Articles

Found 9 Documents
Search

KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH BAFFLE PADA ALAT PENUKAR PANAS ALIRAN SEARAH DALAM UPAYA OPTIMASI SISTEM PENGERING Azwinur, Azwinur; Zulkifli, Zulkifli
SINTEK JURNAL: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol 13, No 1 (2019): SINTEK JURNAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/sintek.13.1.8-14

Abstract

Heat exchangers or heat exchangers are tools used to change the temperature of the fluid or change the fluid phase by exchanging heat with another fluid. In a heat exchanger, the ability to exchange heat is largely determined by the type of fluid flow and fluid passing through the heat exchanger. The use of heat exchangers in the field of drying is now a necessity to overcome the problems of drying productivity. The purpose of this study was carried out to determine the effectiveness of the heat exchanger experimentally based on directional flow by comparing construction using baffle and without using baffle in an effort to optimize the drying system. The research method was carried out by fabricating 2 units of heat exchangers and by field testing. The test data obtained are the input and output temperatures of the heating fluid flow and cooling fluid flow and flow velocity. Based on preliminary research data shows that the use of baffle affects the increase in temperature on the heat exchanger, where at the fresh air outlet that does not use baffle produces a temperature of 72oC while the baffle produces 88oC with the Log Mean Temperature Difference heat exchanger without using a baffle higher than heat exchanger that uses a baffle guide blade. This can illustrate that the smaller heat losses are wasted so that the absorption of heat by the reverse system will be higher.
ANALISIS UMUR PAHAT DAN BIAYA PRODUKSI PADA PROSES DRILLING TERHADAP MATERIAL S 40 C Azwinur, Azwinur; Taufiq, Taufiq
Jurnal POLIMESIN Vol 15, No 1 (2017): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v15i1.367

Abstract

Umur pahat sangat berpengaruh terhadap suatu produk baik dari segi kualitas pemesinan maupun biaya produksi dari produk tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi umur suatu pahat bisa disebabkan oleh jenis material benda kerja, pahat, kondisi pemotongan, cairan pendingin dan jenis proses pemesinan. Kondisi pemotongan sangat mempengaruhi umur pahat dan tingkat kekasaran permukaan benda kerja. Tingkat kecepatan keausan suatu pahat akan mempengaruhi batasan umur pahat yang berdampak terhadap ongkos suatu produksi karena apabila pahat cepat mengalami keausan, pahat tersebut akan sering diganti/diasah sehingga ongkos pemakaian pahat akan semakin tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh umur pahat terhadap biaya produksi pada proses drilling menggunakan benda kerja baja karbon S 40 C serta tingkat kekasaran permukaan materialnya. Dari hasil analisa yang dilakukan dengan memvariasikan beban yang diberikan pada lengan ayun mesin gurdi maka dapat dinyatakan bahwa beban yang diberikan pada lengan ayun mesin gurdi sangat berpengaruh terhadap umur pahat dan biaya proses pemesinan. Semakin besar nilai beban yang diberikan pada lengan ayun maka semakin pendek umur pahat, semakin kecil waktu pemesinannya. Dan semakin kecil nilai beban maka semakin panjang umur pahat, semakin besar waktu pemesinannya. Biaya produksi yang paling ekonomis adalah pada pahat yang diberikan beban 2,5 kg sedangkan biaya produksi yang paling tinggi adalah pada pahat yang diberikan beban 2 kg. Tingkat kekasaran permukaan benda kerja yang paling besar adalah pada produk dengan menggunakan pahat 3 (beban 3 kg) sedangkan tingkat kekasaran yang paling kecil (halus) adalah pada produk dengan menggunakan pahat 1 (beban 2 kg).Kata kunci : Umur Pahat, Mesin gurdi, ongkos produksi, kekasaran permukaan, kecepatan keausan pahat
PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK PADA PROSES PENGELASAN SMAW Azwinur, Azwinur; Jalil, Saifuddin A.; Husna, Asmaul
Jurnal POLIMESIN Vol 15, No 2 (2017): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v15i2.372

