Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS KADAR Fe2+ DARI SUATU SAMPEL LIMBAH LABORATORIUM X DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis JENIS SPECTRONIK-20 Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.837 KB)

Abstract

Dalam suatu analisis di laboratorium segala bentuk zat akan menjadi danberakhir pada bentuk limbah laboratorium. Oleh karena itu, sebelum limbahlaboratorium tersebut dibuang dan dapat mencemari lingkungan maka harus diujiterlebih dahulu kandungan-kandungan yang ada pada logam berat tersebut. Salahsatunya logam berat yang dimaksud oleh peneliti adalah besi. Pada Permen No 82Tahun 2001 telah diatur bahwa pengendalian air dan pengelolaan air harusmemiliki ambang batas diperbolehkannya besi dalam air yaitu 0,3 mg/l. Dengandemikian Penelitian ini bermaksud untuk mengukur kadar besi besi dari limbahlaboratorium x di kota Bandung. Kadar besi yang diteliti adalah Fe2+, melaluianalisis spektrofotometri uv-vis jenis spectronik-20. Dimana data kuantitatif yangdidapatkan dari analisis awal tersebut dapat dijadikan pendoman dalammelakukan tindakan pengolahan limbah tahap selanjutnya. Adapun metode yangdipakai dalam penelitian ini adalah eksperimen. Dimana dalam penelitian ini adaempat tahap pengerjaan analisis. yaitu langkah pengerjaan diawali denganmelakukan pembuatan larutan baku Fe2+, kemudian dilanjutkan denganpreparasi deret standar (1 ppm ;1,5 ppm; 2 ppm; 2,5 ppm ; dan 3 ppm) , preparasisampel, dan matching kuvet. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwakadar Fe2+adalah sebesar 1,2 ppm atau setara dengan 1,2 mg/L. Maka, jikamengacu kembali pada Permen No 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitasair dan pengendalian air dapat ditarik kesimpulan bahwa kandungan Fe2+ dalamlimbah melebihi ambang batas. Kata Kunci : Kadar Fe2+ , Limbah Laboratorium , Spectronik-20, Spektrofotometri Uv-Vis
ANALISIS KANDUNGAN p-XILENA PADA PERTAMAX DAN PERTAMAX PLUS DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI GAS (GC-PU 4600) MENGGUNAKAN STANDAR INTERNAL Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Xilena dapat dijadikan parameter terhadap tinggi atau rendahnya nilai oktan  suatu bahan bakar. Senyawa xilena memiliki tiga isomer yaitu o-xilena, m-xilena dan p-xilena. Namun yang digunakan pada penelitian ini adalah p-xilena karena paling stabil. Semakin tinggi kandungan xilena pada bahan bakar maka akan semakin tinggi nilai oktan bahan bakar tersebut. Pada penelitian ini bahan bakar yang akan diteliti adalah pertamax dan pertamax plus. Pengujian xilena pada bahan bakar dapat dilakukan dengan metode analisis instrumen kromatografi gas. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil kromatogram pada sampel pertamax plus (terlampir) sama dengan hasil kromatogram larutan standar dengan peak sebanyak 4 buah, dengan kadar p-xilena dalam pertamax plus tersebut adalah 19,412 %. Hasil kromatogram pada pertamax menghasilkan 22 peak bila dilihat dari ketinggian peaknya, peak 5 ini mirip dengan peak p-xilena pada larutan standar xilena 5%. Hal tersebut terbukti dengan analisis kuantitatif bahwa kadar p-xilena dalam pertamax sebesar 1,667 %. Kandungan p-xilena pada pertamax plus lebih tinggi dibandingkan pertamax, maka nilai oktan pada pertamax plus lebih tinggi.
BAHAN AJAR ASAM-BASA MENGGUNAKAN KONTEKS BAHAN PENGAWET MAKANAN UNTUK MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS SMK JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN (TPHP) Solikha, Dian Farkhatus
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 15, No 2 (2015): PENGEMBANGAN MODEL
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar asam-basa menggunakan konteks bahan pengawet makanan yang dapat mengembangkan kemampuan literasi sains siswa SMK jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) serta mengevaluasi kualitas bahan ajar tersebut berdasarkan validasi ahli, pengujian keterbacaan, dan penilaian guru. Penelitian dimulai dengan pembuatan bahan ajar dengan pendekatan STL (Scientific Literacy and Technology) kemudian disempurnakan dengan metode validasi dan pengembangan. Validasi yang digunakan pada penelitian ini meliputi validasi ahli. Selain itu, bahan ajar juga melalui pengujian keterbacaan dan penilaian guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dimensi sains tertuang dalam bahan ajar, nilai CVR dan CVI menunjukkan bahwa bahan ajar sangat sesuai digunakan dalam pembelajaran baik dalam pembelajaran kimia adaptif maupun pembelajaran mata pelajaran produktif TPHP materi bahan tambahan makanan, persentase total keterbacaan 75,3 % menunjukkan bahwa bahan ajar dapat digunakan untuk siswa SMK Jurusan TPHP karena mudah untuk dipahami dan termasuk bahan ajar yang baik sekali merujuk pada hasil persentase penilaian guru sebesar 98%. Kekuatan bahan ajar terletak pada aspek visualisasi (kalimat, ukuran huruf, jenis huruf, tampilan gambar) dan aspek ketertarikan siswa dalam mempelajari materi produktif TPHP, sedangkan kelemahan bahan ajar terletak pada aspek ketertarikan siswa dalam mempelajari materi kimia.Kata Kunci: bahan ajar, literasi sains, validasi ahli, pengujian keterbacaan, penilaian guru
PENENTUAN KADAR TEMBAGA (II) PADA SAMPEL MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM (SSA) PERKIN ERLMER ANALYST 100 METODE KURVA KALIBRASI Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.004 KB)

