Haryo Mustiko Dipoyono, Haryo Mustiko
Bagian Prortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Pembuatan Prothesa Telinga dengan Metode Pencetakan Tiga Lapis Fathurrahman, Helmi; Ismiyati, Titik; Saleh, Suparyono; Dipoyono, Haryo Mustiko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Defek telinga unilateral ataupun bilateral dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya trauma, kelainan pertumbuhan, atau prosedur pengangkatan kanker. Kondisi ini akan mempengaruhi psikologis pasien karena telinga merupakan organ vital yang membentuk estetika wajah. Salah satu perawatan rehabilitasi pada defek telinga adalah dengan pembuatan protesa telinga. Tahapan penting dari pembuatan protesa telinga adalah mendapatkan cetakan yang akurat untuk membuat pola malam. Teknik pencetakan dalam pembuatan prothesa telinga diantaranya metode reversible hydrocolloid dengan sendok cetak malam, irreversible hydrocolloid dengan sendok cetak kaku dan metode pencetakan tiga lapis. Keunggulan teknik pencetakan tiga lapis adalah mudah di lakukan dan akurasi hasil pencetakan yang baik. Tujuan laporan kasus ini adalah mengaplikasikan teknik pencetakan tiga lapis dalam pembuatan prothesa telinga.Perawatan dilakukan pada seorang pria berusia 14 tahun yang mengalami defek kongenital telinga dextra (unilateral). Langkah pertama dalam pembuatan prothesa yaitu pencetakan telinga normal dan defek, dilanjutkan pembuatan pola malam dan basis protesa, kemudian tahap try in pola malam, processing silikon, dan insersi. Prosedur pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis yaitu mengaplikasikan irreversible hidrocolloid pada regio post aurale (lapisan pertama), regio pra aurale, permukaan internal, (lapisan kedua), dan permukaan luar telinga (lapisan ketiga). Hasil pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis adalah tiga lapisan irreversible hidrocolloid yang solid dan mudah untuk dipisahkan sehingga menjamin akurasi hasil pengecoran. Kesimpulan laporan kasus ini adalah teknik pencetakan tiga lapis dapat diaplikasikan dalam pembuatan prothesa telinga.ABSTRACTS: Triple Layer Impression Method For Auricular Prosthesis. An unilateral or bilateral auricular defect can be caused by several factors including trauma, congenital malformation or surgical removal of neoplasm. These condition will affect patient psycologic because ear is a vital part of facial aesthetic. One of rehabilitation care of auricular defect is an auricular prosthesis. Important stage of making auricular prosthesis is to obtain accurate impression to make wax pattern. Impression technique including method of reversible hydrocolloid with wax collar, irreversible hydrocolloid with rigid tray and triple layer impression method. The excellence of the triple layer impression technique are easy to do and accuracy of good impression result. The aim of this case report is to apply triple layer impression method in the making of auricular prosthesis. The treatment was done in 14 years old male patient with chief compain of congenitally defect of external dextra ear. First step of making auricular prosthesis is making an impression of defect area and opposite ear, making prothesa basis and wax pattern, try in the wax pattern, sillicone processing, and insertion the prothesa. Triple layer impression method was done in three step, first the impression material was injected to post aurale region (first layer), than injected to internal surface of ear (second layer). Subsequently, the third layer of impression material was partially filled into the tray and external surface of ear.The result of triple layer impression method in the making of auricular prosthesis is triple layer of solid irreversible hydrocolloid but separatable completly. Conclusion of this case report is the triple layer impression method is suitable for making an auricular prosthesis.
Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Obturator Rahang atas pada Kasus Kelas III Arammany dengan Penguat Mini Dental Implant untuk Protesa Rahang Bawah Pradana, F. Wihan; Dipoyono, Haryo Mustiko; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4690.31 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16481

