Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Kedokteran Syiah Kuala

HUBUNGAN MEROKOK DENGAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kebiasaan merokok merupakan prilaku yang dapat mengakibatkan dampak negatif  bagi kesehatan tubuh seseorang, yaitu dapat menyebabkan perubahan struktur, fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru. Asap  rokok mengandung susunan senyawa gas dan partikel seperti karbon dioksida, air, karbon monoksida, partikular (kebanyakan tar), nikotin, nirtogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, formaldehida, fenol dan puluhan lainnya senyawa beracun terkenal. Saluran pernapasan adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas yang diperlukan untuk proses pernapasan, jika ada asap rokok maka mudah terjadi obstruksi jalan napas yang dapat mengakibatkan sesak napas.Abstract. The smoking habit is a behaviour which can cause a negative impact for someone?s body helath, particularly it causes a stucture change, an airway function and a lung biopsy. A smoke consists of a gas compound structure and particle, such as carbon dioxide, water, carbon monoxide and particular (mostly tar), nicotine, nitrogene, oxide, hydrogen cyanide, ammonia, formaldehyde, pheno and other tens of poisonous famous compounds. An airway is a part of the human body which has a function to be a place for the passage and the gas exchange which are needed for a breathing process, so that if there is a smoke, the airway obstruction occurs easily which causes a short of breath.
EFEK OBSTRUKSI PADA SALURAN PERNAPASAN TERHADAP DAYA KEMBANG PARU Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Paru dapat mengembang dan mengempis dengan terjadi pertukaran gas yairu inspirasi pengambilan oksigen (O2) dan ekspirasi pengeluaran karbondioksida (CO2) melalui saluran pernapasan, jika terjadi peningkatan produksi sputum dan viskositas yang sulit untuk dibersihkan (obstruksi), juga akibat penyempitan saluran udara sehingga daya kembang paru terganggu. Tujuan penulisan efek obstruksi saluran pernapasan terhadap daya kembang paru supaya dapat memahami di saluran pernapasan mudah mengalami gangguan pembengkakan dan penyempitan sehingga berefek tidak kuat melakukan ekspirasi paksa, bila lama tidak sembuh maka mudah terjadi penyakit paru obstruksi (PPOK). Mendiagnosis daya kembang paru berdasarkan kapasitas vital paksa dan volume udara ekspirasi paksa adalah metode yang sangat membantuuntuk memeriksa fungsi saluran pernapasan dengan pengukuran spirometri, pada orang normal tidak obstruksi nilai ukur Forced Expiratory Volume In One Second (FEV1) mencapai ? 75%, bila ada obstruksi ? 75%. (JKS 2016; 1: 34-39)Kata Kunci: Saluran Pernapasan, ObstruksiAbstract. Lungs can inflate and deflate with the exchange of gas, the inspiration of oxygen (02) and the expiration of carbon dioxide (C02) through the respiratory tract. If the production of sputum and viscosity increases which is difficult to clean (obstruction) and the airways narrows, it can hinder the expandability of lung. The purpose of writing the effects of airway obstruction on the expandability of lung is to understand that the respiratory tract is easily swelling and narrowing, resulting in one?s inability to perform forced expiratory. If not immediately treated, chronic obstructive pulmonary disease (COPD) may develop. Diagnosing the expandability of lung based on forced vital capacity and forced expiratory of air volume is a very helpful method to check the function of the respiratory tract using spirometry measurements. In normal people who are not obstructed, the value of Forced expiratory volume in One Second (Fevi) is 75%, while in those who are, the value is 75%. (JKS 2016; 1: 34-39) Keywords: Respiratory, Obstruction
EFEK BEKERJA DALAM JARAK DEKAT TERHADAP KEJADIAN MIOPIA Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Beraktivitas dalam jarak dekat merupakan salah satu faktor resiko (efek) terjadinya miopia, semakin lama seseorang memfokuskan penglihatannya untuk melihat dekat semakin lama pula mata seseorang melakukan akomodasi, sehingga lama kelamaan mata akan lelah dan kondisi ini akan memicu pengaburan di retina dan mata menjadi tidak fokus. Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga oleh mata yang dalam keadaan tidak berakomodasi dibiaskan pada satu titik didepan retina, penglihatan jauh kabur, maka miopia merupakan penyebab utama gangguan penglihatan. Abstract. Eye is one of the human sensory organs that has the function to look. Someone?s vision is really determined by a light refraction inside the eyes, a vision media consisting of cornea, eye liquid, lens, glass lens and length of eye-ball. Refraction anomaly is one of the blindness causes in the world. Refraction anomaly is a ray refraction on eyes so that the ray is not focused on the retina or fovea, but in the front of or behind the fovea and perhaps it is not located on one focus point; if there is a light refraction anomaly inside the eyes, the observed objects are less clear (sightedness) caused by a light point that is not precised in retina (a light which is not focused in the retina), there are three types of a refraction anomaly, myopia, hyperopia, and astigmatism. 
PENYIMPANGAN REFLAKSI CAHAYA DALAM MATA PADA ANAK USIA SEKOLAH Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i3.9151

