I Putu Adiartha Griadhi, I Putu Adiartha
Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 45 Documents
Articles

LATIHAN ABDOMINAL DRAWING-IN MANEUVER SAMA BAIKNYA DENGAN CORE STRENGTHENING EXERCISE DALAM MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT PENYANGGA TUBUH PADA SISWI SMAN 1 GIANYAR Purwani, I Gusti Ayu Mega; Tianing, Ni Wayan; Griadhi, I Putu Adiartha
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 5 No 3 (2017): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.01 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2017.v05.i03.p03

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari latihan abdominal drawing-in mnaeuver dan core strengtheningexercise dalam meningkatkan kekuatan otot penyangga tubuh yang dilakukan pada siswi SMAN 1 Gianyar. Desainpenelitian menggunakan Randomize Pre and Post Test With Control Group Design dengan teknik pengambilansampel menggunakan simple random sampling sehingga didapat 30 sampel yang dibagi kedalam 2 kelompok yaitukelompok perlakuan (abdominal drawing-in maneuver) dan kelompok kontrol (core strengthening exercise) kemudiandiberikan latihan 3 kali perminggu selama 4 minggu. Diperoleh peningkatan kekuatan otot penyangga tubuh yangbermakna pada kedua kelompok dengan rerata peningkatan pada kelompok perlakuan sebesar 64,05 ± 23,6(p<0,05) dan kelompok kontrol sebesar 69,91 ± 23,2 (p<0,05). Berdasar uji paired sample t-test pada kelompokperlakuan dan kelompok kontrol didapat hasil yang tidak signifikan (p>0,05) pada kedua kelompok yang berartilatihan abdominal drawing-in maneuver sama baiknya dengan core strengthening exercise dalam meningkatkankekuatan otot penyangga tubuh.Kata kunci : Otot Penyangga Tubuh, Kekuatan Otot, Abdominal Drawing-in Maneuver, Core StrengtheningExercise
PENAMBAHAN BALLISTIC STRETCHING PADA LATIHAN KNEE TUCK JUMP LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN LATIHAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP PENINGKATAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI PADA PEMAIN VOLI LAKI-LAKI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Pramana, I Made Dwi Apri; Nurmawan, I Putu Sutha; Griadhi, I Putu Adiartha; Wiryanthini, Ida Ayu Dewi
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 6 No 1 (2018): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.214 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2018.v06.i01.p06

Abstract

Daya ledak otot didefinisikan sebagai kombinasi antara kecepatan dan kekuatan kontraksi otot serta masuk didalam komponen kebugaran. Latihan pliometrik dapat digunakan untuk memperbaiki kemampuan para pemain voli. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian Pre Test and Post TestControl Group Design. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan simple random sampling. Jumlah sampel sebanyak 20 orang sehingga dalam dalam satu kelompok terdiri dari 10 orang. Kelompok pertama diberikan penambahan ballistic stretching pada latihan knee tuck jump. Kelompok kedua diberikan pelatihan knee tuck jump. Pengukuran daya ledak otot tungkai menggunakan vertical jump test. Uji normalitas p > 0,05 serta uji homogenitas p >0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan daya ledak otot tungkai pada kelompok 1 sebesar 14,30 cm dan pada kelompok 2 terjadi peningkatan sebesar 7,70 cm. Uji paired sample t-test didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) pada kelompok 1 dan nilai p = 0,000 (p < 0,05) pada kelompok 2. Uji peningkatan daya ledak otot tungkai sesudah latihan pada kedua kelompok menggunakan independent sample t-test didapat kelompok 1 dan kelompok 2 dimana p = 0,000 (p < 0,05) dengan peningkatan dalam persentase sebesar 30,95 % pada kelompok pertama dan 16,73 % pada kelompok kedua. Dari penelitian yang dilakukan tersebut dapat diperoleh simpulan penambahan ballistic stretchingpada latihan knee tuck jump lebih efektif daripada latihan knee tuck jump dalam meningkatkan daya ledak otot tungkai pada pemain voli laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kata kunci : Daya ledak otot, ballistic stretching, knee tuck jump, vertical jump test.
HUBUNGAN POSTUR KERJA SAAT MENJAHIT DENGAN TERJADINYA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS PADA PENJAHIT DI KECAK GARMEN Adyasputri, A.A. Istri Ayesa Febrinia; Adhitya, I Putu Gde Surya; Griadhi, I Putu Adiartha
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 7 No 3 (2019): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.525 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2019.v07.i03.p03

