Articles

Found 36 Documents
Search

PERSEPSI DAN POLA ADAPTASI MASYARAKAT TELUK POPOH TERHADAP PERUBAHAN IKLIM Isdianto, Andik; Luthfi, Oktiyas Muzaky
Jurnal Ilmu Kelautan SPERMONDE Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jiks.v5i2.8935

Abstract

Perubahan iklim memberikan dampak yang besar di berbagai negara. Adapun dampak dari terjadinya perubahan iklim adalah bertambahnya intensitas kejadian cuaca ekstrim di suatu wilayah, perubahan pola hujan, serta peningkatan suhu dan permukaan air laut Dampak perubahan iklim dapat memengaruhi keadaan di daratan maupun di pesisir atau laut. Salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang terkena dampak perubahan iklim yang mengkhawatirkan adalah wilayah Teluk Popoh yang terletak di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Kerusakan yang terjadi di perairan pantai Sidem berupa perubahan garis pantai yang disebabkan oleh bertambah tingginya permukaan air laut serta adanya aliran sungai Neyama yang langsung bermuara di pantai Sidem, Teluk Popoh. Hal lain yang disebabkan oleh perubahan garis pantai di Teluk Popoh adalah rusaknya sumberdaya alam di perairan Teluk Popoh, dimana nelayan dan masyarakat pesisir Teluk Popoh akan semakin sulit untuk mencari ikan di perairan sekitar. Untuk menghindari terjadinya dampak perubahan iklim yang berkelanjutan, maka PLTA Tulungagung yang beroperasi di wilayah pantai Sidem Teluk Popoh dan pemerintah Kabupaten Tulungagung memberikan inisiatif berupa penanaman pohon dan mangrove di wilayah Pantai Teluk Popoh. Dengan upaya mitigasi tersebut diharapkan mengurangi dampak yang diberikan oleh perubahan iklim di Teluk Popoh. Mitigasi tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya usaha adaptasi dari masyarakat sekitar Teluk Popoh. Masyarakat di Desa Besole merupakan masyarakat yang didominasi oleh para nelayan yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan laut. Apabila terjadi perubahan iklim di laut, maka para nelayan dari Desa Besole perlu beradaptasi terhadap perubahaan iklim tersebut..
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS POTENSI WILAYAH PESISIR SEBAGAI DASAR PEMETAAN KAWASAN KONSERVASI DI PESISIR KABUPATEN BANYUWANGI, JAWA TIMUR Sambah, Abu Bakar; Affandy, Didied; Luthfi, Oktiyas Muzaky; Efani, Anthon
Jurnal Ilmu Kelautan SPERMONDE Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jiks.v5i2.8933

Abstract

Isu konservasi telah menjadi perhatian global sekaligus menjadi isu strategis di berbagai negara termasuk di Indonesia. Pengelolaan potensi sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil harus sejalan dengan upaya perlindungan dan pelestariannya. Kebutuhan akan rencana penyusunan zonasi kawasan konservasi perairan di wilayah Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur dipandang perlu dan penting untuk dilakukan, khususnya dalam upaya pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan untuk menjaga dan menyamin ketersediaan sumberdaya dimasa depan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, inventarisasi, dan analisis terhadap potensi sumberdaya pesisir di wilayah Kabupaten Banyuwangi guna menjadi salah satu data dasar dalam pemetaan dan zonasi Calon Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (CKKP3K), sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi. Kawasan konservasi perairan ditetapkan berdasarkan hasil analisis terhadap kriteria ekologi, sosial budaya dan ekonomi. Sedangkan kegiatan pemetaan dilakukan untuk melakukan penggambaran spasial terhadap calon kawasan sesuai dengan kriteria-kriteria diatas. Skoring terhadap kriteria dilakukan juga untuk mengetahui nilai potensi sebagai landasan penetapan CKKP3K. Secara umum berdasarkan hasil analisis dari kriteria ekologi yang meliputi keanekaragaman hayati, kealamiahan, keterwakilan, keunikan, daerah ruaya, habitat ikan khas/langka/unik/endemic, ikan di lindungi, daerah pemijahan ikan, dan daerah pengasuhan, menunjukkan skoring yang tinggi. Artinya beberapa kawasan secara ekologi berpotemsi sebagai kawasan konservasi. Secara kearifan lokal, beberapa kawasan juga telah memiliki pedoman yang dituangkan dalam peraturan lokal terkait kawasan konservasi. Keseluruhan hasil analisis dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan awal dalam perusmusan kebijakan terkait zonasi wilayah pesisir di Kabupaten Banyuwangi serta pengelolaannya.
PENGAMATAN KESESUAIAN LAHAN PENELURAN PENYU LEKANG LEPIDOCHELYS OLIVACEA, ESCHSCHOLTZ, 1829 (REPTILIA:CHELONIIDAE) DI PANTAI MAPAK INDAH, NUSA TENGGARA BARAT Akbar, Mochamad Rizaldi; Luthfi, Oktiyas Muzaky; Barmawi, M.
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.89 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26125

