Articles

Found 39 Documents
Search

METODE PENAMBAHAN SURFAKTAN SEBAGAI SUBSTRAT PG-P UNTUK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT LIPOFILIK : ARTICLE REVIEW Hasanah, Amira Nur; Rusdiana, Taofik
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.356 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17620

Abstract

Saat ini, pengembangan obat berkembang cepat dan terus dilakukan. Salah satu permasalahan formulasi yang mempengaruhi efektivitas obat adalah kelarutan, terutama pada obat dengan kelarutan rendah. Obat-obat yang termasuk BCS kelas II mempunyai sifat permeabilitas tinggi dengan kelarutan rendah karena termasuk obat lipofilik. Metode yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan adalah penambahan surfaktan sebagai substrat p-glikoprotein. Tujuan formulasi tersebut adalah mendapatkan bioavailabilitas untuk mencapai efek terapetik. Penambahan surfaktan sudah dibuat dalam berbagai bentuk sediaan, seperti nanokristal, granul, mikroemulsi, dan lain-lain. Hasil dari berbagai penambahan surfaktan dan bentuk sediaan tersebut berfungsi sebagai substrat p-glikoprotein sehingga kelarutan obat lipofilik meningkat dan bioavailabilitasnya menjadi lebih baik. Kata Kunci: surfaktan, BCS kelas II, kelarutan.
PERANAN HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA DIABETES PRATAMA, ARVENDA REZKY; Wathoni, Nasrul; Rusdiana, Taofik
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.548 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12483

Abstract

Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh insulin. Salah satu komplikasi kronis yang disebabkan oleh diabetes adalah diabetic foot ulcer (DFU) yang disebabkan oleh neuropati perifer dan terganggunya penyembuhan luka. DFU yang parah dapat menyebabkan biaya rumah sakit yang tinggi bahkan hingga amputasi. Tahap-tahap pnymbuhan luka yang terdiri dari hemostatis, inflamasi, proliferasi dan remodeling. Pada review ini dijelaskan peranan hormon pertumbuhan untuk mempercepat penyembuhan luka dan contoh aplikasinya.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E-TPGS (D-α-TOCOPHEROL POLYETHYLENEGLYCOL SUCCINAT) TERHADAP PENINGKATAN KELARUTAN OBAT PANEO, MOHAMAD APRIANTO; Rusdiana, Taofik; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.045 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15420

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisika kimia dari suatu zat terlarut dalam pelarutnya. Kelarutan zat dalam suatu obat berpengaruh terhadap jumlah kadar obat didalam tubuh. Peningkatan kelarutan suatu obat dapat menggunakan beberapa metode, salah satunya dengan menambahkan suatu agen peningkat kelarutan. Vitamin E-TPGS merupakan hasil esterifikasi dari Vitamin E suksinat dengan Polietilenglikol. Vitamin E-TPGS banyak diaplikasikan pada formulasi sediaan obat, karena terbukti dapat meningkatkan kelarutan suatu sediaan obat.Kata kunci : Kelarutan, Vitamin E-TPGS, Obat
TELAAH TANAMAN SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.) SEBAGAI SUMBER BAHAN ALAM BERPOTENSI TINGGI DALAM UPAYA PROMOTIF KESEHATAN Rusdiana, Taofik
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.351 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan sumber kekayaan melimpah masih memiliki sejumlah keterbatasan dalam memanfaatkan dan mengolah sendiri sumber-sumber daya alamnya tersebut. Ribuan tanaman yang berpotensi memiliki khasiat dalam dunia kesehatan masih belum tergali. Pada tulisan ini ditinjau salah satu tanaman yang tumbuh dan hidup subur di negeri khatulistiwa ini yang ternyata memiliki segudang potensi di bidang pengobatan dan kesehatan, yaitu seledri (Apium graveolens L.). Kajian ini didasarkan kepada review article yang tersebar di database penelitian maupun dari hasil penelitian penulis sendiri. Seledri memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid (apiin dan apigenin), saponin, minyat atsiri (olein) dan oleoresin, ptalida (n-butil ptalida dan sedalonida) dan falcarinol dan falcarindiol. Zat-zat tersebut dilaporkan memiliki khasiat farmakologi sebagai diuretik, peluruh batu ginjal, antihipertensi, antihiperlipidemia, antioksidan, antiinflamasi dan antikanker. Katakunci : Apium graveolens L., antikalkuli, antihipertensi, antihiperlipidemia, antiinflamasi, antioksidan
FORMULASI CO-AMORF UNTUK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT BCS KELAS II : ARTICLE REVIEW NISA, SABNABILA KHOERUN; Rusdiana, Taofik
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3719.42 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17480

Abstract

Sifat kelarutan pada API (Active Pharmaceutical Ingredients) menjadi masalah penting dalam perkembangan dan formulasi obat. Banyak cara dilakukan untuk memperbaiki kelarutan. Salah satu metode yang dapat dilakukan dengan perubahan bentuk obat dari Kristal menjadi amorf, akan tetapi bentuk tersebut memiliki sifat yang metastabil. Sekarang ini, metode co-amorf yang dikenalkan oleh Chieng, et.al. pada tahun 2009, menjadi metode baru untuk mengatasi kelarutan. Sistem co-amorf dikarakterisasi oleh penggunaan komponen berat molekul rendah yang dicampur menjadi fase tunggal co-amorf yang homogen. Metode ini sedang banyak dilakukan penelitian dan diharapkan memberikan hasil yang menjanjikan untuk mengatasi masalah kelarutan dan bioavailabilitas.Kata Kunci: Sistem formulasi co-amorf, amorf
Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro Rusdiana, Taofik; Sriwidodo, Sriwidodo; Solahudin, Jajan; Halimah, Eli; Irwan, Aep W; Amin, Suseno; Sumiwi, Sri A; Abdassah, Marline
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.042 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7812