Abstract

Tailors is one of the jobs which is much occupied by the people of Bali. Furthermore, tailors rarely care about their working posture while sewing. This will cause of myofascial pain syndrome upper trapezius muscle if the work for prolong time. The purpose of this study is to know the relationship between working posture while sewing with occurrence of myofascial pain syndrome upper trapezius muscle on tailors in Kecak Garment. This study is an analytical study with cross-sectional design. Simple random sampling was used to collect the subject. 70 subjects were involved in this study. Data was analyzed by chi-square test and it has significant relationship with p value 0.000 (p<0.05). The conclusion of this study is there is significant relationship between working posture while sewing with occurrence of myofascial pain syndrome upper trapezius muscle on tailors in Kecak Garment. Keywords: Working Posture, Tailors, Myofascial Pain Syndrome, Upper Trapezius
HUBUNGAN PARTISIPASI LATIHAN HATHA YOGA TERHADAP RENDAHNYA TINGKAT KECEMASAN WANITA PREMENOPAUSE DI LAPANGAN NITI MANDALA RENON Indahsari, Putu Rina; Winaya, I Made Niko; Griadhi, I Putu Adiartha; Saraswati, Putu Ayu Sita
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 1 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.307 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i01.p06

Abstract

Penuaan merupakan suatu proses alami yang dialami setiap manusia. Wanita akan memasuki masa klimakterium sebelum masa tua. Klimakterium terbagi menjadi masa premenopause, menopause dan pasca menopause. Premenopause biasanya dimulai pada usia 40-49 tahun yang akan menimbulkan beberapa gejala yang mengakibatkan timbulnya kecemasan bagi wanita. Kecemasan adalah reaksi yang timbul karena adanya suatu masalah yang menekan seseorang. Kecemasan dipengaruhi oleh faktor internal yaitu keadaan fisik dan tipe kepribadian serta faktor eksternal yaitu tingkat pendidikan, dukungan suami, serta status sosial ekonomi. Hatha yoga merupakan aktivitas fisik yang dapat meredakan kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana hubungan antara partisipasi latihan hatha yoga dengan tingkat kecemasan wanita premenopause. Jenis penelitian ini yaitu cross sectional analitik dengan teknik consecutive sampling yang dilakukan pada bulan Maret 2019 di Lapangan Niti Mandala Renon Bali. 82 orang wanita usia 40?49 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini dan mengisi serangkaian kuisioner seperti kuisioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) untuk mengukur tingkat kecemasan, form assessment fisioterapi untuk mengetahui keadaan fisik, kuisioner Eysenck Personality Inventory (EPI) untuk mengukur tipe kepribadian serta kuisioner dukungan suami. Uji analisis menggunakan uji Spearman Correlation. Hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan p=0,000<p=0,05 dengan hubungan korelasi kuat serta memiliki nilai yang negatif ( Correlation coefficient -0,687). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa, wanita yang mengikuti latihan hatha yoga mengalami tingkat kecemasan yang rendah dibandingkan dengan yang tidak mengikuti latihan hatha yoga.   Kata Kunci : Hatha yoga, Tingkat Kecemasan, Tipe Kepribadian, Tingkat Pendidikan, Tingkat Status Sosial Ekonomi, Tingkat Dukungan Suami, Keadaan Fisik
PENGARUH PEDAL EXERCISE DAN PEREGANGAN OTOT BETIS LEBIH EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN NILAI AMBANG NYERI OTOT BETIS PADA PEMOTONG KAIN DI KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN TABANAN Sari, Ni Putu Ayu Sasmita; Winaya, I Made Niko; Griadhi, I Putu Adiartha; Adiatmika, I Putu Gede
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 6 No 1 (2018): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.878 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2018.v06.i01.p10

