Articles

Found 11 Documents
Search

SIMULASI ELIMINASI PENGOTOR PADAPROSES PELEBURAN BESI/BAJA DARI BAHAN BAKU SKRAP DAN PASIR BESI DENGAN METODA COMPOUND SEPARATION Wismogroho, Agus Sukarto; Rochman, Nurul Taufiqu
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 1: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jusami.2006.8.1.4811

Abstract

SIMULASI ELIMINASI PENGOTOR PADAPROSES PELEBURAN BESI/BAJA DARI BAHAN BAKU SKRAP DAN PASIR BESI DENGAN METODA COMPOUND SEPARATION. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku besi/baja cor industri pengecoran di Indonesia, dikembangkan peleburan besi/baja dari skrap dan pasir besi lokal. Namun demikian di dalam skrap besi/baja terdapat pengotor seperti Ni, Cu, Pb, Sn, Al, Ti, dan V yang dalam jumlah relatif banyak dapat menimbulkan masalah pada produk akhir. Sementara itu. pasir besi lokal banyak mengandung unsur Ti dan V yang juga dapat menggumpal pada dasar tungku saat proses peleburan dengan menggunakan kupola. Untuk meningkatkan efisiensi eliminasi pengotor, seperti: Ti, V dan Al, dalam paper ini akan disimulasikan metode compound separation dengan mengikat/ mereaksikan unsur pengotor dengan unsur lain sehingga terjadi perbedaan berat jenis yang menyebabkan terjadinya pemisahan pengotor dari besi lebur. Simulasi dilakukan dengan perhitungan perubahan (delta) energi standar bebas Gibbs dari reaksi-reaksi antara unsur pengikat, besi, dan pengotor (Ti, V dan Al) dengan menggunakan software HSC Chemistry 5.0. Hasil perhitungan menunjukkan perbandingan kualitatif reaksi antara masing-masing paduan yang terbentuk. Dengan perhitungan berat jenis, fasa, dan kecepatan reaksi dari paduan yang terbentuk, dapat ditentukan unsur yang paling tepat untuk pembersihan (eliminasi) pengotor-pengotor tersebut. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Ti, V dan Al dapat dieliminasi dengan bubbling dan penambahan CaF2. Simulasi ini diharapkan dapat diterapkan dalam teknologi compound separation sehingga dapat dipakai untuk mengontrol komposisi besi/baja sesuai dengan standar yang diinginkan dan dapat ditransfer teknologinya pada industri pengecoran di Indonesia.
PERANCANGAN ALAT PERAGA DIFFERENTIAL THERMAL ANALYSIS UNTUK ANALISIS TITIK LELEH MATERIAL INDIUM, TIMAH DAN SENG Hidayanti, Fitria; Yulianto, Tri; Wismogroho, Agus Sukarto
Sainstek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : IAIN Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.155 KB) | DOI: 10.31958/js.v8i2.472

Abstract

The aims this research was to designed a differential thermal analysis props to analyze the melting point of the material. Differential Thermal Analysis props have a furnace with a maximum temperature of 600 ° C. Temperature sensor used is a K-type thermocouple with a measurement range of -200 ° C to 1200 ° C. Controller is used to control the temperature of the furnace is Autonics with digital temperature controller type TK4M. Measurement of the value of the temperature in the furnace using an Arduino Uno microcontroller connected to LabVIEW software via USB. Measurement of the melting point of the material used these props are tested on material Indium (In), tin (Sn), and zinc (Zn) with a melting point 152,50C, 231,50C and 4250C.
CRYSTAL STRUCTURE TRANSFORMATION OF BA-SR HEXAFERRITE AND ITS EFFECT ON PARTICLE ORIENTATION IN RECYCLE PROCESS Wismogroho, Agus Sukarto; Widayatno, Wahyu Bambang; Sudiro, Toto; Aryanto, Didik
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 3: APRIL 2015
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2015.16.3.4226

