Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Majalah Kedokteran Bandung

Isolasi Bacillus thuringiensis Lokal dari Tanah Kota Bandung Berdasarkan Ketinggian Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana; Faridah, Lia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.495 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1055

Abstract

Demam dengue (DD) merupakan penyakit endemis di negara berkembang termasuk Indonesia. Kasus DD di Kota Bandung mencapai angka tertinggi di antara kota lain di Jawa Barat, yaitu sebesar 1.180 kasus. Belum ditemukan obat yang tepat dalam menangani infeksi ini. Walaupun sudah ditemukan vaksin, namun penggunaan vaksin ini masih terbatas pada usia dan kalangan tertentu. Dengan demikian, pengendalian vektor baik secara kimiawi maupun biologis, masih menjadi prioritas. Salah satu agen biologis untuk mengendalikan populasi larva nyamuk adalah Bacillus thuringiensis (Bt). Penelitian dilakukan selama bulan Januari–Desember 2015. Penelitian ini merupakan suatu eksperimen dengan rancangan faktorial yang bertujuan mendapatkan isolat Bt dari tanah di berbagai ketinggian di Kota Bandung. Sampel tanah diambil dari ketinggian 600 m, 800 m, serta 1000 m dan setiap ketinggian diambil 3 lokasi dengan metode acak. Bt diisolasi dengan medium selektif. Isolat bakteri yang diperoleh kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan gram, pengamatan endospora subterminal, uji fermentasi glukosa, sitrat, indol, dan manitol. Kelimpahan Bt di tiap ketinggian dihitung menggunakan Bt index. Hasil identifikasi mendeteksi terdapat 3 isolat yang menunjukkan kemiripan dengan Bt, yaitu isolat STBD.2.02, CBRM.3.01, dan KOPO.3.02. Nilai Bt index menunjukkan kelimpahan Bt di ketinggian 800 m lebih tinggi dibanding dengan ketinggian yang lain. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Kata kunci: Bacillus thuringiensis lokal, Bandung, ketinggian, tanah     Local Bacillus thuringiensis Isolation from Bandung Soil by Altitude Dengue fever (DF) is an endemic disease in developing countries including Indonesia. Bandung has the highest number of Dengue Fever in West Java Province with 1,180 cases. There  is currently  no drugs or vaccines that can prevent dengue fever and dengue hemorrhagic fever, making vector control, both chemically and biologically, the primary prevention approach. One biological agent that has been used to control the larval population is Bacillus thuringiensis (Bt). This study is an experimental study with factorial design aimed to obtain Bt isolates from soil of various altitude around Bandung city area period January to December 2015. Soil samples were acquired from 600 m, 800 m and 1,000 m above sea level. Sampling was conducted randomly from 3 points at every altitude. Bt were isolated with a selective medium. The acquired bacteria samples were then identified using gram stain, subterminal endospore observation, as well as glucose fermentation, citrate, indole, and manitol tests. Bt abundance for each altitude was calculated using Bt index. Three isolates with similarity with Bt were identified, i.e. STBD 2.02, CBRM 3.01 and KOPO 3.02 isolates. Bt index value indicates that the abundance of Bt at 800 m altitude is the highest compared to others. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Key words: Altitude, Bandung, local Bacillus thuringiensis, soil
Gambaran Partisipasi Masyarakat terhadap Pengendalian Vektor Melalui Kajian Tempat Perkembangbiakan Aedes aegypti di Kota Bandung Faridah, Lia; Respati, Titik; Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.081 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n1.986

