Articles

Found 8 Documents
Search

KUALITAS BIBIT MERAWAN (Hopea odorata Roxb.) ASAL KOFFCO SYSTEM PADA BERBAGAI UMUR Junaedi, Ahmad; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.3.265-274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi umur bibit merawan (Hopea odorata Roxb.) asal KOFFCO system yang siap tanam berdasarkan pertumbuhan dan kualitas fisik bibit pada tiga tingkat umur yang dikaji. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit merawan umur lima bulan setelah tanam (5 BST), tujuh bulan setelah tanam (7 BST), dan Sembilan bulan setelah tanam (9 BST). Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih dengan metode simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter pertumbuhan bibit merawan asal KOFFCO system dipengaruhi secara nyata (p<0,1) oleh tingkat umur. Berdasarkan besaran pertumbuhan dan mutu fisik bibit, bibit akan siap tanam pada umur sembilan BST. Pada umur tersebut tinggi bibit lebih dari 20 cm, rasio pucuk akar (RPA) sama dengan dua dan IMB lebih dari 0,09.
KUALITAS FISIK BIBIT MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) ASAL STEK PUCUK PADA TIGA TINGKAT UMUR Junaedi, Ahmad; Hidayat, Asep; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan kualitas fisik bibit meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) asal perbanyakan stek pucuk pada tiga tingkat umur. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit meranti tembaga umur sebelas bulan setelah sapih (11 BSS), 12 BSS, dan 14 BSS.  Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih  dengan menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi bibit umur 14 BSS (40,1 cm) berbeda secara nyata (p < 0,05) dengan umur 11 BSS (32,6 cm) dan 12 BSS (32,6 cm); sedangkan kualitas fisik bibit antartingkat umur tidak berbeda nyata. Pada umur bibit 11 BSS bibit sudah siap tanam dengan tinggi 32,6 cm; kekokohan 10,79; rasio pucuk akar 2,58; dan indeks mutu bibit 0,28
KUALITAS BIBIT MERAWAN (Hopea odorata Roxb.) ASAL KOFFCO SYSTEM PADA BERBAGAI UMUR Junaedi, Ahmad; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi umur bibit merawan (Hopea odorata Roxb.) asal KOFFCO system yang siap tanam berdasarkan pertumbuhan dan kualitas fisik bibit pada tiga tingkat umur yang dikaji. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit merawan umur lima bulan setelah tanam (5 BST), tujuh bulan setelah tanam (7 BST), dan Sembilan bulan setelah tanam (9 BST).   Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih dengan metode simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter pertumbuhan bibit merawan asal KOFFCO system dipengaruhi secara nyata (p<0,1) oleh tingkat umur. Berdasarkan besaran pertumbuhan dan mutu fisik bibit, bibit akan siap tanam pada umur sembilan BST. Pada umur tersebut tinggi bibit lebih dari 20 cm, rasio pucuk akar (RPA) sama dengan dua dan IMB lebih dari 0,09.
KUALITAS FISIK BIBIT MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) ASAL STEK PUCUK PADA TIGA TINGKAT UMUR Junaedi, Ahmad; Hidayat, Asep; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.3.281-288

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan kualitas fisik bibit meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) asal perbanyakan stek pucuk pada tiga tingkat umur. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit meranti tembaga umur sebelas bulan setelah sapih (11 BSS), 12 BSS, dan 14 BSS.  Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih  dengan menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi bibit umur 14 BSS (40,1 cm) berbeda secara nyata (p < 0,05) dengan umur 11 BSS (32,6 cm) dan 12 BSS (32,6 cm); sedangkan kualitas fisik bibit antar tingkat umur tidak berbeda nyata. Pada umur bibit 11 BSS bibit sudah siap tanam dengan tinggi 32,6 cm; kekokohan 10,79; rasio pucuk akar 2,58; dan indeks mutu bibit 0,28
Keanekaragaman Genetik Scorodocarpus borneensis di Riau Berdasarkan Penanda Molekuler RAPD Frianto, Dodi; Rasyad, Aslim; Roslim, Dewi Indriyani
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2018.2.1.27-38

