Pudji Rahaju, Pudji
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi Wahyudiono, Ahmad Dian; Retnoningsih, Endang; Rahaju, Pudji
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.611 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.56

Abstract

Background: Allergic rhinitis is a global health problem that could impair the patient’s quality of life. Recent studies had showed the role of leptin, a hormone that produced by adipose tissue, on sensitization process which can increase the serum level of B cells and IgE. Purpose: To define the relationship between serum leptin level with the degree of allergic rhinitis based on ARIA and VAS.Methods: This study involved 38 subjects with cross sectional design. Statistical analysis included t-test, logistic regression and Kruskal-Wallis. Results: This study showed serum leptin level has correlation with the degree of allergic rhinitis based on ARIA (p<0.05), specifically on the intensity of allergic rhinitis (p<0.05), but not with the degree of allergic rhinitis based on VAS. Conclusion: Serum leptin level has a role on the degree of allergic rhinitis specifically on the intensity but not on the severity of allergic rhinitis symptoms. Controlling the serum leptin level can be considered as health promotion for patient with allergic rhinitis. Further research focusing on controlling serum leptin level for allergic rhinitis symptoms is recommended. Keywords: allergic rhinitis, serum leptin level, degree of allergic rhinitis   Abstrak :  Latar belakang: Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dan dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Beberapa penelitian telah menunjukkan peran leptin, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak, pada proses sensitisasi yang ditandai dengan kemampuan leptin meningkatkan sel B dan IgE. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi. Metode: Penelitian ini melibatkan 38 subjek dengan desain potong lintang untuk mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi pada penderita rinitis alergi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji t, uji regresi dan Kruskal-Wallis.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi berdasarkan ARIA (p<0,05) khususnya dengan intensitas keluhannya (p<0,05), namun tidak berhubungan dengan derajat rinitis berdasarkan VAS. Kesimpulan: Kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi terutama pada intensitas keluhan dan bukan pada beratnya keluhan. Pengendalian kadar leptin serum dapat dipertimbangkan sebagai upaya memperbaiki kesehatan penderita rinitis alergi. Penelitian lebih lanjut yang menekankan pada pengendalian kadar serum leptin disarankan untuk mengendalikan keluhan rinitis alergi. Kata kunci: rinitis alergi, kadar leptin serum, derajat rinitis alergi
Hubungan respons terapi dengan kualitas hidup penderita karsinoma nasofaring WHO tipe III setelah terapi Deviana, Deviana; Rahaju, Pudji; Maharani, Iriana
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.61 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i2.161