Abstract

ABSTRAK : Pantai Mapak Indah merupakan pantai yang sering menjadi pantai pendaratan biota Penyu, umumnya penyu yang mendarat berjenis penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae), pantai yang juga di gunakan untuk aktifitas nelayan dan pariwisata diduga akan mengganggu habitat penyu yang cenderung merusak atau merubahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat yang sesuai untuk kebutuhan peneluran penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae). Metode yang di pakai menggunakan data Primer (Suhu, Kelembaban, Kemiringan, dan Vegetasi) dan skunder berasal dari catatan kelompok pelestari penyu dan instansi terkait. Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 24 Juni ? 05 Agustus 2019. Hasil dari penelitan ini adalah rentang kemiringan pantai mencapai 10.5%-26% dengan rata-rata 16.3% masih dalam kategori Agak Curam, untuk perbandingan komposisi pasir di sarang Alami dan Semi-Alami 92,94% & 96,34%, vegetasi yang di temukan di sekitar pantai adalah cemara Udang (Casuarina Equisetifolia) dan Pandan Laut (Pandanus sp.), kelapa (Cocos Nucifera) dan Katang-katang (Ipomoea pes-caprae). Suhu saat di lakukan pengamatan selama seminggu memiliki rentang 25°-28° hal ini dapat mempengaruhi jenis kelamin Tukik yang akan menetas serta lama inkubasinya di dalam sarang Semi-Alami ABSTRACT: Mapak Indah Beach is a beach that is often used as a landing site for sea turtles, generally turtles that land on the type of Lekang turtle (Lepidochelys olivaceae), a beach that is also used for fishing and tourism activities is thought to disturb turtle habitats that tend to damage or change it. The purpose of this study was to determine the suitable habitat for the needs of Lekang turtle nesting (Lepidochelys olivaceae). The method used uses Primary data (Temperature, Humidity, Slope, and Vegetation) and secondary data derived from the records of turtle conservation groups and related agencies. This research was carried out on 24 June - 05 August 2019. The results of this research are the range of beach slopes reaching 10.5% -26% with an average of 16.3% still in the category of somewhat steep, for comparison of sand composition in natural and semi-natural nests 92.94% & 96.34%, vegetation found around the coast is pine shrimp (Casuarina Equisetifolia) and Pandan Laut (Pandanus sp.), Coconuts (Cocos Nucifera) and Katang-Katang (Ipomoea pes-caprae). Temperature when observed for a week has a range of 25 ° -28 ° this can affect the sex of the hatchlings that will hatch and the length of incubation in the Semi-Natural nest
KEANEKARAGAMAN KARANG KERAS DAN IKAN TERUMBU DI PANTAI PAPUMA JEMBER, JAWA TIMUR LUTHFI, OKTIYAS MUZAKY; WIBISONO, RENDY VIDYA
Jurnal Biologi Udayana Vol 22 No 1 (2018): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.572 KB) | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2018.v22.i01.p03