Abstract

Latar belakang. Kasus Edentulous dengan defek maksilofasial pada geriatri merupakan kasus yang komplek dan menyangkut estetika serta fungsi rongga mulut. Penggunaan hollow bulb dan implant untuk memberikan retensi merupakan alternatif cara yang dapat digunakan dalam perawatan defek maksilofasial dan sisa lingir alveolar yang tipis. Tujuan. dari pembuatan protesa GTL ini ialah untuk mengembalikan fungsi pencernaan rongga mulut sehingga dapat mengembalikan kemampuan mencerna dan mengolah makanan. Pembuatan GTL diupayakan untuk dapat retentif dan stabil sehingga protesa dapat bermanfaat sebagai instrumen rehabilitatif dalam rongga mulut. Kasus. Pasien laki-Iaki usia 70 tahun datang ke klinik prostodonsia FKG UGM dengan keluhan gigi tiruan lengkap yang longgar dan tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga makanan dan minuman dapat keluar dari hidung melalui lubang di area palatum yang timbul kurang lebih 2 bulan sebelum datang ke RSGM. Penanganan. Setelah dilakukan proses bedah pengangkatan tumor oleh Onkologis selanjutnya dilakukan perencanaan pembuatan GTL. Paska operasi pasien mengenakan GTL sementara dari GTL lama pasien yang diperbaiki. Proses selanjutnya ialah pembuatan GTL baru untuk mengganti GTL lama yang rusak. Setelah GTL selesai dibuat, dilakukan insersi dan dilanjutkan dengan pemasangan mini dental implant untuk rahang bawah. Satu minggu berikutnya dilakukan pemasangan metal housing implant pada fitting surface gigi tiruan lengkap rahang bawah sehingga implant dan gigi tiruan menjadi satu kesatuan gigi tiruan lengkap  dengan dukungan implant. Kesimpulan. Kontrol2 minggu dan satu bulan menunjukan implant masih stabil dan tidak ada keluhan pada pasien. Pasien dapat menggunakan gigi tiruannya untuk makan dan minum. Dari pemeriksaan subjektif diketanui bahwa dan makanan ataupun minuman tidak lagi keluar melalui hidung pasien.
Pengaruh Jumlah Gigi Posterior Rahang Bawah Dua Sisi yang Telah Dicabut dan Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian terhadap Bunyi Sendi Dipoyono, Haryo Mustiko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.798 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15591

Abstract

Latar Belakang: sendi temporomandibular didalam fungsinya sangat rumit dan ketika terjadi kelainan memerlukan perawatan yang sangat kompleks. Salah satu dari kelainan sendi tersebut adalah terjadinya bunyi sendi. Bunyi sendi terjadi akibat adanya perubahan pada komponen sendi. Salah satu perubahan ini dapat terjadi akibat adanya perubahan pola oklusi. Gigi yang telah dicabut khususnya gigi posterior dapat memicu perubahan pola oklusi dan berakibat terjadi kelainan pada sendi. Tujuan. Pengukuran pada pasien dengan  kasus kehilangan satu gigi atau dua gigi posterior yaitu molar satu atau molar satu dan molar dua, dua sisi rahang bawah, sebelum dan sesudah pemakaian gigi tiruan sebagian (GTS) diukur bunyi sendinya yang terdiri dari amplitude (dB) dan frekuensi (Hz) dengan alat ultra sonography yang telah dimodifikasi. Hasil yang didapat dianalisis dengan uji Avana dan LSD. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat bunyi sendi yang terdiri amplitudo dan frekuensi pada sendi temporomandibular dari pasien kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi sebelum dan sesudah pemakaian GTS. Kesimpulan: bunyi sendi dalam hal ini amplitudo dan frekuensi berbeda pada kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah. Kehilangan dua molar bunyi sendi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan satu gigi molar. Pemakaian gigi tiruan sebagian untuk mengembalikan oklusi, dapat menurunkan bunyi sendi. Background: The temporomandibular joint is very complicated in its function and requires complex treatment when an anomaly accurs. An example of the joints anomaly is clicking sound. Clicking resulted due to the changes at the joints component. One of the changes can be caused by an alteration of occlusal pattern. Extracted tooth especially posterior tooth can trigger the alteration of occlusion pattern which affects the joints anomaly. Purpose: the amplitude and frequency of the clicking sound of the patientwith missing one or two posterior tooth such as the first molar of the first and second molar, on both sides of the mandible, prior to or after wearing removable partial dentures is measured using a modified ultrasonographydevide and were analyzed by Anova and LSD test. The result: shows that the clicking sound on temporomandibular joint which consists of the amplitude and frequency, ha,ppens to patients who lose their posterior molar teeth before and after the use of removable partial denture. Conclusion: the clicking sound temporomandibular joints is defferent from the one on patient with missing posterior tooth. Losing two molar teeth will cause stronger clicking sound than one molar tooth will. The use of partial removable denture to regain the occlusion willreduce the clicking sound. 
Pembuatan Prothesa Telinga dengan Metode Pencetakan Tiga Lapis Fathurrahman, Helmi; Ismiyati, Titik; Saleh, Suparyono; Dipoyono, Haryo Mustiko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1793.759 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8776