Abstract

Teknologi di bidang konstruksi terus berkembang terutama dalam perancangan dan desain produk. Salah satu konstruksi rancangan yang sering dijumpai adalah kostruksi baja. Dalam penerapannya konstruksi baja ini seringkali tidak dapat dihindari dari melakukan proses penyambungan logam atau yang sering disebut dengan pengelasan. Setiap proses pengelasan pasti berhubungan dengan arus pengelasan yang berfungsi untuk mendapatkan hasil sambungan yang baik atau lolos pengujian sesuai standart atau code yang dianut. Oleh karena itu pemilihan besarnya arus pengelasan sangat penting sebelum melakukan proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus pengelasan terhadap sifat mekanik dengan menggunakan proses pengelasan SMAW. Penelitian ini menggunakan material baja karbon rendah. Material diberi perlakuan pengelasan dengan variasi arus 80 A, 90 A dan 100 A. Jenis sambungannya adalah sambungan tumpul kampuh V tunggal dengan sudut 70°.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengujian tarik pada spesimen raw material yang tidak mengalami pengelasan dan spesimen yang mengalami pengelasan bahwa nilai kekuatan tarik yang paling tinggi terdapat pada arus 100 A yaitu sebesar 44.08 kgf/mm2  selanjutnya diikuti oleh arus 80 A yaitu sebesar 43.14 kgf/mm2 selanjutnya diikuti oleh nilai kekuatan tarik dari raw material yaitu sebesar 41.88 kgf/mm2  dan yang terakhir adalah arus 90 A yang nilainya sebesar 40.07kgf/mm2 . Nilai pengujian kekerasan material pada arus 80 A, 90 A dan 100 A menunjukkan bahwa nilai kekerasan tertinggi terdapat pada daerah logam las yaitu pada kelompok spesimen arus 80 A sebesar 96.5 HRC. Kata kunci: Pengelasan, Kampuh V, kekerasan, kekuatan tarik, SMAW
Pengaruh Jenis Elektroda Pengelasan SMAW Terhadap Sifat Mekanik Material SS400 Azwinur, Azwinur; Muhazir, Muhazir
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.870

Abstract

Elektroda yang digunakan pada pengelasan SMAW mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat Inti. kuat arus dan komposisi kimia ini dapat mempengaruhi sifat mekanik pada sambungan material hasil pengelasan yang berdampak pada kekuatan dan ketangguhan sambungan pengelasan. Setiap proses pengelasan pasti berhubungan dengan elektroda oleh karena itu pemilihan jenis elektroda sangat penting sebelum melakukan proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis elektroda terhadap sifat mekanik material SS400 dengan menggunakan proses pengelasan SMAW. Material SS400 diberi perlakuan pengelasan dengan variasi jenis elektroda yaitu E7010-P1, E7016 dan E7018. Dari hasil penelitian maka dapat dijelaskan bahwa jenis elektroda berpengaruh terhadap sifat mekanik material dimana nilai kekuatan tarik yang paling tinggi terdapat pada jenis elektroda E7018 yaitu sebesar 46.73 kgf/mm2  selanjutnya diikuti oleh elektroda E7016 yaitu sebesar 46.57 kgf/mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7010-P1 yaitu sebesar 46.49 kgf/mm2. Nilai pengujian bending pada root bend yang paling tinggi adalah pada elektroda E7016 sebesar 38.87 Kgf.mm2, selanjutnya diikuti oleh elektroda E7018 yaitu sebesar 31.50 kgf.mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7010-P1 yaitu sebesar 29.88 kgf.mm2. Nilai pengujian bending pada face bend yang paling tinggi adalah pada elektroda E7010-P1 sebesar  32.78 Kgf.mm2, selanjutnya diikuti oleh elektroda E7016 yaitu sebesar 31.60 kgf.mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7018 yaitu sebesar 26.09 kgf.mm2.Kata Kunci: SMAW, Elektroda, Sifat Mekanik, Material SS400  AbstractElectrodes used in SMAW welding have different coating compositions and core wire. current strength and chemical composition can affect the mechanical properties of the welded material connection which has an impact on the strength and toughness of the welding joint. Each welding process must be related to the electrode, therefore the choice of electrode type is very important before carrying out the welding process. This study aims to determine the effect of electrode types on the mechanical properties of SS400 materials using the SMAW welding process. SS400 material was given a welding treatment with various types of electrodes namely E7010-P1, E7016 and E7018. From the results of the study, it can be explained that the type of electrode affects the mechanical properties of the material where the highest tensile strength is found on the type of electrode E7018 which is equal to 46.73 kgf / mm2 followed by the E7016 electrode which is 46.57 kgf / mm2 and the lowest with the electrode E7010-P1 which is equal to 46.49 kgf / mm2. The highest bending bend test value at E7016 electrode is 38.87 Kgf.mm2, followed by E7018 electrode which is equal to 31.50 kgf.mm2 and finally with the lowest value using E7010-P1 electrode which is 29.88 kgf.mm2. The highest face bend bending test value is at E7010-P1 electrode of 32.78 Kgf.mm2, followed by E7016 electrode which is equal to 31.60 kgf.mm2 and finally with the lowest value using E7018 electrode which is equal to 26.09 kgf.mm2.Keywords: SMAW, Electrodes, Mechanical Properties, SS400 Material
BLOG Azwinur, Azwinur
Jurnal POLIMESIN Polimesin 201102
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v9i1.855

