Yenni Vetrita, Yenni
Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh - LAPAN

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISIS PEMANFAATAN DAN VALIDASI HOTSPOT VIIRS NIGHTFIRE UNTUK IDENTIFIKASI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA (ANALYSIS OF USE AND VALIDATION VIIRS NIGHTFIRE HOTSPOT FOR IDENTIFICATION OF FOREST AND LAND FIRE IN INDONESIA) Zubaidah, Any; Vetrita, Yenni; M. Priyatna, -; Ayu D, Kusumaning; Suwarsono, -
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 12 No. 1 Juni 2015
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suomi National Polar-orbiting Partnership (Suomi NPP) yang diluncurkan pada 28 Oktober 2011 merupakan satelit cuaca generasi baru dari NASA yang saat ini masih terus mengembangkan algoritma aplikasi untuk pemantauan lingkungan. Salah satu produk yang dihasilkan adalah pendeteksian titik panas (hotspot) yang telah menghasilkan informasi bersifat global. Oleh karena itu, evaluasi untuk wilayah spesifik perlu dilakukan. Makalah ini bertujuan untuk melakukan validasi produk hotspot akusisi malam hari disebut VIIRS Nightfire (VNF) di Indonesia, khususnya Riau. Produk Hotspot MODIS (MOD 14) malam hari juga digunakan sebagai pembanding. Analisis statistik dilakukan untuk menghitung ketepatan lokasi hotspot pada radius 1 dan 2 km dari data referensi yang digunakan. Data meliputi survei lapangan serta citra SPOT 5 yang memiliki resolusi spasial lebih tinggi. Akurasi dihitung pada semua hotspot yang terdeteksi dalam periode 3 minggu yang disesuaikan dengan ketersediaan citra SPOT 5, dengan mempertimbangkan analisis buffer tunggal dan dissolve. Hasilnya menunjukkan bahwa VNF memiliki nilai akurasi rata-rata yang tinggi sebesar 84.31%. Hasil ini sebanding dengan analisis yang dilakukan terhadap produk hotspot MODIS. Dengan demikian, VNF sangat signifikan digunakan bersama dengan produk hotspot MODIS khususnya untuk pemantauan kebakaran pada malam hari.Kata Kunci: Hotspot,VNF, Soumi-NPP, Satelit, Penginderaan Jauh
ANALISIS HUBUNGAN KODE-KODE SPBK (SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN) DAN HOTSPOT DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KALIMANTAN TENGAH Prasasti, Indah; Boer, Rizaldi; Ardiansyah, Muhammad; Buono, Agus; Syaufina, Lailan; Vetrita, Yenni
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.2.2.101

Abstract

Land and forest fire is one of causes ofland degradation in Central Kalimantan. Remote sensing dataapplications, especially READY-ARL NOAA and CMORPH data, are benefit forthe available climate observation data. The objectives of this research are: (1) to analyzis relationship between hotspots, FDRS and occurences of land and forest fire, and (2) to develop the estimation model of burned area from hotspot and FDRS codes. The result of this research showed that burned area can not be estimated by using number of hotspots. The drought code (DC) wich is one of FDRS codes has correlation with burned area. So, burned area can be estimated using drought code (DC) (R-sq = 58%) by using the following formula: Burned Area (Ha) = -62.9 + 5.14 (DC – 500).Keywords: land and forest fire, NOAA, CMORPH, hotspot
DROUGHT AND FINE FUEL MOISTURE CODE EVALUATION: AN EARLY WARNING SYSTEM FOR FOREST/LAND FIRE USING REMOTE SENSING APPROACH Vetrita, Yenni; Prasasti, Indah; Haryani, Nanik Suryo; Priyatna, M; Khomarudin, M Rokhis
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.ijreses.2012.v9.a1841

Abstract

This study evaluated two parameters of fire danger rating system (FDRS) using remote sensing data i.e. drought code (DC) and fine fuel moisture code (FFMC) as an early warning program for forest/land fire in Indonesia. Using the reference DC and FFMC from observation data, we calculated the accuracy, bias, and error. The results showed that FFMC from satellite data had a fairly good correlation with FFMC observations (r=0.68, bias=7.6, and RMSE=15.7), while DC from satellite data had a better correlation with FFMC observations (r=0.88, bias=49.91, and RMSE=80.22). Both FFMC and DC from satellite and observation were comparable. Nevertheless, FFMC and DC satellite data showed an overestimation values than that observation data, particularly during dry season. This study also indicated that DC and FFMC could describe fire occurrence within a period of 3 months before fire occur, particularly for DC. These results demonstrated that remote sensing data can be used for monitoring and early warning fire in Indonesia.
MANGROVE ABOVE GROUND BIOMASS ESTIMATION USING COMBINATION OF LANDSAT 8 AND ALOS PALSAR DATA Winarso, Gathot; Vetrita, Yenni; Purwanto, Anang D.; Anggraini, Nanin; Darmawan, Soni; Yuwono, Doddy M.
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.ijreses.2015.v12.a2687