Abstract

ABSTRAK Posisi berdiri lama dapat menimbulkan keluhan otot pada pemotong kain. Tujuan penelitian ini adalah mengetahuiapakah pengaruh pedal exercise dan peregangan otot betis lebih efektif dalam meningkatkan nilai ambang nyeri ototbetis pada pemotong kain yang diukur dengan sphygmomanometer. Penelitian ini bersifat eksperimental, denganrancangan penelitian randomized pre and post test control group design. Sampel penelitian berjumlah 20 orang yangdibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkan pedal exercise danperegangan otot betis, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan apapun. Uji hipotesis dengan pairedsample t-test pada kelompok perlakuan didapatkan hasil p=0,000 dengan beda rerata 30,00±16,99, artinya terdapatpeningkatan nilai ambang nyeri yang bermakna. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan hasil p=0,758 denganbeda rerata 1,00±9,94, artinya tidak terdapat peningkatan nilai ambang nyeri yang bermakna. Uji perbandingan denganindependent sample t-test didapatkan beda selisih p=0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil uji statistik, dapat ditarikkesimpulan bahwa pedal exercise dan peregangan otot betis lebih efektif dalam meningkatkan nilai ambang nyeri ototbetis pada pemotong kain. Kata Kunci: pedal exercise, stretching, nyeri otot betis, pemotong kain.
KOMBINASI INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUE DENGAN ULTRASOUND LEBIH EFEKTIF DALAM MENURUNKAN RASA NYERI DIBANDINGKAN KOMBINASI STRAIN COUNTERSTRAIN DENGAN ULTRASOUND PADA PENDERITA PIRIFORMIS SYNDROME Baktiyasa, I Nyoman; Wibawa, Ari; Griadhi, I Putu Adiartha
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 5 No 3 (2017): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.376 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2017.v05.i03.p01

Abstract

ABSTRAKPiriformis Syndrome didefinisikan sebagai sekumpulan gejala seperti nyeri, kesemutan atau mati rasa dari areabokong hingga ke kaki. Pada keadaan seperti ini, penderita dapat diberikan intervensi berupa Integrated NeuromuscularInhibition Technique, Strain Counterstrain dan Ultrasound. Dengan Paired Sample t-test pada Kelompok 1didapatkan nilai p=0,000 dimana beda rerata 2,940±0,96, sedangkan pada Kelompok 2 didapatkan nilai p=0,000 dimanabeda rerata 1,910±0,60. Pada uji beda selisih antara Kelompok 1 dengan Kelompok 2 dengan IndependentSample t-test didapatkan p=0,010 (p<0,05). Hal ini menunjukkan kombinasi Integrated Neuromuscular InhibitionTechnique dengan Ultrasound lebih efektif dalam menurunkan rasa nyeri dibandingkan kombinasi Strain Counterstraindengan Ultrasound pada penderita Piriformis Syndrome.Kata Kunci: Integrated Neuromuscular Inhibition Technique, Strain Counterstrain, Ultrasound, Piriformis Syndrome
STIMULATION ATTITUDIONAL REFLEX EXERCISE LEBIH BAIK DIBANDINGKAN DENGAN PRONE POSITION WEDGE EXERCISE TERHADAP HEAD CONTROL PADA ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK QUADRIPLEGI DI RS RAJAWALI CITRA BANTUL, YOGYAKARTA Al Banna, Damha; Adiatmika, I Putu Gede; Irfan, M.; Griadhi, I Putu Adiartha; Sundari, Luh Putu Ratna; -, Sugijanto
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.1, Januari 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.31 KB) | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i01.p08

