Azhar Umar, Azhar
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

KEMAMPUAN GURU MENGANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA RAGAM TULIS SISWA Umar, Azhar
BAHAS Vol 18, No 2 (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kemampuan guru bahasa Indonesia mengklasifikasi kesalahan-kesalahan gramatikal di dalam bahasa Indonesia ragam tulis siswa serta kemampuan mereka melakukan tindak remedial terhadap kesalahan-kesalahan tersebut. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa kemampuan guru mengklasifikasi kesalahan gramatikal berada dalam kategori kurang sekali. Kemampuan guru melakukan tindak remedial juga berada dalam kategori yang sama.
Hubungan Penguasaan Struktur dan Ciri Kebahasaan Teks dengan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi Siswa Kelas VII SMP Negeri 23 Medan Tahun Pembelajaran 2014/2015 Manurung, Iin Pratiwi; Umar, Azhar
Asas: Jurnal Sastra Vol 4, No 1 (2015): asas
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ajs.v4i1.2263

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penguasaan struktur dan ciri kebahasaan teks dengan kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VII SMP Negeri 23 Medan. Yang menjadi sampel penelitian sebanyak 36 orang, yaitu kelas VII-K. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa penguasaan struktur teks siswa adalah baik dengan skor rata-rata = 69,05 dan standar deviasi = 11,93. Penguasaan ciri kebahasaan teks siswa berada di posisi baik dengan skor rata-rata = 71,27 dan standar deviasi = 9,07. Kemampuan menulis teks deskripsi siswa tergolong baik dengan skor rata-rata = 70,69 dan standar deviasi = 8,79. Berdasarkan uji normalitas, variabel X1 diperoleh nilai Lhitung = 0,1158, variabel X2 diperoleh Lhitung = 0,0854, dan variabel Y diperoleh Lhitung = 0,1391, kemudian setelah dikonsultasikan dengan Ltabel pada taraf signifikan 5% (N= 36) didapat Ltabel = 0,1478. Artinya, uji normalitas setiap variabel diperoleh Lhitung < Ltebel, yaitu (0,1158 < 0,1478), (0,0854 < 0,1478), dan (0,1391 < 0,1478) dinyatakan normal. Setelah dilakukan uji normalitas dan linearitas, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Dari tabel product moment pada taraf signifikan 5% (N= 36) didapat rtabel = 0,329. Setelah harga rxy dikonsultasikan terhadap rtabel pada variabel  X1 terhadap Y (0,68 > 0,329), variabel X2 terhadap Y (0,32 > 0,329), dan variabel X1 terhadap X2 (0,72 > 0,329) maka rxy memenuhi kriteria pengujian hipotesis atau dengan kata lain terdapat hubungan antara penguasaan struktur dan ciri kebahasaan teks dengan kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VII SMP Negeri 23 Medan Tahun Pembelajaran 2014/2015. Kata kunci : penguasaan struktur, ciri kebahasaan,  Kemampuan menulis teks deskripsi
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING, DAN ORGANIZING) OLEH GURU DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS DESKRIPTIF KELAS VII SMP NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN TAHUN PEMBELAJARAN 2018/2019 Patimah, Patimah; Umar, Azhar
Asas: Jurnal Sastra Vol 8, No 1 (2019): ASAS : Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.436 KB) | DOI: 10.24114/ajs.v8i1.13122