Abstract

ABSTRACT   Coral reef in Papuma was distributed in 3 to 20 m depth, with sand as main substrate. The coral reef was built from hard coral (scleractinian) and reef fishes. Papuma?s coral reef was interesting to be studied due to they can deal with the extreme environment such as high sand sedimentation, high wave, strong current, and anthropogenic risk. The purpose of this study was to descript distribution of hard coral and their fishes based on quantitative data in Papuma. We used Line Intercept Transect (LIT) method with 100 m long perpendicular with coast line to quantify of coral cover based on their life form. While reef fishes data was obtained using underwater visual census with 100 m long. All data was taken from 3 stasiun they were: station 1 (8°25'59.26"S 113°33'15.07"E), station 2 (8°26'0.93"S 113°33'17.53"E) and station 3 (8°26'2.02"S 113°33'20.06"E), in 3-12 m depth.  The result showed that coral reef in Papuma was dominated by branching coral (CB) from genus Montipora with coral cover 30%, while sand (SD) to be main substrate with 26.9% of coverage.  Montipora is one of genus famili Acroporidae that has faster growth than massive coral and strong branch as an adaptation strategy with strong current. In this research, we also found 137 of reef fishes that was 19% composed by indicator fish (Chaetodontidae). High number of indicator fish can represent of healthy coral reef. High coral cover coverage usually will be followed by increasing number of indicator fish. These fish were obligate corallivorous that consume coral polyp during their life. Coral reef in Papuma contained 10 types of life form and had coral cover about 39.9% in average. 
KOMPOSISI PENYUSUN TERUMBU KARANG TEPI (FRINGING REEF) DI PULAU MANDANGIN KABUPATEN SAMPANG, MADURA THE COMPOSITION OF FRINGING REEF FORMATION IN PULAU MANDANGIN, SAMPANG PROVINCE, MADURA Guntur, Guntur; Arifin, Samsul; Luthfi, Oktiyas Muzaky
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.047 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.2.94-98

Abstract

 Terumbu karang tepi di Pulau Mandangin tersusun substrat biotik dan abiotik dengan kedalaman tidak lebih dari 40 m. Pulau Mandangin adalah pulau kecil yang memiliki komposisi substrat dasar seperti terumbu karang dan perairannya yaitu zona leeward dan zona windward. Zona leeward adalah sisi yang membelakangi arah datangnya angin, sedangkan zona windward adalah sisi yang menghadap arah datangnya angin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi penyusun terumbu karang tepi (fringing reef) dan mengetahui perbedaan komposisi penyusun terumbu karang tepi (fringing reef) antara zona leeward dan zona windward di Pulau Mandangin. Metode yang digunakan adalah Line Intercept Transect (LIT) secara vertikal, LIT dimulai dari surut terendah sampai daerah reef slope dan dilakukan pencatatan semua jenis substrat yang dibawah garis transek. Hasil penelitian menunjukkan zona fringing reef yang mengelilingi Pulau Mandangin tersusun atas substrat rubble, sand, alga, rock, dead coral, dead coral with algae, sponge, coral massive dan coral submassive. Zona leeward lebih bervariasi dari zona windward dalam susunan fringing reef. Hal ini karena angin yang terjadi di zona windward lebih besar dari zona leeward, sehingga substrat di zona windward hanya rubble dan sand.  Fringing reef in Mandangin Island comprises of biotic and abiotic substrates in depth not more than 40 m. Mandangin Island is a small island with base substrate composition mostly involving coral reef. The waters include leeward and windward zones. Leeward zone is paralleling with wind incoming direction, whereas windward zone is facing on wind incoming direction. The objective of research is to understand the composition that constitutes fringing reef and to recognize different constitutive composition of fringing reef at leeward zone and windward zone in Mandangin Island. Method of research is Line Intercept Transect (LIT) that is applied vertically. LIT starts from the lowest ebb toward the reef slope zone, and it involves registering all substrate types below transect line. Result of research indicates that fringing zone surrounding Mandangin Island consists of various substrates such as rubble, sand, alga, rock, dead coral, dead coral with algae, sponge, coral massive and coral sub-massive. Leeward zone is more diversified in fringing reef composition than windward zone. It is evident because wind occurrence at windward zone is higher than at leeward zone, and thus, substrates at windward zone include only rubble and sand. 
Growth Rate of Staghorn Coral (Acropora) on Coral Garden Program at Sempu Nature Reserve Malang Luthfi, Oktiyas Muzaky; Nurmalasari, Novita; Jauhari, Alfan
Research Journal of Life Science Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.39 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2016.002.03.2

