Articles

Found 13 Documents
Search

KEMAMPUAN SISWA KELAS VIII SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN TINGKAT AKREDITASI Mairing, Jackson Pasini
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Vol 46, No 2: November 2016
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.478 KB) | DOI: 10.21831/jk.v46i2.9655

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa-siswa Kelas VIII SMP negeri di salah satu kabupaten/kota di Kalimantan Tengah Tahun Ajaran 2015/2016 dalam memecahkan masalah berdasarkan akreditasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Dari jumlah populasi sebanyak 28 sekolah, 10 sekolah dipilih sebagai sampel dengan metode random sampling. Sample tersebut adalah 2 akreditasi A, 2 akreditasi B, 2 akreditasi C, dan 4 belum diakreditasi. Tiga pertanyaan diberikan pada setiap sekolah. Setiap penyelesaian diskor menggunakan rubrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kemampuan siswa secara keseluruhan sebesar 4,71 (maksimum skornya 12). Rata-rata skor kemampuan siswa untuk sekolah dengan akreditasi A, B, C, dan belum diakreditasi secara berturut-turut sebesar 5,24; 2,29; 3,31; dan 2,10. Hasil uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut adalah skor kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi A lebih tinggi dari kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi B, C, dan belum diakreditasi secara signifikan. Akan tetapi, skor kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi B, C, dan belum diakreditasi tidak berbeda signifikan.Kata kunci: masalah matematika, pemecahan masalah, tingkat akreditasi MATH PROBLEMS SOLVING ABILITY OF EIGHTH GRADE STUDENTS BASED ON THE ACCREDITATION LEVEL. AbstractThis study was aimed at describing mathematical problem solving ability of eight grade students from state junior high schools in one of the districts/cities in Central Kalimantan based on the school accreditation. This research used descriptive qualitative method. From total populations 28 schools, ten schools were chosen by random sampling. They were two schools of A accreditation, two schools of B, two schools of C, and four schools have not accredited. Three problems were given to the students from each school. Each student?s solution was scored by using the rubric. The result shows that the average score of the students? ability is 4.71 (maximum score is 12) which the average score of A, B, C accreditations, and have not accredited were 5.24, 2.29, 3.31, and 2.10 respectively. The result of Kruskal-Wallis and the further tests show that the students? scores of A accreditation are higher than B, C acreditations, and have not accredited. However, the scores of B, C accreditations, and have not accredited were not significantly different.Keywords: mathematical problems, problem solving, accreditation levels 
TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SISWA SMAN DI SURABAYA Prastiti, Tri Dyah; Tresnaningsih, Sri; Mairing, Jackson Pasini
AdMathEdu : Mathematics Education, Mathematics, and Applied Mathematics Journal Vol 8, No 1: Juni 2018
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.103 KB) | DOI: 10.12928/admathedu.v8i1.11122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif (TKBK) Matematis siswa kelas XI dari SMAN terakreditasi A di kota Surabaya. Peneliti mengembangkan dua masalah matematika materi lingkaran dimana siswa-siswa diminta untuk menyelesaikan dengan cara yang berbeda di setiap masalah. Subjek penelitian ini adalah 186 siswa SMAN 2 Surabaya, dimana kedua masalah yang telah dikembangkan tersebut dibagikan kepada subjek penelitian. Penyelesaian siswa dinilai menggunakan rubrik holistik kemudian diidentifikasi ketercapaian dari tiga indikator berpikir kreatif. Indikator tersebut adalah kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut dimana yang tergolong sangat kreatif (TKBK 4), kreatif (TKBK 3), cukup kreatif (TKBK 2),  kurang kreatif (TKBK 1) atau tidak kreatif (TKBK 0) secara berturut-berturut sebanyak 5,4 %; 8,6%; 5,9%, 67,7% dan 12,4%. Dengan kata lain, 80,1% siswa-siswa tersebut tergolong kurang kreatif dan tidak kreatif. Kondisi tersebut terjadi karena kebiasaan penyelesaian siswa-siswa didasarkan pada rumus-rumus yang dipelajarinya di kelas. Banyak siswa yang kurang berani mengembangkan kreatifitas berpikir lebih jauh dari bekal yang sudah dimilikinya.
“SAYA SANGAT MAMPU”: PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN KOMPUTER PADA MATAKULIAH ANALISIS DATA Mairing, Jackson Pasini
Edumatica : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5 No 01 (2015): Edumatica: Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Program Studi Pendidikan Matemarika PMIPA FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.302 KB) | DOI: 10.22437/edumatica.v5i01.2667

