Articles

DAYA HIDUP DAN INTENSITAS SERANGAN BUBUK KAYU KERING HETEROBOSTRYCHUS AEQUALIS WAT PADA KAYU PULAI (ALSTONIA SCHOLARIS R.BR) Sumarni, Ginuk; Jasni, Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2606.037 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.5.287-289

Abstract

 In  Indonesia  Heterobostrychus  aequalis  Wat is  a large size powder  post  beetle.  This species very commonly attacks highly  stachy  wood,  the  main  reason  why   they  are  used  in  this  experiment.In  this research pulai wood  (Alstonia  scholaris R.Br)  has been used for sample,  dried at temperature levels for 40°C, 60oC, 90oC, 100oC, 120oC, 150oC, 200oC and ambien air temperature.  On each side  of  wood  samples  ten  holes  were made  with  dimension  of 1,5 cm x 5 cm x 7 cm. Into  the hole larvaes of 1,5  month  old were placed.  The observations  were made  after  six  week  period.The result showed  that wood  dried on temperature  40°C could  reduce  the starch of about  9,08% so that  intensity of insect's  attack  were lower (score 44,2). High starch  content   was found  in the  wood  dried  at  temperature 200°C, that is 17,94%. In  this  sample  the  intensity   of  the  attack was higher,  that  scale  at  scoring.
KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT Muslich, Mohammad; Sumarni, Ginuk
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.3.191-200

Abstract

Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut (Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan.
KELAS AWET 25 JENIS KAYU ANDALAN SETEMPAT TERHADAP RAYAP KAYU KERING DAN RAYAP TANAH Sumarni, Ginuk; Muslich, Mohammad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.4.323 - 331

Abstract

Dua puluh lima jenis kayu andalan setempat yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat diuji keawetannya. Kayu contoh uji yang berukuran 5,0 cm x 2,5 cm x 2,0 cm diuji terhadaprayap kayu kering (Cryptotmnes rynocephalus Light.). Kayu contoh uji 2,0 cm x 0,5 cm x 0,5 cm diuji terhadap rayap tanah (Coptotermesc11rvignath11s Holmgreen.).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 jenis (36%) dari 25 jenis kayu yang diteliti masuk ke dalam kelas awet tinggi (kelas I dan II) terhadap Cryptotermes cynocepbalus Light., dan sisanya yaitu 16  jenis (64%) masuk ke dalam kelas awet rendah (kelas Ill,  IV dan V). Hasil penelitian terhadap terhadap Coptotermes mmignathus Holmgreen. satu jenis (4%) dari 25 jenis kayu yang diteliti masuk ke dalam kelas  awet II, sisanya 24 jenis (94%) masuk ke dalam kelas awet rendah (III, IV dan V).
KELAS AWET JATI CEPAT TUMBUH DAN JATI KONVENSIONAL PADA BERBAGAI UMUR POHON Sumarni, Ginuk; Muslich, Mohammad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.4.342 - 351

Abstract

Jati (Teaona grandis L.f.) cepat tumbuh yang dikembangkan melalui kultur jaringan yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan kayu dari hutan tanaman. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum banyak diketahui. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari kelas awetnya. Penelitian ini bertujuan membandingkan kelas awet antara jati cepat tumbuh dengan jati konvensional pada berbagai umur pohon. Contoh uji ukuran 5,0 cm x 2,5 cm x 2.0 cm diuji terhadap rayap kayu kering (Cryptotermescynocephal«:Light.), contoh uji ukuran 2.0 cm x 0.5 cm x 0.5 cm diuji terhadap rayap tanah (Coptotermes mrvignathus Holmgreen.) dan contoh uji 7,5 cm x 5 cm x 1,5 cm diuji terhadap bubuk kayu kering (Heterobostrych«s aequalis Waterh.) Hasil penelitian menunjukkan bahwa jati cepat rumbuh umur 5 dan 7 tahun serta jati konvensional umur 5, 7 dan 15 tahun mempunyai kelas awet rendah (kelas V-III) terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah dan mendapat serangan ringan terhadap bubuk kayu kering. Namun demikian jati konvensional umur 35 tahun memiliki kelas awet tinggi (kelas I) terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap serangan bubuk kayu kering.
PENGARUH SALINITAS TERHADAP SERANGAN PENGGEREK KAYU DI LAUT PADA BEBERAPA JENIS KAYU Muslich, Mohammad; Sumarni, Ginuk
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3153.18 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1987.4.2.46-49

