NI LUH PUTU ERMA MERTANINGRUM, NI LUH PUTU ERMA
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana Jalan PB Sudirman 80232 Bali

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PROFIL INDUSTRI KERAJINAN DULANG DAN SUMBANGANNYA TERHADAP PENDAPATAN TOTAL RUMAH TANGGA PETANI DI DESA PENGOTAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI MERTANINGRUM, NI LUH PUTU ERMA; WIDYANTARA, I WAYAN; DJELANTIK, A.A.A WULANDIRA SAWITRI
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata (Journal of Agribusiness and Agritourism) Vol.4, No.5, Desember 2015
Publisher : Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Dulang Craft Industry Profile and the Contributions Against Total Household Income of Framer in Pengotan village of Bangli District of Bangli Regency Pengotan village is a village that became the center of handicraft industry of household, one types of handicraft that produced in this village is the dulang craft. Dulang is one of the means that used as offerings at Hinduism ceremony. In addition, the survival dulang industry this is also useful as a medium inpreserving local culture. The purpose of this study is to find out how much acceptance of farmer household is; to determine how the labor productivity and productivity costs such; and to find out how big the contribution of dulang industry to total household income of farmers. Data analysis method that used in this study is the formula of acceptance, the labor productivity and costs productivity and the percentage contribution of the craft. The results showed that, the handicraft industry is able to provide additional income to the total income of the household, the level of labor productivity and costs productivity dulang craft industry can be classified as an i productive industrial because it has more value than one, and dulang craft workmanship able to providing a substansial contribution to earning total farm households. Keywords: Pengotan Village, Dulang Craft
PENGEMBANGAN AGROWISATA BERLANDASKAN KONSEP TRI HITA KARANA DI SUBAK UMA LAMBING, KECAMATAN ABIANSEMAL, KABUPATEN BADUNG Mertaningrum, Ni Luh Putu Erma; Windia, Wayan -; Dewi, Ratna Komala
JURNAL MANAJEMEN AGRIBISNIS Vol 7 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Program Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMA.2019.v07.i01.p7

Abstract

ABSTRAK Dalam upaya pengembangan agrowisata di Subak Uma Lambing, perlu untuk menganalisis potensi, bentuk pembangunan, dan kesesuaian antara situasi ideal dan situasi aktual subak. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan analisis berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi, bentuk pengembangan agrowisata, dan kesesuaian antara situasi ideal dan situasi aktual di Subak Uma Lambing terkait dengan pengembangan agrowisata berdasarkan konsep Tri Hita Karana. Penelitian ini menggunakan pekaseh dan pelaku pariwisata sebagai informan utama, dan anggota subak sebagai responden. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, kuesioner, dokumentasi, dan triangulasi. Metode dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, dan analisis matriks hubungan antara sub-sistem teknologi dan sub-sistem budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Subak Uma Lambing memiliki potensi objek wisata, jenis transportasi, aliran listrik dan penerangan. Jalan, tempat parkir, fasilitas kesehatan, kios makanan dan minuman, toko suvenir, penginapan, dan aksesibilitas berdasarkan jarak dan kemudahan dengan lokasi wisata lainnya. Agrowisata dikembangkan dengan menggunakan aspek pola pikir, aspek sosial, dan aspek artefak dengan bentuk-bentuk alternatif agrowisata adalah pelacakan, jogging, bersepeda, metekap, nandur, manyi, memberi makan sapi, memberi makan ikan, perjalanan memancing, memetik buah-buahan dan sayuran. , mempelajari instrumen rindik, menonton kegiatan ritual, menikmati makanan khas Bali, mejejahitan, pembungkus capil, permainan tradisional, hiburan Tari Bali dan menginap di rumah krama subak. Secara umum penerapan konsep Tri Hita Karana mendekati situasi ideal, tetapi pada hubungan sub-sistem sosial dengan sistem sub-organoware belum mencapai yang ideal. Dalam studi ini, disarankan untuk menjaga kebersihan saluran irigasi, serta meningkatkan dan melengkapi fasilitas dan infrastruktur. Perlu dibuat kesepakatan tentang tata krama, pemerintah daerah dan biro pariwisata, kolaborasi antara lembaga subak dan krama untuk mewujudkan aspek artefak.