Abstract

Kemampuan menganalisis data diperlukan mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya. Mahasiswa belajar menganalisis data pada matakuliah Statistika Dasar dan Analisis Data. Pembelajaran konvensional belum dapat mendorong mahasiswa untuk memahami makna konsep-konsep Statistika dan memiliki kemampuan menganalisis data. Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) yang terintegrasi dengan dua perangkat lunak yaitu Minitab dan Microsoft Excel pada matakuliah Analisis Data. Hasilnya menunjukkan bahwa 81% mahasiswa memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah secara mandiri. Ada 71% mahasiswa yang semula takut belajar menjadi senang dalam belajar setelah mengikuti matakuliah Analisis Data. Selain itu, semua mahasiswa memiliki kemampuan dalam menganalisis data. Salah satu mahasiswa berkata, ?saya sangat mampu? pada saat peneliti memintanya untuk menganalisis data dengan komputer di depan kelas. Kata Kunci: Perangkat lunak komputer, Analisis data, Pembelajaran berbasis masalah, Statistika
STUDENTS’ ABILITIES TO SOLVE MATHEMATICAL PROBLEMS ACCORDING TO ACCREDITATION LEVELS Mairing, Jackson Pasini
International Journal of Education Vol 10, No 1 (2017): August 2017
Publisher : UPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ije.v10i1.6902

Abstract

Problem solving is important for mathematical learning because it enables students to enhance high thinking skills and positive attitudes. This research aimed at describing and comparing the abilities of junior high school students in grade VIII from one of the regencies/cities in Central Kalimantan (Indonesia) in solving mathematical problems based on schools’ accreditations (A, B, C, and unaccredited), and schools’ status (public and private). The researcher gave three mathematical problems to the students from 20 samples of schools. The schools were randomly selected from the population consisting of 62 junior high schools. Each student’s solution was scored using a holistic rubric. The scores were summarized using some statistics represented in tables and graphics and were analyzed using a Kruskal-Wallis nonparametric test because the data were not normally distributed. The finding indicated that the average scores of the public and private schools’ students were 4.71 and 3.49 (scale 0-12), respectively. Based on the percentages, namely 1.91% and 39.66%, the students were classified as good and naive problem solvers, respectively. Further test revealed that the students from the A-accredited public schools significantly achieved the highest score for problem solving skills. Meanwhile, the students in the A-accredited and the unaccredited private schools did not show a significant difference in the skills. Similar result was also found in the public schools which were accredited B and C, and unaccredited.
TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI SISWA KELAS VII SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE Mairing, Jackson Pasini
AKSIOMA : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : AKSIOMA : Jurnal Pendidikan Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat berpikir geometri menggambarkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep geometri. Pemahaman tersebut berpengaruh terhadap kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah geometri. Van Hiele membagi kemampuan geometri menjadi tingkat 0 (Visualisasi), 1 (Analisis), 2 (Deduksi Informal), 3 (Deduksi) atau 4 (Rigor). Guru seharusnya membantu siswa untuk meningkatkan tingkat kemampuan geometrinya dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Langkah awalnya adalah guru mengidentifikasi tingkat kemampuan geometri siswa saat ini. Caranya dengan memberikan soal yang berkaitan dengan setiap tingkat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan geometri siswa-siswa SMP kelas VII dari salah satu sekolah di kota Palangka Raya berdasarkan teori Van Hiele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 97,2% siswa memiliki kemampuan tingkat 0 dan 2,8% siswa memiliki tingkat 1. Lebih lanjut, peneliti juga menguraikan jawaban-jawaban siswa di setiap tingkatan dan adanya tingkat transisi dari 0 ke 1 (tingkat pra-Analisis) dan dari 1 ke 2 (tingkat pra-Deduksi Informal).Kata kunci: Tingkat Berpikir Geometri Siswa SMP, Teori Van Hiele, Pra-Analisis, Pra-Deduksi Informal. 
KEMAMPUAN SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL Mairing, Jackson Pasini
AKSIOMA : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : AKSIOMA : Jurnal Pendidikan Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pemecahan masalah matematika adalah tujuan utama siswa belajar matematika dalam kelas. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan siswa-siswa kelas X MIA dari salah satu SMA Negeri di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dalam memecahkan masalah-masalah matematika pada materi SPLTV (Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel). Instrumen penelitiannya adalah satu masalah matematika dan satu soal rutin. Masalah matematika adalah soal tidak rutin dimana cara penyelesaiannya tidak segera dapat dilihat oleh siswa. Soal rutin adalah soal yang yang jawabannya dapat diperoleh dengan menerapkan secara langsung rumus atau prosedur tertentu. Instrumen tersebut dibagikan ke semua subjek penelitian. Subjeknya adalah 32 siswa kelas X MIA yang terdiri dari 13 laki-laki dan 19 perempuan. Setiap penyelesaian siswa diskor menggunakan rubrik holistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3,1% siswa yang tergolong pemecah masalah yang kurang berpengalaman, 96,9% tergolong pemecah masalah yang rutin, dan tidak ada siswa yang tergolong pemecah masalah yang baik. Ini berarti tidak ada siswa menulis penyelesaian yang benar. Hal tersebut terjadi pada siswa-siswa yang memiliki maupun yang tidak memiliki pengetahuan prosedural mengenai cara menyelesaikan SPLTV. Kata kunci:   masalah matematika, pemecahan masalah, pemecah masalah, sistem persamaan linear tiga variabel
KEMAMPUAN MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA DALAM MEMECAHKAN MASALAH Mairing, Jackson Pasini
Edumatica : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6 No 02 (2016): Edumatica: Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Program Studi Pendidikan Matemarika PMIPA FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1729.621 KB) | DOI: 10.22437/edumatica.v6i02.3183