Abstract

Marine  borers are wood destroying  organisms  living in the sea, brackish  and estuarine  water. Environmental   conditions  such as salinity, pollution  and temperature  of  the sea water influence  the activities  and precence  of  marine  borers.One hundred pieces of wood from  five  species had been exposed  to marine borers in four  different  salinities for  nine months. The test sites chosen were around  Gulf  of Jakarta  i.e.  about 3 km off  shore, and at three  locations  along  a canal of  brackish fishpond,  respectively  in the estuary,  1  km  and 2 km from the shore.The result shows that at the sea site where the salinity  is relatively stable around 29 ‰ – 30‰ ,  all of the wood tested are badly attacked  by Mollusc  belonging  to the species of Martesia  striata  Linne.,  Dicyathifer  manni  Wright.,  and  Bankia  campanellata  Moll/Roch.    Along  the canal where the salinity is between 5‰-30‰, damage is only small.  The result also shows no sign of attack on all samples exposed  along the canals, although  the salinity is not significantly  different  from that of  the estuary.
KELAS AWET 25 JENIS KAYU ANDALAN SETEMPAT TERHADAP RAYAP KAYU KERING DAN RAYAP TANAH Sumarni, Ginuk; Muslich, Mohammad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.4.323 - 331

Abstract

Dua puluh lima jenis kayu andalan setempat yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat diuji keawetannya. Kayu contoh uji yang berukuran 5,0 cm x 2,5 cm x 2,0 cm diuji terhadaprayap kayu kering (Cryptotmnes rynocephalus Light.). Kayu contoh uji 2,0 cm x 0,5 cm x 0,5 cm diuji terhadap rayap tanah (Coptotermesc11rvignath11s Holmgreen.).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 jenis (36%) dari 25 jenis kayu yang diteliti masuk ke dalam kelas awet tinggi (kelas I dan II) terhadap Cryptotermes cynocepbalus Light., dan sisanya yaitu 16  jenis (64%) masuk ke dalam kelas awet rendah (kelas Ill,  IV dan V). Hasil penelitian terhadap terhadap Coptotermes mmignathus Holmgreen. satu jenis (4%) dari 25 jenis kayu yang diteliti masuk ke dalam kelas  awet II, sisanya 24 jenis (94%) masuk ke dalam kelas awet rendah (III, IV dan V).
KELAS AWET JATI CEPAT TUMBUH DAN JATI KONVENSIONAL PADA BERBAGAI UMUR POHON Sumarni, Ginuk; Muslich, Mohammad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6010.792 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.4.342 - 351

Abstract

Jati (Teaona grandis L.f.) cepat tumbuh yang dikembangkan melalui kultur jaringan yang bertujuan untuk meningkatkan pasokan kayu dari hutan tanaman. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum banyak diketahui. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari kelas awetnya. Penelitian ini bertujuan membandingkan kelas awet antara jati cepat tumbuh dengan jati konvensional pada berbagai umur pohon. Contoh uji ukuran 5,0 cm x 2,5 cm x 2.0 cm diuji terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.), contoh uji ukuran 2.0 cm x 0.5 cm x 0.5 cm diuji terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgreen.) dan contoh uji 7,5 cm x 5 cm x 1,5 cm diuji terhadap bubuk kayu kering (Heterobostrychus aequalis Waterh.) Hasil penelitian menunjukkan bahwa jati cepat tumbuh umur 5 dan 7 tahun serta jati konvensional umur 5, 7 dan 15 tahun mempunyai kelas awet rendah (kelas V-III) terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah dan mendapat serangan ringan terhadap bubuk kayu kering. Namun demikian jati konvensional umur 35 tahun memiliki kelas awet tinggi (kelas I) terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap serangan bubuk kayu kering.
KEAWETAN KAYU TUSAM (Pinus merkusii Jungh. et de Vr.) DAN MANGIUM (Acacia mangium Willd.) SETELAH FURFURILASI Balfas, Jamal; Sumarni, Ginuk
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 7 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1541.841 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.7.259-265

