Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Komposisi Campuran Pasir Silika dan Kapur Tohor Pada Bata Ringan Berbahan Limbah Abu Terbang Batubara Haryanti, Ninis Hadi; Wardhana, Hendry
Jurnal Fisika Indonesia Vol 21, No 3 (2017)
Publisher : Department of Physics Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.862 KB) | DOI: 10.22146/jfi.42443

Abstract

Hasil uji berat volume dan kuat tekan bata ringan masih memenuhi syarat SNI 03-3449-1994 dan SNI 03-0349-1989. Bata ringan F terrendah dengan rerata berat 834 kg/m3.  Kuat Tekan tertinggi pada bata ringan G dengan rerata Kuat Tekan 25,58 kg/cm2 (2,56 MPa).  Komposisi campuran pasir silika dan kapur tohor memberikan pengaruh nyata (signifikan) terhadap berat volume dan kuat tekan bata ringan. Dari pengujian kuat tekan, bata ringan dengan komposisi  kapur tohor rendah mempunyai kuat tekan lebih tinggi dari pada komposisi dengan kadar kapur tohor lebih tinggi. Sementara bata ringan dengan variasi komposisi pasir silika tinggi mempunyai kuat tekan lebih tinggi. Semakin besar penggunaan abu terbang batubara dan kapur tohor akan meningkatkan absorpsi dan porositas tetapi akan menurunkan nilai berat volume bata ringan. Semakin besar porositas maka kuat tekan bata ringan akan berkurang. Secara analisis statistik menunjukkan pemilihan komposisi sama saja, tetapi di rekomendasikan untuk memilih komposisi campuran abu terbang batubara sama dengan pasir silika 28,57% serta semen 42,86% (bata ringan G).
UJI PASIR LIMBAH TAMBANG INTAN CEMPAKA Haryanti, Ninis Hadi
Jurnal Fisika FLUX Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Fisika FLUX edisi Agustus 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v12i2.2611

Abstract

ABSTRACT. During diamond mining process, waste is usually found. That diamond mine waste (tailing) that is categorized as gangue mineral is sand and gravel. One of gangue minerals which are in the form of sand during diamond mine in Cempaka Banjarbaru is Zircon sand.  Until now, that zircon sand has not been utilized optimally. Based on the size measurement of sand grains from diamond mine waste, it is passed the standard of filter size number 4 and related with 4.75 mm filter hole. However the result includes 2.69 Apparent Specific Gravity as well as 1.41 g/cm3 density. That result is categorized into normal aggregate type and lower compared to other sand location (Matraman area). By looking at the morphology and size of sand grains from diamond mine waste, it is gained smaller and tighter particles distribution, equal particle distribution and varied particle size. When looking at the form of sand grains, that diamond mine waste sand is categorized under Sub Angular Grain. Based on EDX spectrum analysis result, it is contained C, O, Al, Si, Ti, Fe, Cu, Zr. Based on 3 different samples of diamond mine waste sand, it is gained average Zr value which is the first Zr sample 1.5, the second Zr sample 0.485, the third Zr sample 0.925. The highest Zr value is in the first sample, which is the sample in sand container box, with average Zr 1.5% composition of Zircon. From the 3 samples of diamond mine waste sand in the different location, it is gained average Zr values which are the first Zr sample 1.5, the second Zr sample 0.485, the third Zr sample 0.925. The highest Zr value is in the first sample, which is the sample in sand container box, with average Zr 1.5% composition of Zircon. Keywords : diamond mine waste, Zircon sand
Studi Abu Dasar Batubara Sebagai Bahan Konstruksi Campuran Beton Wardhana, Henry; Haryanti, Ninis Hadi
INFO-TEKNIK Vol 2, No 1 (2001): INFOTEKNIK VOL. 2 NO. 1 2001
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan abu dasar batubara sebagai bahan konstruksi campuran beton. Penelitian dilakukan dengan metode pengujian yang berdasarkan DOE dengan pembuatan job mix dengan komposisi semen, kerikil, pasir, air dan abu dasar batubara, dimana tambahan abu dasar batubara diambil dari komposisi pasir. Adapun komposisi abu dasar batubara terhadap pasir adalah 0%, 7,5%,10%, 15%,17,5%,20% dan 22,5%. Disamping itu untuk setiap percobaan dibuat empat buah benda uji kubus denga ukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm.Hasil penelitian diperoleh bahwa pemakaian abu dasar batubara dapat mengurangi berat beton itu sendiri, sehingga beban yang hrus dipikul oleh fondasi menajdi lebih ringan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kekuatan tekan beton dengan menggunakan abu dasar batubara pada komposisi 17,5% dari berat normal pasir.
PENGARUH SUHU SINTERING TERHADAP SIFAT MEKANIK KERAMIK BERBAHAN LEMPUNG DAN ABU SEKAM PADI Husain, sadang; Haryanti, Ninis Hadi; Manik, Tetti Novalina
Jurnal Fisika FLUX Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Fisika FLUX Edisi Februari 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v13i1.1921

