Subroto Rapih, Subroto
Prodi Magister Pendidikan Ekonomi, Pascasarjana, FKIP-UNS

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENDIDIKAN LITERASI KEUANGAN PADA ANAK: Mengapa dan Bagaimana? Rapih, Subroto
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.scholaria.2016.v6.i2.p14-28

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai mengapa dan baiamana pendidikan literasi keuangan sangat penting untuk diterapkan pada anak sedini mungkin. Penanaman nilai – nilai literasi keuanga sedini mungkin pada anak akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan pengetahuan tentang literasi keuangan dan juga tingkat kesejahteraan di masa yang akan datang. Sifat kognitif anak yang masih konkret dan masih dalam tahap perkembangan sangat efektif untuk menanamkan nilai – nilai literasi keuangan. Keluarga yang merupakan komunitas pertama merupakan tempat penanaman nilai – nilai literasi keuangan yang sangat efektif. Peran sekolah juga sangat penting guna membeArikan pengetahan tentang pendidikan literasi keuangan pada anak. Komitmen bersama serta sinergitas semua pihak sangat dibutuhkan untuk kesuksesan penanaman nilai – nilai literasi keuangan melalui keluarga ataupun sekolah.
Pendidikan Literasi Keuangan pada Anak: Mengapa dan Bagaimana? Rapih, Subroto
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 6 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.scholaria.2016.v6.i2.p14-28

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai mengapa dan baiamana pendidikan literasi keuangan sangat penting untuk diterapkan pada anak sedini mungkin. Penanaman nilai – nilai literasi keuanga sedini mungkin pada anak akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan pengetahuan tentang literasi keuangan dan juga tingkat kesejahteraan di masa yang akan datang. Sifat kognitif anak yang masih konkret dan masih dalam tahap perkembangan sangat efektif untuk menanamkan nilai – nilai literasi keuangan. Keluarga yang merupakan komunitas pertama merupakan tempat penanaman nilai – nilai literasi keuangan yang sangat efektif. Peran sekolah juga sangat penting guna membeArikan pengetahan tentang pendidikan literasi keuangan pada anak. Komitmen bersama serta sinergitas semua pihak sangat dibutuhkan untuk kesuksesan penanaman nilai – nilai literasi keuangan melalui keluarga ataupun sekolah.
Pengaruh Model Pembelajaran Perubahan Konseptual (MPPK) Terhadap Hasil Belajar IPS dan Sikap Multikultural Siswa Sekolah Dasar Berlatar Belakang Monokultur Rapih, Subroto; Sutaryanto, Sutaryanto
Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran Vol 7, No 02 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.83 KB) | DOI: 10.25273/pe.v7i2.1599

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran perubahan konseptual pada hasil belajar IPS dan sikap multikultural siswa Sekolah Dasar yang berada di wilayah Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dalam bentuk Post-Test Only Control Group Design. Penelitian ini melibatkan tiga variabel yang terdiri dari satu variabel bebas dan dua variabel terikat. Variabel bebas adalah model pembelajaran perubahan konseptuan sedangkan variabel terikat yaitu prestasi belajar IPS dan sikap multikultural siswa. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis inferensial dengan menggunakan analisis statistik multivariat (MONOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perbedaan hasil belajar IPS dan kesadaran multikultural pada siswa yang mengikuti pembelajaran perubahan konseptual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan hasil perhitungan F: 40,222;p<0.05. 2) terdapat perbedaan hasil belajar IPS pada siswa yang mengikuti pembelajaran perubahan konseptual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan hasil perhitungan F: 70.520;p<0.05. 3) terdapat perbedaan kesadaran multikultural pada siswa yang mengikuti pembelajaran perubahan konseptual dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional dengan hasil perhitungan F: 12.089;p<0.05. Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembalajaran perubahan konseptual berpengaruh pada hasil belajar mata pelajaran IPS dan kesadaran multikultural siswa kelas IV Sekolah Dasar di wilayah Desa Gondosuli.
Perpektif guru sekolah dasar terhadap Higher Order Tinking Skills (HOTS): pemahaman, penerapan dan hambatan Rapih, Subroto; Sutaryadi, Sutaryadi
Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.159 KB) | DOI: 10.25273/pe.v8i1.2560

Abstract

Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan cara berfikir yang mengedepankan nilai-nilai berfikir kritis dan kreatif sehingga dipandang mampu memberikan solusi dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan memberikan gambaran tentang pemahaman guru kelas Sekolah Dasar (SD) terhadap HOTS. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskritptif kuantitatif. Instrumen dalam pengambilan data menggunakan kuisioner/ angket tertutup yang dibagikan langsung kepada responden. Selanjutnya, data dalam penlitian ini dianalisis dengan teknik analisis data deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 91,43% responden memahami konsep dari HOTS dan 8,57% responden belum memahami. Sebesar 85,71% responden berpendapat HOTS bisa diajarkan pada tingkat sekolah dasar, 11,43% berpendapat HOTS belum bisa diajarkan dan 2,86% responden menjawab tidak tahu. 82,86% responden sudah menerapkan HOTS pada kegiatan pembelajaran dan 17,14% responden belum menerapkan. Sebesar 79% responden kesulitan dalam merancang dan menerapkan evaluasi berbasiskan HOTS, 59% kesulitan dalam penyampaian materi pembelajaran, 45% kesulitan dalam merancang media pembelajaran, 38% kesulitan dalam merancang perangkat pembelajaran dan sebesar 31% kesulitan dalam proses penyusunan bahan ajar. 
Pengembangan Model Pembelajaran Lintas Budaya Monokultur pada Siswa Sekolah Dasar Sutaryanto, Sutaryanto; Budiono, Budiono; Rapih, Subroto
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Tahun 26 Nomor 2 November 2017
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.182 KB) | DOI: 10.17977/um009v26i22017p193

Abstract

Abstract: The objective of the research is to develop a cross-cultural monoculture learning model to reduce prejudice in elementary school students. Research and development research approach using ADDIE model. Data collection using questionnaires, interviews, observation, and documentation. Descriptive data analysis. The results of this study received validator assessments and were tested on a small scale and wide-scale test with excellent information obtained from instructional learning data, pretest and postest student prejudice questionnaires, and student responses to learning. This suggests that a cross-cultural learning model is worthy of use in learning to reduce prejudice in elementary school students with a monoculture background.Keywords: cross cultural learning, prejudice, monoculture, elementary school.Abstrak: Tujuan penelitian adalah mengembangkan model pembelajaran lintas budaya monokultur untuk mereduksi prasangka pada siswa sekolah dasar. Pendekatan penelitian research and development menggunakan model ADDIE. Pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data deskriptif. Hasil penelitian ini mendapat penilaian validator dan diujikan dalam skala kecil dan uji skala luas dengan keterangan sangat baik yang diperoleh dari data keterlaksanaan pembelajaran, kuisioner prasangka siswa pretest dan postest, dan respon siswa terhadap pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran lintas budaya layak digunakan dalam pembelajaran untuk mereduksi prasangka pada siswa sekolah dasar dengan latar belakang monokultur.Kata kunci: pembelajaran lintas budaya, prasangka, monokultur, sekolah dasar.