Articles

Found 10 Documents
Search

Kontrol Geologi Terhadap Perubahan Kimia Airtanah Pada Sistem Akuifer Vulkanik Di Lereng Timur Gunung Ciremai Jawa Barat Jumhari, Jumhari; Dwi Hadian, M Sapari; Zakaria, Zufialdi; Hendarmawan, Hendarmawan
Dinamika Rekayasa Vol 15, No 2 (2019): Dinamika Rekayasa - Agustus 2019
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2019.15.2.267

Abstract

Gunung Ciremai adalah gunung berapi Strato dengan tingkat curah hujan yang tinggi di bagian barat pulau Jawa. Hal ini menjadikan Gunung Ciremai sebagai sumber air tanah di daerah sekitarnya sehingga membutuhkan keseimbangan antara pengisian dan pembuangan untuk keberlanjutan air tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah mnentukan kontrol geologis terhadap perubahan kimia dalam air tanah sebagai dasar untuk menentukan langkahlangkah keberlanjutan air tanah. Adapun metode yang dilakukan adalah pemetaan geologi, pangamatan mata air, pengujian laboratorium dan menganalisis dengan diagram pipper, diagram durov dan diagram Gibbs. Hasilnya menunjukan terdapat 4 zona perubahan kimia airtanah yang dikontrol geologi diantaranya Zone 1 memiliki nilai EC dan TDS yang rendah dengan fasies kimia air tanah Ca-HCO3. Zone 2 memiliki nilai EC dan TDS yang rendah dengan fasies kimia air tanah Ca-Na + K - HCO3-Cl. Zona 3 memiliki nilai EC dan TDS yang tinggi dengan sumber ion Ca dan Mg yang seimbang. Zone 4 memiliki nilai EC dan TDS yang sangat tinggi dengan fasies kimia air tanah Na + K Cl.Perubahan kimia air tanah daerah penelitian dipengaruhi mengontrol perubahan kimia air tanah adalah jenis litologi dan morfologi, sedangkan pada daerah tenggara dan selatan proses yang paling dominan mengontrol adalah struktur geologi. Proses lain yang berpengaruh di daerah penelitian adalah aktivitas panas bumi dan interaksi air dengan batuan sedimen tua.
Aktifitas Tektonik di Sulawesi dan Sekitarnya Sejak Mesozoikum Hingga Kini Sebagai Akibat Interaksi Aktifitas Tektonik Lempeng Tektonik Utama di Sekitarnya Zakaria, Zufialdi; Sidarto, Sidarto
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 16, No 3 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.76 KB)

Abstract

Aktifitas tektonik Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia di sekitar Pulau Sulawesi telah berperan besar terhadap perkembangan tektonik di Sulawesi dan sekitarnya. Pengaruh tersebut diawali sejak zaman Mesozoikum, saat terjadinya pemekaran di paparan baratlaut Australia yang diikuti pecahnya tepian Benua Australia yang membentuk beberapa mikrokontinen. Mikrokontinen – mikrokontinen tersebut bergerak ke arah Sulawesi melalui mekanisme sesar transform hingga bertabrakan dengan Busur Sulawesi dan diikuti terbentuknya berbagai struktur geologi seperti tunjaman, sesar naik dan sesar mendatar berskala besar. Dari arah timur bagian utara, sebagai pengaruh gerakan Lempeng Australia ke utara dan Lempeng Pasifik ke barat, maka terbentuk sesar transform mengiri yang membawa mikrokontinen ke arah Sulawesi hingga bertabrakan dengan Sulawesi dan membentuk sesar naik Batui. Sementara dari arah utara, rotasi yang terjadi pada dasar Laut Sulawesi ikut berperan terhadap perkembangan tektonik lengan utara Sulawesi. Di lain pihak, pada Eosen Tengah terjadi pemekaran tepian Benua Eurasia di sebelah barat Sulawesi yang menghasilkan fase bukaan Selat Makassar. Namun diduga mulai pasca Miosen hingga kini daerah ini mengalami fase kompresi yang antara lain menghasilkan 2 lajur lipatan – sesar naik di Sulawesi Barat.Kata kunci - Tektonik, Sulawesi, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, mikrokontinen, sesar transform.
MODIFIKASI KONSEP PARTICIPATORY RURAL APRAISAL UNTUK PEMBEKALAN KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA DI JAWA BARAT, INDONESIA Zakaria, Zufialdi
Dharmakarya Vol 7, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.03 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i1.14592