Abstract

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37 oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%, Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5% dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal. Kata kunci: Antikalkuli, Apium graveolens L., batu ginjal, seledri
POTENSI LIMBAH KULIT JERUK NIPIS (Citrus auronfolia) SEBAGAI INHIBITOR TIROSINASE Hindun, Siti; Rusdiana, Taofik; Abdasah, Marline; Hindritiani, Reti
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.989 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v4i2.12642

Abstract

Hiperpigmentasi merupakan kelainan kulit wajah yang umum terjadi, terutama karena adanya peningkatan melanogenesis, dengan gambaran berupa warna kulit menjadi hitam atau coklat kehitaman. Kelainan ini terdapat pada beberapa macam penyakit kulit diantaranya melasma, melanoderma paska inflamasi, lentigo solaris dan freckles. Salah satu prinsip penanganan hiperpigmentasi yaitu menghambat sintesis melanin yang dapat dilakukan dengan menggunakan agen depigmentasi yang mekanisme kerjanya menghambat aktivitas enzim tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi kulit jeruk nipis sebagai inhibitor tirosinase. Kulit jeruk nipis diektraksi dengan etanol 96 %, identifikasi flavonoid, menghitung flavonoid total, kemudian diuji inhibisi tirosinase menggunakan instrumen microplate reader (ELISA). Hasil penelitian ekstrak kulit jeruk mengandung flavonid, dengan total flavonid totalnya 0,667 % b/b dan inhibition concentration (IC) 50 42,11 mg/mL, Kulit jeruk berpotensi sebagai inhibisi tirosinase.Kata kunci:    Citrus auronfolia, Hiperpigmentasi, IC50, Tirosinase
Stability of Eleutherine americana (L.) Merr. Extract as Lipstick Colorants as the Change of Temperature, Time, Storage Condition and the Presence of Oxidator Mayasari, Dewi; Rusdiana, Taofik; Ratu Kania, Yulien; Abdassah, Marline
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.047 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i1.12864

Abstract

Bawang Tiwai (Eleutherine americana (L.) Merr bulbus. is a typical plant from Kutai tribes which commonly used as an anti-bacterial and food coloring. The stability test is performed to determine the stability of the extract. Stability test was conducted in two solvents are distilled water and ethanol include the effects of temperature (25°C, 50°C, 80°C), pH (3, 5, 7), an oxidant for 6 hours, conditions of storage at room temperature and the temperature of the refrigerator for 24 hours and storage for 2 weeks. The absorbance of extract in ethanol and aquadest was decreasing due to the change of temperature, time, the presence of oxidator but due to pH changes, the absorbance of extract was increasing. Meanwhile, on the storage condition, showed the highest absorbance on dark, and room temperature storage compared to other condition.Key words: Eleutherine americana (L.) Merr bulbus, stability, color pigment
Isolation and Phisicochemical Characterization of Microcristalline Cellulose from Ramie (Boehmeria nivea L. Gaud) Based on Pharmaceutical Grade Quality Nawangsari, Desy; Yohana Chaerunisaa, Anis; Abdassah, Marline; Sriwidodo, Sriwidodo; Rusdiana, Taofik; Apriyanti, Linda
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.191 KB) | DOI: 10.24198/ijpst.v5i3.15040

Abstract

Microcrystalline cellulose is the most used material for medicine, which able to be found in fibrous plants. Microcrystal celluloses are being used as filler or binder in dosage formulas in tablets and capsules. This research aimed to produce microcrystalline cellulose from ramie based on pharmaceutical grade parameters. Research method include hemp fiber preparation, α-cellulose isolation, microcrystalline cellulose production, and microcrystalline cellulose characterization which compare with Avicel® PH 102 . Result shown microcrystalline cellulose yield is 57.26%. The result of physicochemical characterization that can comply the specifications of pharmaceutical grade as a pharmaceutical excipient.  Keywods :  Microcrystalline cellulose, Ramie, physicochemical, pharmaceutical grade.
Formulation and Evaluation of 1 mg Alprazolam Tablet Mutiawati, Yuti; Rusdiana, Taofik; -, Fitrileni; Khorunisa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.19 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v1i1.7467

Abstract

Alprazolam is benzodiazepines drug which used to manage short-term anxiety disorder, also used for the treatment of panic disorder, with or without agographobia. Many factors can affect drug dissolution rates from tablets, hence possibly drug bioavailability- including the crystal size of the drug, tablet disintegration mechanisms and rates, the method of granulation, type and amount of granulating agent employed, type, amount and method of incorporation of disintegrants and lubricants and other formulation and processing factors. The aim of the study was to prepare and evaluate alprazolam tablets with dosage strengths 1 mg, with wet granulation method, as an adjuvant used: corn starch and lactosa sebagai filler, sodium lauril sulfat as solubilizer, sodium starch glycolat as desintegrant,  Erytrocin CI 45430 as colloring, polivinyl pirolidon K 30 as binder with variatrion concentration, ethanol 95% as wetting agent, talc, silicon dioksida coloidal and magnesium stearat as glidant and antiadherent, test for the granule are particle distribution, water content, angle of repose, bulk density, taped density, apparent density (compressibility), and test for the tablet dosage are description of tablet, wight uniformity, hardness, desintegration time, content uniformity, disolution, for the selected formula tested the comparison of disolution and bioequivalence to 1 mg Alprazolam tablet innovator, the results obtained, that the tablet alprazolam 1 mg, are meet the requirements. Keywords:  Alprazolam, bioequivalence test, dissolution comparison test