Suteja Suteja, Suteja
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PENDIDIKAN KEAGAMAAN DI PESANTREN SALAF (Pembelaan terhadap Fikih-Sufistik Model al-Imam al-Ghazali) Suteja, Suteja
Paedagogia: Jurnal Pendidikan Vol 6 No 2 (2017): Paedagogia: Jurnal Pendidikan
Publisher : Fakultas tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.417 KB)

Abstract

Pesantren as an educational institution and center of the spread of Islam is born and developed since the beginning of the arrival of Islam in the archipelago. This institution stood for the first time in the days of Walisongo. Sufism is part of the Islamic teachings of the easiest and quickly adapt to the traditions and even the mystique of the local community. Significant influential figures include: al-Ghazali who has described the moderate concept of tasawuf akhlaqi accepted in all circles of the fuqaha ', Ibn' Arabi, as his work strongly influences the teachings of almost all Sufis, as well as the founders of the tarekat such as' Abd. al-Qadir al-Jaylani whose teachings form the basis of the Qadiriyah congregation, Abu al-Najib al-Suhrawardi, Najmudddin al-Kubra whose teachings were very influential on the tarkeat of Naqsyabandiyah, al-Hasan al-Syadzali Sufis African origin and founder of the tarekat Syadzaliyah, Bahauddin al -Bukhari al-Naqsyabandi, and 'Abdullah al-Shattar. And the above mentioned Sufism method developed is the continuity of Sufism of al-Ghazali.
MENCARI AKAR RUJUKAN AJARAN MA’RIFAT SYAIKH NURUDDAROIN PESANTREN “MUKASYAFAH ‘ARIFIN BILLAH” DESA KARANGSARI KECAMATAN WERU KABUPATEN CIREBON Suteja, Suteja
Holistik Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.532 KB)

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang akar-akar rujukan ajaran Ma’rifat SyaikhNuruddaroin di Pesantren Mukasyafah Arifin Billah Desa Karangsari Kec.Weru Kab. Cirebon. Dengan memanfaatkan metode kualitatif dan pendekatansosio-historis, kajian ini melahirkan beberapa temuan. Pertama, MuhammadNuruddaroin bertekad kuat ingin mencari Allah Swt. atas dasar kecintaan dankerinduannya yang teramat dalam ingin bertemu Dia. Pada tanggal 26 Rabi’ulAwwal 1338 H./1919 M. seusai shalat Jumat, tepatnya dari mulai jam dua siangsampai menjelang tiba waktu shalat Ashar, dia mengalami kelenger (fanâ`).Dia meyakini telah mengalami empat tingkatan kematian, yaitu mati abang,mati putih, mati ijo, dan mati ireng. Sejak saat itu, ia merasa telah mencapaimaqam inkisyâf. Ia meyakini peristiwa tersebut sebagai ma’rifah. Namundemikian, dia tidak menganut paham kesatuan hamba dengan Tuhannyaataupun bersemayamnya Tuhan dalam diri manusia. Ia tetap konsisten denganajaran ma’rifah al-Ghazali; kedua, Al-Ghazali membatasi ma’rifatullah kepadakemampuan (karunia)untuk mengenali rahaia dari banyak rahasia Allah, bukanmelhat atau bertemu (musyahadah) Alah di dunia. Dan ketiga, Musyahadahyang, diklaim Muhammad Nuruddaroin tidak terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan betentangan dengan konsep ma’rifat al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren MukasyafahArifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.Artikel ini mendeskripsikan tentang akar-akar rujukan ajaran Ma’rifat SyaikhNuruddaroin di Pesantren Mukasyafah Arifin Billah Desa Karangsari Kec.Weru Kab. Cirebon. Dengan memanfaatkan metode kualitatif dan pendekatansosio-historis, kajian ini melahirkan beberapa temuan. Pertama, MuhammadNuruddaroin bertekad kuat ingin mencari Allah Swt. atas dasar kecintaan dankerinduannya yang teramat dalam ingin bertemu Dia. Pada tanggal 26 Rabi’ulAwwal 1338 H./1919 M. seusai shalat Jumat, tepatnya dari mulai jam dua siangsampai menjelang tiba waktu shalat Ashar, dia mengalami kelenger (fanâ`).Dia meyakini telah mengalami empat tingkatan kematian, yaitu mati abang,mati putih, mati ijo, dan mati ireng. Sejak saat itu, ia merasa telah mencapaimaqam inkisyâf. Ia meyakini peristiwa tersebut sebagai ma’rifah. Namundemikian, dia tidak menganut paham kesatuan hamba dengan Tuhannyaataupun bersemayamnya Tuhan dalam diri manusia. Ia tetap konsisten denganajaran ma’rifah al-Ghazali; kedua, Al-Ghazali membatasi ma’rifatullah kepadakemampuan (karunia)untuk mengenali rahaia dari banyak rahasia Allah, bukanmelhat atau bertemu (musyahadah) Alah di dunia. Dan ketiga, Musyahadahyang, diklaim Muhammad Nuruddaroin tidak terdapat dalam tasawuf al-Ghazali dan betentangan dengan konsep ma’rifat al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren MukasyafahArifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.Kata Kunci: Tasawuf, Ma’rifat Syaikh Nuruddaroin, Pesantren Mukasyafah Arifin Billah dan Ma’rifah al-Ghazali.