Abstract

Abstrak. Penyimpangan cahaya dalam mata sehingga cahaya tidak difokuskan pada retina atau bintik kuning, tetapi didepan atau dibelakang retina dan mungkin tidak terletak pada satu titik fokus. Dapat ditentukan oleh media penglihatan yaitu kornea, cairan mata, lensa, benda kaca, dan panjang bola mata. Kelainan refraksi kelompok usia sekolah mencapai 66 juta anak, jenis kelainanrefraksi miopia. Kelainan daya bias dapat dinetralkan dengan alat bantu berupa kaca mata.Kata kunci: Refraksi, Cahaya, miopia. Abstrac.Light deviation in the eye to light is not focused on the retina or yellow spots, but in front or behind the retina and may not lie in a single focal point. Can be determined by the visual media of the cornea, eye fluids, lenses, glass objects, and the length of the eyeball. Refractive disorders of the school age group reached 66 million children, a type of myopia refractive disorder. Bias power abnormalities can be neutralized with aids in the form of glasses. Keywords: Refraction, Light, myopia
GAMBARAN SPIROMETRI PADA IBU-IBU PENDERITA BATUK DI KECAMATAN DARUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Batuk merupakan suatu gejala penyakit yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Dapat menyebabkan perubahan pada sistem respirasi seperti penurunan ventilasi akibat tertimbun dahak, sehingga terganggu udara masuk dan keluar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran spirometri pada ibu-ibu penderita batuk di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripsi lapangan. Ibu-ibu yang sudah menderita batuk lebih dari tiga hari di ukur kekuatan mengeluarkan napas ekspirasi paksa atau Forced Expiratory Volume In One Second (FEV1), dalam menentukan jumlah sampel secara quota sampling sebanyak 40 orang. Hasil penelitian didapatkan bahwa penderita batuk mengalami obstruksi ringan 30 orang (75%), sedang 8 orang (20%), berat 2 orang (5%). Dapat disimpulkan bahwa penderita batuk menggambarkan kurang mampu menghembus nafas dengan kuat (ekspirasi paksa) melalui spirometer.Abstrak. Cough is a symptom that is much complained by people. It can cause the change on respiratory system, such as narrowing vent due to be covered with sputum, thus it can hamper air in and out. The purpose of this research was to know the description of spiometry on women who had cough at Darussalam sub-district of Aceh Besar regency. This research was done by applying field description method. The women who had cough more than three days were measured the strength of forced expiratory volume in one second (FEV1). The sampling method used was quota sampling on 40 respondents. The result of this research showed that the women who had mild obstruction was 30 respondents (75%), middle obstruction was 8 respondents (20%), severe cough was 2 respondents (5%). It can be concluded that the sufferers had the problem to blow breath strongly (Forced expiratory) through spirometry.
EFEK PERILAKU MEROKOK TERHADAP SALURAN PERNAPASA Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Perilaku merokok adalah menghisap tembakau yang dibakar kedalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menghembuskannya keluar, termasuk rokok kretek, rokok putih, atau bentuk lainnya yang asapnya mengandung susunan senyawa gas dan partikel seperti karbon dioksida, air, karbon monoksida, partikular (kebanyakan tar), nikotin, nirtogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, formaldehida, fenol dan puluhan lainnya senyawa beracun terkenal.Saluran pernapasan adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas yang diperlukan untuk proses pernapasan, jika ada asap rokok maka mudah terjadi obstruksi jalan napas yang dapat mengakibatkan sesak napas. (JKS 2016; 3: 191-194) Kata Kunci: Perilaku, merokok, saluran pernapasan ABSTRACT. Smoking behavior is the act of inhaling and exhaling the smoke fromburning tobaccosinto the body through the respiratory tract. This includes clove cigarettes, white cigarettes or any other forms of cigarettes containing composition of gaseous compounds and particles such as carbon dioxide, water, carbon monoxide, particular (mostly tar), nicotine, nitrogen oxide, hydrogen cyanide, ammonia, formaldehyde, phenol and dozens of other recognizedtoxiccompounds. The respiratory tract is the part of the human body that serves as a path and gas exchange essentialfor the breathing process. The smoke may obstruct airway leading to asphyxiate. (JKS 2016; 3: 191-194) Keywords: Behavior, smoking, respiratory tract
PERTUKARAN UDARA O2 DAN CO2 DALAM PERNAPASAN Saminan, Saminan
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Udara atmosfer norrnal yang kering adalah campuran gas-gas yang mengandung sekitar 79% Nitrogen (N2) dan 2l% oksigen (O2). Manusia bernapas sekitar 6 liter (6x10-3m3)  udara agar mendapatkan pasokan oksigen (O2) segar kedalam paru dan membuang karbon dioksida (CO2). Ketika kita menghembus napas alveoli menjadi lebih kecil. Pertukaran gas (O2 dan CO2) antara alveoli dan darah terjadi melalui difusi yang menyebarkan O2 dari alveoli kedalam darah dan CO2 dari darah ke alveoli. Perbedaan tekanan O2 dan CO2 di jaringan mempengaruhi transpor gas-gas melewati dinding alveolus, molekul O2 berdifusi lebih cepat dari pada molekul CO2 karena massanya lebih kecil. Apabila terdapat penyakit yang menyebabkan dinding alveolus menebal transpor O2 akan lebih ternganggu dibandingkan dengan transpor  CO2. Abstract. Normal dry afinospheric air is a mixture of gases containirtg about 97% Nitrogen (N2) And 21% oxygen (O2). Humans breathe approximately 6 quarts (6x10-3m3); of air, in order to get a supply of oxygen (O2) into the fresh pulmonary and dispose of carbon dioxide (CO2). When we exhale breath alveoli become smaller. Gas exchange (O2 and CO2) between the alveoli and the blood occrrrs by diffusion which spread frorn the alveoli into the blood O2  and CO2 from the blood irrto the alveoli. O2 and CO2 pressure differences in the network affects the hanspon of gases through the alveolar walls, O2  molecules diffuse faster than molecules of CO2: because its mass is smaller. If there is a disease that causeslthickefied alveolar walls O2 transport would be more disturbed than the transport of CO2.