Articles

Found 20 Documents
Search

AGEN KYURING ALAMI PENGGANTI NATRIUM NITRIT SINTETIS PADA KYURING DAGING SAPI Saputro, Eko; Bintoro, V P; Pramono, Y B
MEDIAGRO Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : MEDIAGRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The high temperature exposure on the food containing synthetic sodium nitrite (NaNO2) can cause the formation of harmful compounds of N-nitrosamine carcinogen. Nitrite (NO2-) have also been reported to react with amine in gastric acid to form N-nitrosamine. N-nitrosamine carcinogen can induce tumor in many organs of the human body. The objectives of this study were to investigate the capacity of activity of nitrate reductase (ANR) and determine the formulation of various fresh vegetables that are naturally rich in nitrate (NO3-) as a natural curing agent substitute for synthetic sodium nitrite in beef curing. Natural sources of nitrate of fresh vegetables is expected to be safer and healthier for consumption. The leaf and leaf stalks of fresh celery, fresh red spinach and fresh marigolds were separated and evaluated ANR respectively in their ability to  produce nitrite during a certain incubation time. Nitrite in fresh vegetables is utilized to react to pigment beef in complex reactions series of curing. In general, the evaluation of leaf ANR showed higher than leaf stalk ANR of fresh celery and fresh red spinach. Natural nitrite that is generated by leaf of fresh celery, fresh red spinach and fresh marigolds was 0.69; 0.73 and 0.63 mg NO2-/g/h respectively. Natural curing process of beef requires incubation time which allows the conversion of nitrate to nitrite which is sufficient to produce the characteristics of naturally cured beef products similar to the conventional curing using synthetic sodium nitrite. Fresh celery leaf is recommended as a natural curing gent of beef curing because it has long been recognized by consumers more suited to a wide range of processed beef products. Natural curing of beef using fresh celery leaf is recommended as much as 22 g and incubate at room temperature for 2 hours to produce the NO2- equivalent of 30 ppm NaNO2. Key Words: natural curing, natural curing agent, activity of nitrate reductase, fresh celery leaf and beef
Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam melalui Kegiatan Cinta Alam Saputro, Eko
MUDARRISA: Journal of Islamic Education Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.642 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v7i1.117-146

Abstract

Pemahaman siswa terhadap kegiatan cinta alam kabupaten SMA Negeri I Pabelan Semarang sangat rendah. Pemahaman mereka dalam partisipasi dalam kegiatan hanyalah untuk bersenang-senang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kesadaran anak didik itu sendiri mengenai arti kegiatan organisasi cinta alam dan tujuannya hanya terbatas pada partisipasi rekreasi dan melarikan diri dari keluarga, jauh dari orang tua. Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui cinta alam SMU Negeri I Pabelan Kabupaten Semarang hanya memberikan materi tentang kegiatan petualangan atau olahraga petualangan di luar ruangan; hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran agama melalui cinta alam dan wacana di lingkungan Pembina. Faktor lain adalah latar belakang Pembina itu sendiri yang bukan anggota organisasi pecinta alam. Pembina tidak pernah berpartisipasi dalam pendidikan dasar tentang cinta alam dan petualangan. The students understanding in the love nature activities of SMA Negeri I Pabelan Semarang district is very low. Their understanding in participation in the activities is merely for the fun. It is caused by several factors, one of which is a protégé of consciousness itself within the meaning of organizational activity love nature and purpose are limited to participation on refreshing and escape from family, away from the parents. Planting educational values of Islam through love of nature SMU Negeri I Pabelan Semarang District is just giving material about a credible form of adventure or adventurous sport outdoors; this is caused the limited knowledge about the values of religious teachings through love of nature and discourses on the environment of Trustees. The other factor is the background of Trustees itself rather than the organization or the nature lovers of Trustees has never participated in basic education about love the nature and adventure. Kata kunci: nilai pendidikan Islam, cinta alam, Esspala
The Use of Natural Curing on Beef Products Saputro, Eko
WARTAZOA. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences Vol 26, No 4 (2016): DECEMBER 2016
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.769 KB) | DOI: 10.14334/wartazoa.v26i4.1399