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui sekaligus mendeskripsikan penerapan model pembelajaran CORE (connecting, organizing, reflecting, dan extending) oleh guru dalam pembelajaran menulis teks deskriptif kelas VII SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan. Subjek penelitian ini adalah satu orang guru bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan dan dan siswa kelas VII-6 berjumlah 27 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah metode Deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data dilakukan  dengan cara observasi partisipasi pasif (nonpartisipan) karena peneliti memang hadir di tempat kegiatan penelitian atau orang yang diamati, tetapi peneliti tidak terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Di lihat dari pelaksanaan model pembelajaran Core selama proses pembelajaran, diperoleh hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CORE (connecting, organizing, reflecting, dan extending) yang dilaksanakan guru dalam pembelajaran menulis teks deskriptif di kelas VII SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan mendapat nilai 75 dan guru termasuk ke dalam kategori baik dalam menerapkan model pembelajaran di sekolah.Kata kunci: Model Core, Pembelajaran, Menulis Teks Deskriptif.
ANALISIS KEKOHESIFAN BERBAGAI GENRE WACANA PADA BUKU BAHASA INDONESIA SISWA SMA KELAS X Umar, Azhar; ddin, Basyaru; Hutagalung, Trisnawati
BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Penelitian ini bertujuan memeroleh data mengenai: (a) ketepatan penggunaan pemarkah kohesi gramatikal (b)  bentuk pemarkah kohesi gramatikal yang dominan digunakan (c)  ketepatan penggunaan pemarkah kohesi leksikal dalam  berbagai genre wacana (d)  bentuk pemarkah kohesi leksikal yang dominan digunakan di dalam  berbagai genre wacana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-sinkronis dan data dalam penelitian ini adalah penggunaan pemarkah kohesi di dalam berbagai genre  wacana pada buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik untuk siswa SMA kelas X. Penggunaan pemarkah kohesi gramatikal di dalam genre teks laporan hasil observasi,  prosedur, eksposisi, anekdot, dan teks negosiasi telah dilakukan dengan tepat.  Pemarkah kohesi gramatikal yang dominan digunakan di dalam genre teks adalah pemarkah kohesi referensi.  Penggunaan pemarkah kohesi leksikal telah dilakukan dengan tepat. Pemarkah kohesi leksikal yang dominan digunakan di dalam genre teks adalah pemarkah kohesi repetisi.
ANALISIS KEKOHESIFAN BERBAGAI GENRE WACANA PADA BUKU BAHASA INDONESIA SISWA SMA KELAS X Umar, Azhar; ddin, Basyaru; Hutagalung, Trisnawati
BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS
Publisher : BAHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bhs.v28i4.10081