Abstract

fsdfdsfdsf
KAJI SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN LAS BUTT WELD DAN DOUBLE LAP JOINT PADA MATERIAL BAJA KARBON RENDAH Azwinur, Azwinur; Syukran, Syukran; Hamdani, Hamdani
SINTEK JURNAL: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol 12, No 1 (2018): SINTEK JURNAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/sintek.12.1.9-16

Abstract

Teknologi di bidang konstruksi baja terus berkembang dan maju dengan pesat, terutama dalam perancangan dan desain produk. Dalam penerapannya konstruksi baja ini seringkali tidak dapat dihindari dan merupakan keharusan agar melakukan proses penyambungan logam, atau yang sering disebut dengan pengelasan. Setiap proses pengelasan pasti memiliki desain sambungan yang berfungsi untuk mendapatkan hasil sambungan yang baik atau lolos pengujian sesuai standart atau code yang dianut. Oleh karena itu pemilihan jenis sambungan pengelasan sangat penting sebelum melakukan proses pengelasan. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kekuatan tarik dan lengkung (sifat mekanik) sambungan las butt weld dan double lap joint pada material baja struktur SS400. Berdasarkan data pengujian diperoleh bahwa kekuatan uji tarik paling tinggi adalah pada sambungan las butt weld sebesar 49.8 kgf/?dibandingkan nilai kekuatan tarik untuk sambungan las double lap joint sebesar 48.65 kgf/. Sedangkan nilai kekuatan bending lebih besar pada jenis sambungan las double lap joint dari pada sambungan las butt weld baik untuk kategori root bend maupun face bend.
Aplikasi Teknologi Dapur Bebas Polusi Untuk Meningkatkan Mutu Dan Gizi Makanan Tradisional Pisang Sale Pada Kelompok Usaha Bersama Desa Tanjong Dalam Selatan Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara Syukran, Syukran; Azwinur, Azwinur; Mukhlis, Mukhlis
Jurnal Vokasi Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Vokasi
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.583 KB)