KOMPETENSI AKADEMIS DAN SPIRITUAL PENDIDIK MENURUT IMAM AL-GHAZALI Telaah Isi Kitab Ihya’ Ulum al-Din Juz I (Satu) Erlina, Erna; Suteja, Suteja; Afandi, Akhmad
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mendeskripsikan pemikiran imam al-Ghazali tentang kompetensi akademis dan spiritual pendidik, serta kesesuaian pemikiran imam al-Ghazali di Era Globalisasi. Langkah-langkah penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini adalah menggunakan data teoritik yang bersifat kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data, display data, deskripsi serta kesimpulan dan verifikasi terhadap sumber data baik data primer maupun data skunder. Hasil dari  penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yaitu: 1) Kompetensi akademis pendidik yang terangkum dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz I (satu) karangan imam al-Ghazali yaitu, Memberikan nasehat kepada peserta didik agar mencapai tujuan, Melarang peserta didik agar tidak memiliki akhlak tercela, dan Memberikan pengetahuan sesuai kadar pemahaman anak didik. 2) Kompetensi spiritual pendidiknya yaitu: Memberikan kasih sayang terhadap anak didik, Mengikuti jejak Rasulullah dalam tugas dan kewajibannya, Menghormati rekan sejawat dan Menjadi teladan bagi anak didik. 3) Kesesuaian pemikiran imam al-Ghazali di era globalisasi mengenai kompetensi akademis dan kompetensi spiritual pendidik sesuai dengan kode etik guru Indonesia yang tercantum pada bagian Nilai-nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional Pasal 5 dan Pasal 6. Kata Kunci: Kompetensi, Akademis, Spiritual, Imam al-Ghazali, Kode Etik Guru Indonesia.
PENGELOLAAN KELAS OLEH GURU TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAAWIYAH (MTS) AN-NUR KOTA CIREBON Ilham, Muhammad Husni; Suteja, Suteja; Affandi, Akhmad
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2019): Inovasi Pembelajaran PAI di Era Digital
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMuhammad Husni Ilham NIM. 1413113131 Pengaruh Pengelolaan Kelas oleh Guru terhadap Minat Belajar Siswa Kelas VIII Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Madrasah Tsanawiyah (MTs) An-Nur Kota CirebonBerdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukakan, bahwa hasil pengamatan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) An-Nur Kota Cirebon, guru melakukan  pengelolaan kelas belum berhasil menarik minat belajar siswa yang di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya suasana kelas kurang kondusif, media dan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan materi, sarana belajar yang kurang memadai serta lingkungan belajar yang kurang efektif. Hal tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi minat belajar siswa.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan pengelolaan kelas oleh guru terhadap minat belajar tergolong baik, untukmengetahui minat belajar pada bidang studi Sejarah Kebudayaan islam tergolong baik, untuk mengetahui besar pengaruh pengelolaan kelas oleh guru terhadap minat belajar siswi kelas VIII Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MTs An-Nur Kota CirebonMengemukakan bahwa mengelola kelas adalah kemampuan guru/instruktur/widyaiswara untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal; dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, Secara sederhana. Minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena kebergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.Penelitian ini terdapat dua variabel yang dijadikan sebagai acuan dalam pengamatan, guna memperoleh data dan kesimpulan empiris mengenai pengaruh keterampilan guru dalam mengelola kelas terhadap minat belajar bidang studi SKI siswa kelas VIII . Variabelindependen (variabelbebas) yaitupengelolaankelassebagaivariabel X. Variabeldependen (variabelterikat) yaituminatbelajarsiswasebagaivariabel YBerdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil; guru SKI MTs An-Nur Kota Cirebon memiliki tingkat pengelolaan kelas dalam kategori sangat baik yaitu 90 %  karena berada pada rentang  86% - 100% , sedangkan minat belajar siswa kelas VIII C juga dalam kategori sangat baik sebesar 91 karena berada pada karena berada pada rentang 86% - 