Abstract

Mangrove ecosystem is important coastal ecosystem, both ecologically and economically. Mangrove provides rich-carbon stock, most carbon-rich forest among ecosystems of tropical forest. It is very important for the country to have a large mangrove area in the context of global community of climate change policy related to emission trading in the Kyoto Protocol. Estimation of mangrove carbon-stock using remote sensing data plays an important role in emission trading in the future. Estimation models of above ground mangrove biomass are still limited and based on common forest biomass estimation models that already have been developed. Vegetation indices are commonly used in the biomass estimation models, but they have low correlation results according to several studies. Synthetic Aperture Radar (SAR) data with capability in detecting volume scattering has potential applications for biomass estimation with better correlation. This paper describes a new model which was developed using a combination of optical and SAR data. Biomass is volume dimension related to canopy and height of the trees. Vegetation indices could provide two dimensional information on biomass by recording the vegetation canopy density and could be well estimated using optical remote sensing data. One more dimension to be 3 dimensional feature is height of three which could be provided from SAR data. Vegetation Indices used in this research was NDVI extracted from Landsat 8 data and height of tree estimated from ALOS PALSAR data. Calculation of field biomass data was done using non-decstructive allometric based on biomass estimation at 2 different locations that are Segara Anakan Cilacap and Alas Purwo Banyuwangi, Indonesia. Correlation between vegetation indices and field biomass with ALOS PALSAR-based biomass estimation was low. However, multiplication of NDVI and tree height with field biomass correlation resulted R2 0.815 at Alas Purwo and R2 0.081 at Segara Anakan.  Low correlation at Segara anakan was due to failed estimation of tree height. It seems that ALOS PALSAR height was not accurate for determination of areas dominated by relative short trees as we found at Segara Anakan Cilacap, but the result was quite good for areas dominated by high trees. To improve the accuracy of tree height estimation, this method still needs validation using more data.
KAPASITAS INDEKS LAHAN TERBAKAR NORMALIZED BURN RATIO (NBR) DAN NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) DALAM MENGIDENTIFIKASI BEKAS LAHAN TERBAKAR BERDASARKAN DATA SPOT-4 Parwati, Parwati; Zubaidah, Any; Vetrita, Yenni; Yulianto, Fajar; DS, Kusumaning Ayu; Khomarudin, M Rokhis
GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1996.976 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2012.18-1.193