Abstract

Pada tahun 2014, Bandung memiliki angka kasus demam dengue (DD) tertinggi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Upaya pengendalian DD telah dilaksanakan sejak beberapa dekade yang lalu. Salah satu upaya adalah dengan mengeliminasi tempat perkembangbiakan nyamuk melalui peran serta masyarakat. Penelitian ini bertujuan menilai partisipasi masyarakat Kota Bandung dengan mengetahui tempat-tempat perkembangbiakan Aedes aegypti baik di dalam maupun di luar rumah. Sampling dilakukan di 16 kelurahan di Kota Bandung yang telah dipilih berdasar atas angka kejadian DD, kepadatan penduduk, ketinggian permukaan, dan status sosial-ekonomi periode 2015. Populasi penelitian adalah rumah-rumah yang terdapat di 16 kelurahan tersebut. Jumlah sampel penelitian ini adalah 1.983 rumah yang merupakan perwakilan dari tiap kelurahan. Sampling jentik dilakukan pada berbagai tempat penampungan air, baik penampungan alami maupun buatan di sekitar pemukiman penduduk. Jentik yang ditemukan dimasukkan ke dalam wadah dan dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dan dihitung jumlahnya. Hasil menunjukkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang paling dominan adalah bak mandi (50%), talang air (24%), dan dispenser (15%). Data entomologi diperoleh hasil House index (HI) 24%, Container index (CI) 12%, dan Breteau index (BI) 36%. Hasil tersebut menunjukkan masih kurangnya peran serta masyarakat untuk mencegah DD dengan membasmi tempat perkembangbiakannya dan Kota Bandung masih berpotensi untuk terjadi penyebaran penyakit DD. [MKB. 2016;49(1):42–7]Kata kunci: Aedes aegypti, Bandung, demam dengue, tempat perkembangbiakan, partisipasi masyarakat Community Participation on Vector Control Based on Aedes aegypti’s Breeding Sites in BandungIn 2014, Bandung has the highest number of Dengue Fever cases of 27 districts and cities in West Java. Dengue Fever control efforts have been implemented for several decades. One of the efforts is the eradication of the vector breeding site with community participation. The aim of this study was to assess community participation by identifying Aedes aegypti’s breeding sites, both indoor and outdoor, in Bandung area. Sampling was conducted on houses in 16 villages throughout Bandung area. The sampling points were selected according to the Dengue Fever event number, population density, height, and socio-economic status. The total sample points were 1983 houses. Larvae from sample points were collected from various water containments, both natural and manmade, around the settlement. The larvae samples were then brought to the laboratory to be identified and counted. Results indicated the dominant breeding sites were bathtub (50%), gutter (24%), and dispenser (15%). Entomological survey resulted in 24% HI, 12% CI, and 36% BI. This indicates the lack of community participation in preventing DF by eradicating vector’s breeding sites and Bandung is still potential for DF outbreak. [MKB. 2016;49(1):42–7]Key words: Aedes aegypti, Bandung, breeding site, dengue fever, community pasticipation
Deteksi Keberadaan Nyamuk Berdasarkan Ketinggian Gedung di Kawasan Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor Faridah, Lia; Leonita, Inggrid; Sari, Sri Yusnita Irda
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.427 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n1.1158

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia menurut data Kemenkes telah menjadi masalah kesehatan selama 45 tahun terakhir, sejak tahun 1968 sampai saat ini. Pada tahun 1973 dan 1983 progresivitasnya meningkat hingga lebih dari 50% kabupaten/kota telah terjangkit kasus DBD. Kabupaten Sumedang sendiri memiliki insidensi 63,75 per 1.000 penduduk dengan jumlah kasus DBD sekitar 715 kasus pada tahun 2012. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi persebaran nyamuk berdasarkan ketinggian gedung menggunakan media ovitrap dan mosquitoes light trap pada tujuh gedung bertingkat di kawasan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor yang memiliki ketinggian hingga level empat (9,1–12,0 m). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei–Juni 2017. Semua ovitrap diletakkan pada lokasi yang berpotensi sebagai breeding site di dalam ruangan selama satu minggu, tiap-tiap lantai terdapat tiga ovitrap dengan jarak antar ovitrap 1,5 m. Perangkap nyamuk diletakkan pada setiap sudut ruangan yang memiliki sumber arus listrik selama 24 jam dan pengumpulan sampel dilakukan dalam kurun waktu tiga hari berikutnya. Semua sampel kemudian diidentifikasi di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Jatinangor. Culex spp dan Aedes spp genus nyamuk yang dapat ditemukan pada gedung bertingkat di kawasan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor dengan jumlah terbanyak adalah Culex spp, sedangkan Aedes spp ditemukan dapat bertelur hingga tingkat tiga pada pemukiman yang padat.Kata kunci: Gedung bertingkat, genus, light trap, nyamuk, ovitrap Detection of Mosquito Presence based on Building Elevation in Universitas Padjadjaran JatinangorAccording to the Ministry of Health (KMoH), Dengue­ Hemorrhagic Fever (DHF) has been a big problem in Indonesia  since 1968.  In 1973 and 1983, the progressivity of DHF has increased. DHF cases have spread to more than 50% of districts/cities.  Sumedang District has an incidence rate of 63.75 per 1,000 residents with the number of dengue cases of 715 in 2012. The purpose of this study was to evaluate of the presence of mosquito based on building elevation using ovitraps and mosquito light traps. A survey was conducted in seven locations with four different elevations (9.1–12.0 m)  in Universitas Padjadjaran Jatinangor campus during the period of May to June 2017.  All ovitraps were each placed in a potential location for mosquito breeding site for one week. For each elevation, in this case, each floor, three ovitraps were placed with a distance 1.5 m from each other. Modified mosquito light trap was turned on for 24 hours and sample collection was performed after three days. All samples were brought to the Parasitology Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Padjajaran for identification. This study showed that two genera of mosquitoes were identified i.e. Culex spp and Aedes spp with Culex spp as the most frequently found genera. The eggs of Aedes spp can be found up to the third floor  in dense settlements.Key words: Genera, high level building, light trap, mosquito, ovitrap
Gambaran Kontainer Potensial dan Kondisi Lingkungannya Sebagai Tempat Perindukan Nyamuk di Universitas Padjadjaran Jatinangor Faridah, Lia; Hamda, Muhammad Ersyad; Syafei, Neneng Syarifah; Agrianfanny, Yukan Niko
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.967 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n2.1151