Abstract

Pengujian kadar Cu (II) dapat dilakukan dengan menggunakan alat uji Spektroskopi Serapan Atom (SSA) metode kurva kalibrasi, pada penelitian kali ini digunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Perkin Erlmer Analyst 100. Sampel yang digunakan terdiri atas dua sampel yaitu sampel 1 dan sampel 2, analisis dilakukan duplo. Sedangkan Larutan deret standar yang digunakan terdiri atas enam konsentrasi dimana masing-masing konsentrasinya adalah 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm. Berdasarkan pengujian SSA didapatkan absorbansi pada 5 ppm sebesar 0,160 ; 10 ppm sebesar 0,334 ; 15 ppm sebesar 0,532 ; 20 ppm sebesar 0,589 ; 25 ppm sebesar 0,712 ; sampel 1 sebesar 0,543 dan sampel 2 sebesar 0,549. Terdapat penyimpangan pada larutan standar 15 ppm dikarenakan penyimpangan dalam hal syarat konsentrasi dan penyimpangan dalam hal syarat kimia. Kadar Cu (II) dalam sampel diperoleh sebesar 18,3 ppm  pada sampel 1dan pada sampel  2 sebesar 18,1 ppm, diperoleh menggunakan metode kurva kalibrasi. Kata kunci: Tembaga (II), SSA, Kurva Kalibrasi, Larutan Standar, Sampel 1, Sampel 2
ANALISIS KANDUNGAN p-XILENA PADA PERTAMAX DAN PERTAMAX PLUS DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI GAS (GC-PU 4600) MENGGUNAKAN STANDAR INTERNAL Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Xilena dapat dijadikan parameter terhadap tinggi atau rendahnya nilai oktan  suatu bahan bakar. Senyawa xilena memiliki tiga isomer yaitu o-xilena, m-xilena dan p-xilena. Namun yang digunakan pada penelitian ini adalah p-xilena karena paling stabil. Semakin tinggi kandungan xilena pada bahan bakar maka akan semakin tinggi nilai oktan bahan bakar tersebut. Pada penelitian ini bahan bakar yang akan diteliti adalah pertamax dan pertamax plus. Pengujian xilena pada bahan bakar dapat dilakukan dengan metode analisis instrumen kromatografi gas. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil kromatogram pada sampel pertamax plus (terlampir) sama dengan hasil kromatogram larutan standar dengan peak sebanyak 4 buah, dengan kadar p-xilena dalam pertamax plus tersebut adalah 19,412 %. Hasil kromatogram pada pertamax menghasilkan 22 peak bila dilihat dari ketinggian peaknya, peak 5 ini mirip dengan peak p-xilena pada larutan standar xilena 5%. Hal tersebut terbukti dengan analisis kuantitatif bahwa kadar p-xilena dalam pertamax sebesar 1,667 %. Kandungan p-xilena pada pertamax plus lebih tinggi dibandingkan pertamax, maka nilai oktan pada pertamax plus lebih tinggi.
ANALISIS KANDUNGAN p-XILENA PADA PERTAMAX DAN PERTAMAX PLUS DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI GAS (GC-PU 4600) MENGGUNAKAN STANDAR INTERNAL Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.753 KB)