Abstract

Pisang sale adalah makanan khas tradisional yang berbahan dasar pisang. Untuk wilayah Aceh, Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara sejak tahun 2005 sampai 2015 sangat dikenal sebagai daerah sentra produksi pisang sale. Ribuan hektar lahan pisang tersedia di daerah tersebut. Bahkan saat itu hampir setiap rumah tangga memiliki unit produksi pisang sale.  Saat  ini ketertarikan masyarakat  untuk  memproduksi pisang sale  sudah  berkurang dikarenakan banyaknya bermunculan produk makanan lainnya dan menurunnya minat masyarakat mengkonsumsi pisang sale sehingga harga jualnya pun mengalami penurunan. Di pasaran harga jual pisang sale berkisar 20.000 sampai 25.000 perkilogram. Kurangnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi pisang sale umumnya disebabkan tidak higienisnya proses produksi pisang sale. Saat ini pisang sale diproduksi dengan metode pengasapan langsung yang diyakini mengandung banyak polutan sisa pembakaran yang melekat pada pisang sale. Masyarakat yang sadar kesehatan tentu menghindari untuk menkonsumsi pisang sale yang tidak baik terhadap kesehatan tersebut sehingga mengurangi tingkat penjualan pisang sale dipasaran   yang   mengakibatkan   menurunnya   produksi   produk   pisang   sale   ditingkat pengusaha.  Berdasarkan  hal  tersebut  pelaksana  PKM  merencanakan  penerapan  dapur produksi pisang sale dari dapur pengasapan yang mengandung polusi asap menjadi dapur bebas polutan dengan menggunakan peralatan penukar panas udara yang higienis dengan tujuan  untuk  meningkatkan kualitas  produk  dibidang  mutu dan  gizi  pisang sale  supaya kembali diminati oleh masyarakat sehingga mampu bersaing dengan produk makanan lainnya dengan harga yang kompetitif dan membentuk/mengembangkan kelompok usaha bersama tersebut  yang  mandiri  secara  ekonomi  dan  sosial.  Kegiatan  PKM  ini  meliputi  survey lapangan, pembuatan 2 (dua) unit penukar panas udara tipe shell and tube, instalasi peralatan dilapangan, pelatihan penggunaan peralatan, pemasaran dan pengemasan produk kedap udara yang berizin disperindag Kab. Aceh Utara, monitoring hasil produksi, dan pelaporan. Target luaran dari kegiatan ini adalah pembuatan alat teknologi tepat guna (TTG) bagi masyarakat khususnya Kelompok Usaha Bersama sehingga mampu mengembalikan minat masyarakat mengkonsumsi pisang sale yang higienis sehingga meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, pengemasan produk menggunakan mesin vacum sealer dengan penempelan logo serta nama usaha produksi yang berizin dari dinas disperindag dan publikasi artikel di jurnal berISSN. Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) kegiatan ini diyakini sangat tinggi karena masyarakat mendukung sepenuhnya penerapan dapur bebas polusi agar usaha pisang sale mereka bisa bertahan dan mampu bersaing dengan produk makanan lainnya di pasaran. Kata kunci? Pemotongan, cutting, oksigen, asetilin.
PELATIHAN LAS ARGON UNTUK PEKERJA USAHA BENGKEL LAS MASYARAKAT GAMPONG MESJID PUNTEUET DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT MASYARAKAT Azwinur, Azwinur; Marzuki, Marzuki; Anwar, Anwar
Jurnal Vokasi Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Vokasi
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.242 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v2i1.652

Abstract

Bengkel las merupakan salah satu usaha yang berkembang di gampong Mesjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat Pemko Lhokseumawe. Saat ini ada sekitar 4 bengkel las di gampong Mesjid Punteuet yang masih bergerak di pengelasan untuk jenis material besi/ baja, walaupun ada yang menerima untuk pengelasan material stainless steel namun masih terbatas jumlahnya karena minimnya skill Teknisi bidang las argon yang dipunyai oleh bengkel las tersebut. Tujuan dilakukan pelatihan ini untuk menambah ilmu dan wawasan pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya sehingga mereka bisa menggunakan pengelasan tingkat lanjut seperti las argon dengan tujuan pelaku usaha nantinya bisa menerima produk-produk yang selama ini tidak bisa mereka lakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan skill las argon sehingga bisa menambah pendapatan mereka serta menghemat waktu dan biaya produksi. Metode pelatihan ini meliputi 30% teori dan 70% praktek, peserta mampu memahami semua materi secara benar dan mampu melakukan praktek secara mandiri terhadap objek pelatihan secara benar dan tepat waktu. Jumlah peserta yang mengikuti program pelatihan ini berjumlah 8 orang. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, terlihat seluruh peserta sudah memahami secara benar semua materi evaluasi yang mencakup prinsip dasar pengelasan, pemilihan elektroda las dan gas argon, posisi pengelasan las, karakteristik arus dan voltage pengelasan serta keselamatan kerja las. Keseluruhan peserta dapat dikategorikan lulus dengan memperoleh nilai rata-rata 85. Nilai tersebut dapat dijadikan indikator kesuksesan pelatihan ini dalam mencapai sasaran pelatihan.Kata kunci?Pengelasan, Las argon, Elektroda, alat-alat safety.
Analisa pengaruh variasi kampuh las terhadap ketangguhan material baja AISI 1050 Iqbal, Maulana; Ibrahim, Akhyar; Azwinur, Azwinur
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.742 KB)