Abstract

CRYSTAL STRUCTURE TRANSFORMATION OF Ba-Sr HEXAFERRITE AND ITS EFFECT ON PARTICLE ORIENTATION IN RECYCLE PROCESS. In general, during its fabrication, 2-5%of total products of Ba-Sr hexaferrite permanent magnet will be rejected.Accordingly, an increase in rejected product of permanent magnet needs to be considered. It is expected that the re-utilization of rejected product can increase the production efficiency in order to achieve zero waste-production. In the present work, the recycling process of Ba-Sr hexaferrite permanent magnet was studied by applying 1 T magnetic field (anisotropic) to align the powder. The rejected products were milled using shaker mill PPF-UG for 10-40 min and then sintered at 1200 ºC for 60 min. The results show that the remanence of original powder was increased by 50% after the particle orientation. However, the recycled sample doesn?t show a significant different. SEM and XRD analysis show the crystalline structure transformation from symmetrical hexagonal to asymmetrical hexagonal structure with crystalline growth in a-b axis direction. This transformation leads to lost in its magneto crystalline anisotropy. Therefore, it was difficult to align the particle.
Studi Differential Thermal Analysis dari NiCuZn Ferrite Magnet dan Efek Penambahan Mn Wismogroho, Agus Sukarto; Widayatno, Wahyu Bambang; Firdaus, Zulham Yahya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.02 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v9i1.832

Abstract

Telah dilakukan studi simulasi reaksi dan analisis Differensial Thermal Analysis (DTA) untuk pembentukan ferrite dengan imbuhan NiO, ZnO dan CuO, serta variasi substitusi NiO dengan MnO. Material yang digunakan adalah powder teknis dengan komposisi NiO(2−X)MnOXCuO0.2ZnO0.6Fe2O3. Analisis dilakukan dengan DTA buatan LIPI dan simulasi dilakukan dengan data base HSC 5.0. Simulasi Gibs Energy menunjukkan bahwa semua reaksi dapat berlangsung sejak suhu kamar. Namun demikian, kalsinasi terjadi pada suhu 200-300C, dan berakhir pada suhu dibawah 450C. Substitusi NiO ke MnO menurunkan kebutuhan energiuntuk reaksi. Substitusi NiO ke MnO menunjukkan kecenderungan untuk menurunkan suhu kalsinasi.
Karakterisasi Termal MnxZn1−xFe2O4 Ferrite Widyatno, Wahyu Bambang; Wismogroho, Agus Sukarto; Firdaus, Zulham Yahya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.403 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v9i1.833

Abstract

MnZn ferrite merupakan salah satu jenis magnet berbasis ferrite yang banyak dikembangkan dan diteliti karena performa sifat magnetiknya yang relatif lebih baik dibandingkan dengan magnet berbasis ferrite lainnya. Studi yang banyak dilakukan selama ini untuk mengetahui karakteristik magnetik maupun elektrik MnZn ferrite. Paper ini membahas karakteristik termal MnZn ferrite yang menggunakan material teknis dari industri magnet di Indonesia. Material awal berupa MnO, ZnO, dan Fe2O3 dikomposisikan untuk membentuk MnxZn1−xFe2O4 dengan variasi x = 0,2; 0,35; 0,65; 0,8. Komposisi tersebut dicampur menggunakan High Energy Milling selama 10 menit. Sampel hasil pencampuran diuji karakteristik termalnya (temperatur kamar hingga 900C) menggunakan prototipe Differential Thermal Analyzer (DTA) buatan Pusat Penelitian Fisika - LIPI. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan energi total reaksi endotermik dengan meningkatnya rasio Mn terhadap Zn dalam campuran ferrite. Hasil pengujian juga menunjukkan terjadinya fasa antara pada rasio Mn : Zn = 0,65 : 0,35 yang ditunjukkan dengan munculnya puncak endotermik tambahan. Peningkatan rasio Mn terhadap Zn akan meningkatkan energi total reaksi dan mengakibatkan pergeseran nilai temperatur transformasi fasa.
EFFECTS OF CURING TEMPERATURE AND ATMOSPHERE ON THE PROPERTIES OF ISOTROPIC BONDED NDFEB MAGNETS. Sudiro, Toto; Wismogroho, Agus Sukarto; Sebayang, Perdamean
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 2: JANUARI 2015
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2015.16.2.4209

