Ekasatya Aldila Afriansyah, Ekasatya Aldila
STKIP Garut

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

IMPLEMENTASI PMRI DALAM MATERI SIFAT KOMUTATIF DAN ASSOSIATIF PADA BILANGAN BULAT UNTUK LEVEL SISWA SD/MI Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2.972 KB)

Abstract

Implementing PMRI in teaching process using a little sheet box and straw as a media for helping students in learning commutative and associative properties in integer numbers is the aim of this study. Design research is used as appropriate means to achieve the aim; conducted in three phases: preliminary design, teaching experiment (first and second cycle), and retrospective analysis. This study enables students to work with contextual situations within integer numbers properties; uses media tool (a straw and little sheet box). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) underlies the design of the context and the activities. Sample of population is students from Madrasah Ibtidaiah Negeri 1 Palembang. This study involves fourth grade students, 3 students in first cycle and 36 students in second cycle (4 students were analyzed in detail). The result of this study could show that the activities could bring students’ learning from the contextual situation to more formal situation. The activities within this study have been succeed to be implemented in this school so that these activities could be used for the others.
DESAIN LINTASAN PEMBELAJARAN PECAHAN MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.051 KB)

Abstract

Abstrak Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai pelaku yang terlibat didalamnya, khususnya keefektifan seorang pendidik dalam mengelola lingkungan belajarnya. Peningkatan kualitas pendidikan diperlukan sebagai alat ukur dalam mencapai tingkat keberhasilan pendidikan yang lebih baik. Pada penelitian ini, peneliti memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika melalui masukan desain pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik. Peningkatan ini pun urgen diperlukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik Indonesia karena dalam beberapa ajang tes matematika skala internasional, peserta didik Indonesia di level tertentu masih memberikan hasil yang kurang baik. Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dijadikan sebagai solusi peningkatan kualitas peserta didik. RME mendasari desain dari seluruh konteks dan kegiatan pembelajaran. Design research dipilih sebagai sarana yang tepat untuk mencapai tujuan; dilakukan dalam tiga tahap, desain pendahuluan, percobaan mengajar, dan analisis retrospektif. Penelitian ini melibatkan 6-8 mahasiswa calon guru pada siklus pertama dan 30-40 mahasiswa calon guru pada siklus kedua bertempat di STKIP Garut. Hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa serangkaian kegiatan pembelajaran RME dapat membuat mahasiswa calon guru tidak lagi keliru dalam memahami topik pecahan secara detail. Kata Kunci: Pendekatan Realistic Mathematics Education, pecahan, Design research, mahasiswa calon guru, Hypothetical Learning Trajectory, Local Instruction Theory. Abstract The successness of education is influenced by the various factors involved in it, especially the effectiveness of an educator in managing his learning environment. Improving the quality of education is needed as a measuring tool in achieving a better level of educational successness. In this study, researchers have a goal to improve the quality of mathematics education through instructional design input that can be used by educators. This improvement is also urgent to improve the ability of Indonesian students because in some international scale mathematical tests, Indonesian students at medium level still give unfavorable results. Realistic Mathematics Education (RME) Approach serves as a solution to improve the quality of learners. RME underlies the design of all context and learning activities. Design research is chosen as an appropriate means to achieve the goal; conducted in three stages, preliminary design, teaching experiments, and retrospective analysis. This study involved 6-8 prospective teacher students in the first cycle and 30-40 student prospective teachers in the second cycle housed in STKIP Garut. The results of this study can show that a series of RME learning activities can make prospective students no longer mistaken in understanding the topic of fractions in detail. Keyword: Realistic Mathematics Education Approach, Fractions, Design research, prospective teachers’ students, Hypothetical Learning Trajectory, Local Instruction Theory.
PROBLEM POSING SEBAGAI KEMAMPUAN MATEMATIS Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.051 KB)