Abstract

AbstrakPengelasan SMAW adalah sebuah proses penyambungan logam yang menggunakan energi panas umtuk mencairkan benda kerja dan elektroda. Sementara plat baja AISI 1050 merupakan baja yang memiliki kadar karbon 0.50% sehingga tergolong dalam baja karbon sedang. Baja ini banyak digunakan di pasaran karena memiliki banyak keunggulan salah satunya adalah sebagai komponen otomotif. Baja ini memiliki karakteristik sifat mampu mesin yang baik (machinability), wear resistance-nya (keausan) baik dan sifat mekaniknya menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan kejut (Impact) dengan menggunakan metode charpy dan kekuetan (Hardness) terhadap hasil pengelasan SMAW pada baja AISI 1050 dengan variasi kampuh V Groove, Bevel Groove dan Double V Groove. Pada sampel pengujian di daerah Weld Metal, Weld Root, HAZ dan Base Metal. Dan arus yang digunakan 100 Ampere. Dari pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kekuatan kejut (Impact) tertinggi pada kampuh V memiliki nilai tertinggi terdapat pada Weld Metal yaitu sebesar 1,65 Joule/mm2, kampuh Bevel memiliki nilai tertinggi pada Weld Root yaitu sebesar 1,78 Joule/mm2 dan kampuh Double V memiliki nilai tertinggi pada HAZ yaitu sebesar 1,48 Joule/mm2. Kampuh V dan kampuh Double V memiliki nilai tertinggi terdapat pada HAZ yaitu sebesar 86,5 HRC, kampuh Bevel memiliki nilai tertinggi pada Base Metal yaitu sebesar 81 HRC. Sedangkan nilai kekerasan terendah terdapat pada kampuh Bevel di daerah pengujian Weld Root yaitu sebesar 56,67 HRC. Dan dari ke 3 jenis kampuh pada daerah Weld Metal memiliki nilai kekerasan yang sama yaitu 76,5 HRC. Untuk kampuh V dan kampuh Double V memiliki nilai yang sama pada semua daerah pengujian. Kata kunci :  SMAW, Weld Metal, Weld Root, HAZ, Kampuh V, Double V. AbstractSMAW welding is a metal joining process that uses heat energy to melt the workpiece and electrodes. While the AISI 1050 steel plate is steel which has a carbon content of 0.50% so it is classified as medium carbon steel. This steel is widely used in the market because it has many advantages, one of which is as an automotive component. This steel has characteristics of good machinability, good wear resistance and medium mechanical properties. This study aims to determine the strength of the shock (Impact) using the charpy method and the strength (Hardness) on the results of SMAW welding on AISI 1050 steel with a variation of seam V Groove, Bevel Groove and Double V Groove. In the test sample in the area of Weld Metal, Weld Root, HAZ and Base Metal. And the current used is 100 Amperes. From the tests that have been done, it is known that the highest shock strength (Impact) in Kampung V has the highest value found in Weld Metal which is 1.65 Joules / mm2, Bevel Camp has the highest value in Weld Root that is 1.78 Joules / mm2 and Double V seam has the highest value on the HAZ of 1.48 Joules / mm2. Kampung V and Kampung Double V have the highest value found in the HAZ that is 86.5 HRC, Bevel Village has the highest value in Base Metal which is 81 HRC. While the lowest value of violence is in the Bevel camp in the Weld Root testing area, which is 56.67 HRC. And of the 3 types of camps in the Weld Metal area have the same violence value of 76.5 HRC. For seam V and seam Double V have the same value in all test areas. Keywords: SMAW, Weld Metal, Weld Root, HAZ, Kampung V, Double V.