Abstract

Nyamuk memiliki peran penting sebagai vektor penyakit menular seperti demam berdarah dengue, malaria, filariasis, demam kuning, dan chikungunya sehingga keberadaan nyamuk perlu dikontrol. Pengawasan tempat perindukan nyamuk akan membantu pihak berwenang untuk merancang pengendalian kepadatan nyamuk. Pertumbuhan larva nyamuk dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu air, kelembapan udara, dan pH air. Kondisi tersebut dapat bervariasi karena perbedaan geografis, variasi musiman, atau bahkan perubahan iklim.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kontainer potensial dan kondisi lingkungannya sebagai tempat perindukan nyamuk di Universitas Padjadjaran Jatinangor. Penelitian deskriptif dilakukan dengan mengamati larva nyamuk dalam wadah air baik di dalam maupun di luar gedung fakultas. Kondisi lingkungan (pH, suhu dan kelembapan) diukur dan dicatat selama pengamatan untuk setiap kontainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 582 kontainer yang diteliti terdapat 72 (12,4%) positif  larva nyamuk. Kontainer yang paling potensial di dalam bangunan adalah ember, sedangkan di luar bangunan adalah bambu Aedes sp. Mendominasi penemuan larva di lapangan. Suhu air rerata yang diperoleh adalah 24,3oC, kelembapan 66,7% dan pH 8,1. Kondisi suhu dan pH sesuai dengan kondisi optimum perkembangan larva pada umumnya. Sementara tingkat kelembapan yang lebih rendah (kelembapan 81,6–89,5%) masih mampu membuat larva nyamuk tumbuh dengan baik di Universitas Padjadjaran Jatinangor.Kata kunci: Kelembapan, larva nyamuk, pH, suhu air, Universitas Padjadjaran Potential Container and Its Environmental Conditions for Mosquito Breeding Site in Universitas Padjadjaran JatinangorPlaying pivotal role as vector of infectious disease such as dengue hemorrhagic fever, malaria, filariasis, yellow fever and chikungunya, mosquito needs to be controlled. Surveillance for mosquito breeding places will help the authorities in devising means in controlling mosquito density. The growth of mosquito larvae is influenced by environmental conditions such as water temperature, humidity, and pH. Those conditions may vary due to geographic differences, seasonal variations, or even climate change. The purpose of this study was to understand the potential container and its environmental conditions for larvae in Universitas Padjadjaran Jatinangor. A descriptive study was conducted by observing the presence of mosquito larvae in water containers both inside and outside of faculty buildings. Environmental conditions (pH, water temperature and humidity) were measured and recorded during observation for each water container.  Results showed that from 582 containers examined, 72 (12.4%) were positive for larvae. The most potential container in the building was bucket, while foroutside of the building, the most potential container was bamboo. Aedes sp. dominated larvae discovered in this study. The average water temperature obtained was 24.30C with 66% humidity, and pH 8.1. These temperature and pH values are the optimum condition for larvae development in general.  However, lower humidity level (humidity 81.6–89.5%) can still enable good growth of mosquito’s eggs in the campus area of Universitas Padjadjaran Jatinangor.Key words: Humidity, mosquito larvae, pH, water temperature, Universitas Padjadjaran 
Isolasi Bacillus thuringiensis Lokal dari Tanah Kota Bandung Berdasarkan Ketinggian Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana; Faridah, Lia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.679 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1055