Abstract

Live coral cover at Sempu Nature Reserve was decrease from 50% in 2006 to 36% in 2013. Adverse human activities such as: over-fishing, recreational activities, waste disposal, deforestation, reef mining and deforestation were suggested to be main factors for declining coral reef at this area. Restoration is defined as the act of returning an ecosystem, as nearly as possible, to its original condition. Coral on Sendang Biru laid on northern area of Sempu Island. Coral garden was establish in the end of 2013. Aim of this research was to know the growth (wide, number of branches, growth rate) of staghorn coral that was transplanted on steel frame at coral garden in different depth. Staghorn coral were tied on doom shaped steel in 6 m depth. The result showed that the average of increasing staghorn coral's area was 56. 91 cm2, number of branch increase was 55 and growth rate was 5.23 cm2/month respectively. Increase of depth will influence to decrease of sunlight intensity in water will be affected on calcification rate of coral. GR of staghorn coral in Sempu was higher than other area.
TUTUPAN MAKROALGA PADA TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN (KKP) NUSA PENIDA, BALI Maududi, Muhammad Akhyar; Luthfi, Oktiyas Muzaky
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.08 KB) | DOI: 10.13170/depik.7.1.8864

Abstract

The interaction between algae and coral is one of the most important of ecological processes in coral reef ecosystems. They are one of the main food sources in a large number of herbivorous animals in coral reef ecosystems. Makroalgae is also a major competitor in degrading coral reefs at a time when macroalgae gains dominate the coral reefs. Algae growth is relatively very fast, so it can be used as an indicator in the initial study to determine the processes that affect populations and coral reef communities. The purpose of this study is to determine the distribution of macroalgae cover on coral reefs in the Nusa Penida, Bali using the transect quadrant (1x1m2)x 100m method. This study shows that the lowest macroalgae cover at Crystal Bay and the highest in Buyuk can be concluded that the high macroalgae cover is made possible by the large supply of nutrients from the land which becomes the supplier of organic materials that increases the fertility of waters, meanwhile in the waters close to the high seas obtain additional nutrients derived from the lifting of the water mass (upwelling). Data and information are needed for the interest of regional planning towards the future related to the management and utilization of marine resources potential in the coastal area in Nusa Penida, Bali.Interaksi antara alga dan karang merupakan hal terpenting dari proses ekologi pada ekosistem terumbu karang. Mereka merupakan salah satu sumber produsen primer pada sejumlah besar hewan herbivora pada ekosistem terumbu karang. Makroalga juga menjadi pesaing utama dalam mendegradasi terumbu karang pada saat kelimpahaan makroalga mendominasi terhadap terumbu karang. Pertumbuhan alga tergolong sangat cepat, sehingga dapat digunakan sebagai indikator dalam studi awal untuk mengetahui proses yang mempengaruhi populasi dan komunitas terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sebaran tutupan makroalga pada terumbu karang di daerah utama wisata penyelaman Nusa Penida, Bali dengan menggunakan metode transek kuadran dengan ukuran (1x1m2) x 100 m. Penelitian ini menunjukan bahwa tutupan makroalga terendah pada Crystal Bay dan tertinggi di Buyuk dapat ditarik kesimpulan jika tingginya tutupan makroalga dimungkinkan oleh besarnya suplai nutrien daratan yang menjadi pensuplai bahan organik yang meningkatkan kesuburan perairan. Sedangkan pada  perairan yang dekat dengan laut lepas mendapat tambahan nutrien yang berasal dari pengangkatan massa air (upwelling). Data dan informasi ini diperlukan untuk kepentingan perencanaan pengembangan wilayah ke depannya yang terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya laut di wilayah pesisir di Nusa Penida, Bali.
PEMANTAUAN KONDISI SUBSTRAT MENGGUNAKAN METODE REEF CHECK DI PERAIRAN SELAT SEMPU, KABUPATEN MALANG Luthfi, Oktiyas Muzaky; Januarsa, I Nyoman; Fajri, Hijrul; Muhammad, Fadil; Aji, Nur Akhmad Tri; Jumantry, Sofar; Ramadhan, Muhammad I. S. K.; Algadri, Guntoro Ahmad; Roganda, Firman; Rizal, Mochamad F. A.; Wicaksono, Ary Setyo; Bendang, Amalia Safrudin; Christianda, Albertus N. P.
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.218 KB) | DOI: 10.13170/depik.6.1.5840