Abstract

Latar belakang: Hasil terapi penderita kanker umumnya dinilai dari angka kelangsungan hidup dan angka kontrol penyakit secara lokal/regional. Penilaian ini dilakukan oleh dokter dan tidak menunjukkan bagaimana kepuasan penderita terhadap hasil terapi. Di Indonesia, karsinoma nasofaring (KNF) menempati peringkat keempat keganasan tertinggi, dengan tipe terbanyak adalah KNF WHO tipe III. Penilaian kualitas hidup penting dilakukan karena penyakit dan terapi KNF dapat mempengaruhi beberapa fungsi penting kehidupan (makan, komunikasi, dan hubungan sosial). Belum pernah dilaporkan penelitian mengenai kualitas hidup penderita KNF setelah terapi di Indonesia. Tujuan: Mengetahui hubungan antara respons terapi dengan kualitas hidup penderita KNF WHO tipe III setelah radioterapi atau kemoradioterapi. Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Dinilai respons terapi dan kualitas hidup 8 subyek dari kelompok radioterapi, dan 8 subyek dari kelompok kemoradioterapi, dengan waktu evaluasi minimal 3 bulan setelah terapi. Penilaian respons terapi berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir: biopsi nasofaring, foto Rontgen toraks, ultrasonografi abdomen,biopsi aspirasi jarum halus kelenjar getah bening leher (jika ada indikasi), dan foto Rontgen torakolumbal (jika ada indikasi). Penilaian kualitas hidup menggunakan kuesioner EORTC QLQ-C30 dan EORTC QLQ-H&N35. Hasil: Tidak didapati perbedaan respons terapi antara kelompok radioterapi dan kemoradioterapi. Seluruh subyek memiliki respons terapi positif (tidak didapati tumor menetap, kambuh secara lokal dan regional, dan metastasis jauh). Penderita dengan respons terapi positif memiliki kualitas hidup tinggi. Uji perbedaan kualitas hidup menunjukkan perbedaan bermakna hanya dalam hal fungsi emosi (p=0,031). Kesimpulan: Penderita KNF WHO tipe III dengan respons terapi positif memiliki kualitas hidup tinggi. Tidak didapati perbedaan respons terapi antara kelompok radioterapi dengan kemoradioterapi. Penderita yang mendapatkan kemoradioterapi memiliki kualitas hidup lebih tinggi dalam hal fungsi emosi.Kata kunci: Karsinoma nasofaring, radioterapi, kemoradioterapi, respons terapi, kualitas hidupABSTRACT Introduction: The endpoint of medical care for cancer patients usually focused on the survival rate and locoregional control rate. These endpoints were assessed by doctor and not the patient’s satisfaction rate to treatment outcome. In Indonesia, nasopharyngeal carcinoma (NPC) is the fourth most common cancer, especially NPC type III WHO. Assessment of quality of life is important because both the disease and the therapy of NPC could affect several important functions in life (eating, communication, and social relationships). There was no study reported about quality of life of NPC patients after therapy in Indonesia. Purpose: To assess the relationship between treatment response and quality of life of NPC WHO type III patients after radiotherapy or chemoradiotherapy. Method: Analytic observational study with cross-sectional design assessed treatment response and quality of life in 8 subjects of radiotherapy group and 8 subjects of chemoradiotherapy group with minimal evaluation time 3 months after therapy. Treatment response was assessed by the latest examination result of nasopharyngeal biopsy, thorax plain photo, abdomen ultrasonography, fine needle aspiration biopsy of neck mass (if indicated), and thoracolumbal plain photo (if indicated). Quality of life was assessed by EORTC QLQ-C30 and EORTC QLQ-H&N35 questionnaire. Result: There was no treatment response difference between radiotherapy and chemoradiotherapy group. All subjects had positive treatment response (no cancer remained, no locoregional recurrence, and no distant metastasis). Subjects with positive treatment response had high quality of life. Statistical analysis on the quality of life only showed a marked difference in emotional function (p=0.031). Conclusion: NPC WHO type III patients with positive treatment response had high quality of life. There was no treatment response difference between radiotherapy and chemoradiotherapy subjects. Patients treated with chemoradiotherapy had a better quality of life in emotional function.Keywords: Nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, chemoradiotherapy, treatment response, quality of life
Pengaruh ekspresi p53 dan HIF1 terhadap peningkatan laktat jaringan nasofaring pada pasien karsinoma nasofaring Kurniawan, Jemmy; Rahaju, Pudji; Soehartono, Soehartono
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.431 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i1.258

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan keganasan tersering pada kepala dan leher. Pilihan terapi KNF adalah radioterapi dan kemoterapi yang berhubungan dengan toksisitas, resistensi obat, dan rekurensi. Intervensi metabolik yang didasarkan pada perubahan metabolisme sel kanker merupakan salah satu strategi terapi kanker pada saat ini. Untuk dapat mengetahuinya perlu dipahami pengaruh ekspresi p53 dan hypoxia-inducible factor 1 (HIF1) terhadap peningkatan kadar laktat jaringan nasofaring pada pasien KNF. Tujuan: Mengetahui pengaruh ekspresi p53 dan HIF1 terhadap peningkatan kadar laktat jaringan nasofaring, dan untuk mengetahui kesesuaian antara kadar laktat darah dengan laktat jaringan nasofaring. Metode: Penelitian cross sectional melibatkan 10 subjek, dilakukan biopsi nasofaring dengan tuntunan nasoendoskopi untuk pemeriksaan histopatologi, ekspresi p53 dan HIF1 dengan imunohistokimia, laktat jaringan nasofaring dengan colorimetric, dan laktat darah. Hasil: Seluruh subjek mengalami peningkatan ekspresi p53 dan HIF1 dengan rerata p53 19,53±7,37 dan HIF1 24,30±12,28. Seluruh subjek penelitian memiliki kadar laktat jaringan meningkat, dengan rerata kadar laktat 0,67±0,39. Kadar laktat darah subjek cenderung meningkat dengan rerata 2,93±0,65. Terdapat pengaruh peningkatan ekspresi p53 terhadap peningkatan kadar laktat jaringan (p=0,002). Terdapat pengaruh peningkatan ekspresi HIF1 terhadap peningkatan kadar laktat jaringan (p=0,042). Tidak terdapat kesesuaian antara kadar laktat darah dengan laktat jaringan nasofaring (p=0,000). Kesimpulan: Peningkatan ekspresi p53 dan HIF1 berpengaruh terhadap peningkatan kadar laktat jaringan nasofaring pada pasien KNF, namun kadar laktat darah tidak menggambarkan kadar laktat jaringan nasofaring. ABSTRACTBackground: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is the most frequent malignancy of the head and neck. The options of NPC therapy are radiotherapy and chemotherapy, associated with toxicity, drug resistance, and recurrence. Metabolic intervention based on changes in cancer cell metabolism is currently one of the strategies of cancer therapy. Aim: To determine the impact of p53 and hypoxia-inducible factor 1 (HIF1) expression on elevated lactate levels of nasopharyngeal tissue, and to determine the compatibility between blood lactate and nasopharyngeal tissue lactate levels in patients with NPC. Method: This cross-sectional study involved 10 subjects who underwent nasopharyngeal biopsy for histopathologic examination, p53 and HIF1 expression using immunohistochemistry, lactate of nasopharyngeal tissue using colorimetric, and blood lactate. Results: All subjects had increased expression of p53 and HIF1 with p53 mean of 19.53±7.37 and HIF1 mean of 24.30±12.28. All subjects had elevated tissue lactate levels, with lactate levels mean of 0.67±0.39. The blood lactate level of the subjects increased, with blood lactate level mean of 2.93±0.65. There was a significant increasing impact of p53 expression on tissue lactate elevated level (p=0.002) and a significant increasing impact of HIF1 expression on tissue lactate elevated level (p=0.042). There was no correlation between lactate levels of blood lactate and nasopharyngeal tissue (p=0.000). Conclusion: Increased expression of p53 and HIF1 had an effect on increased levels of lactate nasopharyngeal tissue in NPC patients, but blood lactate levels did not have a correlation with lactate levels of nasopharyngeal tissue.
Hubungan ototoksisitas dan kemoterapi neoadjuvan pada karsinoma nasofaring berdasarkan ASHA, CTCAE, dan DPOAE Putri, Meyrna Heryaning; Rahaju, Pudji; Indrasworo, Dyah
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.65 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i2.219