Abstract

Demam dengue (DD) merupakan penyakit endemis di negara berkembang termasuk Indonesia. Kasus DD di Kota Bandung mencapai angka tertinggi di antara kota lain di Jawa Barat, yaitu sebesar 1.180 kasus. Belum ditemukan obat yang tepat dalam menangani infeksi ini. Walaupun sudah ditemukan vaksin, namun penggunaan vaksin ini masih terbatas pada usia dan kalangan tertentu. Dengan demikian, pengendalian vektor baik secara kimiawi maupun biologis, masih menjadi prioritas. Salah satu agen biologis untuk mengendalikan populasi larva nyamuk adalah Bacillus thuringiensis (Bt). Penelitian dilakukan selama bulan Januari–Desember 2015. Penelitian ini merupakan suatu eksperimen dengan rancangan faktorial yang bertujuan mendapatkan isolat Bt dari tanah di berbagai ketinggian di Kota Bandung. Sampel tanah diambil dari ketinggian 600 m, 800 m, serta 1000 m dan setiap ketinggian diambil 3 lokasi dengan metode acak. Bt diisolasi dengan medium selektif. Isolat bakteri yang diperoleh kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan gram, pengamatan endospora subterminal, uji fermentasi glukosa, sitrat, indol, dan manitol. Kelimpahan Bt di tiap ketinggian dihitung menggunakan Bt index. Hasil identifikasi mendeteksi terdapat 3 isolat yang menunjukkan kemiripan dengan Bt, yaitu isolat STBD.2.02, CBRM.3.01, dan KOPO.3.02. Nilai Bt index menunjukkan kelimpahan Bt di ketinggian 800 m lebih tinggi dibanding dengan ketinggian yang lain. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Kata kunci: Bacillus thuringiensis lokal, Bandung, ketinggian, tanah     Local Bacillus thuringiensis Isolation from Bandung Soil by Altitude Dengue fever (DF) is an endemic disease in developing countries including Indonesia. Bandung has the highest number of Dengue Fever in West Java Province with 1,180 cases. There  is currently  no drugs or vaccines that can prevent dengue fever and dengue hemorrhagic fever, making vector control, both chemically and biologically, the primary prevention approach. One biological agent that has been used to control the larval population is Bacillus thuringiensis (Bt). This study is an experimental study with factorial design aimed to obtain Bt isolates from soil of various altitude around Bandung city area period January to December 2015. Soil samples were acquired from 600 m, 800 m and 1,000 m above sea level. Sampling was conducted randomly from 3 points at every altitude. Bt were isolated with a selective medium. The acquired bacteria samples were then identified using gram stain, subterminal endospore observation, as well as glucose fermentation, citrate, indole, and manitol tests. Bt abundance for each altitude was calculated using Bt index. Three isolates with similarity with Bt were identified, i.e. STBD 2.02, CBRM 3.01 and KOPO 3.02 isolates. Bt index value indicates that the abundance of Bt at 800 m altitude is the highest compared to others. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Key words: Altitude, Bandung, local Bacillus thuringiensis, soil
Gambaran Partisipasi Masyarakat terhadap Pengendalian Vektor Melalui Kajian Tempat Perkembangbiakan Aedes aegypti di Kota Bandung Faridah, Lia; Respati, Titik; Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.081 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n1.986