Abstract

Abstract.  Study about the influence of sintering temperature on mechanical properties of ceramics has been done using clay and rice husk ash. Limitation of mechanical properties tested is the comppressive strength. This is done in order to determine the effect of variation of sintering temperature to compressive strength of ceramic with clay and rice husk ash. In addition, the calculation of fuel density and shrinkage also performed in this study. Variation in the composition of clay and rice husk ash is made to see the maximum composition of these materials. The result shows that the density of the ceramic material on the composition of  clay and rice husk ash volume 100: 0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, and 50:50 are 2.14; 2.01; 1.98; 1.88; 1.84; and 1.78 g / cm3 respectively. Shrinkage of ceramic material has ranges between 3.4% -11.4%. The value of maximum compressive strength of clay and rice husk ash ceramic at 7000C, 8000C, and 9000C sintering temperature are 115.58; 115.58, and 128.42 kg / cm3. This value conforms the standard if used for bricks. The greater the sintering temperature, the higher the compressive strength of the ceramic. The best composition of clay and rice husk ash is 70:30. This ceramic can be used as building material, especially in the swampy area because it has a lighter weight. Keywords: Ceramics, Clay, Rich husk ash, comppressive strength
KAJIAN TEMPORAL KEKERINGAN MENGGUNAKAN PERHITUNGAN KEETCH BYRAM DRYNESS INDEX (KBDI) DI WILAYAH BANJARBARU, BANJARMASIN DAN KOTABARU PERIODE 2005 – 2013 Istyarini, Herin Hutri; Wahyono, Sri Cahyo; Haryanti, Ninis Hadi
Jurnal Fisika FLUX Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Fisika FLUX edisi Agustus 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v12i2.2505

Abstract

ABSTRAK. Dinamika cuaca dan iklim berperan besar dalam perubahan ketersediaan air tanah secara spasial dan temporal. Secara temporal, perubahan ketersediaan air tanah secara umum lebih mudah untuk dirasakan seperti kejadian fenomena kekeringan dan kekurangan air yang terjadi pada periode bulan tertentu.  Kalimantan Selatan merupakan daerah yang berpotensi terjadinya kekeringan pada saat musim kemarau. Menjadi sangat penting untuk mengetahui rekaman iklim yang telah terjadi dan pengaruh yang ditimbulkan oleh iklim tersebut terhadap tingkat kerawanan kebakaran hutan pada suatu wilayah melalui tingkat kekeringannya.  Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis indeks kekeringan menggunakan metode Keetch Byram Dryness Index (KBDI), Indeks Osilasi Selatan (SOI) dan hotspot yang digunakan sebagai parameter kekeringan. Data yang digunakan adalah data curah hujan dan suhu maksimum dari 2 Stasiun Meteorologi dan 1 Stasiun Klimatologi untuk mewakili wilayah Kalimantan Selatan dari tahun 2005-2013 dan hotspot dari tahun 2005-2013. Fenomena El~Nino terjadi pada tahun 2006-2007 (September - Januari) dan tahun 2009-2010 (November - Maret). Korelasi antara  KBDI terhadap curah hujan periode 2006-2007 dan 2009-2010 bernilai negatif (bersifat berbanding terbalik). Nilai korelasi bersifat kuat di ketiga wilayah pengamatan pada tahun 2006 dan bersifat lemah di wilayah Banjarbaru dan Kotabaru pada tahun 2009. Korelasi antara  KBDI terhadap hotspot  periode 2006-2007 dan 2009-2010 bernilai positif (bersifat berbanding lurus) dan bersifat kuat di wilayah Banjarbaru, Banjarmasin dan Kotabaru. Kata kunci: El Nino, Hotspot, Indeks Kekeringan, Kekeringan, Kalimantan Selatan. 
Purifikasi Kuarsa Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Rifina, Irma; Haryanti, Ninis Hadi; Manik, Tetti Novalina
Jurnal Fisika FLUX Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Fisika FLUX Edisi Agustus 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v14i2.4469