Abstract

The aim of this research was to know the coral reef condition in Sempu?s strait. This research has beeb conducted at December 2017 used PIT method in four research stations i.e. Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja and Fish Apartement. In generally the substrate of Sempu strait was devided into two categories, they were living and non-living substrate. Living substrate include HC, SC, NIA, SP and OT while non-living were RKC, RC, RB, SD and SI. Station 1 was dominated by hard coral (33.75%), station 2 and 3 was by rock (59.38% and 40.63%), and station 4 was dominated by sand (39.38%) respectively. Based on the monitoring, the coral reefs ecosystem of Sempu Strait was categorised in damaged condition. It could be seen by the high covering of dead coral and the low covering of healthy coral along observed stations. The coral reefs rehabilitation program is needed to recover the reefs ecosystem in Sempu Strait.                                                          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Selat Sempu dengan cara mengetahui susunan dari substrat dasar perairannya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Desember 2016 dengan menggunakan metode PIT di empat stasiun penelitian yaitu Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja dan Fish Apartement. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa substrat dasar perairan di Selat Sempu terbagai atas dua yaitu living (HC, SC, NIA, SP dan OT) dan non-living (RKC, RC, RB, SD dan SI). Stasiun 1 didominasi oleh hard coral (33,75%), stasiun 2 didominasi oleh rock (59,38%), stasiun 3 didominasi oleh rock (40,63%), dan stasiun 4 didominasi oleh sand (39,38%). Berdasarkan monitoring yang telah dilakukan, ekosistem terumbu karang di Selat Sempu telah mengalami kerusakan hal ini dapat dilihat dari tingginya tutupan karang mati dan rendahnya tutupan karang hidup yang ditemukan di sepanjang stasiun penelitian yang dilakukan. Program rehabilitasi terumbu karang sangat diperlukan untuk memulihkan kembali kondisi ekosistem karang di Selat Sempu.
IDENTIFIKASI ORGANISME KOMPETITOR TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PANTAI PUTRI MENJANGAN, BULELENG, BALI Luthfi, Oktiyas Muzaky; Januarsa, I Nyoman
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.2073

Abstract

Terumbu karang memiliki fungsi yang sangat penting didalam menunjang aktivitas di wilayah pesisir. Keberadan terumbu karang di alam saat ini mulai mengalami kerusakan, karusakan yang terjadi bersumber dari beberapa faktor diantaranya faktor antropogenik dan faktor alam. Kerusakan yang di timbulkan dari faktor alam diantaranya oleh pemangsaan beberapa spesies, proses bioerosi dan proses kompetitor. Kompetitor merupakan suatu organisme yang dapat mengangu keseimbangan hidup organisme lainya. Penelitin mengenai kompetitor terumbu karang dilakukan dengan metode transek kuadran dan reef check megabenthos yang dilakukan di dua stasiun penelitian yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa organisme kompetitor terumbu karang di perairan Pantai Putri Menjangan diantaranya adalah makro alaga, crown of thorns fish dan drupella.IDENTIFICATION OF CORAL REEF COMPETITORS ORGANISM IN PUTRI MENJANGAN WATERS, BULELENG, BALIABSTRACTCoral reef have very important function for supporting activity in coastal areas. Recently the existence of coral has been degraded and faced threat from bath of antropogenics and natural factor. Predation, bioerosion and competitor among sessil organism has been to be the most lichtiest problem that really direct impact on coral reef. Data has been take by using of quadrant transect and reef check megabenthos metod in two research stations. The results showed that the organism competitors coral reefs in the waters of Putri Menjangan include macro algae, crown of thorns fish and Drupella.Keywords: Coral reef degradation, makro algae, crown of thorns fish, drupella
COMMUNITY BASED COASTAL CONSERVATION: CASE STUDY ON NATURE CONSERVATION FORUM PUTRI MENJANGAN, BULELENG, BALI Januarsa, I Nyoman; Luthfi, Oktiyas Muzaky
ECSOFiM (Economic and Social of Fisheries and Marine) Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.251 KB) | DOI: 10.21776/ub.ecsofim.2017.004.02.06