Abstract

Defek telinga unilateral ataupun bilateral dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya trauma, kelainan pertumbuhan, atau prosedur pengangkatan kanker. Kondisi ini akan mempengaruhi psikologis pasien karena telinga merupakan organ vital yang membentuk estetika wajah. Salah satu perawatan rehabilitasi pada defek telinga adalah dengan pembuatan protesa telinga. Tahapan penting dari pembuatan protesa telinga adalah mendapatkan cetakan yang akurat untuk membuat pola malam. Teknik pencetakan dalam pembuatan prothesa telinga diantaranya metode reversible hydrocolloid dengan sendok cetak malam, irreversible hydrocolloid dengan sendok cetak kaku dan metode pencetakan tiga lapis. Keunggulan teknik pencetakan tiga lapis adalah mudah di lakukan dan akurasi hasil pencetakan yang baik. Tujuan laporan kasus ini adalah mengaplikasikan teknik pencetakan tiga lapis dalam pembuatan prothesa telinga.Perawatan dilakukan pada seorang pria berusia 14 tahun yang mengalami defek kongenital telinga dextra (unilateral). Langkah pertama dalam pembuatan prothesa yaitu pencetakan telinga normal dan defek, dilanjutkan pembuatan pola malam dan basis protesa, kemudian tahap try in pola malam, processing silikon, dan insersi. Prosedur pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis yaitu mengaplikasikan irreversible hidrocolloid pada regio post aurale (lapisan pertama), regio pra aurale, permukaan internal, (lapisan kedua), dan permukaan luar telinga (lapisan ketiga). Hasil pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis adalah tiga lapisan irreversible hidrocolloid yang solid dan mudah untuk dipisahkan sehingga menjamin akurasi hasil pengecoran. Kesimpulan laporan kasus ini adalah teknik pencetakan tiga lapis dapat diaplikasikan dalam pembuatan prothesa telinga.Triple Layer Impression Method For Auricular Prosthesis. An unilateral or bilateral auricular defect can be caused by several factors including trauma, congenital malformation or surgical removal of neoplasm. These condition will affect patient psycologic because ear is a vital part of facial aesthetic. One of rehabilitation care of auricular defect is an auricular prosthesis. Important stage of making auricular prosthesis is to obtain accurate impression to make wax pattern. Impression technique including method of reversible hydrocolloid with wax collar, irreversible hydrocolloid with rigid tray and triple layer impression method. The excellence of the triple layer impression technique are easy to do and accuracy of good impression result. The aim of this case report is to apply triple layer impression method in the making of auricular prosthesis. The treatment was done in 14 years old male patient with chief compain of congenitally defect of external dextra ear. First step of making auricular prosthesis is making an impression of defect area and opposite ear, making prothesa basis and wax pattern, try in the wax pattern, sillicone processing, and insertion the prothesa. Triple layer impression method was done in three step, first the impression material was injected to post aurale region (first layer), than injected to internal surface of ear (second layer). Subsequently, the third layer of impression material was partially filled into the tray and external surface of ear.The result of triple layer impression method in the making of auricular prosthesis is triple layer of solid irreversible hydrocolloid but separatable completly. Conclusion of this case report is the triple layer impression method is suitable for making an auricular prosthesis.
Pembuatan Cantilever Bridge Anterior Rahang Atas sebagai Koreksi Estetik Sumartati, Yusrina; Dipoyono, Haryo Mustiko; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2833.704 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15543