Abstract

Perlunya kemampuan dalam membuat permasalahan/persoalan matematis sangat diperlukan oleh seorang guru. Hal tersebut berguna agar guru tidak hanya memberikan soal yang ada di buku saja. Guru dituntut kreatif; guru perlu memiliki kemampuan dalam membuat soal yang dibutuhkan oleh siswanya. Selama ini, kemampuan yang terus disoroti adalah kemampuan dalam menyelesaikan berbagai tipe soal dilihat dari daya pikir siswanya. Untuk kali ini, kita coba lihat dari sudut pandang perlunya kemampuan seorang guru untuk memiliki kemampuan pengajuan permasalahan matematis (mathematical problem posing) ini. Seiring dengan meningkatnya kemampuan membuat soal yang baik tentunya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan mathematical problem posing ini masih menjadi kendala bagi beberapa mahasiswa calon guru matematika, padahal kemampuan ini sangat diperlukan bagi mereka yang akan menjadi seorang guru yang baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita akan coba paparkan problem posing sebagai suatu kemampuan matematis yang diperlukan oleh seseorang, terutama calon guru. The need for the skill to create mathematical problems/issues needed by a teacher. It is useful for teachers to provide problems that exist in books only. Teachers need to be creative; teachers need to have the skill to create questions that needed by their students. During this time, a skill that continues to be highlighted is the ability to resolve various types of problems seen from the intellect students. For this time, we look from the perspective of the need for the skill of a teacher to have the skill of mathematical problem posings. Along with the increased mathematical problem posing skill can certainly improve the quality of learning in the classroom. Mathematical problem posing skill is still an obstacle for some mathematics prospective teachers, but this skill is very necessary for those who would become a good teacher. Therefore, on this occasion, we will try to present problem posing as a mathematical skill needed by someone, especially prospective teachers.
KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY INTELLECTUALY REPETITION DAN PROBLEM BASED LEARNING Alan, Usman Fauzan; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Jurnal Pendidikan Matematika Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.58 KB) | DOI: 10.22342/jpm.11.1.3890.67-78

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) dengan Problem Based Learning (PBL)?, (2) Untuk mengetahui sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR)?, (3) Untuk mengetahui sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika dengan menerapkanProblem Based Learning (PBL)?.Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain penelitianPretest-Posttest ControlDesign. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMP Negeri 1 Cisurupan dengan mengambil sampelsebanyak dua kelas yaitu kelas VII-A sebagai kelas eksperimen Idan kelas VII-B sebagai kelas eksperimen II.Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemahaman matematis dan angket siswa.Berdasarkan hasil penelitian,diketahui bahwa: (1) Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran AIR dengan PBL. (2) Sikap siswa yang mendapatkan model pembelajaran AIR menunjukkan sikap dengan interpretasi sangat baik. (3) Sikap siswa yang mendapatkan PBL menunjukkan sikap dengan interpretasi baik. DOI:http://dx.doi.org/10.22342/jpm.11.1.3890.67-78
Peningkatan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa melalui Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerencing dan Number Head Together Muna, Dina Nailul; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.051 KB)

