN Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Dewi, I Dewa Ayu Dian Sasmita; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.451

Abstract

Basal cell epithelioma adalah tumor jinak pada membrana basalis sel epitel kulit, yang belum diketahui penyebabnya secara pasti. Tumor ini bisa menyerang pada semua ras anjing baik jantan maupun betina dan umumnya ditemukan pada anjing yang berumur tua. Seekor anjing persilangan berumur tiga tahun, bobot badan 6,8 kg dan berjenis kelamin bertina diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya benjolan disertai tukak pada bagian bawah leher. Secara fisik anjing teramati seakan-akan sehat dengan napsu makan dan minum baik, defikasi dan urinasi normal. Hasil pemeriksaan histopatologis jaringan yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, terdapat bentukan seperti pita (garland) pada jaringan tumor tersebut, sehingga anjing didiagnosis menderita basal cell epithelioma dengan prognosis fausta. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi) untuk mengangkat masa tumor pada bagian leher dan pemberian antibiotika cepotaxim dengan analgesik asam mefenamat. Satu minggu pascaoperasi anjing dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.
LAPORAN KASUS: EHRLICHIOSIS PADA ANJING KINTAMANI BALI Erawan, I Gusti Made Krisna; Sumardika, I Wayan; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Ardana, Ida Bagus Komang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (1) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ehrlichiosis merupakan penyakit penting pada anjing yang disebabkan oleh bakteri intraselular gram negatif dari genus Ehrlichia yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Seekor anjing kintamani bali diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; lemas, mimisan, nafsu makan dan minum menurun. Hasil pemeriksaan fisik; dari lubang hidung keluar darah encer dan membran mukosa mulut pucat.  Pada kulit ditemukan infestasi capak Rhipicephalus. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia mikrositik normokromik, trombositopenia, leukositosis, dan limfositosis. Pemeriksaan darah dengan test kit menunjukkan positif E. canis. Sehingga anjing kasus didiagnosis menderita ehrichiosis. Pengobatan dengan menggunakan doksisiklin memberikan hasil yang memuaskan.