Abstract

 Penelitian ini bertujuan memeroleh data mengenai: (a) ketepatan penggunaan pemarkah kohesi gramatikal (b)  bentuk pemarkah kohesi gramatikal yang dominan digunakan (c)  ketepatan penggunaan pemarkah kohesi leksikal dalam  berbagai genre wacana (d)  bentuk pemarkah kohesi leksikal yang dominan digunakan di dalam  berbagai genre wacana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-sinkronis dan data dalam penelitian ini adalah penggunaan pemarkah kohesi di dalam berbagai genre  wacana pada buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik untuk siswa SMA kelas X. Penggunaan pemarkah kohesi gramatikal di dalam genre teks laporan hasil observasi,  prosedur, eksposisi, anekdot, dan teks negosiasi telah dilakukan dengan tepat.  Pemarkah kohesi gramatikal yang dominan digunakan di dalam genre teks adalah pemarkah kohesi referensi.  Penggunaan pemarkah kohesi leksikal telah dilakukan dengan tepat. Pemarkah kohesi leksikal yang dominan digunakan di dalam genre teks adalah pemarkah kohesi repetisi.
HUBUNGAN PEMAHAMAN STRUKTUR DAN CIRI KEBAHASAAN DENGAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS ANEKDOT SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 MEDAN Aulia, Garin Akbar; Umar, Azhar
Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.534 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman struktur  dan ciri kebahasaan terhadap kemampuan menulis teks anekdot siswa kelas x sma negeri 4 medan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 4 Medan yang terdiri dari 14  kelas dengan jumlah 490 orang. Sampel yang diambil adalah 32 orang dari jumlah kelas yang telah ditentukan. Metode yang digunakan adalah metode Ex post facto.  Data pemahaman struktur, ciri kebahasaan, dan kemampuan menulis teks anekdot siswa dijaring dengan menggunakan objektif tes sebanyak 40 soal dan essay tes yang disusun berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum dilakukan pengujian data terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yaitu uji normalitas dan uji linieritas. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa  data berdistribusi normal. Setelah dilakukan perhitungan uji normalitas Lhitung  < Ltabel pada taraf signifikan. Hasil uji normalitas untuk data pemahaman struktur (0.0968< 0.1568 ) ciri kebahasaan (0.1193 < 0.1568) dan kemampuan menulis teks anekdot (0.1520 < 0.1568). Hasil korelasi antar variabel menunjukkan bahwa hubungan pemahaman struktur terhadap kemampuan menulis teks anekdot memiliki koefesien determinan korelasi ganda sebesar 69,39%, hubungan pemahaman ciri kebahasaan terhadap kemampuan menulis teks anekdot memiliki koefesien determinan korelasi ganda sebesar 22,37% dan hubungan pemahaman struktur, dan ciri kebahasaan terhadap kemampuan menulis teks anekdot memiliki koefesien determinan korelasi ganda sebesar 33,99%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara hubungan pemahaman struktur, dan ciri kebahasaan terhadap kemampuan menulis teks anekdot oleh siswa kelas X SMA Negeri 4.Kata Kunci : Teks Anekdot, Struktur, Ciri Kebahasaan, dan Kemampuan                                MenulisAbstract. This study aims to determine the relationship between the understanding of structure and linguistic characteristics of the ability to write Anecdote texts in grade X senior high school students in 4 fields. The population of this study was all students of class X SMA 4 Medan  which consisted of 14 classes with a total of 490 people. The sample taken is 32 people from the number of classes that have been determined. The method used is the Ex post facto method. Data on understanding structure, linguistic characteristics, and the ability to write Anecdote texts of students are captured by using objective tests of 40 test questions and essays arranged based on the objectives to be achieved. Before testing the data, the test requirements for the analysis were carried out first, namely the normality test and linearity test. Based on the results of the analysis obtained that the data is normally distributed. After calculating the Lhitung normality test <Ltabel at a significant level. The normality test results for understanding structure data (0.0968 <0.1568) linguistic characteristics (0.1193 <0.1568) and Anecdote text writing ability (0.1520 <0.1568). The results of the correlation between variables indicate that the relationship between structural understanding of the ability to write Anecdote texts has a determinant of multiple correlation coefficients of 69.39%, the relationship of understanding linguistic characteristics to the ability to write Anecdote texts has a determinant of multiple correlation coefficients of 22.37% and relationship understanding structures, and linguistic characteristics of the ability to write Anecdote texts have a determinant of multiple correlation coefficients of 33.99%. So, it can be concluded that there is a positive and significant relationship between the relationship of understanding structure and linguistic characteristics to the ability to write Anecdote texts by class X students of SMA 4 Medan.Keywords: Anecdote Text, Structure, Language Characteristics, and Writing                   Ability
ANALISIS KOMPARATIF TATA BAHASA STRUKTURAL AMERIKA DAN TATA BAHASA GENERATIF TRANSFORMASIONAL Umar, Azhar
MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Vol 11, No 1 (2013): Medan Makna
Publisher : Balai Bahasa Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mm.v11i1.1009

