Articles

Found 10 Documents
Search

Close genetic connectivity of soft coral Sarcophyton trocheliophorum in Indonesia and its implication for marine protected area Kusuma, Aradea Bujana; Bengen, Dietrich Geoffrey; Madduppa, Hawis; Subhan, Beginer; Arafat, Dondy; Negara, Bertoka Fajar S.P.
Aceh Journal of Animal Science Vol 1, No 2: December 2016
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.764 KB) | DOI: 10.13170/ajas.1.2.4867

Abstract

The genetic connectivity of soft coral is influenced by current and distance between islands. The complexity of islands and geographical region in Indonesia might influence the distribution of soft corals.  The information of genetic connectivity can be used to design marine protected areas and to avoid destruction and possible extinction. The objective of the present study was to analyze genetic connectivity of one species of soft coral, Sarcophyton trocheliophorum, in three populations spanning Java, Nusa Tenggara, and Sulawesi’s waters, and to describe its implication for marine protected area. The mitochondrial protein-coding gene (750 bp of ND2) was used to analyze genetic population structure and genetic connectivity. Genetic connectivity was found in all populations with Fst value of 0.227 to 0.558, indicating populations had the close genetic relationship. The local and Indonesian currents were expected to distribute the larva to islands as a stepping stone, they moved slowly to spread them self far away. Tanakeke island (Sulawesi population) might be a center connectivity of S. trocheliophorum populations. This island connected with islands in west and east Indonesia, therefore that area need to protect
STRUKTUR KOMUNITAS KEPITING BIOLA (Uca spp.) DI EKOSISTEM MANGROVE DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO Natania, Trya; Herliany, Nurlaila Ervina; Kusuma, Aradea Bujana
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.156 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.1.11-24

Abstract

Mangrove merupakan ekosistem kompleks yang hidup di daerah pasang surut. Ekosistem mangrove selain melindungi pantai dari gelombang dan angin juga sebagai habitat berbagai organisme seperti krustasea. Salah satu krustasea yang memiliki peran penting di ekosistem mangrove adalah kepiting biola (Uca spp.) sebagai detritus di ekosistem mangrove. Pulau Enggano merupakan pulau kecil terluar Provinsi Bengkulu, keadaan ekosistem mangrovenya masih tergolong alami. Salah satu desa yang memiliki vegetasi mangrove yang alami adalah Desa Kahyapu. Tetapi penelitian tentang Uca spp. di Pulau Enggano khususnya di Desa Kahyapu belum pernah dilakukan.  Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis kepiting biola dan menganalisis struktur komunitas kepiting biola di Desa Kahyapu Pulau Enggano. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan teknik observasi langsung pada 3 stasiun, dimana setiap stasiun terdiri dari 11 plot. Dari hasil penelitian didapatkan 4 jenis kepiting biola (Uca spp.) yaitu  Uca vocans, Uca chlorophthalmus, Uca dussumeiri, dan Uca coarctata. Kelimpahan jenis kepiting biola (Uca spp.) yang paling tinggi pada stasiun I. Kelimpahan total tertinggi terdapat pada stasiun I dan diikuti stasiun III, terendah pada stasiun II. Tingginya kelimpahan pada  stasiun I diduga karena substrat liat yang cocok untuk kehidupan kepiting biola. Secara umum Uca dussumieri paling banyak ditemukan di tiga stasiun karena toleransinya yang tinggi . Indeks keseragaman kepiting biola (Uca spp.) seluruh stasiun tinggi sedangkan indeks keanekaragamannya rendah. Pada stasiun I dan II  mempunyai indeks dominansi rendah, sedangkan pada stasiun III mempunai indeks dominansi sedang.  Secara umum, kualitas perairan (suhu, pH, salinitas, kandungan bahan organik, dan substrat) di lokasi penelitian cocok untuk kehidupan Uca spp.
PEMANFAATAN FITOPLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR DI PERAIRAN MUARA SUNGAI HITAM KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU Rasyid, Harun Al; Purnama, Dewi; Kusuma, Aradea Bujana
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.432 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.1.39-51