Abstract

Conservation is one form of natural resource management have been damaged. There are many types of area management one of which is community base management. Nature Conservation Forum Putri Menjangan is a group of people who have an interest in the management of natural resources, especially on mangrove ecosystems and coral reef ecosystems, in addition to conservation activities are also carried out data collection species start from mangrove, coral reef, reef fishes and other organisms that live in Putri Menjangan waters. Mangrove forest conservation is done through reforestation in areas which have a low mangrove cover, whereas for coral reef conservation activities carried out through coral transplantation and garbage clean up activity in coral reef ecosystems both of trash and competitor organism found on coral reef ecosystems.Keywords: reforestation, transplantation, clean up
Co-Authors Abdul Razak Abdur Rosyid Abu Bakar Sambah, Abu Bakar Ade Yamindago, Ade Affandy, Didied Agus Wahyu Widodo, Agus Wahyu Ahmad Wahyudiarto, Ahmad Aji, Nur Akhmad Tri Akbar, Mochamad Rizaldi Alfan Jauhari, Alfan Algadri, Guntoro Ahmad Ali Arman Lubis Alifia, Riza Alim, Dimas Syarif Alim, Dimas Syarif Alviana, Putri Zulaikhah Anthon Efani Anugrah, Prima Tegar Arief Darmawan Arsad, Sulastri Bambang Semedi Bendang, Amalia Safrudin Christianda, Albertus N. P. Citra Satrya Dewi, Citra Satrya Daduk Setyohadi Danang Adi, Danang Dasi, Firmina Bethrix Fajri, Hijrul Faruk Ramadhan, Faruk Fikri, Muhammad Zuhal Firdaus Abdi, Firdaus Guntur Guntur I Nyoman Januarsa, I Nyoman Iliani, Rizki Irham Tovani, Irham Isdianto, Andi Isdianto, Andik Isdianto, Andik Isdianto, Andik Jumantry, Sofar Kirana Fajar S, Kirana Fajar M Abdul Ghofur A, M Abdul Ghofur M Mahmud, M M. Barmawi Maududi, Muhammad Akhyar Moira, Valessa Senshi Muhammad Sofyan Muhammad, Fadil Muliawati Handayani Novita Nurmalasari, Novita Pangaribuan, Sanydo Pandapotan Caesar Pebrizayanti, Elda Permana, Davitra Eka Putra, Bramastrha Artha Putra, Fadhilah Maryadi Putranto, Dimas Bagus Dwi Putranto, Dimas Bagus Dwi Putri Pujarahayu, Putri Putri, Sherla Rizqia Rahmadita, Vindi Lovina Ramadhan, Muhammad I. S. K. Rijatmoko, Sigit Rizal, Mochamad F. A. Roganda, Firman Saifur Rizal Fakri, Saifur Rizal Samsul Arifin Saputra, Dhira Khurniawan Saputra, Dhira Kurniawan Saputro, Johan Sasmitha, Respati Dwi Sasmitha, Respati Dwi Sauri, Muh. Ihsan As Setianingsih, Mayang Setiawan, Christopher Ari Sibuea, Krista Sinaga, Alan Dedi Sunardi Sunardi Syakanov Murian, Syakanov Wahib, Nur Kholis Wibawa, I Gusti Ngurah Artha WIBISONO, RENDY VIDYA Wicaksono, Ary Setyo Wulandari, Isna Putri Yulianto, Firly Yulianto, Firly