Abstract

ABSTRACTBackground: Head control is a disorder of the cerebral palsy (CP) spastic quadriplegi due to central nervous system problems that serve as the basis of movement to be achieved for further development. Physiotherapy actions that can be given are stimulation attitudional reflex exercise (SARE) and prone position wedge exercise (PPWE). Purpose: This study aims to determine whether SARE is better than PPWE for head control in CP spastic quadriplegi. Methods: This research uses experimental pre and post test control group design is done at Rajawali Citra Bantul Hospital. Subjects were 24 children with CP spastic quadriplegi divided into 2 groups, group I was given SARE for 3 repetitions in 1 hour of therapy sessions and group II was given PPWE for 30 minutes. All groups were given treatment 1 time a week for 6 weeks as a refresher intervention and educated the family to do every day at home. Increased head control is measured by gross motor functional measurement. Result: Statistical test of paired sample t-test in group I and group II p value = 0.001 where (p < 0.05) there was an increase of head control. From independent t-test p value = 0.001 where (p < 0.05), it can be concluded that there are significant differences between group I with group II. Based on the mean values in both treatment groups, the group I have larger head control improvement of 33.19% than group II which only 16.96%. Conclusion: SARE is better than PPWE to increase head control on CP spastic quadriplegiKeywords: Head control, SARE, PPWE
HUBUNGAN ANTARA PERILAKU SEDENTARI DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA SISWA KELAS V DI SD CIPTA DHARMA DENPASAR Pramita, Risna Dea; Griadhi, I Putu Adiartha
E-Jurnal Medika Udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi saat ini telah meningkatkan perilaku sedentari yang dilakukan oleh anak-anak, seperti menonton televisi, bermain komputer, dan juga bermain video games. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa perilaku sedentari yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku sedentari, prevalensi obesitas, dan juga hubungan antara perilaku sedentari dengan indeks massa tubuh pada siswa kelas 5 di SD Cipta Dharma Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 51 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ), kuesioner pola makan untuk mendapatkan gambaran tentang pola makan yang merupakan variabel perancu, serta penghitungan berat badan dan tinggi badan menggunakan timbangan dan microtoise. Dari 51 siswa, 17,6% mengalami obesitas. Hampir sebagian besar siswa melakukan perilaku sedentari >5 jam sehari. Menonton televisi merupakan kegiatan dengan rata-rata terbanyak yakni 1,8 jam. Hubungan antara perilaku sedentari dengan indeks massa tubuh menunjukkan nilai p sebesar 0,1. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara perilaku sedentari dengan indeks massa tubuh. Kedepannya diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih baik tentang perilaku sedentari, indeks massa tubuh, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi.  
PILATES EXERCISE LEBIH EFEKTIF MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS LUMBAL DIBANDINGKAN SENAM YOGA PADA WANITA DEWASA Ayu Vitalistyawati, Luh Putu; Weta, I Wayan; Munawaroh, Muthiah; Ngurah, Ida Bagus; Griadhi, I Putu Adiartha; Imron, Muh. Ali
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.2, Mei 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.094 KB) | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i02.p03

Abstract

Introduction: Productive women who?s working in static potition can cause stiffness back muscle. The stiffness of back muscle can decrease lumbal flexibility. When lumbal flexibility was decreased, it can cause low back pain during activities. Yoga and pilates exercise are recommended program for increase lumbal flexibility.. Purpose: This study aims to prove the pilates exercise is more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman. Method: Design of this study uses research methods experimental study pre and post test design. Total sampel of this research study are 30 adult women at Banjar Kelod Ungasan, whose age are 30-45 years old and have 0-20 cm flexibility score. The sampel devided into two groups which the group I (n=15) was given pilates exercise ,while group II (n=15) was given yoga twice a week in 6weeks. This research was using sit and reach test as measured flexibility. Result: Based on Paired Sample t-Test statistical analysis the results of this study research shown that the difference in the mean of lumbal flexibility in group I was obtained 21.34±3.13cm with p<0.001 , while the mean of lumbal flexibility in group II was obtained 19.11±2.39cm with p<0.001. The difference lumbal flexibility in group I and group II was obtained 5.36±1.48cm with p<0.001. Conclusion: The conclusion that the pilates exercise was more effective to increase lumbal flexibility comparing with yoga on adult woman.
ADAPTASI BIOMOLEKULER HIPERTROPI JARINGAN OTOT RANGKA PADA LATIHAN BEBAN DAN MANFAATNYA PADA SINDROMA METABOLIK Griadhi, I Putu Adiartha
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.2, Mei 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.242 KB) | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i02.p09