Abstract

Latar belakang: Kemoterapi neoadjuvan adalah induksi kemoterapi sebelum radioterapi dengan regimen cisplatin dan 5-Fluorouracil. Kemoterapi cisplatin bersifat ototoksik pada pendengaran sensorineural bilateral progresif dan bersifat irreversible. Kriteria dari American Speech-Language Hearing Association (ASHA) dan Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) merupakan kriteria untuk mengidentifikasi ototoksisitas dengan menggunakan audiometri, selain pemeriksaan Distortion Product Otoacoustic Emissions (DPOAE). Tujuan: Mengidentifikasi hubungan ototoksisitas dengan kemoterapi neoadjuvan pada penderita karsinoma nasofaring (KNF) WHO tipe III menggunakan ASHA, CTCAE, serta DPOAE. Metode: Studi ini adalah penelitian observasional dengan desain cohort. Kriteria inklusi penelitian yaitu penderita baru KNF WHO tipe III, yang mendapatkan kemoterapi regimen standar dan berusia <60 tahun. Kriteria pemeriksaan DPOAE adalah penderita dengan ambang dengar ≤40 dB. Percontoh dilakukan pemeriksaan timpanometri, audiometri, dan DPOAE. Hasil: Terdapat 9 sampel percontoh penelitian. Uji repeated-ANOVA menunjukkan tidak ditemukan perbedaan bermakna pada tiga hasil pengukuran audiometri antara pascakemoterapi pertama, kedua, dan ketiga (p>0,05). Deteksi awal ototoksisitas menggunakan kriteria ASHA menunjukkan sensitivitas sebesar 67% dan dan CTCAE 44%, dibandingkan baku emas menggunakan DPOAE. Kesimpulan: Ototoksisitas cisplatin ditemukan sejak kemoterapi pertama dengan menggunakan pemeriksaan DPOAE walaupun tidak bermakna secara statistik. Kemampuan DPOAE untuk mendeteksi awal ototoksisitas lebih baik dibandingkan kriteria ASHA dan CTCAE yang menggunakan audiometri nada murni.Kata kunci: Karsinoma nasofaring, ototoksisitas sisplatin, DPOAE, CTCAE, ASHA ABSTRACT Introduction: Neoadjuvant chemotherapy is induction chemotherapy before radiotherapy with cisplatin and 5-Fluorouracyl regiment. Chemotherapy cisplatin is ototoxic, leads to frequently progresive and irreversible bilateral sensorineural hearing loss. American Speech-Language Hearing Association (ASHA) and Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) are the criteria to determine ototoxicity with audiometry, beside Distortion Product Otoacoustic Emissions (DPOAE). Purpose: To identify the relationship between ototoxicity with neoadjuvant chemotherapy in patients NPC WHO type III using ASHA, CTCAE, and DPOAE. Method: This observational study approach with cohort design. Inclusion criteria: new patients NPC WHO type III who consented to undergo standard regiment chemotherapy, and age <60 year-old. For DPOAE examination: hearing level ≤40 dB. Exclucion criteria: NPC WHO type III patients who underwent chemotherapy with unconventional standard regiment. Examinations for hearing function conducted with tympanometry, pure tone audiometry, and Distortion Product Otoacoustic Emissions (DPOAE). Result: There were 9 sample in this study. The result of Repeated-ANOVA test showed no significant difference in three audiometry measurements among three series of chemotherapies. Early detection of ototoxicity using ASHA and CTCAE criterias showed sensitivity of 67% and 44% (compared with DPOAE as a gold standard). Conclusion: Cisplatin ototoxicity had occured since the first chemotherapy and detected with DPOAE, but statistically was not significantly related. Early detection of cisplatin ototoxicity with DPOAE was much better than with criteria American Speech-Language Hearing Association (ASHA) and Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE), which used pure tone audiometry.Keywords: Nasopharyngeal carcinoma, cisplatin ototoxicity, DPOAE, CTCAE, ASHA
Hubungan mutasi gen ras dan p53 pada penderita karsinoma nasofaring dengan riwayat merokok Murdiyo, Mohammad Dwijo; Sunihapsari, Cici; Rahaju, Pudji; Retnoningsih, Endang; Soemantri, Johanes Bambang
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.713 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i1.14