Abstract

Efforts to control meat spoilage, safety and palatability in the production of meat products become essential for humans. These control efforts should keep good quality of meat products at ambient temperature. Curing using NaNO2 is one of meat preservation techniques. However, the Indonesian Agency for National Standardization prohibits the use of sodium nitrite (NaNO2) in the organic food production process due to its negative effect on health and food safety. Therefore, substitutes of NaNO2 as natural curing agent and supported technologies have to be found. This article discusses the curing process using curing agents in the form of nitrate from natural resources and a starter culture for reducing nitrate to nitrite. The addition of accelerators in the form of reductant and acidulant from natural or organic resources is also required to enhance curing process. Natural curing processes of beef products have been proven to produce similar meat quality of sensory, physico-chemical, and microbiological characteristics with curing process using NaNO2.
Rancang Bangun Pengaman Pintu Otomatis Menggunakan E-KTP Berbasis Mikrokontroler Atmega328 Saputro, Eko; Wibawanto, Hari
Jurnal Teknik Elektro Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pengunci pintu saat ini masih menggunakan kunci konvensional, sehingga kurang efisien untuk rumah dengan banyak pintu karena terlalu banyak kunci yang harus dibawa, selain itu kunci konvensional mudah dibuka oleh pencuri. Sehingga diperlukan kunci yang lebih praktis dan efisien, dari masalah tersebut penulis mempunyai gagasan untuk menghasilkan alat pengaman pintu yang aman dan praktis berbasis RFID dengan memanfaatkan E-KTP sebagai RFID tag sebagai pengaman pintu rumah. Rancang bangun pengaman pintu menggunakan mikrokontroler ATmega328 sebagai pengendali rangkaian. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development yaitu metode yang bertujuan menghasilkan atau mengembangkan produk tertentu. Metode ini diterapkan pada prosedur penelitian menjadi 9 tahap yaitu (1) mulai, (2) potensi dan masalah, (3) pengumpulan informasi, (4) perancangan alat, (5) validasi desain, (6) pembuatan alat, (7) uji coba alat, (8) pengumpulan data dan (9) analisis data. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa simulasi alat pengaman pintu dapat beroperasi dengan baik, sesuai rancangan yang dibuat. RFID reader yang digunakan memiliki frekuensi 13,56 MHz yang diletakkan dalam box dengan tebal 2mm dapat membaca ID E-KTP dengan jarak maksimal 1,8 cm. Solenoid dapat membuka pengunci pintu apabila ID E-KTP sesuai dengan memori mikrokontroler ATmega328, solenoid akan mengunci kembali dalam waktu 10 detik.
The Use of Natural Curing on Beef Products Saputro, Eko
WARTAZOA. Indonesian Bulletin of Animal and Veterinary Sciences Vol 26, No 4 (2016): DECEMBER 2016
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.769 KB) | DOI: 10.14334/wartazoa.v26i4.1399

Abstract

Efforts to control meat spoilage, safety and palatability in the production of meat products become essential for humans. These control efforts should keep good quality of meat products at ambient temperature. Curing using NaNO2 is one of meat preservation techniques. However, the Indonesian Agency for National Standardization prohibits the use of sodium nitrite (NaNO2) in the organic food production process due to its negative effect on health and food safety. Therefore, substitutes of NaNO2 as natural curing agent and supported technologies have to be found. This article discusses the curing process using curing agents in the form of nitrate from natural resources and a starter culture for reducing nitrate to nitrite. The addition of accelerators in the form of reductant and acidulant from natural or organic resources is also required to enhance curing process. Natural curing processes of beef products have been proven to produce similar meat quality of sensory, physico-chemical, and microbiological characteristics with curing process using NaNO2.
PENERAPAN LEGO MINDSTROMS NXT FORKLIFT DAN CONVEYOR ROBOT UNTUK MENSORTIR BARANG MENGGUNAKAN SENSOR WARNA Gunardi, Yudhi; Saputro, Eko
Jurnal Teknologi Elektro Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jte.v5i2.763