Abstract

Pada penelitian ini, kapasitas indeks Difference Normalyzed Burn Ratio (dNBR) dan indeks Difference Normalized Vegetation Index (dNDVI)  sebagai indeks lahan terbakar telah dianalisis untuk mengidentifikasi lahan bekas terbakar di wilayah Provinsi Riau berdasarkan data SPOT-4. Baik dNBR maupun dNDVI merupakan selisih antara indeks NBR atau NDVI sebelum terjadi kebakaran (pre-fire) dengan sesudah terjadi kebakaran (post-fire). Data time-series SPOT-4 yang digunakan adalah periode Juli 2009, Oktober 2010, Maret 2011, Juni 2011 dan Juli 2011. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai ekstraksi NDVI atau NBR pada kondisi pre-fire mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pada kondisi post-fire. Umumnya hal tersebut menunjukkan adanya perubahan dari tingkat kehijauan vegetasi yang tinggi menjadi rendah. Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan (Agustus 2011), ternyata pada lahan bekas terbakar indeks dNBR (0.42) menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan dNDVI (0.19). Sementara di lokasi pembukaan lahan/hutan tanpa membakar, indeks dNDVI (0.53) lebih tinggi dibandingkan dNBR (0.05). Hal tersebut membuktikan bahwa indeks dNBR sangat sensitif dalam mengidentifikasi lahan bekas terbakar yang menghandalkan spektrum radiasi Shortwave Infrared (SWIR) yang peka terhadap rendahnya kadar air di lahan bekas terbakar. Sementara indeks dNDVI lebih cocok digunakan untuk mendeteksi perubahan lahan dari vegetasi ke non vegetasi tanpa membakar.Kata Kunci : SPOT-4, lahan bekas terbakar, dNBR, dNDVI, Riau ABSTRACTIn this study, Difference Normalyzed Burn Ratio (dNBR) and Difference Normalized Vegetation Index (dNDVI) derived from SPOT-4 images were analyzed for identifying burn scar in Riau Province.The dNBR and dNDVI are the differences between NBR or NDVI in pre-fire condition and in post-fire condition. The time-series SPOT-4 images used in this study  have accusition month onJuly2009, October 2010, March 2011, June 2011, and July 2011. Results show that both NDVI and NBR have higher values in pre-fire rather than in post-fire condition. Generally, it shows the change in green vegetation level from high in vegetation cover to lower level in burnt area. However, by referring to field survey data (August 2011), the dNBR (0.42) shows higher value than the dNDVI (0.19) in burnt area. The indices were also applied in opened land/forest without burning activity which showed higher dNDVI (0.53) values rather than dNBR (0.05). Therefore, it has been proved that the dNBR index is more suitable to identify burnt area which has Shortwave Infrared (SWIR) spectrum that is more sensitive to moisture content in burnt area. Meanwhile the dNDVI could be used to identify forest changes to non forest cover without burning activitiy.Key Words : SPOT-4, burn scar, dNBR, dNDVI, Riau
VALIDASI HOTSPOT MODIS DI WILAYAH SUMATERA DAN KALIMANTAN BERDASARKAN DATA PENGINDERAAN JAUH SPOT-4 TAHUN 2012 (MODIS HOTSPOT VALIDATION OVER SUMATERA AND KALIMANTAN BASED ON REMOTE SENSING DATA SPOT-4 IN 2012) Zubaidah, Any; Vetrita, Yenni; Khomarudin, M. Rokhis
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 11 No. 1 Juni 2014
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indikator kebakaran hutan dan lahan dapat ditunjukkan dengan adanya hotspot dan asap kebakaran. Saat ini informasi hotspot sebagai indikator kebakaran hutan/ lahan sudah digunakan dengan baik oleh masyarakat, namun masih diragukan akurasi dari informasi tersebut. Oleh karena itu informasi tentang hotspot yang tervalidasi sangat dibutuhkan dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan/lahan secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi titik hotspot dari beberapa sumber data, yaitu IndoFire Map Service (Indofire) dan Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Validasi dilakukan dengan membandingkan data hotspot dengan kenampakan citra yang resolusinya lebih tinggi, yaitu SPOT-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hasil akurasi hostpot FIRMS sebesar 64% dengan tingkat Commision error dan Ommision error masing-masing 18%. Sedangkan persentase hasil akurasi hostpot Indofire ditemukan sebesar 42% dengan tingkat Commision error 20% dan Ommision error 38%. Analisis lebih lanjut di lahan gambut, telah diperoleh nilai akurasi hotspot Firms sebesar 66% dengan commision error 19% dan ommision error 15%, sedangkan hotspot Indofire ditemukan sebesar 46% dengan commision error 19% dan ommision error sekitar 35%. Nilai akurasi hotspot yang bersumber dari FIRMS lebih tinggi dibandingkan dengan hotspot Indofire. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan semua tingkat kepercayaan hotspot (confidence level) mulai dari 5 hingga 100% yang berbeda dengan Indofire (confidence level>80%). Tingginya nilai ommision error disebabkan oleh kabut asap tebal dan awan yang tidak bisa dideteksi oleh algoritma MODIS. Disamping itu, tingginya nilai ommision error disebabkan oleh kebakaran asap kecil yang dideteksi di SPOT-4 dan juga kebakaran yang baru terjadi yang ditandai oleh asap yang belum menyebar luas, namun hotspot tidak terpantau oleh satelit. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan semua confidence level hotspot perlu dipertimbangkan untuk digunakan khususnya pada lahan gambut dibandingkan hanya menggunakan yang lebih besar dari 80% saja.Kata kunci: Hotspot, MODIS, Confidence level, Indofire, FIRMS-NASA, Penginderaan jauh
EVALUASI PRODUK MODIS GROSS PRIMARY PRODUCTION PADA HUTAN RAWA GAMBUT TROPIS INDONESIA (MODIS GROSS PRIMARY PRODUCTION EVALUATION IN TROPICAL PEAT SWAMP FOREST OF INDONESIA) Vetrita, Yenni; Hirano, Takashi
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 9 No. 2 Desember 2012
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode Gross Primary Production (GPP) dikembangkan sebagai salah satu pendekatan perhitungan cadangan karbon yang tersimpan dalam vegetasi. Salah satu produk GPP yang secara operasional dapat diunduh secara cuma-cuma adalah MOD17 yang diperoleh dari Satelit Terra/Aqua MODIS, NASA. Mengingat produk ini masih bersifat global, maka upaya pengujian perlu dilakukan di beberapa tipe ekosistem. Baru-baru ini, NASA telah meluncurkan produk versi baru yang pengujiannya belum banyak dilakukan di hutan tropis, khususnya di wilayah Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi MODIS GPP versi baru (MOD17A2-51) di hutan rawa gambut, Provinsi Kalimantan Tengah, menggunakan analisis time series dan uji statistik data lapangan (GPP_EC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa data 8-harian MODIS GPP memiliki pola time series yang hampir sama dengan MOD-EC meskipun secara statistik memberikan korelasi yang kurang baik. Secara umum, MODIS GPP cenderung memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan GPP_EC baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau. Sebaliknya, pada musim kemarau yang sangat panjang, seperti pada tahun 2002 akibat ENSO, nilai MODIS GPP cenderung overestimate dibandingkan GPP_EC. Walaupun demikian, nilai akumulasi GPP dengan mempertimbangkan musim (kemarau dan hujan) menunjukkan hubungan yang baik (r=0.94, RMS= 17.47, and Efficiency score= 0.68). Periode musim kering ke-2 (Agustus-Oktober) menunjukkan distribusi nilai yang lebih baik dibandingkan periode musim lainnya. Penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa MODIS GPP versi 51 dapat digunakan untuk pemantauan kandungan biomasa berdasarkan musim di hutan rawa gambut tropis Indonesia. Kata Kunci: MODIS GPP, Karbon, Hutan rawa gambut tropis, Degradasi