Abstract

ABSTRAK Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan menggunakan dua kelas, yaitu kelas kuasi eksperimen I dan kelas kuasi eksperimen II. Populasinya adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 5 Garut tahun ajaran 2014/2015, sedangkan sampelnya yaitu kelas VII-H sebagai kelompok kuasi eksperimen I yang mendapatkan pembelajaran kancing gemerincing dan kelas VII-F sebagai kelompok kuasi eksperimen II yang mendapatkan pembelajaran NHT dengan pengambilan sampel secara purposive, yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan pemahaman matematis dan angket siswa. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa: (1) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif teknik Numbered Head Together (NHT) dengan kancing gemerincing, (2) Kualitas peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa kelas kuasi eksperimen I dengan teknik pembelajaran kancing gemerincing adalah sedang, (3) Kualitas peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa kelas kuasi eksperimen II dengan teknik pembelajaran NHT adalah sedang, (4) Siswa bersikap positif terhadap teknik pembelajaran kancing gemerincing, (5) Siswa bersikap positif terhadap teknik pembelajaran NHT namun di sisi lainmereka bersikap negatif terhadap penyediaan LKS. ABSTRACT The method that used of this research is quasi experiment make use of two classes, quasi experiment I and quasi experiment II. The population is all of sevent grade students at SMPN 5 Garut period 2014/2015, and the sample is H-sevent grade as quasi experiment I who get kancing gemerincing learning and F-sevent grade as quasi experiment II who get NHT learning with purposive sampling. The purposive sampling is sampling based on certain considerations. The instrument of this research is mathematical understanding skill test and questionnaire. Based on the result of research, known that: (1) found the difference increased of mathematical understanding skill students between who get strategy cooperative learning technique Numbered Head Together (NHT) and kancing gemerincing, (2) the increased quality of mathematical understanding skill quasi experiment I students with technique kancing gemerincing is enough, (3) the increased quality of mathematical understanding skill quasi experiment II students with technique NHT is enough, (5) the student were gived their positive attitude to technique kancing gemerincing, (5) the student were gived their positive attitude to technique NHT, but they were gived their negative attitude to equipping of LKS.
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa dengan Menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Inquiry Nadhifah, Ghina; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.051 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berisi tentang analisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Alasan dari kemampuan pemecahan masalah matematis yang diambil berawal dari tujuan pembelajaran yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, didalamnya tercantum pentingnya variabel kemampuan pemecahan masalah matematis ini untuk dimiliki setiap siswa. Alasan penelitian ini lebih dikuatkan lagi dengan hasil kurang baik diperoleh perwakilan siswa Indonesia pada level tertentu di TIMSS dan PISA. Dari beberapa alasan ini, peneliti memutuskan untuk memilih kemampuan pemecahan masalah matematis sebagai variabel yang perlu ditingkatkan. Untuk variabel bebasnya, sebagai solusi yang peneliti tawarkan adalah model pembelajaran Problem Based Learning dan Inquiry. Kedua model pembelajaran ini dipercaya dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini terlihat dari penelitian relevan yang saling berkaitan erat antara model pembelajaran dan kemampuannya. Penelitian dianalisis dengan kuasi eksperimen dengan desain eksperimen (pre-test post-test control group design). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan pemberian tes uraian. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMP di Garut dengan sampel yang diambil adalah dua kelas pada salah satu SMP Negeri di Tarogong Kidul Garut, yaitu kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1)Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan pembelajaran Problem Based Learning dengan Inquiry; (2)Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran Problem Based Learning dan Inquiry tergolong tinggi; dan (3) Sikap siswa terhadap pelajaran matematika yang mendapatkan pembelajaran Problem Based Learning dan Inquiry berinterpretasi baik. ABSTRACT This study is about the analysis of students mathematical problem solving. Reasons of mathematical problem solving was taken begins with learning objectives stated in the Ministerial Regulation No. 22 of 2006, in which the importance of students to have mathematical problem solving listed. The reason of this research was strengthened further with bad results obtained by the representative of Indonesian students at a particular level in TIMSS and PISA. Consequently, researchers decided to choose mathematical problem-solving as a variable that needed to be improved. For the independent variables, as solutions that offer researchers are Problem Based Learning and Inquiry learning model. Both learning model was believed to increase the ability of students mathematical problem solving. There were evident from the relevant research closely interrelated between learning models and abilities. The study analyzed with quasi-experiments with experimental design (pre-test post-test control group design). Data collection techniques used by giving test description. The populations in this study are all junior high school students in Garut with samples taken were two classes in one of the Junior High School in Tarogong South Garut, namely the experimental class 1 and class 2. The experimental results showed that: (1) There is no difference in mathematical problem solving among the students who get Problem Based Learning or Inquiry; (2) The increase in mathematical problem solving of students who get Problem Based Learning and Inquiry is high; and (3) The attitude of students toward Problem Based Learning and Inquiry interprets well.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI CREATIVE PROBLEM SOLVING Tarlina, Windi Hadianti; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Eduma : Mathematics Education Learning and Teaching Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.022 KB) | DOI: 10.24235/eduma.v5i2.1141

Abstract

Creative thinking ability is the one of important things in mathematics lesson. In developing such creative thinking ability, teachers must be good at giving ideas and issues which are relatively different from before, so that we can find something new. The authors formulate the problem: Do the creative thinking abilities of students who received Creative Problem Solving learning better than students who received conventional learning?Quasi-experimental research with experimental design (Nonequivalent group pretest-posttest design) aims to determine students' achievement of creative thinking abilities through Creative Problem Solving. The benefits of this research are expected to improve the students' creative thinking ability through CPS further in SMPN 2 South Tarogong. The instrument used in this study is a written test form with a description of the subject lines and angles. The population was all students of class VIII SMPN 2 South Tarogong; the sample of the selected class is VII-D and VII-E class. From the analysis of data normality test results of initial tests, obtained a score in the experimental class was not normal, so the test followed by Mann Whitney test, the gain was normalized. These results indicate that: (1) The improvement of students’ creative thinking ability who received Creative Problem Solving learning better than students who received conventional learning, (2) The improvement of students’ creative thinking ability who received Creative Problem Solving learning included into the high category, (3) The students’ attitude of the experiment class on the subjects of mathematics and Creative Problem Solving learning was dominated by a positive attitude. Keywords: Creative thinking ability, Creative Problem Solving, conventional, experimental methods.
Makna Realistic dalam RME dan PMRI Afriansyah, Ekasatya Aldila
JURNAL LEMMA Vol 2, No 2 (2016): LEMMA : Letters of Mathematics Education
Publisher : STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.823 KB) | DOI: 10.22202/jl.2016.v2i2.578