Abstract

Robot Lego Mindstorms NXT adalah perangkat robot edukasional yang dirilis oleh Lego dimana dilengkapi NXT-G pemograman perangkat lunak atau opsional lab VIEW untuk LEGO MINDSTORMS. Penggunaan Mindstorms NXT membantu mempermudah pembuatan robot. Hal ini dikarenakan Mindstorms NXT menghilangkan kebutuhan untuk menyolder sirkuit dan menghilangkan kesulitan saat pemasangan motor. Dari latar belakang tersebut muncul pemikiran untuk membuat implementasi Lego Mindstroms NXT forklift dan conveyor robot untuk mensortir barang menggunakan sensor warna. Permasalahan akan dibatasi yaitu pembuatan prinsip kerja robot yaitu forklift berfungsi membawa bola ke conveyor robot kemudian disortir dengan sensor warna. Dari pembahasan tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa pengujian sensor yang digunakan, bekerja dengan baik, seperti sensor warna yang dapat mendeteksi warna-warna dan mensortirnya. Dan robot forklift juga dapat mengikuti garis serta membawa bola, selain itu conveyor robot juga mampu memberikan jalan pada bola serata membaca warna lalu mensortir bola-bola tersebut. Kata kunci : Lego Mindstorms NXT, Forklift, Conveyor
DISTRIBUSI SPASIAL FORAMINIFERA DI PERAIRAN TELUK CENDERAWASIH, PAPUA BARAT Saputro, Eko; Fauzielly, Lili; Silalahi, Imelda Rosalia; Winatris, Winatris
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.602

Abstract

Sebanyak 20 sampel sedimen dari perairan Teluk Cenderawasih telah digunakan sebagai bahan studi foraminifera, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebaran spasial dan struktur komunitas foraminifera di perairan Teluk Cenderawasih. Hasil penelitian menunjukkan komposisi foraminifera planktonik yang terdiri dari 7 Genus dan 13 Spesies sedangkan foraminifera bentonik terdiri dari 57 Genus dan 87 Spesies. Foraminifera planktonik yang paling umum ditemukan karena muncul di seluruh sampel adalah genus Globigerinoides, terutama G. trilobus dan G. ruber. Sedangkan foraminifera bentonik didominasi oleh subordo Rotaliina, dan yang paling banyak ditemukan adalah genus Cibicidiodes dan Lenticulina. Keanekaragaman foraminifera planktonik dan bentonik termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.82 ? 0.90 (planktonik) dan 0.79 ? 0.95 (bentonik). Kemerataan foraminifera planktonik dan bentonik juga termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.83 ? 0.99 (planktonik) dan 0.82?0.99 (bentonik). Sedangkan untuk dominasi foraminifera planktonik dan bentonik berada dalam kategori rendah dengan kisaran 0.10 ? 0.18 (planktonik) dan 0.05 ? 0.21 (bentonik). Hal ini menunjukkan bahwa Teluk Cendrawasih meskipun merupakan perairan yang semi tertutup, namun kondisinya masih sangat bagus bagi perkembangan foraminiferaKata Kunci : foraminifera, distribusi spasial, struktur komunitas, dan Teluk Cenderawasih A total of 20 marine sediment samples from Cenderawasih Bay waters have been used for foraminiferal study, . The purpose to describe the spatial distribution and structure of the foraminifera community in the waters of Cenderawasih Bay. The results indicate that marine sediments are composed of 7 genera and 13 species of planktonic foraminifera, and 57 genera and 87 species belong to benthic foraminifera. The most common planktonic foraminifera is Globigerinoides which is found in all location, particularly G. trilobus and G. ruber. Furthermore, benthonic foraminifera is dominated by subordo Rotaliina, particularly genera Cibicidoides and Lenticulina as the most common genera. Diversity of both Planktonic and benthonic foraminifera are categorized as high, the values are between 0.82 and 0.90, and between 0.79 and 0.95 respectively. Planktonic and benthonic foraminiferal evenness are also high with range value between 0.83 and 0.99 (planktonic), and between 0.82 and 0.99 (benthonic). In contrast, dominance of both foraminiferal type are low, between 0.10 and 0.18 for planktonic, and between 0.05 and 0.21 (benthonic).This indicates that despite a semi?enclosed bay, Cendrawasih Bay is still considered as a good environment for foraminiferal community. Keywords: foraminifera, spatial distribution, community structure, and Cenderawasih Bay.
Aplikasi E-Reservation Untuk Pemesanan Kamar Pada Hotel Hin’s Hodayatun, Nunung; Rosmiati, Mia; Saputro, Eko; Saputro, Eko
Jurnal Techno Nusa Mandiri Vol 14 No 1 (2017): TECHNO Periode Maret 2017
Publisher : PPPM Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.64 KB) | DOI: 10.33480/techno.v14i1.185