Abstract

Latar belakang. Kehilangan gigi anterior rahang atas mengakibatkan gangguan fungsi fonetik dan estetik. Gangguan fungsi estetik menyebabkan pasie menjadi rendah diri. Kondisi ini dapat diatasi oleh dokter gigi, salah satunya dengan pembuatan cantilever bridge. Tujuan. Penulisan ini yaitu untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi-gigi anterior rahang atas dengan space yang telah menyempit dan malposisi gigi dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan desain cantilever bridge. Kasus dan perawatan. Laporan kasus ini membahas tentang pasien perempuan umur 39 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo, dengan keluhan merasa kurang percaya diri karena gigi depan rahang atas hilang sejak 5 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Gigi-gigi anterior rahang atas yang masih ada mengalami malposisi akibat pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak baik. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan cantilever bridge pada gigi 11, 12, 13 dan 21, 22, 23. Kesimpulan. Gangguan fungsi estetik pada gigi anterior rahang atas dapat diatasi dengan pembuatan cantilever bridge. Background. Maxillary anteriortooth loss resulting in impaired function of phonetic and aesthetic. Impaired function of aesthetic cause patients to become self conscious. This condition can be treated by a dentist, one with a cantilever bridge. Purpose. To inform that in case of missing anterior teeth of the upper jaw with a space that has been narrowed, and malposition of teeth can be made prosthesis denture fixed bridge with a cantilever design. Case and treatment. This case report discusses the 39 years old female patient who came to he Dental Hospital Prof. Soedomo, with complaints of feeling less confident due to the maxillary front teeth missing since 5 years ago due to an accident. Anterior teeth of the upper jaw are still experiencing malposition due to the use of removable partial dentures are not good. The treatment is done is by cantilever bridge on teeth 11, 12, 13 and 21, 22, 23. Conclusion. Impaired function of the aesthetic in the maxillary anterior teeth can be solved by a cantilever bridge. 
Protesa Maksilofasial Thermoplastic Nylon (Valplast) dengan Hollow Bulb (Klas III Aramany palate schisis hereditary) Azhindra, A.; Dipoyono, Haryo Mustiko; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.656 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15648

Abstract

Latar Belakang: pada penderita palato schisis (celah langit-langit)yang disebkan hereditary atau bawaan lahir terlihat defect yang menyebabkan gangguan bicara (sengau), penelanan, pengunyahan, estetik, dan psikologis. Untuk dapat mencapai fungsi bicara, fungsi mengunyah dan fungsi estetika diperlukan protesa untuk menutup celah tersebut. Tujuan: untuk meninformasikan cara rehabilitas defect atau cacat pada wajah dengan protesa maksilofasial thermoplastic nylon dengan hollow buib yang berguna untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik dan psikologis penderita. Kasus dan penanganan: pasien pria berusia 46 tahun dating ke RSGM Prof. Soedomo atas rujukan dari poli RS. Dr. Sardjito. Saat datang pasien terganggu berbicara, menguyah dan menelan disebkan adanya celah langit-langit terbuka dan merupakan kelainan bawaan. Pasien kehilangan banyak gigi terutama pada gigi posterior pada rahang atas dan ingin dibuatkan gigi tiruan. Obturator ini dibuat segera dengan mempertimbangkan penutupan celah langit-langit, menggunakan bahan yang lebih ringan (menggunakan hoolow bulb) agar keluhan pasien dapat diatasi didesain alat yang mempunyai retensi maksimal dan mengembalikan pengunyahan, fungsi bicara, penelanan, estetis dan psikologis sehingga pasien akan akan mempunyai bentuk wajah yang mendekati normal. Hollow bulb adalah rongga yang dibuat pada protesa maksilofasial untuk menutup rongga mulut, rongga hidung dan defect. Pada waktu insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian. Hasil pemeriksaan dan evaluasi setelah 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian protesa maksilofasial hollow bulb didapatkan hasil dengan retensi, stabilisasi, olusi dan pengucapan lebih baik. Kesimpulan: setelah menggunakan protesa maksilofasial thermoplastic nylon dengan hollow buib pada penderita palato scisis, pasien dapat berbicara dan mengunyah dengan normal. Protesa maksilofasial hollow bulb thermoplastic nylon juga dapat mengembalikan estetik yang maksimal sehingga pasien dapat menambah kepercayaan dirinya serta mengembalikan keadaan psikologi pasien yang telah lama menurun. Background: patients with palato schisis (clelf palate) due to hereditary or congenital defect will be seen that cause speech disorders (nasal), swallowing, mastication, esthetic and psychological. Purpose: to inform the way rehabilitation defect in the face with a maxillofacial prosthesis thermoplastic nylon with hollow bulb that is useful to restore the fuction of speech, swallowing, mastication, esthetics, and psychiatric patients. Case and handling:  46-yearold male patient came to RSGM Prof. Soedomo referral from Dr. Sardjito hospital. When patient come to feel annoyed talking, chewing ang swallowing due to the precence cleft palate is open and is a congential abnormality accompanied with loss of many teeth. Obturator is made immediately by considering the closure of cleft palate, using a lighter material (using a hollow bulb) with retention, stabilization and occlusion of the right and restore normal nendekati face shape. Hollow bulb is a cavity created in maxillofacial, prosthesis, to close the oral cavity, nasal cavity and the defect.at the time of insetation examined retention, stabilization, occlusion, esthetics and pronunciation. Control was performed 1 week and 1 month after application. The results of the examination and evaluation after 1 week and 1 month after the use of hollow bulb know maxillofacial prostheses retentation, stabilization, occlusion and better pronunciation. Conclusion:  maxillofacial prostheses after using thermoplastic nylon with hollow bulb in patients with palate scisis, patients can speak and chew normaly. Maxillofacial prostheses nylon thermoplastic hollow bulb can also restore the maximum aesthetic, especially in the lose of anterior teeth with retention or grip that can mimic the gingival so the patient increase self confidence and restore the patient’s psychological state that has longbeen declined.
Last tooth in the arch syndrome management by using triple tray technique Lina, Lina; Dipoyono, Haryo Mustiko; Tjahjanti, Maria Theresia Esti; Indrastuti, Murti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.832 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.49225