Abstract

Fitoplankton merupakan salah satu bioindikator untuk memantau tingkat pencemaran suatu perairan. Tingkat pencemaran ditentukan berdasarkan indeks saprobitas melalui analisis komposisi dan kelimpahan fitoplankton. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2017 di Perairan Muara Sungai Hitam, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu dengan menggunakan metode survei. Jenis fitoplankton yang diperoleh dari hasil penelitian terdiri dari 4 kelas dan 22 spesies dengan komposisi spesies terbanyak terjadi pada kelas Bacillariophyceae dan yang terendah terjadi pada kelompok fitoplankton kelas Dinophyceae. Rata-rata kelimpahan fitoplankton pada muara Sungai Hitam sebanyak 322 ind/L tergolong dalam kelimpahan rendah, yang mecerminkan kesuburan perairan yang rendah. Berdasarkan nilai indeks saprobitas yang didapati perairan muara Sungai Hitam tergolong dalam tingkat saprobitas perairan ?-Meso/Oligo saprobik, yang diindikasikan telah terjadi pencemaran bahan organik ringan.
KEANEKARAGAMAN GENETIK KARANG LUNAK Sarcophyton trocheliophorum PADA POPULASI LAUT JAWA. NUSA TENGGARA DAN SULAWESI Kusuma, Aradea Bujana; Bengen, Dietrich Geoffrey; Madduppa, Hawis; Subhan, Beginer; Arafat, Dondy
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.577 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.1.89-96

Abstract

Genetik menjadi kunci konservasi karena berperan penting dalam  mempertahankan dan memulihkan populasi dari kerusakan. Kerusakan pada ekosistem terumbu karang dapat menjadi pemicu kepunahan organisme laut. Salah satu organisme yang tidak terhindar dari kerusakan tersebut ialah Sarcophyton trocheliophorum. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan menurunnya keragaman genetik S. trocheliophorum. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman genetik dari S. trocheliophorum yang terdapat pada tiga populasi di Perairan Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara serta mendeskripsikan implikasinya terhadap kawasan konservasi  di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penanda genetik ND2 untuk menganalisis struktur populasi, konektivitas, dan keragaman genetik. Keragaman genetik S. trocheliophorum pada Perairan Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara masing-masing 0.600, 0.815, dan 0.972. Keragaman genetik pada populasi Perairan Jawa lebih kecil dibandingkan pada Populasi Perairan Sulawesi dan Nusa Tenggara. Hal ini dimungkinkan karena banyaknya aktivitas manusia pada pesisir utara Laut Jawa, sehingga berdampak pada menurunnya ukuran populasi S. trocheliophorum. Oleh karena itu perlu adanya perlindungan yang ketat pada populasi Jawa untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Ikan Kepe – kepe (Chaetodontidae) sebagai Bioindikator Kerusakan Perairan Ekosistem Terumbu Karang Pulau Tikus Riansyah, Agus; Hartono, Dede; Kusuma, Aradea Bujana
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.949 KB) | DOI: 10.20884/1.mib.2018.35.2.480

Abstract

Coral reef is one of ecosystem in the ocean that have important ecologycal functions. Coral reef could be habitat for coral fishes.The demage of coral reef could be impacted on ecologycal proceses in the ocean. Therefore, The monitoring of coral reef health should be done to know the healthinees of coral reef. Butterfly fish is fish that can be used as bioindicator of coral demage. The aims of this study were analyzed condition of precent cover of coral reef, and also to measured mortality index of coral reef, abundance index of butterfly fish, and corelation between butterfly fish and coral reef. Survey method was used in this research. Line Intercept Transect  used to measuring percent cover of coral reef along 50 m. The resuts showed that station 7 has the higest of precent cover of coral reef (67%), and station 3 has the lowest of of precent cover of coral reef (20.84%). Coral demage could be caused by illegal fishing. Totally, There were 136 of buterfly fish that found which are categoryzed into 9 specieses. The statistical result found that there are positif corelation between coral reef and butterfly fish. It is indicted that the increasing of percent cover of coral reef could be increasing the abundace of butterfly fish too. Precent cover of live coral reef could be impacted on abundance of buterfly fish due to associated with food and shelter. 
APLIKASI VARIASI LAMA MASERASI BUAH MANGROVE Avicennia marina SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI IKAN NILA (Oreochromis sp.) Utari, Fenny; Herliany, Nurlaila Ervina; Negara, Bertoka Fajar SP; Kusuma, Aradea Bujana; Utami, Maya Angraini Fajar
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.057 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.2.164-177