Abstract

Abstrack:This paper attempts to explore and compare two grammar school is phenomenal and the most attention linguists in decades , the flow of American Structural Grammar ( TSA ) and Transformational Generative Grammar (TGT ). Both the grammar school has a very sharp distinction paradigm of language and assessment/analysis language. TSA pioneered Bloomfield moved from psychological behaviorism and logical positivism argue that human behavior can be explained by external circumstances and the truth can only be accepted as far as concrete and empirically tested . Therefore, TSA was very concerned about the corpus (data speech) language because that is empirical, most objective , and easily observed directly Meanwhile , TGT, which led Noam A. Chomsky, the mentalism-based psychology. TGT is of the opinion that the language is not the same as the corpus. Language is a system and a corpus of speech is only a manifestation of the system language. TSA stance, the study of language should be able to describe the language as it is, ie, as it is used objectively-empirically by the user of the language is not as it should be (Oka and Suparno, 1994:297). From these figures it can be affirmed that the TSA has focused on the description and classification of data language performance (performance) through the use of the principle of direct subordinate element analysis (immediate constituent), According to IGT, any science that developed at the end should have a more distant destination, not just describe and classify the language of assessment data.Key words : performance studies and language competenceAbstrak :Tulisan ini mencoba menelusuri dan membandingkan dua aliran tata bahasa yang fenomenal dan yang paling menyita perhatian para linguis dalam beberapa dekade, yakni aliran Tata Bahasa Struktural Amerika (TSA) dan Tata Bahasa Generatif Transformasional (TGT). Kedua aliran tata bahasa ini memiliki perbedaan paradigma yang sangat tajam mengenai bahasa dan pengkajian/analisis bahasa. TSA yang dipelopori Bloomfield beranjak dari psikologi behaviorisme dan logika positivisme yang berpikiran bahwa perilaku manusia bisa diterangkan berdasarkan situasi-situasi eksternal dan kebenaran hanya diterima sejauh dapat diuji secara konkret dan empirik. Karena itulah, TSA sangat memerhatikan korpus (data ujaran) bahasa karena hal itulah yang empirik, paling objektif, dan mudah diamati secara langsung Sementara itu, TGT, yang dimotori Noam A. Chomsky, berbasis psikologi mentalisme. TGT berpendirian bahwa bahasa tidak sama dengan korpus. Bahasa adalah sistem dan korpus ujaran hanya manifestasi dari sistem bahasa itu. TSA berpendirian, penelitian bahasa harus mampu menggambarkan bahasa sebagaimana adanya, yakni sebagaimana ia dipakai secara objektif-empirik oleh pemakai bahasa bukan sebagaimana seharusnya (Oka dan Suparno, 1994:297). Dari gambaran ini dapat ditegaskan bahwa TSA memusatkan perhatiannya pada pendeskripsian dan pengklasifikasian data performansi bahasa (performance) melalui penggunaan prinsip analisis unsur bawahan langsung (immediate constituent), Menurut TGT, setiap ilmu yang berkembang pada akhirnya harus mempunyai tujuan yang lebih jauh, tidak hanya sekedar mendeskripsikan dan mengklasifikasikan data pengkajian bahasa. Kata-kata kunci: studi performansi dan kompetensi bahasa
STRATIFIKASI SOSIAL DALAM BAHASA INDONESIA Umar, Azhar
MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2007): Medan Makna
Publisher : Balai Bahasa Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mm.v4i1.838

Abstract

Abstrak :Pertumbuhan bahasa Indonesia tampak sudah semakin matang. Dia telah berhasil menjadi bahasa kemajuan sosial sebagaimana bahasa Belanda pada zaman kolonial. Dia pun telah pula mampu menjadi warna perluasan komunikasi. Menurut Khaidir Anwar (1987:57-58), istilah-istilah yang terdapat di dalamnya pun sudah bersifat lebih teknis, slogan-slogannya sudah lebih abstrak. Tetapi pertumbuhan bahasa Indonesia dewasa ini lebih ditentukan oleh kalangan elite masyrakat Indonesia. Pada saat yang sama, keterlibatan massa dalam pengemvbangan bahasa Indonesia jadi agak menurun. Elite masyarakat ini tampaknya memiliki kecenderungan untuk tidak lagi menggunakan kata-kata yang sudah merakyat, seperti pakaian, buta huruf, dan ahli, misalnya, melainkan menggantinya dengan busana, niraksara, dan pakar atau kata-kata asing. Bahasa-bahasa ini mengasosiasikan lapisan sosial yang lebih tinggi, dan karenanya asing bagi massa.KATA KUNCI: stratifikasi sosial, bahasa.