Articles

Found 4 Documents
Search

SENI TRADISI JOGED BUMBUNG DIANTARA TONTONAN ESTETIK DAN ETIK Winyana, I Nyoman
VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.323 KB)

Abstract

Seni joged bumbung adalah salah satu seni pertunjukan yang tumbuh di tengah tengah masyarakat agraris. Menjelma menjadi seni popular di kalangan masyarakat tertentu karena keberanian sekaa joged Bumbung yang tumbuh di Desa Sinabun, Sawan, Buleleng, membawa pada konsep bentuk estetika yang dipengaruhi oleh budaya banalistik. Kenorakan dalam melawan kemapanan nilai etika yang ada di tengah-tengah masyarakat membuat isu seni joged bumbung dianggap menodai etika seni.Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian kualitatif yang dilakukan dengan mengandalkan data lapangan. Metode yang diterapkan bersumber pada data primer dan sekunder di mana data yang terkumpul dilakukan melalui wewancara langsung dengan kreator atau pelaku seni.Hasilnya menunjukan bahwa sekaa seni joged bumbung itu dapat terwujud karena di dalam pengkemasannya memegang prinsip pasar yang mengarah pada budaya kapital. Hal itu mempengaruhi tindakan para pelaku untuk berada di luar jalur estetika yang berkembang sebelumnya. Pada kelompok masyarakat tertentu seni joged bumbung Sinabun (ngebor) menjadi popular namun di sisi lain memunculkan tindakan skiptis karena dianggap dapat mencemari budaya seni Joged bumbung. Kata Kunci ; Seni joged Bumbung Sinabun, Etika dan Estetika
KECAK RAMAYANA DAN BALLET RAMAYANA WAKIL UNHI DI PENTAS INTERNATIONAL “KUMBH MELLA” TRIVANI, ALLAHABAD, ULTRA PARADESH INDIA UTARA Gde Yadnyawati, Ida Ayu; Winyana, I Nyoman; Sukadana, I Wayan; Sugiarta, I Made; Sudiarsa, I Wayan; Sudarsana, I Made; Gde Eka Mardiana, Pande; Putu Darmayasa, Ida Bagus; Rudita, I Ketut Gede; Wiwin Astari, I Luh Putu; Prayitna Dewi, Ida Ayu; Ayu Suasthi, I Gusti; Putra, Cokorda
JURNAL SEWAKA BHAKTI Vol 3 No 1 (2019): Sewaka Bhakti
Publisher : unhipress

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1646.429 KB) | DOI: 10.32795/jsb.v3i1.520

Abstract

Pengaruh dan penyebaran Ramayana sebagai sebuah konsep cerita yang bersumber dari sastra Ramayana tidak dipungkiri telah menyebar di Indonesia semenjak Hindu dikenalkan. Ada berbagai sumber yang dapat dijadikan bukti hidupnya cerita Ramayana di dalam kehidupan masyarakat Hindu khususnya. Di Bali sendiri cerita ramayana tidak saja menjadi pergulatan pengamat budaya khususnya sastra-sastra yang seringkali secara eksis digemakan lewat bentuk seni budaya.             Kecak merupakan salah satu bentuk karya seni pertunjukan klasik yang mengambil inspirasi dari cerita Ramayana. Sangat beralasan ketertarikan karena menggugah pandangan masyarakat tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadikan bentuk bentuk garapan semakin menarik. Kecak yang seringkali diasosiasikan dengan kera tampaknya memberikan sentuhan harmoni musikal yang sangat tepat dengan latar budaya Ramayana. Ketokohan yang mengagumkan diperlihatkan oleh Hanoman atau kera berbulu putih yang senantiasa hadir demi menjaga dharma atau kebenaran dianggap menjadi inspirasi di dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali Inspirasi tersebut tampaknya menjadi alasan kuat bagi seorang peneliti India untuk memperlihatkan kepada dunia tentang pengaruh wiracerita yang dianggap berhasil menginspirasi masyarakat dunia.
MARGINALIZATION OF GENGGONG ART IN BATUAN VILLAGES IN THE GLOBAL ERA Winyana, I Nyoman; Suarka, I Nyoman; Sugiarta, I Gde Arya
International Journal for Educational and Vocational Studies Vol 2, No 4 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/ijevs.v2i4.2553