Abstract

Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi kuarsa yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya di Daerah Ambungan. Dalam penelitian ini, kuarsa Daerah Ambungan dilakukan purifikasi untuk menghasilkan silikon yang lebih murni dan aplikatif. Proses purifikasi tersebut dilakukan dengan menggunakan metode magnesiotermik dan leaching asam hidroflurik (HF) berulang yang kemudian dikarakterisasi menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) dan X-Ray Difraction (XRD). Analisa hasil karakterisasi menggunakan software Match! menyatakan bahwa purifikasi magnesiotermik dengan perbandingan 1:1 (kuarsa : magnesium) memiliki persentase silikon yang lebih baik yakni sebesar 12,9% jika dibandingkan dengan perbandingan 2:1 (8,5%) dan 2:1 (4,2%), sedangkan proses leaching asam hidroflurik berulang menyebabkan terjadinya reaksi pengikatan kembali Silikon dan pengotor hingga kemurniannya berkurang secara signifikan mencapai 1,8%.
UJI ABU TERBANG PLTU ASAM ASAM SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BATA RINGAN Haryanti, Ninis Hadi
Jurnal Fisika FLUX Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Fisika FLUX Edisi Agustus 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v11i2.2675

Abstract

ABSTRAK. Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfatkan  limbah pembakaran batubara pada PLTU yaitu Abu Terbang (Fly Ash) untuk pembuatan beton bata ringan nonstruktur. Telah dilakukan uji terhadap abu terbang dari limbah batubara yang digunakan pada PLTU Asam asam dengan hasil kandungan silika relatif tinggi (74,2% SiO2) sedangkan alumina tidak terlalu tinggi (5,7% Al2O3), dan Fe2O3 sekitar 14,4%. Kandungan logam alkali (2,4% CaO dan 2,03% MgO) mendukung pembentukan ikatan material aluminosilikat. Karena kandungan CaO sekitar 2,4%, maka abu ini termasuk abu terbang kualitas ASTM kelas F. Abu terbang kelas F ini kadar kapurnya rendah (CaO < 10%), cocok berfungsi sebagai bahan low/ultra-low cement castable refractory yang tahan suhu tinggi. Komposisi kimia limbah abu terbang PLTU Asam asam Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa kadar Al2O3 yaitu Al2O3 : SiO2 = 5,7% : 74,2% atau nilai Al2O3/SiO2 = 0,076819, yang berarti kadar alumina sangat kecil dibandingkan dengan silikanya. Dari hasil tersebut terlihat bahwa fly ash yang digunakan termasuk dalam kategori fly ash tipe F (ACI Manual of Concrete Practice 1993 Part 1 226.3R-3), dengan kadar SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 lebih dari 70% dan sesuai dengan syarat SNI 03-2460-1991. Fly ash kelas F disebut juga low-calcium fly ash, yang tidak mempunyai sifat cementitious dan hanya bersifat pozolanic. Oleh karena itu, limbah abu terbang PLTU Asam asam dapat digunakan sebagai bahan campuran (sebagai agregat) pembuatan bata ringan. Kata kunci: abu terbang, bata ringan, komposisi kimia abu terbang
KUAT TEKAN BATA RINGAN DENGAN BAHAN CAMPURAN ABU TERBANG PLTU ASAM-ASAM KALIMANTAN SELATAN Haryanti, Ninis Hadi
Jurnal Fisika FLUX Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Fisika FLUX Edisi Februari 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v12i1.1302