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan mahasiswa pendidikan matematika semester I tahun ajaran 2016/2017 dari salah satu universitas di Kalimantan Tengah dalam memecahkan masalah. Kemampuan tersebut dapat digolongkan menjadi pemecah masalah yang baik (good), rutin (routine), atau kurang berpengalaman (naive). Deskripsinya didasarkan pada jurusan mahasiswa pada waktu SMA/sederajat yaitu IPA/MIA, IPS/IIS dan SMK dari berbagai jurusan, dan kesalahan-kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah. Instrumennya adalah 4 masalah dengan materi SMA/sederajat dan akan dipelajari mahasiswa di perguruan tinggi. Subjeknya adalah 81 mahasiswa dengan perincian 64 mahasiswa dari jurusan IPA/MIA, 6 dari IPS/IIS, dan 11 dari SMK. Hasil penelitiannya adalah ada 3,7% mahasiswa yang tergolong pemecah yang baik, dan 17,3% tergolong pemecah masalah yang kurang berpengalaman. Rata-rata total skor mahasiswa untuk keempat masalah sebesar 7,48 (skor maksimum = 16), jika dikonversi ke skala 100, nilainya menjadi 46,76. Hal tersebut terjadi terutama karena mahasiswa tidak memiliki pemahaman bermakna terhadap konsep-konsep matematika, dan tidak dapat memahami masalah. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dari IPA/MIA tidak berbeda nyata dengan IPS/IIS, tetapi berbeda nyata dengan SMK. Walaupun demikian, pemecah masalah yang baik hanya ada di mahasiswa dari jurusan IPA/MIA. Lebih lanjut, kemampuan mahasiswa dari IPS/IIS tidak berbeda nyata dengan SMK.
PENYELESAIAN MASALAH MATEMATIKA BERAKHIR TERBUKA PADA SISWA SMA Mairing, Jackson Pasini; Aritonang, Henry
FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika Vol 4, No 1 (2018): FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.645 KB) | DOI: 10.24853/fbc.4.1.61-70

