Arif Widyanto, Arif
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Poltekkes Kemenkes Semarang

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

EFEKTIVITAS FERMENTASI AIR TEBU SEBAGAI BAHAN ATRAKTAN NYAMUK Aedes aegypti MENGGUNAKAN PERANGKAP NYAMUK DI LABORATORIUM ENTOMOLOGI JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO TAHUN 2015 Wijayanti, Dhani Nur; Widyanto, Arif
Buletin Keslingmas Vol 34, No 4 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 4 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v34i4.3034

Abstract

Di Indonesia, epidemi Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan problem dan penyebab utamamorbiditas dan mortalitas pada anak – anak. Penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yangdisebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyebab DBD sampai saatini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui Efektivitas fermentasi air tebu guna menangkap nyamuk Aedes aegypti menggunakan perangkapnyamuk. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan the randomized posttest onlycontrol group yang terdiri dari sampel dan kontrol. Hasilpenelitian konsentrasi 40% dapat dikatakan konsentrasiyang paling banyak mendapatkan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang terperangkap. Simpulan penelitian ini adalahKonsetrasi fermentasi air tebu yang yang paling banyak mendapatkan jumlah nyamuk Aedes aegypti yangterperangkap adalah konsentrasi 40%, karena paling banyak mendapatkan nyamuk yang terperangkap jikadibandingkan dengan konsentrasi yang lain.
Fly Density and Identification Analysis and Control Efforts In Traditional Market Purwokerto Subagyo, Agus; Widyanto, Arif; Santjaka, Aris
Jurnal Riset Kesehatan Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the density of flies, fly types, sanitary conditions, and the control efforts in Wage Market and Manis Market Purwokerto. This descriptive research only describes about those 4 points. Data obtained is then analyzed in tabular form by comparing the measurement results with existing standards. The result of the density of flies in Wage Market and Mains Market is 6 tails / grill block. It is categorized as the high density so there should be a protective system against the breeding places of flies. Moreover, there are no efforts to control flies at Wage Market and Manis Market. The conclusions of this study are in the Wage Market and Manis Market there are high densities of flies, so there should be a control for this phenomena. Species found are Musca Domestica, Sarcopaga sp and Phaenicia sp. Some suggestions of fly control efforts are by giving some covers to the common trash bins and waterproof trash bins, and to increase the intensity of transporting trash from TPS to TPA that previously 3 times to 4 times in the Wage Market and 2 times to 3 times in Manis Market.
Various Type Predation Freshwater Fish of The Larva aedes aegypti As a Control Method of Vector Biology Dengue Haemorrhagic Fever Widyanto, Arif; Hernady, Sujoto; Abdullah, Sugeng
Jurnal Riset Kesehatan Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The method used is an experiment in the laboratory with research design post test only design. The research was done by placing the unit into the fish samples in each experiment container,and fish fed with mosquito larvae A.aegypti continuously for up to 24 hours. The ability of fish to eat mosquito larvae were recorded and calcuteds the power of fish predation. The results showed that Beta splendens ability to prey on the larvae of Aedes aegypti is 278 larvae/24 hours, Carassius auratus is 201 larvae/24 hours, Poecelia reticulatta is 112 larvae/24 hours, Osteochilus vittatus is 78 larvae/24 hours and Trichogaster trichopterus is 188 larvae/24 hours. Most fish prey on the larvae of Aedes aegypti is Beta splendens that is an average of 278 larvae/24 hours, while the little fish is Osteochilus vittatus that is an average of as much as 78 larvae/24 hours.
Effectiveness of Betel Leaf Extract (Piper betle, Linn) as Anopheles spp Mosquito Repellent Khomsatun, Khomsatun; Widyanto, Arif; Susiyanti, Susiyanti
Jurnal Riset Kesehatan Vol 2, No 3 (2013): September 2013
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The method used is an experiment in a laboratory. Anopheles sp obtained from eggs. Betel leaf extract concentration of 20%, 40% and 80% tested thrust or power protection against Anopheles spp. Observations on the number of mosquitoes that landed on the arm of every hour starting at 1st (immediately after the application of) up to 6th hour. Power protection betel leaf extract is effective if ≥ 90% power protection.The results showed that the protective power of betel leaf extract against Anopheles spp at a concentration of 20% by 50%, the concentration of 40% as much as 68.75% and a concentration of 80% as much as 93.75%. Power protection is effective concentrations of 80% with 93.75% of power protection. This is consistent with the Commission on Pesticides (1995, H.2) which states that the repellent is considered effective if ≥ 90% power protection.
DESKRIPSI PELAKSANAAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN KARANGPUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014 Pramurditya, Ratna; Widyanto, Arif
Buletin Keslingmas Vol 34, No 1 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 1 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v34i1.3021