Abstract

Two regrowth wood species, i.e. tusam (Pinus merkusii Jungh. et de Vr.) and mangium (Acacia mangium Wild.) were used in this study. Specimens measuring 25 mm x 25 mm x 50 mm and 5 mm x 25 mm x 25 mm were prepared for testing against dry-wood termite (Cryptotermes) and subteranean termite (Coptotermes) respectively. All specimens were air-dried  to approxi mately 16-18%  moisture content. One group of the specimens was further  oven - dried to reach moisture  content of  6-8%.  Furfurylation  was carried out by soaking  wood specimens for 24 hours  in a 98% fuifuryl  alcohol  solution  containing  0.35%  (v/v) of  ZnCl2  as catalyst. Furfurylated specimens were then cured at  l000C  for 48 hours.  Control and treated specimens were exposed to dry-wood and subteranean termites for 12 and 4 weeks respectively.Treated specimens revealed a weight gains of  10 to 40 % depending on size of specimens and  wood species. Speciesmens usd for testing drywood termites gained less weight than those of  subteranean termites. Tusam  specimens  markedly  showed  a  higher  weight  gain  than mangium.  Furfurylation using method 1 resulted in comparable weight gain to that of method 2. Control specimens of tusam an mangium are both encountered susceptible to dry-wood and subteranean  termite  attacts.  Tusam  had  less initial durability  against  Coptotermes  than mangium, but the wood species had a similar durability against Cryptotermess.  The modified wood with furfuryl alcohol abviously possessed an improved durability  upon the two termites. Tusam specimens gained more durability improvement than mangium.
KELAS AWET 25 JENIS KAYU ANDALAN SETEMPAT JAWA BARAT DAN JAWA TIMUR TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT Muslich, Mohammad; Sumarni, Ginuk
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4725.353 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.1.70-80

Abstract

Dua puluh lima jenis kayu andalan setempat dari Jawa Barat dan Jawa Timur diuji sifat ketahanannya terhadap serangan penggerek di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, setiap jenis kayu diulang 10 kali, kemudian direnteng dengan tali plastik dan dipasang di perairan Pulau Rambut selama 6 bulan pada kedalaman 1 m dibawah permukaan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua contoh uji mendapat serangan berat oleh Martesia striata Linne dari famili Pholadidae, Teredo bartchi Clap., Dicyathifer manni Wright. dan Bankia cieba Clench. and Nausitora dryas Dall. dari famili Teredinidae. Satu dari 25 jenis kayu, yaitu Azadirachta indica A.Juss. tahan terhadap penggerek di laut. Jenis kayu tersebut termasuk katagori kelas awet II dan cocok untuk bangunan kelautan.
LAJU SERANGAN PHOLADIDAE DAN TEREDINIDAE PADA BEBERAPA JENIS KAYU Muslich, Mohammad; Sumarni, Ginuk; Hadjib, Nurwati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 7 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1702.899 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.7.400-403

Abstract

The Mollusca  wood  borers,  normally  found  in Indonesian  sea waters, are divided  into  two  types,  i.e. Pholadidae  and Teredinidae.   Both  types  have different  characteristic  nature  of  infestation to  wood. This paper  deals with  a study on the borer  infestation   to  seven  tropical  commercial   wood  species.The  study   was  conducted at  Rambut Island  seashore  (on Java Sea)  using wood  samples  measuring  2.5 cm  by 5.0 cm by  80.0 cm.  The samples  were  randomly arranged at a raft  and  observed  after  8,  7 and  12 months.The  result  reveal  that  after 12  months most   of  the  samples  were  completely    attacked   by  the  Pholadidae  and Teredinidae.  However moderate  borer infestation was shown by  Eusideroxylon   zwageri, which  means that  this species  is relatively   resistant  to  marine  borers  infestation. Meanwhile,  the  infestation   rates  of  Pholadidae  and  Teredinidae   are significantly   different, and  they  have different characteristic