Abstract

EFFECTS OF CURING TEMPERATURE AND ATMOSPHERE ON THE PROPERTIES OF ISOTROPIC BONDED NdFeB MAGNETS. The purpose of this paper was to synthesize the isotropic bonded NdFeB magnets at varying curing temperature and atmosphere, and to clarify their properties. For the aforesaid objective, the NdFeB powder was mixed with polyacrylate binder (3wt%) and compacted by hydraulic pressure with a compressive pressure of 30 MPa. The specimens were then separately cured at 100, 150, 180 and 200°C for 1 h in air and vacuum. The effects of curing temperature in air and vacuum on the bulk density and magnetic properties of isotropic bonded NdFeB magnets were studied. The results indicated that the bulk density and fluxmagnet density of bonded NdFeB magnets decreased with increase in curing temperature. This seems to be due to the binder vaporization and oxidation of element of NdFeB magnet. The bulk density of specimens cured in air was higher than that in vacuum for all temperatures. On the contrary, the magnetic flux density showed the opposite behavior. The optimum magnetic properties were achieved at curing temperature of 100oC for 1 h in vacuumwith Br = 6,61 kG, HCJ = 8,841 kOe, and BHmax = 9,01 MGOe.
MODIFIKASI STRUKTUR PERMUKAAN ALUMINIUM DENGAN BUBUK BESI MENGGUNAKAN METODA MECHANICAL ALLOYING[Surface Modification of Aluminum Plate With Iron Powder using Mechanical Alloying Method] Wismogroho, Agus Sukarto; Sebleku, Pius
Metalurgi Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.37 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i3.263

Abstract

MODIFIKASI STRUKTUR PERMUKAAN ALUMINIUM DENGAN BUBUK BESI MENGGUNAKANMETODA MECHANICAL ALLOYING. Pada penelitian ini telah dilakukan studi mengenai modifikasi strukturpermukaan pelat aluminium dengan bubuk besi menggunakan metoda mechanical alloying (MA) yang bertujuanuntuk dapat memperoleh lapisan paduan antara aluminium dari pelat dengan bubuk besi yang digunakan. Pelataluminium, bubuk besi dan bola-bola milling dimasukkan ke dalam bejana milling untuk dilakukan proses MA.Jumlah bubuk besi yang digunakan divariasikan sebanyak 2 dan 10 gram. Lama MA dilakukan sampai 10 jam.Hasil proses MA menunjukkan bahwa lapisan partikel dari bubuk besi dapat diperoleh di permukaan pelataluminium. Struktur pelapisan yang terbentuk berupa struktur lamellar yang merupakan gabungan antara partikelbesi dengan aluminium yang mengalami deformasi memipih karena proses penumbukan yang berulang. Sejalandengan MA, partikel besi semakin masuk ke dalam permukaan aluminium, sedangkan bagian dari aluminiumterdorong keluar sehingga membentuk pemaduan antara keduanya. Pada proses MA dengan bubuk besi 2 gram,diperoleh fasa FeAl selama lebih dari 2 jam. Sedangkan pada proses MA dengan bubuk besi 10 gram, belumdiperoleh fasa baru meskipun telah dilakukan MA selama 10 jam. Pembentukan lapisan Fe-Al, pembentukanpaduan dan lama pembentukannya sangat dipengaruhi oleh banyaknya bubuk besi yang digunakan dalam prosesMA. Ketebalan lapisan optimal berkisar 100 μm, dengan lapisan yang terlihat memiliki kepadatan tinggi danikatan yang baik. AbstractIn this research, a study on the modification of the surface structure of the aluminum plate with iron powderusing the mechanical alloying (MA) methode was conducted. This process aims to obtain a coating layer ofalloy between aluminum plates with iron powder used. Aluminum plates, iron powder and milling ballsinserted into the milling vessel for the MA process. The amount of iron powder used was 2 and 10 grams.MA was done up to 10 hours. MA results showed that the coating layer of iron particles can be obtained onthe surface of the aluminum plate. The microstructure of the coating layers formed a lamellar structurebetween Al and Fe. With increasing MA time, the iron particles entered the surface of the aluminum plate,while aluminum was pushed out that made the compound or mixing between Fe and Al. In the MA processwith 2 grams iron powder, the FeAl phase was obtained after MA for more than 2 hours. While in the processof MA with 10 grams iron powder, a new phase wasn’t observed even though after MA for 10 hours. Thecoating layers formation of the mixing Fe-Al, the Fe-Al alloy and the formation time were stronglyinfluenced by the amount of iron powder used in the MA process. The optimal coating thickness was about100μm, with apparently had a high density and a good bond.
Correlations between Structural and Hardness of Fe-50%Al Coating Prepared by Mechanical Alloying Aryanto, Didik; Sudiro, Toto; Wismogroho, Agus Sukarto
PISTON: Journal of Technical Engineering Vol 1, No 2 (2018): PISTON: JOURNAL OF TECHNICAL ENGINEERING
Publisher : Prodi Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.649 KB) | DOI: 10.32493/pjte.v1i2.3185