Abstract

Kemampuan berpikir tingkat tinggi ditunjukkan oleh kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang memiliki jawaban atau cara penyelesaian lebih dari satu. Masalah demikian disebut masalah berakhir terbuka. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa SMA kelas XI dalam menyelesaikan masalah berakhir terbuka. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan campuran kuantifatif dan kualitatif (blended quntitative-qualitative approach) dengan jenis penelitian deskriptif. Subjeknya adalah 40 siswa kelas XI dari salah satu SMAN di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Peneliti memberikan instrumen penelitian yaitu dua masalah matematika berakhir terbuka pada materi lingkaran dan garis singgung lingkaran kepada semua subjek. Masing-masing masalah menuntut siswa untuk menyelesaikan dengan dua cara berbeda. Cara pertama pada masalah bagian (a), dan cara kedua pada bagian (b). Penyelesaian dari setiap subjek diskor menggunakan rubrik holistik. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sebesar 4,63 (maksimum skor = 16) jika dikonversi ke skala 100 menjadi 28,9.. Hanya ada 1 dari 40 siswa (2,5%) yang mampu menyelesaikan Masalah 1 dengan dua cara berbeda. Pada Masalah 2, ada 92,5% yang mampu menyelesaikan dengan satu cara tertentu tetapi belum mampu menyelesaikan dengan cara lainnya. Jadi, tidak ada siswa yang memiliki kemampuan berpikir tertinggi dalam matematika yaitu berpikir kreatif. Kondisi tersebut terjadi karena penyelesaian siswa pada masalah berakhir terbuka hanya didasarkan pada rumus atau prosedur tertentu.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA MAHASISWA BERBASIS MASALAH DAN PROYEK PADA MATAKULIAH ANALISIS DATA Mairing, Jackson Pasini; Lorida, Dadang
Jurnal Pendidikan Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Students have ability to analyze data if they practiced to solved problems/projects that are related to analyzed and made conclusion from research data. The aim of this research was to develop the students worksheets of data analysis based on the problems and projects that can help students to have ability analysis research data. The development of the students worksheets used Plomps stages. Results of students workshets implementation showed that those can help: students to have meaningful understanding, like the analysis data lecture, have motivated individually to learned concepts of data analysis and solved the problems and projects in students worksheets, actived in learning process, and had ability to analyzed data by Minitab and Microsoft Excel. Mahasiswa dapat memiliki kemampuan menganalisis data jika mahasiswa berlatih menyelesaikan masalah dan proyek yang berkaitan dengan cara menganalisis dan menarik kesimpulan dari data penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan Lembar Kerja Mahasiswa. Analisis Data berbasis masalah dan proyek yang dapat membantu mahasiswa memiliki kemampuan dalam menganalisis data penelitian. Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa ini menggunakan tahap-tahap Plomp. Subjek penelitiannya adalah 24 mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya. Hasil implementasi menunjukkan bahwa penggunaan Lembar Kerja Mahasiswa dapat mendorong mahasiswa untuk: memiliki pengetahuan bermakna, (b) menyenangi matakuliah Analisis Data dan metode belajar yang digunakannya, termotivasi untuk belajar dan menyelesaikan masalah dan proyek dalam Lembar Kerja Mahasiswa secara mandiri, aktif selama perkuliahan, dan memiliki kemampuan dalam menganalisis data menggunakan Minitab dan Microsoft Excel.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MODUL PENGANTAR STATISTIKA MELALUI DISKUSI EKSPLORATIF YANG MENEKANKAN PENGETAHUAN METAKOGNITIF PADA MAHASISWA S1 PGSD POKJAR SIDOARJO Prastiti, Tri Dyah; Mairing, Jackson Pasini
Jurnal Pendidikan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, the phenomenon of the tutorial activities in mathematics class shown that the tutee still passive and just tended to accept tutor explanations. It made mathematics was considered as a difficult subject. Based on this reason, the authors conducted research on tutorial focused to improvement the studentsabilities in Pengantar Statistika I dan II by using explorative discussion that emphasizes on the metacognitive knowledge level. The subjects are S1-PGSD students at second semester in Sidoarjo. The research is conducted in two cycles and shown that the use of the explorative discussion method that emphasizes on the metacognitive knowledge level is able to increase of the students understanding and independence.