Abstract

Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignancy with multifactorial etiology involving Epstein Barr virus infection, genetic and environmental factors. Cigarette smoking is one of the environmental factors which have many compounds of carcinogen. Oncogene ras and tumor suppressor p53 gene play an important role in carcinogenesis. Mutation of these genes may contribute to NPC carcinogenesis. Purpose: To determine correlation between ras and p53 mutations in NPC patients with cigarette smoking history (quantity, duration, cumulative exposure). Methods: Thirty patients diagnosed as end stage type III WHO NPC were included in this cross sectional study. Thirty NPC biopsies were assessed for ras and p53 mutation by polymerase chain reaction (PCR) and restriction fragment length polymorphism (RFLP). The Fisher’s exact test and T test were used to analyse the correlation of ras, p53 mutation and cigarette smoking history. Results: Nras mutation was observed in 21(75%) subjects. One (3,33%) subject had H-ras mutation. There were no significant correlation between cigarette smoking history with N-ras (p=0,662) and H-ras (p=0,400) mutation, no significant correlation between N-ras, H-ras mutation with quantity, duration and cumulative exposure ofcigarette smoking (p>0.05). The p53 mutation was observed in 27 (93.1%). No significant correlation between cigarette smoking history and p53 mutation (p=1.000). No significant correlation between p53 mutation with quantity, duration and cumulative exposure of cigarette smoking (p>0.05). Conclusion: There were no significant correlation between cigarette smoking history and mutation of N-ras, H-ras and p53. N-ras, H-ras, p53 mutations were not correlated with quantity, duration and cumulative exposure of cigarette smoking.Keywords: nasopharyngeal carcinoma, ras, p53, cigarette smoking. ABSTRAKLatar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) memiliki etiologi multifaktorial yaitu infeksi virus EpsteinBarr, faktor genetik dan faktor lingkungan. Asap rokok adalah salah satu faktor lingkungan yang mengandungbahan karsinogen. Onkogen ras dan tumor suppressor gen p53 memiliki peran pada karsinogenesis. Mutasi gengentersebut dianggap berperan pada karsinogenesis KNF. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan mutasi gen rasdan p53 pada penderita KNF dengan riwayat merokok. Metode: Studi cross sectional dengan subjek penelitian 30penderita KNF WHO tipe III stadium lanjut. Pemeriksaan mutasi gen ras dan p53 melalui pemeriksaan polymerasechain reaction (PCR) dan restriction fragment length polymorphism (RFLP). Analisa statistik menggunakan ujiFisher’s exact dan uji T. Hasil: Mutasi N-ras didapatkan pada 21(75%) subjek dari 28 subjek yang dapat diketahuimutasinya. Satu (3.33%) subjek mengalami mutasi H-ras dari 30 subjek. Tidak didapatkan hubungan bermaknaantara mutasi N-ras (p=0.662) dan H-ras (p=0.400) dengan riwayat merokok. Tidak ada perbedaan bermakna rataratajumlah, lamanya dan paparan kumulatif rokok antara subjek yang mengalami mutasi atau tidak mutasi N-rasdan H-ras (p>0,05). Mutasi p53 didapatkan pada 27 (93.15%) subjek dari 29 subjek. Tidak ada hubungan bermaknaantara riwayat merokok dengan terjadinya mutasi p53 (p=1.000). Tidak ada perbedaan bermakna rata-rata jumlah,lamanya dan paparan kumulatif rokok antara subjek yang mengalami mutasi atau tidak ada mutasi p53 (p>0,05).Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara riwayat merokok dengan terjadinya mutasi N-ras, Hrasdan p53. Tidak ada perbedaan bermakna rata-rata jumlah, lamanya dan paparan kumulatif rokok antara subjekyang mengalami dan yang tidak mengalami mutasi N-ras, H-ras dan p53.Kata kunci: karsinoma nasofaring, ras, p53, merokok.
Hubungan status nutrisi penderita karsinoma nasofaring stadium lanjut dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi Tricia, Fransiska; Rahaju, Pudji; Suheryanto, Rus
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.729 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i1.40