Abstract

Hotel merupakan tempat yang sangat mengutamakan kenyamanan dan keramahan staf hotelnya. Salah satu faktor yang dapat yang dapat memberikan fasilitas kenyamanan adalah adanya layanan informasi yang cepat untuk reservasi hotel. Paper ini bertujuan untuk menganalisis proses reservasi di Hotel Hin’s dan memberikan usulan perbaikan dengan membangun sebuah sistem reservasi dengan mengadopsi teknologi informasi. Fenomena yang terjadi pada Hotel Hin’s adalah proses reservasi yang masih dilakukan secara manual, sehingga mengalami banyak kendala karena proses pemesanan dicatat dibuku reservasi, pelanggan yang ingin memesan kamar harus datang langsung atau melalui telepon, penyebaran informasi masih sangat terbatas yaitu masih melalui surat kabar, iklan di radio atau brosur-brosur yang dibagikan. Model proses pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah model waterfall.  Sistem  ini adalah sebuah aplikasi E-Reservation yang menyediakan fasilitas bagi para pelanggan dan manajemen hotel dalam penanganan pemesanan kamar hotel.
Aplikasi E-Reservation Untuk Pemesanan Kamar Pada Hotel Hin’s Hodayatun, Nunung; Rosmiati, Mia; Saputro, Eko; Saputro, Eko
Jurnal Techno Nusa Mandiri Vol 14 No 1 (2017): TECHNO Periode Maret 2017
Publisher : PPPM Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.64 KB) | DOI: 10.33480/techno.v14i1.185

Abstract

Hotel merupakan tempat yang sangat mengutamakan kenyamanan dan keramahan staf hotelnya. Salah satu faktor yang dapat yang dapat memberikan fasilitas kenyamanan adalah adanya layanan informasi yang cepat untuk reservasi hotel. Paper ini bertujuan untuk menganalisis proses reservasi di Hotel Hin’s dan memberikan usulan perbaikan dengan membangun sebuah sistem reservasi dengan mengadopsi teknologi informasi. Fenomena yang terjadi pada Hotel Hin’s adalah proses reservasi yang masih dilakukan secara manual, sehingga mengalami banyak kendala karena proses pemesanan dicatat dibuku reservasi, pelanggan yang ingin memesan kamar harus datang langsung atau melalui telepon, penyebaran informasi masih sangat terbatas yaitu masih melalui surat kabar, iklan di radio atau brosur-brosur yang dibagikan. Model proses pengembangan perangkat lunak yang digunakan adalah model waterfall.  Sistem  ini adalah sebuah aplikasi E-Reservation yang menyediakan fasilitas bagi para pelanggan dan manajemen hotel dalam penanganan pemesanan kamar hotel.
SEBARAN SPASIAL FORAMINIFERA DALAM KAITANNYA DENGAN KEDALAMAN LAUT DAN JENIS SEDIMEN DI TELUK BONE, SULAWESI SELATAN Dewi, Kresna Tri; Saputro, Eko
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1994.44 KB)

Abstract

Sebanyak 25 sampel sedimen dasar laut dari Teluk Bone bagian utara, Sulawesi Selatan telah digunakan untuk analisis foraminifera dalam kaitannya dengan jenis sedimen dan kedalaman. Hasil analisis diperoleh 97 spesies foraminifera bentik dan beberapa genera diantaranya mendominasi titik lokasi tertentu, seperti Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium dan Quinqueloculina.Setiap genus mempunyai distribusi spasial tertentu sesuai habitatnya dengan beberapa anomali. Kisaran kedalaman daerah penelitian antara 23 dan 85 m dicirikan oleh kehadiran Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. Dalam kaitannya dengan kedalaman, sebaran foraminifera cenderung terakumulasi di sebelah timur daerah penelitian. Setiap satuan sedimen dicirikan oleh genus foraminifera tertentu. Kata kunci: foraminifera, distribusi spasial, kedalaman laut, jenis sedimen, Teluk Bone, Sulawesi Selatan A total of twenty five surface sediment samples from the northern part of Bone Bay, South Sulawesi were selected for foraminiferal study. The purpose of this study is to recognize spatial distribution foraminifera in relation with water depth and sediment types. There are 97 identified species, some ot them are dominant at certain sites, such as Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium and Quinqueloculina. Each genus has certain spatial distribution as its habitat with some anomalies. The range of water depth is between 23 and 85 m that characterized by Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. In relation to water depth, the distribution of foraminifera tends to accumulate in the eastern part of the study area. Sediment unit is characterized by certain foraminifera genus. Keywords : Foraminifera, spatial distribution, water depth, sediment type, Bone Bay, South Sulawesi.