Abstract

Various researches regarding the utilization of coal fly ash are currently being explored in order to increase its economic value as well as decrease its harm to environment.at the same time. The purpose of this reasearch is to know compressive pressure and weight of light-weight brick by using fired-coal waste from ”Asam-Asam” Coal Fired Steam Power Plant. The test result towards fly ash’s characteristics from ”Asam-Asam” Coal Fired Steam Power which has been done beforehand, is inline with the requirement of SNI 03-2460-1991. However the result of compressive pressure test still meets the requirement of SNI 03-0349-1989.Test has been conducted about compressive pressure and light-weight brick by using mixed materials of fly ash.  The compositions of light-weight brick’s production are cement and fly ash for 50% each, including mixed foam, polymer and hardener, 0.50% for each of them, in order to achieve the highest average result of light-weight brick’s compressive pressure by 39.99 kg/cm2 or 3.92 MPa. Meanwhile its density obtains 0.78 kg/dm3 or 780 kg/m3. ‘D’ light-weight brick’s compositions are cement by 42.86% and fly ash by 28.57% including unslaked lime by 28.57%. Whereas the mixed compositions of foam, polymer and hardener for each 0.50% and 0.38%.The test result above still fulfils the requirement of SNI 03-0349-1989, which is 21 kg/cm2 for the solid concrete brick quality level IV as well as fulfils the theory of light-weight brick according to Tjokrodimuljo (2007), concrete is categorized as light if its weight is less than 1800 kg/m3
Penentuan Mineral dan Logam sebagai Material Dasar dalam Pengembangan Potensi Kalimantan Selatan sebagai Daerah Penghasil Nanomaterial Wianto, Totok; Haryanti, Ninis Hadi
Jurnal Fisika FLUX Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Fisika Flux Edisi Agustus 2008
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/flux.v5i2.3044

Abstract

Telah dilakukan penelitian penentuan mineral dan logam sebagai material dasar dalam pengembangan potensi Kalimantan Selatan sebagai daerah penghasil Nanomaterial. Hasil dari pengamatan tersebut didapatkan berbagai macam mineral yang potensial dikembangkan sebagai material nano. Material tersebut adalah zirkonium, emas, kaolin, nikel, barit, asbes (Mg yang besar), talk, chrom, pasir besi, bentonit, fireclay, magnesit, kuarsa/silika, mangan, perak dan zeolit. Dari hasil pengukuran didapatkan mineral/logam yang potensial dikembangkan sebagai material nano adalah pasir besi, kuarsa/silika, kaolin yang mengandung clay dan zirkonium. Kandungan material tersebut adalah zirkonium (puya) sebagai hasil tambahan dari tambang intan dengan cadangan ± 21.350 ton, kaolin degan kadar kaolinit yang besar, chrom (sedang dalam eksplorasi), pasir besi dengan potensi ± 300 juta ton dengan kadar Fe sampai dengan 62,57%, kuarsa/silika dengan kadar SiO2 antara 94,4 % - 99%.
UTILIZATION OF COAL BOTTOM ASH AS BRIQUETTE MATERIAL Haryanti, Ninis Hadi; Suryajaya, Suryajaya; Wardhana, Henry; Noor, Rijali
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 4 No 3 (2019): SPEKTRA: Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Volume 4 Issue 3, December 2019
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/SPEKTRA.043.02

Abstract

Research has been carried out on the use of coal bottom ash as a material for making briquettes as an alternative fuel. Carbonized of rubber seed shells and Halaban wood were used as mixtures and tapioca flour as adhesives. The composition used in making Halaban wood charcoal and coal bottom ash briquettes is 100% : 0%, 90% : 10%, 80% : 20%, and 70% : 30%. Tapioca flour used was as much as 5%, the pressure of 150 kg/cm2 and the size of 250 meshes. While for rubber seed shell and coal bottom ash briquettes, the composition used was with ratio 60% : 40% and 70% : 30%, the pressure used was 100, 150, and 200 kg/cm2 and the size of 50 meshes. Tapioca flour used was as much as 5%. The results of the characterization of rubber seed shell and coal bottom ash briquettes were water content (4.35 - 10.65)%, ash content (12.53 - 17.26)%, and calorific value (3597.59 - 4549.88) cal/g. While the characterization results of Halaban wood charcoal and coal bottom ash briquettes were water content (2.947 ? 4.097)%, ash content (0.383 ? 26.667)%, and calorific value (4749-6621) cal/g. The results showed that if coal bottom ash in the composition were higher, it would increase the water content and ash content of the briquettes, while the calorific value would be lower. The recommended composition of coal bottom ash was about 10-20 %. While if the briquettes pressure was higher, the water content, ash content and calorific value would be smaller. The recommended pressure was 150 kg /cm2.