Abstract

Pada tahun 2014, Bandung memiliki angka kasus demam dengue (DD) tertinggi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Upaya pengendalian DD telah dilaksanakan sejak beberapa dekade yang lalu. Salah satu upaya adalah dengan mengeliminasi tempat perkembangbiakan nyamuk melalui peran serta masyarakat. Penelitian ini bertujuan menilai partisipasi masyarakat Kota Bandung dengan mengetahui tempat-tempat perkembangbiakan Aedes aegypti baik di dalam maupun di luar rumah. Sampling dilakukan di 16 kelurahan di Kota Bandung yang telah dipilih berdasar atas angka kejadian DD, kepadatan penduduk, ketinggian permukaan, dan status sosial-ekonomi periode 2015. Populasi penelitian adalah rumah-rumah yang terdapat di 16 kelurahan tersebut. Jumlah sampel penelitian ini adalah 1.983 rumah yang merupakan perwakilan dari tiap kelurahan. Sampling jentik dilakukan pada berbagai tempat penampungan air, baik penampungan alami maupun buatan di sekitar pemukiman penduduk. Jentik yang ditemukan dimasukkan ke dalam wadah dan dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dan dihitung jumlahnya. Hasil menunjukkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang paling dominan adalah bak mandi (50%), talang air (24%), dan dispenser (15%). Data entomologi diperoleh hasil House index (HI) 24%, Container index (CI) 12%, dan Breteau index (BI) 36%. Hasil tersebut menunjukkan masih kurangnya peran serta masyarakat untuk mencegah DD dengan membasmi tempat perkembangbiakannya dan Kota Bandung masih berpotensi untuk terjadi penyebaran penyakit DD. [MKB. 2016;49(1):42–7]Kata kunci: Aedes aegypti, Bandung, demam dengue, tempat perkembangbiakan, partisipasi masyarakat Community Participation on Vector Control Based on Aedes aegypti’s Breeding Sites in BandungIn 2014, Bandung has the highest number of Dengue Fever cases of 27 districts and cities in West Java. Dengue Fever control efforts have been implemented for several decades. One of the efforts is the eradication of the vector breeding site with community participation. The aim of this study was to assess community participation by identifying Aedes aegypti’s breeding sites, both indoor and outdoor, in Bandung area. Sampling was conducted on houses in 16 villages throughout Bandung area. The sampling points were selected according to the Dengue Fever event number, population density, height, and socio-economic status. The total sample points were 1983 houses. Larvae from sample points were collected from various water containments, both natural and manmade, around the settlement. The larvae samples were then brought to the laboratory to be identified and counted. Results indicated the dominant breeding sites were bathtub (50%), gutter (24%), and dispenser (15%). Entomological survey resulted in 24% HI, 12% CI, and 36% BI. This indicates the lack of community participation in preventing DF by eradicating vector’s breeding sites and Bandung is still potential for DF outbreak. [MKB. 2016;49(1):42–7]Key words: Aedes aegypti, Bandung, breeding site, dengue fever, community pasticipation
Gambaran Kontainer Potensial dan Kondisi Lingkungannya Sebagai Tempat Perindukan Nyamuk di Universitas Padjadjaran Jatinangor Faridah, Lia; Hamda, Muhammad Ersyad; Syafei, Neneng Syarifah; Agrianfanny, Yukan Niko
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.967 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n2.1151

Abstract

Nyamuk memiliki peran penting sebagai vektor penyakit menular seperti demam berdarah dengue, malaria, filariasis, demam kuning, dan chikungunya sehingga keberadaan nyamuk perlu dikontrol. Pengawasan tempat perindukan nyamuk akan membantu pihak berwenang untuk merancang pengendalian kepadatan nyamuk. Pertumbuhan larva nyamuk dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu air, kelembapan udara, dan pH air. Kondisi tersebut dapat bervariasi karena perbedaan geografis, variasi musiman, atau bahkan perubahan iklim.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kontainer potensial dan kondisi lingkungannya sebagai tempat perindukan nyamuk di Universitas Padjadjaran Jatinangor. Penelitian deskriptif dilakukan dengan mengamati larva nyamuk dalam wadah air baik di dalam maupun di luar gedung fakultas. Kondisi lingkungan (pH, suhu dan kelembapan) diukur dan dicatat selama pengamatan untuk setiap kontainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 582 kontainer yang diteliti terdapat 72 (12,4%) positif  larva nyamuk. Kontainer yang paling potensial di dalam bangunan adalah ember, sedangkan di luar bangunan adalah bambu Aedes sp. Mendominasi penemuan larva di lapangan. Suhu air rerata yang diperoleh adalah 24,3oC, kelembapan 66,7% dan pH 8,1. Kondisi suhu dan pH sesuai dengan kondisi optimum perkembangan larva pada umumnya. Sementara tingkat kelembapan yang lebih rendah (kelembapan 81,6–89,5%) masih mampu membuat larva nyamuk tumbuh dengan baik di Universitas Padjadjaran Jatinangor.Kata kunci: Kelembapan, larva nyamuk, pH, suhu air, Universitas Padjadjaran Potential Container and Its Environmental Conditions for Mosquito Breeding Site in Universitas Padjadjaran JatinangorPlaying pivotal role as vector of infectious disease such as dengue hemorrhagic fever, malaria, filariasis, yellow fever and chikungunya, mosquito needs to be controlled. Surveillance for mosquito breeding places will help the authorities in devising means in controlling mosquito density. The growth of mosquito larvae is influenced by environmental conditions such as water temperature, humidity, and pH. Those conditions may vary due to geographic differences, seasonal variations, or even climate change. The purpose of this study was to understand the potential container and its environmental conditions for larvae in Universitas Padjadjaran Jatinangor. A descriptive study was conducted by observing the presence of mosquito larvae in water containers both inside and outside of faculty buildings. Environmental conditions (pH, water temperature and humidity) were measured and recorded during observation for each water container.  Results showed that from 582 containers examined, 72 (12.4%) were positive for larvae. The most potential container in the building was bucket, while foroutside of the building, the most potential container was bamboo. Aedes sp. dominated larvae discovered in this study. The average water temperature obtained was 24.30C with 66% humidity, and pH 8.1. These temperature and pH values are the optimum condition for larvae development in general.  However, lower humidity level (humidity 81.6–89.5%) can still enable good growth of mosquito’s eggs in the campus area of Universitas Padjadjaran Jatinangor.Key words: Humidity, mosquito larvae, pH, water temperature, Universitas Padjadjaran 
Deteksi Keberadaan Nyamuk Berdasarkan Ketinggian Gedung di Kawasan Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor Faridah, Lia; Leonita, Inggrid; Sari, Sri Yusnita Irda
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.427 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n1.1158