Abstract

Modifikasi konsep PRA (Participatory Rural Appraisal) diperlukan bagi mahasiswa pada kegiatan KKN di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Konsep modifikasi PRA  dapat digunakan sebagai alat komunikasi mahasiswa dengan penduduk desa lokal. Berbagai jenis gerakan tanah (longsor) terjadi di wilayah Jawa Barat. Jawa Barat menjadi wilayah yang paling rawan di dunia. Mahasiswa peserta KKN perlu dilengkapi dengan pengetahuan tentang kondisi wilayah Jawa Barat berdasarkan aspek geologi umum, juga mengenali informasi risiko dan bencana gerakan tanah, memahami penggunaan aplikasi Android yang berkaitan dengan bencana geologi, mahir menggunakan smartphone, mengetahui. beberapa metode penyampaian informasi dengan mudah dan komunikatif. Komunikasi yang baik dengan masyarakat lokal merupakan bagian dari tugas siswa sebagai salah satu agen pentahelix dalam Model Starlet (Stabilisasi dan Rancangbangun Lereng Terpadu). Hasil Pre-Test 58 mahasiswa menunjukkan bahwa 98% belum mengetahui konsep PRA, 91% belum mengetahui konsep pentaheliks dalam model Starlet, 82% tidak mengetahui bahwa Jawa Barat sangat rawan gerakan tanah, 88% belum mengenal konsep Sistem Informasi Geografis Aplikasi Penanganan Bencana Gerakan Tanah (SIGAP Bencana Gerakan Tanah), 83% belum mengenal model Starlet (Stabilisasi dan Rancangbangun Lereng Terpadu). Sebanyak 98% mahasiswa dapat membedakan resiko dan bencana, 72% dapat membedakan kerentanan dan bahaya, dan 100% mereka memerlukan suatu metode penyuluhan agar masyarakat pedesaan mudah menerima informasi dan mengetahui penanganannya.
KAJIAN PETROGRAFI PADA ZONA PELAPUKAN BREKSI PIROKLASTIK TERHADAP LONGSORAN GUNUNG PAWINIHAN, KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Permanajati, Indra; Zakaria, Zufialdi; Dwi Hadian, Mochamad Sapari; Anwar, Herryal Zoelkarnain; Setijadi, Rachmad
Dinamika Rekayasa Vol 14, No 1 (2018): Dinamika Rekayasa - Februari 2018
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.dr.2018.14.1.186