Abstract

DHF incidence rate increases caused by the lack of clean and healthy behaviors. DHF is causedby dengue virus by mosquitoes of the genus Aedes (Aedes aegypti and Aedes albopictus). Thehighest number of DHF at 2013 in Banyumas regency is South of Purwokerto district (92 cases).Karangpucung village (21 cases) the highest DHF. Mosquito nest eradication action DHF includesurvey of mosquito larvae was done in Karang pucung village but the larvae-free rate (ABJ) not yet toreach the target (94.09%), so the researcher wanted to discover the implementation of mosquito nesteradication dengue hemorrhagic fever in Karang pucung village South of Purwokerto districtBanyumas regency year 2014.Type research is observation with descriptive analysis qualitative survey approach whichprovides an overview the implementation of mosquito nest eradication DHF in Karang pucung village.Sample from 98 families head in 12 RW at the Karangpucung village by Systematic RandomSampling.The implementation of mosquito nest eradication DHF in Karangpucung Village done 95 familieshead (97%). RW 1 (39%) and RW 2 (29%) the lowest implementation of mosquito nest eradication,RW 9 (66%) and RW 7 (63%) the highest implementation of mosquito nest eradication. Survey motionplus 3M low of practice was to use a mosquito net (4%), the larvae-eating fish (6%), the use of wiregauze on the ventilation holes (12%), sowing abate (17%). The survey result, larvae in Karangpucungvillage the larvae-free rate (ABJ) not eligible (79%), HI are not eligible (21%), CI does not qualify(5%), BI eligible (23%). RW 2 and 4 have the lowest ABJ and HI, CI, BI highest, in accordance withthe highest number of dengue cases in RW 4 (5 cases) and RW 2 (1 case).Researcher conclusion is the implementation of mosquito nest eradication dengue hemorrhagicfever in Karangpucung Village, not all of the people active of mosquito nest eradication denguehemorrhagic fever in the movement 3M plus. Many mosquito larvae still found so mosquito nesteradication target not reach (ABJ ≥ 95%). Community and cadres suggested more active in theimplementation of mosquito nest eradication.
HUBUNGAN ANTARA SANITASI KAPAL DAN PERILAKU ANAK BUAH KAPAL DENGAN KEBERADAAN TIKUS PADA KAPAL YANG BERSANDAR DI WILAYAH KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS I SURABAYA TAHUN 2017 ARUMSARI, GITA; WIDYANTO, ARIF; GUNAWAN, ASEP TATA
Buletin Keslingmas Vol 37, No 4 (2018): BULETIN KESLINGMAS VOL 37 NO 4 TAHUN 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v37i4.3793

Abstract

AbstrakXVI+104 halaman : tabel, gambar,lampiranSanitasi kapal merupakan segala usaha yang ditujukan terhadap faktor lingkungan di kapal untuk memutuskanmata rantai penularan penyakit guna memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan. Keberadaan vektor danbinatang pengganggu di atas kapal dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat pelabuhan padakhususnya dan masyarakat lain yang berada diluar pelabuhan pada suatu wilayah tersebut, karena vektor danbinatang pengganggu dapat menularkan penyakit kepada manusia. Tujuan penelitian mengetahui hubungansanitasi kapal dan perilaku anak buah kapal pada kapal yang bersandar di wilayah kerja Kantor KesehatanPelabuhan Kelas I SurabayaJenis penelitian yang digunakan observasional dengan pendekatan crossectional.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan sanitasi kapal dan perilaku anak buah kapal dengankeberadaan tikus. Sampel penelitian ini 37 kapal dalam negeri yang memperpanjang Ship Sanitation ControlExemption Certificate (SSCEC) . Hasil penelitian menggunakan uji chi-Square dengan Fisher Exact ρ = 0,000(ρ < α) yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan sanitasi kapal dan perilaku anakbuah kapal dengan keberadaan tikus di kapal yang bersandar di wilayah kerja Kantor Kesehatan PelabuhanKelas I Surabaya. Kesimpulan penelitian ini adalah hubungan sanitasi kapal dan perilaku anak buah kapaldengan keberadaan tikus, disarankan bagi perusahaan pemilik kapal untuk memperbaiki memperhatikan sanitasikapal dan perilaku anak buah kapal agar kapal tidak mempunyai faktor risiko untuk mengundang keberadaantikus di kapal.
EKSPLORASI STATUS RESISTENSI NYAMUK Aedes Sp TERHADAP INSEKTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT SECARA BIOKIMIA DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017 Puspitasari, Aryanti; Santjaka, Aris; Widyanto, Arif
Buletin Keslingmas Vol 38, No 1 (2019): BULETIN KESLINGMAS VOL 38 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v38i1.4076

Abstract

Jumlah kasus DBD pada tahun 2016 meningkat tajam bila dibandingkan tahun 2015 di Kabupaten Banyumas. Penggunaan insektisida telah dilakukan untuk pengendalian vektor Demam Berdarah dalam waktu yang lama. Insektisida Golongan Organofosfat jenis malathion telah digunakan sejak tahun 1991 dan sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 2013 di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status resistensi terhadap insektisida golongan organofosfat pada populasi nyamuk Aedes Sp di Kabupaten Banyumas dengan uji biokimia. Jenis penelitian ini eksploratif. Metode penelitian menggunakan uji biokimia (uji mikroplat/ uji enzimatis). Peningkatan aktivitas enzim esterase dibaca dengan menggunakan ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm. Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa di Desa Kedungrandu nyamuk resisten 8,33%, nyamuk toleran 66,67% dan rentan 25% sedangkan di Desa Sidamulih nyamuk toleran masih 90,9% dan nyamuk rentan 9,1%. Hasil uji statistik independent T-Test dengan nilai siginifilkansi =0,565, menunjukkan bahwa pemeriksaan kandungan enzim esterase di dalam tubuh nyamuk diantara kedua desa tersebut dinyatakan tidak ada perbedaan, artinya paparan insektisida organofosfat yang diterima oleh nyamuk Aedes Sp dikedua desa tersebut relatif sama.Kesimpulan penelitian yaitu status resistensi nyamuk Aedes Sp terhadap insektisida golongan organofosfat di Desa Kedungrandu 8,33% nyamuk dinyatakan resisten sedangkan yang toleran Desa Sidamulih 1,36% lebih tinggi dibandingkan Desa Kedungrandu. Disarankan kepada pemerintah Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas hendaknya pergantian insektisida menggunakan insektisida yang belum pernah digunakan dalam program pengendalian vektor penyakit DBD di Indonesia demi efektivitas dan keberhasilan program itu sendiri serta mengutamakan upaya pemberantasan sarang nyamuk di masyarakat.