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia menurut data Kemenkes telah menjadi masalah kesehatan selama 45 tahun terakhir, sejak tahun 1968 sampai saat ini. Pada tahun 1973 dan 1983 progresivitasnya meningkat hingga lebih dari 50% kabupaten/kota telah terjangkit kasus DBD. Kabupaten Sumedang sendiri memiliki insidensi 63,75 per 1.000 penduduk dengan jumlah kasus DBD sekitar 715 kasus pada tahun 2012. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi persebaran nyamuk berdasarkan ketinggian gedung menggunakan media ovitrap dan mosquitoes light trap pada tujuh gedung bertingkat di kawasan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor yang memiliki ketinggian hingga level empat (9,1–12,0 m). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei–Juni 2017. Semua ovitrap diletakkan pada lokasi yang berpotensi sebagai breeding site di dalam ruangan selama satu minggu, tiap-tiap lantai terdapat tiga ovitrap dengan jarak antar ovitrap 1,5 m. Perangkap nyamuk diletakkan pada setiap sudut ruangan yang memiliki sumber arus listrik selama 24 jam dan pengumpulan sampel dilakukan dalam kurun waktu tiga hari berikutnya. Semua sampel kemudian diidentifikasi di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Jatinangor. Culex spp dan Aedes spp genus nyamuk yang dapat ditemukan pada gedung bertingkat di kawasan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor dengan jumlah terbanyak adalah Culex spp, sedangkan Aedes spp ditemukan dapat bertelur hingga tingkat tiga pada pemukiman yang padat.Kata kunci: Gedung bertingkat, genus, light trap, nyamuk, ovitrap Detection of Mosquito Presence based on Building Elevation in Universitas Padjadjaran JatinangorAccording to the Ministry of Health (KMoH), Dengue­ Hemorrhagic Fever (DHF) has been a big problem in Indonesia  since 1968.  In 1973 and 1983, the progressivity of DHF has increased. DHF cases have spread to more than 50% of districts/cities.  Sumedang District has an incidence rate of 63.75 per 1,000 residents with the number of dengue cases of 715 in 2012. The purpose of this study was to evaluate of the presence of mosquito based on building elevation using ovitraps and mosquito light traps. A survey was conducted in seven locations with four different elevations (9.1–12.0 m)  in Universitas Padjadjaran Jatinangor campus during the period of May to June 2017.  All ovitraps were each placed in a potential location for mosquito breeding site for one week. For each elevation, in this case, each floor, three ovitraps were placed with a distance 1.5 m from each other. Modified mosquito light trap was turned on for 24 hours and sample collection was performed after three days. All samples were brought to the Parasitology Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Padjajaran for identification. This study showed that two genera of mosquitoes were identified i.e. Culex spp and Aedes spp with Culex spp as the most frequently found genera. The eggs of Aedes spp can be found up to the third floor  in dense settlements.Key words: Genera, high level building, light trap, mosquito, ovitrap