Abstract

Xilena dapat dijadikan parameter terhadap tinggi atau rendahnya nilai oktan suatu bahan bakar. Senyawa xilena memiliki tiga isomer yaitu o-xilena, m-xilena dan p-xilena. Namun yang digunakan pada penelitian ini adalah p-xilena karena paling stabil. Semakin tinggi kandungan xilena pada bahan bakar maka akan semakin tinggi nilai oktan bahan bakar tersebut. Pada penelitian ini bahan bakar yang akan diteliti adalah pertamax dan pertamax plus. Pengujian xilena pada bahan bakar dapat dilakukan dengan metode analisis instrumen kromatografi gas. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil kromatogram pada sampel pertamax plus (terlampir) sama dengan hasil kromatogram larutan standar dengan peak sebanyak 4 buah, dengan kadar p-xilena dalam pertamax plus tersebut adalah 19,412 %. Hasil kromatogram pada pertamax menghasilkan 22 peak bila dilihat dari ketinggian peaknya, peak 5 ini mirip dengan peak p-xilena pada larutan standar xilena 5%. Hal tersebut terbukti dengan analisis kuantitatif bahwa kadar p-xilena dalam pertamax sebesar 1,667 %. Kandungan p-xilena pada pertamax plus lebih tinggi dibandingkan pertamax, maka nilai oktan pada pertamax plus lebih tinggi. Kata Kunci : kromatografi gas, nilai oktan, p-xilena , pertamax, pertamax plus.
ANALISIS KADAR Fe2+ DARI SUATU SAMPEL LIMBAH LABORATORIUM X DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis JENIS SPECTRONIK-20 Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.837 KB)