Abstract

Kulim (Scorodocarpus borneensis) merupakan tumbuhan yang hidup di dataran rendah, termasuk dalam kelompok famili Olacaceae dan Ordo Santalale Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keanekaragaman genetik di dalam dan antar populasi kulim berdasarkan penanda RAPD di Provinsi Riau dengan menggunakan sampel yang berasal dari  3  populasi  yaitu  populasi  Bengkalis, Kampar dan Indragiri Hulu. Ekstraksi  kambium dilakukan  dengan  modifikasi  metode  cetyl  trimethyl  ammonium bromida (CTAB).  Amplifikasi  DNA  dilakukan  dengan metode  Random  Amlified  Polymorphic  DNA (RAPD)  pada   mesin  PCR System 9700 Applied Biosystems.   Primer  yang  digunakan  adalah  6  primer  hasil  optimasi  keluaran Operon Technology yaitu OPC-6, OPY-6, OPY-13, OPY-14, OPO-6,dan OPW-4.  Dari  total  51  lokus  yang  terdeteksi,  47 (92,16%)  merupakan  lokus polimorfik. Persentase lokus polimorfik memiliki nilai rata-rata 76,50%±0,04, dengan kisaran 71,79% - 79,49%. Rata-rata jumlah alel efektif per lokus adalah 1.359±0,08. Keragaman genetik dalam populasi (He) tergolong tinggi dengan nilai 0,226±0,04 dan indeks  Shanon  memiliki  nilai  0,351±0,06.   Dari  ketiga  populasi  yang  dianalisis, populasi Kampar (He= 0,265±0,18) memperlihatkan tingkat variabilitas yang  jauh lebih tinggi dibanding populasi lainnya. Diferensiasi genetik antar populasi (Gst)  tergolong rendah  dengan  nilai  0.1191.   Sedangkan  besarnya  jarak  genetik Nei  (do)  antar  populasi  berkisar  dari  0,0112 –  0,0825 dengan  nilai  rata-rata 0,0481.  Hubungan kekerabatan genetik antar populasi S. borneensis di Provinsi Riau membentuk dua kelompok. Kelompok pertama, terdiri atas populasi Duri dan Inhu dan kelompok kedua yakni populasi Kampar.
ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT Hidayat, Asep; Hendalastuti R., Henti; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2006.3.2.91-107

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual, umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33.000 – Rp. 2.200.000,- per bulan. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok, merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya, dan mampu menghasilkan pendapatan Rp. 3.200.000 – Rp. 4.000.000,- per bulan. Dari hasil penelitian tersebut, kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu).
ANALISIS PARTISIPASI PADA PROGRAM HUTAN KEMASYARAKATAN (STUDI KASUS DI KOTO PANJANG, RIAU) Rochmayanto, Yanto; Frianto, Dodi; Nurrohman, Edi
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2006.3.3.175-189

Abstract

Partisipasi merupakan sumber daya sosial yang sangat berperan besar dalam mensukseskan suatu program pembangunan pedesaan. Ukuran keberhasilan program hutan kemasyarakatan bukan hanya dari dimensi biofisik, tetapi juga perubahan perilaku. Hasil penelitian di Koto Panjang menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat relatif rendah, diklasifikasikan sebagai tingkat partisipasi untuk insentif. Partisipasi masyarakat diwujudkan dalam bentuk pemikiran dan tenaga/jasa, yang keduanya diberikan pada 3 tahapan pembangunan HKm : perencanaa, pelaksanaan dan pemantauan. Partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh faktor internal (persepsi, manfaat, umur dan pendapatan) dan faktor eksternal (insentif dan komunikasi). Faktor insentif dan komunikasi memberikan pengaruh nyata pada perbedaan perilaku partisipasi di kedua desa. Sedangakan kecenderungan secara umum adalah masyarakat Desa Tanjung Alai lebih partisipatif dari masyarakat Tanjung. Upaya meningkatkan partisipasi dapat didekati dari optimalisasi organisasi penggerak serta penajaman persepsi HKm dan sistem pertanian menetap. Pembinaan harus dilakukan terus-menerus dan merata dengan metode pendekatan persuasif Perbaikan konsep HKm tentang target, orientasi, proses dan frame work perlu dilakukan menuju pengelolaan sumber daya hutan yang partisipatif.
Analisis Vegetasi Tumbuhan di Sekitar Mata Air Pada Dataran Tinggi dan Rendah Sebagai Upaya Konservasi Mata Air di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah Yuliantoro, Dody; Frianto, Dodi
Dinamika Lingkungan Indonesia Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/dli.6.1.p.1-7

Abstract

Wonogiri Regency is one of the regencies in Central Java that suffer drought every year. This drought was triggered by the number of springs that began to "disappear" and "die". For this reason, it is necessary to conserve springs as a way to keep the springs maintained all the time. Springs conservation activities can be carried out in two ways, namely civil engineering and vegetation. Springs conservation is needed to maintain and manage the existence of springs. Springs conservation activities can begin with the analysis of plant vegetation around springs at various heights, which are related to the density, frequency and importance of species. The existence of growing around the spring can be used as a protector and regulator of the water system. This study aims to determine the types of plants around springs in the highlands and lowlands. Activities carried out by recording all types of plants around the spring in the core zone in Wonogiri district, Central Java Province. The research method used is a line-striped method, with a 20m x 20m plot used to collect data on tree level, 10m x 10m plot size to collect data on pole level, 5m x 5m plot types for seedling / sapling data collection. Data analysis using the method of vegetation analysis is calculating the relative frequency, relative density, relative dominance and Important Value Index (IVI). The results showed that the species of trees around the spring located in the highlands and lowlands with an important value of more than 10% consisted of 15 species. The results of the Important Value Index analysis show that the species that has the highest IVI for the tree level is Beringin (Ficus benjamina), for the pole level is Bulu (Ficus annulata), and to the seedlings are Jambu Air (Syzygium aqueum).