Abstract

Genggong performance art is a form of art in Batuan Village. Its existence in the midst of community life is closely related to the tourism industry. Its presence is currently increasingly squeezed by the Golbal culture which is not only present from modern (calcic) traditional arts but also contemporary culture. If it is left out it is not impossible that Genggong art will disappear. It can also erase the local cultural identity in Batuan Village. Efforts to optimize Genggong's art at this time are a problem. This not only arises because of internal problems from the Genggong actors themselves, but also externally the network that was cut off was often caused by factors playing in it. The importance of making this Genggong art present in Batuan is none other than the icon of the Batuan Culture village which has become a tourist village, worth fighting for given that cultural richness is a hallmark of genius society. In addition to optimizing the Genggong art, it has the opportunity to be a more useful touristic spectacle. The impact of the Genggong art problem in Batuan Village will also be a pilot project for the arts of the same fortune in the global era. In addition, financially the actors involved in it feel they have the opportunity to earn a fortune and protection. This study uses a cultural study approach that is more focused on solving problems to raise the issue of marginalization with cultural theories. It seems that through qualitative methods explanations can find a deeper analysis. Resolving the Genggong art problem can be a model for other traditional arts that also suffer a similar fate. The findings of this study at least give rise to a new awareness to jointly provide a way out of traditional Balinese art so that it can be enjoyed more broadly over time.
KUASA PENDIDIKAN ERA GLOBAL PADA SENI TRADISI GENGGONG DI DESA BATUAN, STUDI KASUS SENI PERTUNJUKAN GENGGONG Winyana, I Nyoman; Sugiarta, I Made; Sumardiana, I Putu Gede Padma
WIDYANATYA Vol 1 No 1 (2019): widyanatya
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v1i1.271

Abstract

ABSTRAK Salah satu penyebab keberadaan kesenian Genggong menjadi tidak populer dalam kehidupan masyarakat masa Global adalah peran pendidikan yang diduga tidak berpihak pada seni Genggong seperti di Desa Batuan. Seni pertunjukan Genggong Batuan di era tahun 1973 sempat menjadi karya seni pertunjukan yang mengundang perhatian khususnya pada pertunjukan seni hiburan. Kekhasan dan keunikan bentuk karya ternyata tidak cukup mampu mempertahankan populeritasnya di panggung hiburan. Kajian tulisan ini berangkat dari metode kualitatif yang dirancang guna memperoleh jawaban secara lebih mendalam. Analisis data dilakukan dengan memperhatikan keabsahan data langsung di lapangan selain dokumentasi tersimpan. Teori yang dipakai membedah persoalan kuasa adalah diambil dari teori kuasa yang menekankan pada ranah kuasa dan juga habitus yang terjadi di masyarakat. Hasil akhir kajian ini adalah temuan yang berhubungan dengan proses pendidikan seni tradisional Genggong nyatanya tidak terkait dengan aktivitas kegiatan yang hiburan. Keterlantaran yang diakibatnya oleh perubahan gaya hidup dan struktur yang kurang berpihak pada seni Genggong Desa Batuan. ABSTRACT One of the causes of the existence of Genggong art became unpopular in the lives of the people of the Global period was the role of education which was allegedly not in favor of Genggong art such as in the Village of Batuan. The performance of Genggong Batuan in the 1973 era had become a performance art work that drew attention especially to entertainment art performances. The peculiarity and uniqueness of the form of work turned out to be not enough to maintain its popularity on the entertainment stage. The study of this paper departs from qualitative methods designed to obtain answers in more depth. Data analysis is done by paying attention to the validity of direct data in the field besides the stored documentation. The theory used to dissect the issue of power is taken from the theory of power which emphasizes the realm of power and also habitus that occurs in society. The final result of this study is that findings related to the process of traditional Genggong art education are in fact not related to entertainment activities. The negligence that was caused by changes in lifestyle and structure was not in favor of Genggong Desa Batuan art.