Abstract

Inter occlusal record serves as a guide to copy the upper and lower jaw relationship of the oral cavity to the articulator. Proper inter occlusal record minimizes the adjustment time of fixed denture in the patient?s mouth, thus saves the working time and cost. The making of fixed unilateral dentures involving the posterior teeth as abutments is often difficult in term of placing the working model of the upper jaw and lower jaw in articulator with proper occlusion (last tooth in the arch syndrome), therefore it is necessary to use inter occlusal record. One method to produce precise and simple inter occlusal record is a triple tray technique. This report provided information about how to use triple tray technique to produce inter occlusalrecord in the preparation of fixed denture of a patient with last tooth in the arch syndrome. A 54 years old male patient came to Prof. Soedomo Dental Hospital, Yogyakarta, Indonesia for a treatment using a denture due to the extraction of 16, 14, 24, 25, 26, and 46. The management of this case was comprised of anamneses, clinical and radiographic examination, first stage preparation of abutment tooth on 45 and 47, triple tray try in on prepared teeth, adjustment of the size of gauze, materials bite registration positioning on the surface of the upper and lower triple tray, inter occlusal record with a triple tray technique on maximum inter cusp position, the excess of bite registration materials trimming, articulator mounting, laboratory processing, and the fixed bridge insertion. Furthermore, stage II and III tooth preparation were performed using the same procedure. Based on our work, the triple tray technique is a simple method to produce an accurate inter occlusal record on a patient with a last tooth in the arch syndrome. ABSTRAKInter occlusal record berfungsi sebagai catatan untuk memindahkan hubungan rahang atas dan bawah dari rongga mulut ke artikulator. Inter occlusal record yang tepat meminimalkan penyesuain gigi tiruan cekat dalam rongga mulut sehingga menghemat waktu perawatan dan biaya. Pembuatan gigi tiruan cekat unilateral yang melibatkan gigi paling posteriorsebagai gigi penyangga seringkali terhambat karena kesulitan penempatan model kerja rahang atas dan rahang bawah pada artikulator dengan oklusi yang tepat (last tooth in the arch syndrome) sehingga diperlukan inter occlusal record. Salah satu teknik inter occlusal record yang sederhana dan akurat adalah menggunakan triple tray technique. Laporankasus ini memberikan informasi mengenai penggunaan triple tray technique untuk menghasilkan inter occlusal record dalam pembuatan gigi tiruan cekat pada kasus last tooth in the arch syndrome. Pasien laki-laki 54 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo Yogyakarta, Indonesia untuk dibuatkan gigi tiruan karena gigi 16, 14, 24, 25, 26, dan 46 telahdiekstraksi. Penatalaksanaan yang dilakukan meliputi anamnesa, pemeriksaan klinis dan radiografi, preparasi gigi penyangga tahap pertama pada elemen 45 dan 47, try in triple tray pada gigi yang dipreparasi, penyesuaian ukuran kasa, peletakkan bahan bite registration di permukaan atas dan bawah triple tray, inter occlusal record dengan triple tray technique pada maximum inter cusp position, pengurangan kelebihan bahan bite registration, penanaman padaartikulator, pemrosesan di laboratorium, dan insersi gigi tiruan cekat. Selanjutnya, dilakukan preparasi gigi penyangga tahap II dan III dengan prosedur yang sama. Berdasarkan laporan kasus ini, triple tray technique merupakan teknik inter occlusal record yang sederhana dan akurat pada kasus last tooth in the arch syndrome.