Abstract

Longsoran Gunung Pawinihan di Kabupaten Banjarnegara, merupakan longsoran yang mengakibatkan korban jiwa cukup banyak yaitu sekitar 80 orang meninggal. Longsoran tersebut terjadi pada breksi volkanik Formasi Jonggrangan yang berumur Kuarter. Kondisi yang diteliti adalah terbentuknya bidang gelincir pada zona pelapukan 4 dimana komposisi batuan sebagian besar sudah mengalami pelapukan dengan persentase tanah lebih besar dari mineral utama.  Metode yang digunakan adalah klasifikasi zona pelapukan berdasarkan British Standard untuk mendeleniasi zona pelapukan breksi, kemudian analisis petrografi pada zona pelapukan yang berbeda. Hasil yang didapatkan adalah adanya perubahan komposisi mineral utama menjadi material tanah. Perubahan yang terjadi adalah adanya perubahan mineral utama seperti plagioklas menjadi mineral lempung, perubahan yang terjadi pada bagian luar mineral utama. Pada zona pelapukan 4 mineral oksidasi dan lempung mulai berkembang, sehingga komposisi mineral utama dan mineral sekunder utama hampir seimbang. Bidang gelincir longsoran terjadi pada zona ini, sehingga dapat dikatakan bidang gelincir terjadi pada zona 4 dimana terjadi perubahan mineral utama menjadi mineral sekunder yang cukup signifikan.Kata Kunci: Debris slide, zona pelapukan, bidang gelincir
Koreksi Smr Pada Desain Lereng Tambangterbuka Batubara Pada Formasi Balikpapan & Formasi Kampungbaru, Sangasanga,Kalimantan Timur Zakaria, Zufialdi; Muslim, Dicky
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 7, No 3 (2012): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian desain lereng stabil dibutuhkan dalam eksploitasi tambang batubara, khususnya dalam sistem tambang terbuka. Penambangan memerlukan desain lereng dengan berbagai cara. Untuk menemukan lereng stabil secara cepat, digunakan pembobotan massa lereng (SMR, Slope Mass Rating) yang berdasarkan kepada pembobotan massa batuan (RMR, Rock Mass Rating). Pada titik lokasi yang longsor maupun rawan longsor, diperlukan kajian khusus mengenai kestabilan lereng dengan metode lain dan menggunakan perangkat lain. Pada formasi batuan yang mengandung lapisan material urai (loose) seperti pasir kuarsa pada Formasi Balikpapan maupun Formasi Kampungbaru di Sangasanga, Kalimantan Timur, penentuan pembobotan massa lereng perlu dikoreksi untuk menemukan sudut lereng yang paling aman. Meskipun pada akhirnya, pilihan penentuan sudut lereng yang aman, akan bergantung pula kepada aspek ekonomis dalam penambangan. Hasil koreksi SMR yang melibatkan nilai SMR berdasarkan peneliti terdahulu (Laubscher, Romana, Orr dan Hall) didapatkan rumus-persamaan, yaitu: 1) SMR = 68,22 ln(RMR) - 225,5 (untuk persamaan logaritmik); 2) SMR = 1,262RMR - 22,30 (untuk persamaan linier); 3) 0,082 RMR 1,580 (untuk persamaan power); dan 4) SMR = 9,191e0,029RMR (untuk persamaan eksponensial).
ANALISIS STABILITAS LERENG AREA TIMBUNAN MENGGUNAKAN METODA KESETIMBANGAN BATAS PADA TAMBANG TERBUKA BATUBARA DAERAH PURWAJAYA, KECAMATAN LOA JANAN, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Andriani, Tati; Zakaria, Zufialdi; Muslim, Dicky; Oscar, Agus Wiramsya
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu prinsip pada penambangan terbuka (open pit mine) batubara adalah menggali tanah atau batuan penutup (overburden) untuk mendapatkan batubara, sehingga dibutuhkan tempat penimbunan untuk menampung overburden, yang disebut sebagai disposal area. Salah satu permasalahan pada disposal area adalah kondisi lereng yang tidak stabil sehingga terjadinya longsoran-longsoran yang dapat mengganggu jalannya operasi tambang seperti terhambatnya alat berat pengangkut material tambang. Agar disposal area tetap berada dalam kondisi stabil maka perlu adanya kajian geoteknik yang membahas mengenai kestabilan lereng, sehingga operasi tambang dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kestabilan lereng disposal area pada tambang batubara di Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian dilakukan dengan pengambilan data lapangan berupa geometri lereng serta karakteristik material pada disposal area. Kemudian dilakukan simulasi lereng untuk mendapat nilai FS (Safety-Factor) yang diperkirakan masih aman menggunakan metode kesetimbangan batas dengan bantuan aplikasi Slide Versi 6. Ketebalan timbunan saat ini sudah mencapai 20 meter, dengan sudut lereng keseluruhan adalah 9°.Hasil perhitungan nilai FS dari tiga sayatan menunjukkan, bahwa disposal area berada dalam kondisi belum aman dengan nilai FS pada setiap sayatan adalah 1,108; 1,21 dan 1,756. Parameter nilai FS yang dianggap aman adalah lebih besar dari 1,25. Untuk mendapatkan nilai FS optimum hasil dari simulasi untuk lereng keseluruhan, maka geometri lereng yang disarankan adalah tebal timbunan maksimum 20 meter dan sudut lereng optimal 9°, dengan dibuat undakan-undakan tinggi 7 meter dan sudut 30° pada lereng. Hasil simulasi ini memiliki nilai FS 1,301 pada kondisi jenuh. 
ORIENTASI INTI BATUAN HASIL PEMBORAN PADA RANCANGAN LERENG TAMBANG EMAS TERBUKA ARAREN DI PT. TAMBANG TONDANO NUSAJAYA, SULAWESI UTARA Seru, Imanuel; Zakaria, Zufialdi; Muslim, Dicky
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mempresentasikan pendekatan penyelidikan geoteknik untuk mengetahui sebaran orientasi bidang diskontinuitas di bawah permukaan melalui pemboran geoteknik dengan orientasi inti batuan (rock core orientation) sebagai tahap awal pada rancangan lereng tambang emas terbuka Araren. Tiga lubang bor ditempatkan pada bagian timur, selatan, dan barat pada rancangan lereng akhir tambang terbuka. Metoda pemboran inti dimulai dari permukaan untuk mengumpulkan informasi massa batuan dan bidang diskontinuitas. Orientasi bidang diskontinuitas pada inti batuan hasil pemboran (oriented core) digunakan untuk mengamati potensi masalah kestabilan jenjang pada lereng batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi longsoran bidang, baji, dan rebah berpeluang terjadi dan tersebar pada lereng tambang di lokasi pengamatan. 
POLA KELURUSAN TOPOGRAFI DI WILAYAH MAJALENGKA, JAWA BARAT Zakaria, Zufialdi
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 15, No 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.852 KB)

