Articles

Found 5 Documents
Search

Activity of Ketepeng Cina (Cassia alata Linn) Leaves Extract to Cercospora personatum growth Linda, Riza; Khotimah, Siti; Elfiyanti, Elfiyanti
Biopropal Industri Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.022 KB)

Abstract

Ketepeng cina (Cassia alata Linn.) was known as vegetal fungicides because it contains toxic materials to fungi. This study aimed to determined the concentration of ketepeng cina (Cassia alata Linn.) leaves extract that effective in inhibiting the growth of Cercospora personatum and to know the fungicide activity of ketepeng cina (Cassia alata Linn.) leaves extract on the growth of Cercospora personatum. This research was conducted through stage that were manufactured PDA media, isolation of Cercospora sp. and extracting ketepeng cina leaves. Fungicidal activity test was done using poisoning food method with 6 concentration level: 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, and 5%. Experiment using Completely Randomized Design with 6 treatments and 3 replications, effect of variance between treatment were analyzed and followed by Duncans test. The results showed that the concentration of 3% effective in inhibiting the growth of Cercospora personatum. Fungicidal activity of leaves extract ketepeng cina against fungi Cercospora personatum categorized as strong in concentrations ≥ 3% and nature fungistatic.
KEANEKARAGAMAN JENIS TANAMAN PEKARANGAN DI DESA PAHAUMAN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK, KALIMANTAN BARAT -, Mukarlina; Linda, Riza; Nurlaila, Nunung
Saintifika Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luas pekarangan di Desa Pahauman semakin berkurang karena banyak area yang digunakan untuk pembangunan dan perluasan jalan. Hal ini dapat mengurangi luas lahan hijau yang sangat diperlukan di daerah tersebut terutama lahan pekarangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis dan keanekaragaman jenis tanaman yang ditanam di pekarangan dengan luas yang berbeda di Desa Pahauman. Metode yang digunakan adalah Purposive Random Sampling yakni berdasarkan kategori pekarangan sempit (151m²-300m²), pekarangan sedang (301m²-450m²), dan pekarangan luas (451m²-600m²). Hasil yang diperoleh bahwa keanekaragaman jenis tanaman tergolong rendah pada pekarangan sempit (H’ 0,8731), dan tinggi pada pekarangan sedang (H’ 4,0520) dan pekarangan luas (H’ 3,9944). Tidak terdapat tanaman yang mendominasi di setiap kategori pekarangan.
HEMATOLOGI PERBANDINGAN HEWAN VERTEBRATA: LELE (Clarias batracus), KATAK (Rana sp.), KADAL (Eutropis multifasciata), MERPATI (Columba livia) DAN MENCIT (Mus musculus) Rousdy, Diah Wulandari; Linda, Riza
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7, No 1 (2018): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v7i1.2538