Abstract

Pengawetan merupakan salah satu proses untuk mempertahankan kesegaran mutu pada ikan.  Penyebab utama proses kemunduran mutu pada ikan adalah aktivitas mikroba yang terdapat pada tubuh ikan. Penelitian ini bertujuan untuk memperolehlama maserasi buah mangrove Avicennia marina yang optimal sebagai pengawet ikan nila.  Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap maserasi dan tahap aplikasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan : tidak diaplikasikan dengan maserat buah mangrove A. marina (K) dan diaplikasikan dengan maserat buah mangrove A. marina yang direndam selama 12 (A), 24 (B) dan 36 (C) jam.  Analisis yang digunakan adalah Analisis sidik ragam (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95%, dan jika terjadi beda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pH, kadar protein dan uji organoleptik pada ikan menunjukkan bahwa ikan nila yang tidak direndam dalam maserat buah mangrove (kontrol) menghasilkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan ikan nila yang diaplikasikan dengan maserat buah mangrove. Berdasarkan analisis sidik ragam (ANOVA) perlakuan memberikan pengaruh beda nyata terhadap kadar pH, kadar protein, dan nilai organoleptik ikan.  Secara umum, kadar pH, kadar protein, dan nilai organoleptik menunjukkan nilai optimal pada perlakuan pemberian maserat hasil maserasi 12 jam.
THE DIVERSITY OF STONY CORAL AND THE TENDENCY TO BLEACH BASED ON LIFEFORM IN THE TENGAH PATCH-REEF OF KARIMUNJAWA ISLANDS Kusuma, Aradea Bujana; Ardli, Erwin Riyanto; Prabowo, Romanus Edy
Scripta Biologica Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.791 KB) | DOI: 10.20884/1.sb.2018.5.1.416

Abstract

Coral reefs, the habitat of tens of thousands of marine species, are an ecosystem with the highest biodiversity. Several threats, however, have impaired coral reefs. One having a potentially catastrophic effect is the increasing temperature of the ocean that leads to a coral bleaching event. This study aimed to determine the diversity of stony coral based on their lifeform, to assess the condition of reefs by measuring percent cover of live coral, and to determine the bleaching occurrence based on the stony coral lifeform in the Tengah patch-reef of Karimunjawa National (Marine) Park. The research was a visual survey with line intercept transects (LIT) used to collect data. The data were presented as percent cover of living coral and their lifeforms. The result showed the diversity of coral in the Tengah patch-reef was very high as indicated by the presence of all coral lifeforms in the study site. The most diverse lifeform was found at 10 m depth with 13 lifeforms, while the lowest lifeform was found at 3 m depth with ten lifeforms. The most extensive live coral cover was found at 3 m depth estimated around 73.71%, and the the lowest coverage was found at 10 m depth, no more than 50.42%. The bleaching event was found in Acropora branching and Acropora digitate at the 3 m depth
PERTUMBUHAN CHLORELLA SP. PADA BEBERAPA KONSENTRASI LIMBAH BATUBARA (THE GROWTH RATE OF THE CHLORELLA SP. AT DIFFERENT CONCENTRATIONS OF COAL WASTE WATER) Selvika, Zerli; Kusuma, Aradea Bujana; Herliany, N. Ervina; Negara, Bertoka F.S.P
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.791 KB) | DOI: 10.13170/depik.5.3.5576

Abstract

Chlorella sp. is a single-celled microalga that mostly grows in marine waters. Chlorella sp. can grow in heavy polluted waters and therefore it has potency as a bioremediation agent. This study aimed was to analyze the effect of coal on the growth of Chlorella sp. in plant isolation media and the quality of water in plant isolation media for Chlorella sp. The complete randomized design with 4 treatments of coal concentration was used in this study. Four concentration concentrations were tested namely, 0 ppt, 1 ppt, 3 ppt and 5 ppt. The results revealed that coal with different concentrations gave no significant effect on the growth of Chlorella sp. (p 0.05). The density among the concentrations of 0 ppt, 1 ppt, 3 ppt and 5 ppt were not significantly different. In addition, the coal concentration gave no significant effect on temperature, salinity and potential hydrogen (pH) (p 0.05). The Chlorella sp. can grow in the polluted water by coal, and therefore this alga can be used as potential organisms for bioremediation of coal waste.Chlorella sp. merupakan mikroalga bersel satu yang banyak tumbuh di perairan laut. Chlorella sp. dapat tumbuh di perairan yang tercemar berat sehingga berpotensi sebagai bioremediator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi batubara terhadap pertumbuhan Chlorella sp. dan kualitas air pada media kultur Chlorella sp. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen skala laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan konsentrasi batubara 0 ppt, 1 ppt, 3 ppt dan 5 ppt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batubara dengan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan Chlorella sp (P 0,05). Kepadatan antara konsentrasi 0 ppt, 1 ppt, 3 ppt dan 5 ppt tidak terlalu jauh berbeda. Konsentrasi batubara juga tidak berpengaruh nyata terhadap parameter suhu, salinitas dan derajat keasaman (pH) (p 0,05). Chlorella sp. dapat tumbuh pada lingkungan yang tercemar oleh batubara, sehingga dapat dipakai sebagai organisme yang berpotensi untuk bioremediasi batubara. 
IDENTIFIKASI MIKROALGA LAUT DARI TAMBRAUW, PAPUA BARAT Purbani, Debora Christin; Ambarwati, Wiwik; Kusuma, Aradea Bujana; Herliany, Nurlaila Ervina
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.451 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.25862