Abstract

ABSTRACTWeight training is one of the exercises needed to achieve physical fitness. This exercise can increase muscle mass and metabolic function of the muscles so that it becomes an important exercise in the condition of the metabolic syndrome. Muscle is the largest hormone-sensitive tissue in the human body, this tissue consumes a lot of oxygen and consumes most of the glucose through the mediation of insulin. Weight training results in hypertrophy or increase in muscle mass and hyperplasia or increase in the number of muscle cells. Various biomolecular mechanisms can explain the hypertrophy and hyperplasia processes including the anabolic mTOR pathway, the catabolic pathway myostatin - Smad and the repair pathway by Satellite Cells. Understanding of the biomolecular process can provide a theoretical foundation in developing a weight training program so that the exercise becomes effective and safe.Keyword : weight training, metabolic syndrom, muscle hipertrophy
Co-Authors -, Wahyuddin A. A. Parama Swari Khrisna, A. A. Parama Swari Adhitya, I Putu Gde Surya Adiatmika, I Putu Aditya Prana, I Ketut Wedarthana Adyasputri, A.A. Istri Ayesa Febrinia Al Banna, Damha Alex Pangkahila Ali Imron, Muh. Antyesti, Aryaning Dwi Arenza, Mezzi Wulandari Ari Wibawa Astiti Suadnyana, Ida Ayu Ayu Vitalistyawati, Luh Putu Bagus Komang Satriyasa Baktiyasa, I Nyoman Darmawan, Gede Desy Dewa Putu Sutjana Dewi, Agung Istri Eko Wibowo Evitamala, Lilik Fatchurahman, Reza Gunarto, Wahyu I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Ketut Suyasa I Made Jawi I Made Krisna Dinata I Made Muliarta I Made Niko Winaya I Nengah Sandi I Nyoman Adiputra I P G Adiatmika I Putu Gede Adiatmika I Putu Sutha Nurmawan I Wayan Weta Ida Ayu Dewi Wiryanthini Imaculata Date, Maria Imron, Muh. Ali INDAHSARI, PUTU RINA Ingrid Robot, Joanne J Alex Pangkahila J. Alex Pangkahila Jaya, I Putu Prisa Ketut Tirtayasa Khaerul Anam Loda, Imakulata Magi Luh Made Indah Sri Handari Adiputra LUH MADE INDAH SRI HANDARI ADIPUTRA Luh Putu Ratna Sundari, Luh Putu Ratna M. Ali Imron M. Irfan Made Muliarta Mahadewa, Tjokorda Gde Bagus Manik, James W H Muh Irfan Muh. Irfan Muhammad Irfan Munawarah, Mutiah Munawaroh, Muthia Munawaroh, Muthiah Muthiah Munawwarah Ngurah, Ida Bagus Ni Komang Ayu Juni Antari, Ni Komang Ayu Ni Luh Nopi Andayani, Ni Luh Nopi Ni Wayan Tianing Nila Wahyuni Nugraha, Made Hendra Satria Nugroho, Fendy Nugroho, Triyanto Oktovianus Fufu Pinatih, Gde Indraguna Pramana, I Made Dwi Apri Prianthara, I Made Dhita Purwani, I Gusti Ayu Mega Putu Dyah Wulandari Putri, Putu Dyah Putu Dyah Wulandari Putri, Putu Dyah Wulandari Ratna Sundari, Luh Putu Risna Dea Pramita, Risna Dea S. Indra Lesmana Sandi, Nengah Saraswati, Ni Luh Putu Gita Karunia Saraswati, Putu Ayu Sita Sari, Ni Putu Ayu Sasmita Sariaman, Agus Frandes Sastrawan, I Made Ari Sri Handari Adiputra, Luh Made Indah Sugijanto - Suryawan, I Nyoman Ari Susy Purnawati Usmany, Leandra Erdina Valentin, Lidia Vidiari J, Indira Wahyuni Novianti, I Gusti Ayu Sri Warmadewi, Ni Kadek Utari Widayanto, Bambang Wiguna, I Nyoman Agus Pradnya Wintara, Gusti Agung Gede Rama Yanti, Made Kristira