Abstract

Dalam suatu analisis di laboratorium segala bentuk zat akan menjadi danberakhir pada bentuk limbah laboratorium. Oleh karena itu, sebelum limbahlaboratorium tersebut dibuang dan dapat mencemari lingkungan maka harus diujiterlebih dahulu kandungan-kandungan yang ada pada logam berat tersebut. Salahsatunya logam berat yang dimaksud oleh peneliti adalah besi. Pada Permen No 82Tahun 2001 telah diatur bahwa pengendalian air dan pengelolaan air harusmemiliki ambang batas diperbolehkannya besi dalam air yaitu 0,3 mg/l. Dengandemikian Penelitian ini bermaksud untuk mengukur kadar besi besi dari limbahlaboratorium x di kota Bandung. Kadar besi yang diteliti adalah Fe2+, melaluianalisis spektrofotometri uv-vis jenis spectronik-20. Dimana data kuantitatif yangdidapatkan dari analisis awal tersebut dapat dijadikan pendoman dalammelakukan tindakan pengolahan limbah tahap selanjutnya. Adapun metode yangdipakai dalam penelitian ini adalah eksperimen. Dimana dalam penelitian ini adaempat tahap pengerjaan analisis. yaitu langkah pengerjaan diawali denganmelakukan pembuatan larutan baku Fe2+, kemudian dilanjutkan denganpreparasi deret standar (1 ppm ;1,5 ppm; 2 ppm; 2,5 ppm ; dan 3 ppm) , preparasisampel, dan matching kuvet. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwakadar Fe2+adalah sebesar 1,2 ppm atau setara dengan 1,2 mg/L. Maka, jikamengacu kembali pada Permen No 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitasair dan pengendalian air dapat ditarik kesimpulan bahwa kandungan Fe2+ dalamlimbah melebihi ambang batas. Kata Kunci : Kadar Fe2+ , Limbah Laboratorium , Spectronik-20, Spektrofotometri Uv-Vis
EVALUASI KINERJA UNIT KOAGULASI DAN FLOKULASI WASTE WATER TREATMENT LIMBAH POND C-304 DI LABORATORIUM UNIT SINTESIS Nurhidayah, Nurhidayah; Solikha, Dian Farkhatus
Jurnal Migasian Akamigas Balongan Indramayu Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM AKAMIGAS BALONGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT DyStar Colours Indonesia, merupakan salah satu pabrik penghasil zat warna tekstil terbesar di Indonesia kapasitas produksi 33 Ton/hari, 1000 Ton/bulan dan 12000 ton/ tahun. Begitupun limbah yang dihasilkan pada semua unit sintesis merupakan penghasil limbah terbanyak yaitu sekitar 9-10 ton/hari, pada unit milling limbah yang dihasilkan sekitar 6ton/hari dan unit draying limbah yang dihasilkan sekitar 5 ton/hari. Limbah Cair Pond C-304 adalah limbah buangan dari semua unit proses, biasanya limbah diberikan kepada pihak ke tiga untuk dilakukan pengolahan limbah oleh perusahaan tersebut, namun saat ini PT DyStar Colours Indonesia berencana membangun unit pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengubah air limbah menjadi air prosess.Berkenaan dengan hal tersebut maka diperlukan penelitian skala laboratorium dimana dilakukan lima tahap perlakukan atas sampel limbah pond C-304. Lima tahap perlakuan tersebut meliputi tahap pengenceran sampel, tahap koagulasi, tahap flokulasi, tahap penyaringan, dan tahap adsorbsi. Sampel disiapkan yaitu sampel 1 (100 : 700) dan sampel 2 (100 :800). Dimana pada tahap penyaringan dibedakan dengan mengunakan penyaring berupa Pasir silika GB 1, Pasir silika GB 2, dan karbon aktif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka Pada sampel 1 (100 : 700) dan sampel 2 (100 : 800), adsorben paling efektif adalah karbon aktif, karena nilai pH yang dihasilkan lebih netral, nilai Solid Content dan Conductivity lebih kecil daripada pasir silika GB 1 dan GB 2. Bila dibandingkan penggunaan pasir silika maka lebih efektif dengan menggunakan pasir silika GB 1 karena dilihat dari Solid Content nya yang lebih rendah di banding pasir silika GB 2.
ANALISA KUALITATIF DAN KUANTITATIF SAMPEL LAWS-02 DAN SF-02 MENGGUNAKAN METODE GC-MS Ramadhan, Rifqi; Solikha, Dian Farkhatus
Jurnal Migasian Akamigas Balongan Indramayu Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM AKAMIGAS BALONGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low Aromatic White Spirit-02 (LAWS-02) dan Smooth Fluida-02 (SF-02) merupakan produk yang dihasilkan dari fraksi ringan non-bbm yang digunakan sebagai pelarut dan bahan kimia khusus (special chemical). Analisa LAWS-02 dan SF-02 menggunakan GC-MS dilakukan untuk mengetahui secara kualitatif dan kuantitatif kandungan dari senyawa LAWS-02 dan SF-02 tersebut. Hasil uji kandungan dari senyawa LAWS-02 dan SF-02 harus diperoleh data yang on-spec atau sesuai data standar. Melalui pengujian sampel LAWS-02 menggunakan GC-MS dapat diketahui kandungan komponen senyawa terbesar yaitu Dekana (C10) sebesar 315116,3357 ppm. Sedangkan dari sampel SF 02 yang diuji dapat diketahui kandungan komponen senyawa terbesar yaitu Dodekana (C12) sebesar 107647,4950 ppm. Berdasarkan data yang didapat maka LAWS-02 sesuai dengan fraksi asal yaitu fraksi kerosin (C10-C14). Adapun SF-02 juga sesuai dengan fraksi asal yaitu fraksi heavy gas oil (C16-C28).
PENENTUAN KADAR TEMBAGA (II) PADA SAMPEL MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM (SSA) PERKIN ERLMER ANALYST 100 METODE KURVA KALIBRASI Solikha, Dian Farkhatus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.144 KB)

Abstract

Pengujian kadar Cu (II) dapat dilakukan dengan menggunakan alat uji Spektroskopi Serapan Atom (SSA) metode kurva kalibrasi, pada penelitian kali ini digunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Perkin Erlmer Analyst 100. Sampel yang digunakan terdiri atas dua sampel yaitu sampel 1 dan sampel 2, analisis dilakukan duplo. Sedangkan Larutan deret standar yang digunakan terdiri atas enam konsentrasi dimana masing-masing konsentrasinya adalah 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm. Berdasarkan pengujian SSA didapatkan absorbansi pada 5 ppm sebesar 0,160 ; 10 ppm sebesar 0,334 ; 15 ppm sebesar 0,532 ; 20 ppm sebesar 0,589 ; 25 ppm sebesar 0,712 ; sampel 1 sebesar 0,543 dan sampel 2 sebesar 0,549. Terdapat penyimpangan pada larutan standar 15 ppm dikarenakan penyimpangan dalam hal syarat konsentrasi dan penyimpangan dalam hal syarat kimia. Kadar Cu (II) dalam sampel diperoleh sebesar 18,3 ppm  pada sampel 1dan pada sampel  2 sebesar 18,1 ppm, diperoleh menggunakan metode kurva kalibrasi. Kata kunci: Tembaga (II), SSA, Kurva Kalibrasi, Larutan Standar, Sampel 1, Sampel 2