Abstract

Tambrauw as one of the regencies in West Papua, is well known as a megabiodiversity area, including marine microalgae that have an important role in the food chain system in the water. On the other hand the diversity of marine microalgae in this area has not been studied much. This study was conducted to identify marine microalgae from Tambrauw based on morphology and molecular approach. Marine microalgae were isolated from natural sources in Tambrauw, purified and cultivated under standard conditions. Fourteen cultures of marine microalgae were selected based on growth, diversity of morphology and homogeneity. The morphological characteristics were observed using light microscopy and the phylogenetic relationships of each strain were defined according to the 18S rRNA sequence analysis in the eukaryotic group and 16S rRNA in the prokaryotic microalgae group. The resultant sequences were compared with those available on the NCBI website database through the BLAST bioinformatic tool. The results showed high similarity with known nucleotide sequence identified as Monoraphidium neglectum (99%), Chlorella sorokiniana (99%), Oocystis heteromucosa (99%), Ettlia texensis (99%), Dilabifilum arthopyreniae (98%), Auxenochlorella protothecoides (99%), Trichosarcina polymorpha (98%), Scenedesmus vacuolatus (99%), Chlorella kessleri (99%), Coelastrella oocystiformis (99%), dan Foliisarcina bertiogensis (99%). This study is the basic information in revealing the diversity patterns of microalgae, which are very important to obtain new genetic resources for industrial purposes as well as for taxonomic studies.
PREVALENSI DAN JENIS PENYAKIT YANG MENGINFEKSI KARANG DI PERAIRAN PULAU ENGGANO BENGKULU Renta, Person Pesona; Purnama, Dewi; Negara, Bertoka Fajar Surya Prawira; Rahmantyo, Dwi Ari Yasinto; Adhi, Nico Deodatus; Siagian, Raja Aditya Sahala; Kusuma, Aradea Bujana
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.768 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.5.1.101-112

Abstract

Penyakit karang merupakan salah satu permasalahan ekosistem terumbu karang yang diakibatkan oleh manusia. Penyakit karang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan daya imun karang yang ditandai dengan terhambatnya laju pertumbuhan pada karang dan berdampak pada matinya karang di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyakit dan bentuk pertumbuhan karang yang sering terinfeksi penyakit serta menganalisis prevalensi penyakit karang di Perairan Pulau Enggano, Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengambilan data penyakit karang dengan metode transek sabuk (Belt Transect). Hasil penelitian didapatkn 9 jenis penyakit yang ditemukan di Pulau Enggano, yaitu Yellow Band Desease, Black Band Desease, White Band Desease, Red Band Desease, Dark Plague,  White Plague, Pink Plotch, dan Ulcerative White Spots,  serta White Spot. Sedangkan bentuk pertumbuhan (lifeform) karang yang terinfeksi adalah Coral Massive dan Acropora Branching. Tingkat prevelensi karang tertinggi terdapat pada lokasi Kahabi, sedangkan terendah pada Pulau Dua di bagian windward. Tingginya tingkat prevalensi di Kahabi dimungkinkan karena tingginya kedalaman di lokasi tersebut. Rendahnya tingkat prevalensi karang pada Pulau Dua di sisi windward dimungkinkan karena pada sisi ini merupakan daerah yang terkena arus tiap saat, sehingga membantu karang dalam membersihkan sedimen yang menempel pada permukaan yang dimungkinkan membawa bakteri penyebab penyakit karang.CORAL DISEASE PREVALENCE IN ENGGANO ISLAND, BENGKULU. Coral disease is one of the coral reef ecosystem problems caused by humans. Coral disease causes a decrease in the quality and immunity of corals characterized by stunted growth rates on corals and impacts on the death of corals in waters. This study aims to identify the types of coral disease and coral lifeform that are often infected and analyze the prevalence of coral disease in Enggano Island Waters, Bengkulu. This research used survey method. Coral disease data were obtained using the belt transect method. The results obtained 9 types of coral diseases found on Enggano Island, namely Yellow Band Desease, Black Band Desease, White Band Desease, Red Band Desease, Dark Plague, White Plague, Pink Plotch, and Ulcerative White Spots, and White Spot. While infected lifeforms were Coral Massive and Acropora Branching. The highest level of coral prevalence was at the Kahabi site, while the lowest was on Pulau Dua in the windward area. The high prevalence rate in Kahabi might be due to the high depth at the location. The low level of coral prevalence on Pulau Dua on the windward side might be caused by being exposed to the current at any time, thus helping the coral in cleaning sediments attached to the surface which could carry the bacteria that cause coral disease.