Abstract

Background: Normal nutritional status is a balanced condition of nutritional intake and requirement in a person. Lack of nutrition in cancer patients promotes undesirable effects on various organs and systems of the body. Purpose: To determine the nutritional status differences in patients with advanced stage NPC type III WHO before and after radiotherapy,  and the relationship between nutritional status with mucositis occurance after radiotherapy. Method: Observational analytic study. Sampling was conducted by non-random purposive sampling technique with 10 subjects with NPC. The statistical analysis used paired sample Wilcoxon test and Spearman correlation test. Result: The study found significant differences between nutritional state regarding BMI, LOLA and transferrin before and after radiotherapy with p<0.05. Paired sample t test of BMI, LOLA, transferrin before and after radiotherapy demonstrated BMI p=0.000, LOLA p=0.001 and transferrin p=0.005. The paired sample t test for albumin before and after radiotherapy showed that radiotherapy did not cause significant decrease in albumin. Correlation test to determine the relationship among BMI, LOLA, albumin, and transferrin before radiotherapy with mucositis occurance showed BMI p=0.062, LOLA p=0.209, p=0.904 albumin, transferrin p=0.631 which meant that nutritional state has no corelation with mucositis occurance. While after radiotherapy it showed BMI p=0.122, p=0.209 LOLA, albumin, p=0.902 and transferrin p=1.000 which meant that nutritional state after radiotherapy has no corelation to the occurance of mucositis. Conclusion: Radiotherapy in patients with advanced-stage of NPC caused a significant difference in nutritional state before and after radiotherapy, but had no significant association with mucositis occurance. Keywords: nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, nutritional state, malnutrition, mucositis Abstrak :  Latar belakang: Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Kekurangan nutrisi pada penderita kanker memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan status nutrisi penderita karsioma nasofaring (KNF) WHO tipe III   stadium lanjut   sebelum dan sesudah radioterapi, hubungan status nutrisinya dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi. Metode: Penelitian ini adalah observasional analitik, dengan jumlah sampel 10 penderita KNF. Analisis statistik menggunakan paired sample t test dan uji korelasi Spearman. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara status nutrisi dengan parameter Body Mass Index (BMI), lingkar otot lengan atas (LOLA) dan transferin sebelum dan sesudah radioterapi (BMI p=0,000, LOLA p=0,001 dan transferin p=0,005 dengan p<0,05). Pada paired sample t test albumin sebelum dan sesudah radioterapi menunjukkan nilai p=0,205 yang berarti bahwa radioterapi tidak menyebabkan penurunan albumin yang bermakna. Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferin sebelum radioterapi dengan kejadian mukositis menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan dengan kejadian mukositis (BMI p=0,062, LOLA p=0,209, albumin p=0,904, transferin p=0,631 dengan p>0,05). Uji korelasi hubungan antara BMI, LOLA, albumin, dan transferinsesudah radioterapi menunjukkan bahwa status nutrisi tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi (BMI p=0,122, LOLA p=0,209, albumin p=0,902 dan transferin p=1,000 dengan p>0,05) Kesimpulan: Pemberian radioterapi pada penderita KNF stadium lanjut menyebabkan penurunan bermakna pada status nutrisi sebelum dan sesudah radioterapi, tetapi tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian mukositis sesudah radioterapi.  Kata kunci: karsinoma nasofaring, radioterapi, status nutrisi, malnutrisi, mukositis.