Abstract

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan adaptasi dari Realistic Mathematics Education (RME) dengan disesuaikan dengan situasi pendidikan matematika di Indonesia.PMRI memiliki permasalahan yang sama dengan RME, dikarenakan keduanya berpedoman pada teori RME yang dicetuskan oleh Hans Freudenthal, salah satu tokoh matematikawan dari Belanda. Freudenthal ini mengagaskan RME dengan makna mendalam dalam bahasa ibu dengan melihat system pendidikan di Belanda saat itu. Timbul permasalahan ketika pendekatan RME ini banyak diadopsi oleh negara lain. Interpretasi kata realistikdalam RMEmenjadi perdebatan di kalangan para ahli pendidikan matematika di dunia.Banyak yang masih hanya melihat dari arti terjemahan, tidak melihat dari makna secara mendalam, sehingga hal tersebut menimbulkan kekeliruan pandangan di kalangan masyarakat.Melalui kajian teori berikut diharapkan kekeliruan pemahaman kata realistik ini dapat terselesaikan dengan baik; merujuk pada teori-teori sebenarnya, sehingga dapat menghindari perdebatan ataupun kebingungan di kalangan masyarakat.Dengan pengkajian teori ini, diharapkan masyarakat tidak lagi memiliki keraguan pada RME dan PMRI; keduanya dapat menjadi salah satu masukan pendekatan pembelajaran matematika bagi para pendidik yang ingin melakukan reformasi pendidikan matematika untuk meningkatkan kemampuan peserta didiknya.
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALLY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Firdaus, Denil Ahmad; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Jurnal Pendidikan Matematika RAFA Vol 2 No 1 (2016): JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA RAFA
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman matematis siswa yang mendapat model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individually dengan siswa yang mendapat model pembelajaran langsung. Sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis, serta memberikan kemasan yang berbeda bahwa belajar itu bukan paksaan tapi kebutuhan, sebagai salah satu alternatif model pembelajaran. Pada penelitian ini menggunakan metode eksperimen, sebagai populasinya yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 4Tarogong Kidul sedangkan untuk sampelnya sebanyak dua kelas yang berperan sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Pada penelitian ini terpilih kelas eksperimen 1 yaitu kelas VII C yang pembelajarannya menggunakan Team Assisted Individually sedangkan kelas eksperimen 2yaitu kelas VII F yang pembelajaranya menggunakan Pembelajaran Langsung. Desain penelitian ini yaitu pretestposttest dengan instrumen penelitian tipe uraian pada pokok bahasan Segiempat. Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, pada pretesttidak terdapat perbedaan kemampuan awal sehingga langsung mengolah data posttest maka diperoleh pada kelas eksperimen 1 data tidak berdistribusi normal dan pada kelas ekperimen 2 datanya berdistribusi normal. Karena salah satu sebaran data tidak berdistribusi normal maka selanjutnya dilakukan Uji ManWhitney, hasilnya yaitu: “Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematik siswa yang mendapat  model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualy dengan siswa yang mendapat model pembelajaran langsung
Penggunaan Software ATLAS.ti sebagai Alat Bantu Proses Analisis Data Kualitatif Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2.972 KB)

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan matematika, penelitian kualitatif masih kurang diminati. Hal ini menjadi salah satu dasar permasalahan yang ingin peneliti bahas yang bertujuan untuk menumbuhkan minat para peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif dengan tujuan setelah para peneliti melihat penelitian ini, minat dari para peneliti muncul untuk melakukan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti memperkenalkan salah satu software analisis data kualitatif dengan nama ATLAS.ti. Software ini berguna dalam membantu proses analisis data jenis penelitian kualitatif grounded theory, dalam pengolahan datanya setiap data diberi coding sehingga memudahkan peneliti nantinya untuk memanggil kembali data tersebut sebagai bahan diskusi dalam penelitiannya. Melalui penelitian ini, peneliti memiliki harapan agar muncul prosedur proses analisis data kualitatif berbantuan ATLAS.ti, melalui contoh penerapan pada salah satu kasus di bidang pendidikan matematika. Hasil dari penelitian ini berupa prosedur versi peneliti berdasarkan kasus yang peneliti gunakan. ABSTRACT According to some Indonesian research, especially in mathematics education, qualitative research is still less interested. It became one of basic problem that the researcher wants to discuss. Hoping after all researchers read this study, the interest of them appeared to do qualitative research. In this study, researcher introduced one of data analysis qualitative software, namely ATLAS.ti. This software was useful in helping with the process of data analysis qualitative research, especially grounded theory. Grounded theory, as ATLAS.ti, was given coding in any research data. It would be making easier for researchers to call back data later, or so on. Based on this helpful thing, researcher hoped through this research it would create a procedure data analysis qualitative research assisted by ATLAS.ti. This procedure appeared through an example of an application of one case in the field of mathematics education. The result of this research was a procedure based on the case of researcher used.