Abstract

Fe-50%Al coatings were deposited on the surface of low-carbon steel using mechanical alloying technique atdifferent milling times. The correlation between structure and hardness of coating before and after heat treatment wasinvestigated. At the milling time of less than 180 min, the coating has an elongated lamellar structure. The size of elongatedlamellar structure decreased with increasing milling times which led to an increase in the hardness value of coating. Afterheat treatment, the coating transformed to FeAl intermetallic phase with a denser structure and uniform in the composition. Itaffected the hardness of coating. The hardness value of all samples after heat treatment was higher than coating after milling.The hardness of coating was strongly influenced by the morphology and phase of coating.
STUDI DASAR PELAPISAN INTERMETALLIC AL-FE PADA PLAT BAJA DENGAN METODE MECHANICAL ALLOYING Wismogroho, Agus Sukarto; Amal, M. Ikhlasul; Rochman, Nurul Taufiqu; Sueyoshi, H.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 3: JUNI 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2007.8.3.4762

Abstract

STUDI DASAR PELAPISAN INTERMETALLIC Al-Fe PADA PLAT BAJA DENGAN METODE MECHANICAL ALLOYING. Akhir-akhir ini, pemaduan mekanik atau Mechanical Alloying (MA) mendapat perhatian akan kemampuannya untuk membentuk pelapisan pada permukaan partikel yang berstruktur nanometer. Struktur nanometer dapat memperbaiki berbagai sifat dari material seperti kecepatan difusi, dan keuletannya. Untuk mempelajari proses perubahan struktur pelapisan menggunakan metode Mechanical Alloying pada suhu kamar, dilakukan pelapisan dengan bubuk Al dan Al-25at% Fe (persen atom) pada plat baja dengan menggunakan planetary ball mill selama 80 jam, yang diatur suhunya dibawah 50 °C. Pelapisan bubuk Al tidak diperoleh, tetapi dengan penambahan 25at% Fe pelapisan dapat diperoleh. Penambahan Fe menstimulasi kristal Al untuk lebih mudah hancur dan menempel lebih baik. Ketebalan pelapisan yang terbentuk mencapai 250 ?m. Pada Mechanical Alloying selama 80 jam, terbentuk amorf dari Al-25at% Fe dan intermetallic Al5Fe2.
PENINGKATAN REDUKSI CAMPURAN PASIR BESI-GRAFIT DENGAN MECHANICAL ALLOYING Noviyanto, Alfian; Wismogroho, Agus Sukarto; Adi, Wisnu Ari; Setiawan, Iwan; Rochman, Nurul Taufiqu
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 3: JUNI 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jsmi.2007.8.3.4700

Abstract

PENINGKATAN REDUKSI CAMPURAN PASIR BESI-GRAFIT DENGAN MECHANICAL ALLOYING. Untuk meningkatkan reduksi pasir besi, telah dilakukan mechanical alloying pada campuran pasir besi-grafit dengan komposisi 10 at% dan 15 at%. Sampel di-milling menggunakan high energy ball mill PBM4A selama 100 jam dalam suasana argon, kemudian dibakar pada suhu 1400 oC dengan interval waktu tertentu untuk melihat terjadinya metalisasi. Analisis karakterisasi dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM) dan Energy Disperse Spectroscopy (EDS). Setelah dimilling terlihat ukuran partikel pasir besi semakin kecil dan masuknya partikel grafit ke dalam pasir besi, sehingga reduksi langsung mungkin terjadi karena area kontak yang besar antara pasir besi-grafit. Hasil metalisasi dibandingkan dengan sampel pasir besi yang dibuat dengan pencampuran biasa. Hasil menunjukkan metalisasi hanya terjadi pada pasir besi dengan ball mill, sedangkan pasir besi yang dicampur biasa tidak terjadi metalisasi sama sekali.