Abstract

Penelitian ini mencakup wilayah Kabupaten Majalengka, Sumedang, dan Kuningan, Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran tektonik serta menguji pengaruh tektonik aktif terhadap kelurusan morfologi di wilayah tersebut. Hasil uji beda dengan T-test pada semua pola kelurusan topografi di batuan Tersier dan batuan Kuarter menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan dengan thit= - 0,301, dan ttabel =1,971 (a=0.05). Tektonik aktif ditunjukkan oleh kesamaan pola kelurusan pada dua batuan yang berbeda umur, yaitu pada batuan berumur Kuarter dan Tersier. Kedua batuan sama-sama terkena proses deformasi, dan sama-sama mengalami pengangkatan. Jika pola kelurusan dibagi secara khusus menjadi empat pola, yaitu Pola Meratus, Pola Jawa, Pola Sumatera dan Pola Sunda, maka hasil uji beda kelurusan topografi pada batuan Tersier dan Kuarter (T-test, dengan a=5%) adalah sebagai berikut: Kelurusan topografi dari pola Meratus menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=-3,117, dan ttabel =2,011 (a =0,05). Kelurusan topografi berpola Jawa, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan thit=-0,980, dan ttabel =2,024 (a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sumatera menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=2,567, dan ttabel =1,983 (a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sunda tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan thit=0,473, dan ttabel =1,998 (a=0.05). Tektonik yang menyebabkan perbedaan pada Pola Meratus dan Pola Sumatera adalah tektonik masakini (neotektonik) yang diperlihatkan melalui reaktivasi sesar-sesar yang ada, terutama melalui keberadaan sesar aktif misalnya Sesar Baribis.Kata kunci: kelurusan topografi, neotektonik.
MODIFIKASI KONSEP PARTICIPATORY RURAL APRAISAL UNTUK PEMBEKALAN KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA DI JAWA BARAT, INDONESIA Zakaria, Zufialdi
Dharmakarya Vol 7, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.03 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i1.14592