Abstract

ABSTRACTHematology studies between Vertebrate classes can provide supporting data related to animal activities and adaptation to their habitat. Low Vertebrate ektoterm showed different hemotological profil than endoderm Vertebrate. The aims of this study is to compare hematological profile between Vertebrate which includes five classes animal taxon. Animal species was taken randomly, considered to represent the five classes taxon: Clarias batracus from Class Pisces, Rana sp. from Class Amphibia, Eutropis multifasciata from Class Reptilia, Columba livia from Class Aves and Mus musculus from Class Mammalia. Hematology parameters were observed was hemoglobins, HCT, erythrocyte count, leukocyte count, leukocyte differential, MCV, MCH and MCHC. The result showed Vertebrate from Class Pisces (catfish), amphibian (frogs) and reptiles (lizards) had hemoglobin, hematocrit, erythrocytes higher than Aves and Mammals. Leucocytes count in Class Pisces, Amphibians, Reptiles and Aves range 12.000-19.000 cells/mL higher than mammal leukocyte 5000 cells/mL. Differential leukocyte in catfish, frogs, lizards, pigeons and mice have the highest percentage of lymphocytes (37-62%). Keywords: catfish, frog, hematology, lizard, mice, pigeon, vertebrate ABSTRAKStudi hematologi hewan kelas Vertebrata dapat memberikan data pendukung terkait aktivitas hewan dan adaptasi terhadap habitatnya. Hewan Vertebrata tingkat rendah yang ektoterm mempunyai profil hematologi yang berbeda dengan Vertebrata tinggi yang sebagian besar endoterm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan profil hematologi antar hewan Vertebrata yang meliputi lima kelas hewan takson. Hewan sampel diambil secara acak dari populasi hewan yang mewakili lima kelas takson: Clarias batracus dari kelas Pisces, Rana sp. dari kelas Amfibi, Eutropis multifasciata dari kelas Reptil, Columba livia dari kelas Aves dan Mus musculus dari kelas Mammalia. Parameter hematologi yang diamati adalah hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit, jumlah leukosit, leukosit diferensial, MCV, MCH dan MCHC. Hasil pengukuran hematologi menunjukkan Vertebrata dari kelas Pisces (lele), Amfibi (katak) dan Reptil (kadal) memiliki hemoglobin, hematokrit, eritrosit lebih tinggi dari pada Aves dan Mamalia. Jumlah leukosit di kelas Pisces, Amfibi, Reptil, dan Aves berkisar 12.000-19.000 sel/mL lebih tinggi dari leukosit mamalia yakni 5000 sel/mL. Pengamatan leukosit diferensial pada ikan lele, katak, kadal, merpati, dan tikus menunjukkan persentase limfosit tertinggi (37-62%) dibanding jenis leukosit lain. Kata kunci: ikan lele, katak, hematologi, kadal, mencit, merpati, vertebrata
Jenis-Jenis Jamur Makroskopis Anggota Kelas Basidiomycetes Di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat Rahmawati, Rahmawati; Linda, Riza; Tanti, Nina Yuni
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur makroskopis dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat.Pada ekosistem hutan, jamur makroskopis berperan sebagai dekomposer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis jamur makroskopis anggota kelas Basidiomycetes yang terdapat di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan dalam penentuan stasiun sampling adalah purposive sampling dengan memilih 3 stasiun berdasarkan perbedaan rona lingkungan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode jelajah (Cruise Method). Identifikasi jamur makroskopis dengan mencocokkan karakteristik morfologis sampel dengan buku identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 18 jenis jamur makroskopis yang termasuk ke dalam empat Ordo, yaitu Aphyllophorales, Agaricales, Auriculariales dan Polyporales. Jamur makroskopis yang ditemukan mendominasi berasal dari Ordo Aphyllophorales, seperti Pycnoporus sanguineus, Polyporus versicolor, Polyporus varius, Schizophyllum commune, Thelephora palmata, Earliella scabrosa, Lignosus rhinocerus, Trametes versicolor, Heterobasidion annosum dan Ganoderma applanatum. Beberapa jenis jamur makroskopis yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat setempat adalah spesies Auricularia polytricha, Hygrocybe conica, Pleurotus ostreatus dan Schizophyllum commune. Kata kunci – diversitas – Kalimantan– jamur makroskopis– Basidiomycetes
KEANEKARAGAMAN JENIS TANAMAN PEKARANGAN DI DESA PAHAUMAN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK, KALIMANTAN BARAT -, Mukarlina; Linda, Riza; Nurlaila, Nunung
Saintifika Vol 16 No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luas pekarangan di Desa Pahauman semakin berkurang karena banyak area yang digunakan untuk pembangunan dan perluasan jalan. Hal ini dapat mengurangi luas lahan hijau yang sangat diperlukan di daerah tersebut terutama lahan pekarangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis dan keanekaragaman jenis tanaman yang ditanam di pekarangan dengan luas yang berbeda di Desa Pahauman. Metode yang digunakan adalah Purposive Random Sampling yakni berdasarkan kategori pekarangan sempit (151m²-300m²), pekarangan sedang (301m²-450m²), dan pekarangan luas (451m²-600m²). Hasil yang diperoleh bahwa keanekaragaman jenis tanaman tergolong rendah pada pekarangan sempit (H? 0,8731), dan tinggi pada pekarangan sedang (H? 4,0520) dan pekarangan luas (H? 3,9944). Tidak terdapat tanaman yang mendominasi di setiap kategori pekarangan.