Abstract

Modifikasi konsep PRA (Participatory Rural Appraisal) diperlukan bagi mahasiswa pada kegiatan KKN di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Konsep modifikasi PRA  dapat digunakan sebagai alat komunikasi mahasiswa dengan penduduk desa lokal. Berbagai jenis gerakan tanah (longsor) terjadi di wilayah Jawa Barat. Jawa Barat menjadi wilayah yang paling rawan di dunia. Mahasiswa peserta KKN perlu dilengkapi dengan pengetahuan tentang kondisi wilayah Jawa Barat berdasarkan aspek geologi umum, juga mengenali informasi risiko dan bencana gerakan tanah, memahami penggunaan aplikasi Android yang berkaitan dengan bencana geologi, mahir menggunakan smartphone, mengetahui. beberapa metode penyampaian informasi dengan mudah dan komunikatif. Komunikasi yang baik dengan masyarakat lokal merupakan bagian dari tugas siswa sebagai salah satu agen pentahelix dalam Model Starlet (Stabilisasi dan Rancangbangun Lereng Terpadu). Hasil Pre-Test 58 mahasiswa menunjukkan bahwa 98% belum mengetahui konsep PRA, 91% belum mengetahui konsep pentaheliks dalam model Starlet, 82% tidak mengetahui bahwa Jawa Barat sangat rawan gerakan tanah, 88% belum mengenal konsep Sistem Informasi Geografis Aplikasi Penanganan Bencana Gerakan Tanah (SIGAP Bencana Gerakan Tanah), 83% belum mengenal model Starlet (Stabilisasi dan Rancangbangun Lereng Terpadu). Sebanyak 98% mahasiswa dapat membedakan resiko dan bencana, 72% dapat membedakan kerentanan dan bahaya, dan 100% mereka memerlukan suatu metode penyuluhan agar masyarakat pedesaan mudah menerima informasi dan mengetahui penanganannya.
PEMBELAJARAN UNTUK MASYARAKAT MENGENAI KEBENCANAAN GEOLOGI MELALUI KONSEP MODIFIKASI PRA (PARTICIPATIORY APPARSIAL) Zakaria, Zufialdi
Dharmakarya Vol 8, No 3 (2019): September 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.543 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v8i3.19778

Abstract

Wilayah Indonesia memiliki bencana geologis yang lengkap, yaitu gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami dan gerakan bumi. Dalam upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat untuk menghadapi bencana, belajar tentang bencana geologis diperlukan. Agar pembelajaran dapat dicapai dengan cepat dan tepat sasaran, sebuah metode digunakan melalui konsep modifikasi Participatory Rural Appraisal (PRA). Kegiatan belajar dilakukan dalam sebuah acara di Bale Desa Hegarmanah di desa Hegarmanah. Desa Hegarmanah adalah ibu kota Kecamatan Jatinangor. Peserta terdiri dari perwakilan masyarakat dari masing-masing Rukun Warga di desa dengan berbagai profesi, ada guru, ibu rumah tangga, karyawan, dan staf desa. Kegiatan ini dibantu oleh beberapa siswa yang mengikuti KKN. Pemberi materi pembelajaran adalah dosen pengawas lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan signifikan. Ini dinilai dari pengetahuan sebelum dan sesudah aktivitas yang diketahui dari hasil tes sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan seminar, konseling dan pembelajaran. Berdasarkan analisis, hanya ada 9% pada pertanyaan kesembilan yang tidak sesuai target, yaitu mengenai pengetahuan dari beberapa aplikasi Android untuk bahaya geologi yang dapat dipasang pada smartphone peserta. Ini karena peserta tidak membawa ponsel seluler yang kompatibel dengan sistem ponsel cerdas Android. Untuk melaksanakan kegiatan dalam bentuk seminar dengan konseling dan pembelajaran seperti acara ini, persyaratan untuk peserta dapat disampaikan terlebih dahulu di surat undangan. Manfaat atau kegunaan dari hal-hal yang dibuat dalam acara ini dapat disampaikan dalam undangan sehingga kegiatan sesuai dan tepat sasaran.