100%. Dari hasil perhitungan Thitung> Ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan perhitungan, diketahui nilai Thitung sebesar 2,45 dan nilai Ttabel 1,697. Jika dibandingkan terlihat nilai Thitung > Ttabel atau lebih jelasnya 2,45>1,697. Dengan demikian Ha yang menyatakan : “ada pengaruh yang signifikan antara pengaruh pengelolaan kelas oleh guru dengan minat belajar sejarah kebudayaan islam (SKI) siswa kelas VIII MTs An-Nur Kota Cirebon” diterima. Sementara Ho yang menyatakan : “Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pengaruh pengelolaan kelas oleh guru dengan minat belajar sejarah kebudayaan islam (SKI) siswa kelas VIII MTs An-Nur Kota Cirebon” ditolak
PERAN KELUARGA BURUH BATIK DALAM MENGURANGI KENAKALAN REMAJA USIA 13-16 TAHUN RT/RW 09/03 DI DESA WOTGALI KECAMATAN PLERED KABUPATEN CIREBON Fathonah, Fathonah; Suteja, Suteja; Affandi, Akhmad
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan pengamatan ditemukan bahwa keluarga di Desa Wotgali Rt/Rw 09/03 Kec. Plered Kab. Cirebon telah sepenuhnya memberikan bimbingan dan pengarahan terhadap anak terlebih mengenai akhlak dan keagamaannya. Akan tetapi masih beberapa anak yang memang memiliki akhlak yang kurang baik pada usia 13-16 tahun dengan berbagai faktor-faktor tertentu.Penelitian  ini  bertujuan  untuk:1.Untuk  Memperoleh  Data  Tentang  Peran Keluarga Buruh Batik Terhadap Remaja Usia 13-16 Tahun Di Rt/Rw: 09/03 Desa Wotgali Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon 2. Mengetahui Kenakalan Remaja Usia 13-16 Tahun Di Rt/Rw 09/03 Desa Wotgali Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon. 3. Mengetahui Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Usia 13-16 Tahun Rt/Rw 09/03 Di Desa Wotgali Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon 4. Upaya Keluarga Buruh Batik Dalam Mengurangi Kenakalan Remaja Usia 13-16 Tahun Di Rt/Rw: 09/03  Desa Wotgali Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon.Keluarga merupakan sekolah pertama dalam pembinaan akhlak atau moral anak sebagai tempat dan proses pergaulan hidup, baik buruknya struktur keluarga sangat menentukan baik buruknya perilaku dan karakter anak dan remaja. Kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan mengganggu baik terhadap diri sendiri maupun orang lain seperti: Minuman keras, Narkoba, Merokok, Pacaran diluar batas kewajaran, Pencurian, Penganiayaan, Pembunuhan dan lain-lain.Metode  penelitian  ini  dengan tekhnik in-depth intervieu  (wawancara mendalam)  dan  observasi (Pengamatan langsung). Selanjutnya hasil intervieu dianalisis dengan analisis kualitatif deskritif, yaituproses analisis yang mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif.Dari  hasil  penelitian  dapat  disimpulkan  bahwa  peran  keluarga di Desa Wotgali Rt/Rw 09/03 Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon telah menjalankan dengan baik peran sebagai sebagai teladan yang baik, pemberi motivasi bagi kelangsungan kehidupan anaknya, memenuhi kebutuhan dasar manusia (fisiologi dan psikis) dan pendidik yang mampu mengatur dan mengenal anak.Kenakalan Remaja yang terjadi di lokasi penelitian meliputi minuman keras, merokok dan pacaran. Dan faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di desa Wotgali meliputi faktor internal, yaitu lemahnya pertahanan diri dan faktor eksternal yang meliputi: kondisi lingkungan keluarga, keadaan ekonomi keluarga dan pengaruh pergaulan teman sebaya.  Adapun upaya dalam meminimalisir kenakalan remaja meliputi: pengajian yang disampaikan dengan materi fikih, akidah dan akhlak dan dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab; kerjasama keluarga, pemeritah desa dan masyarakat, dan kegiatan alternatif di luar rumah.Kata Kunci : Peran Keluarga, Kenakalan Remaja 
ORIENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DALAM KURIKULUM 2013 PERSPEKTIF THOMAS LICKONA Azizah, Anisatul; Muslihudin, Muslihudin; Suteja, Suteja
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain. Kehidupan yang berbudi luhur termasuk kebaikan yang berorientasi pada diri sendiri (kontrol diri) sebagaimana halnya dengan kebaikan yang berorientasi pada hal lainnya (kemurahan hati dan belas kasihan), dan kedua jenis kebaikan ini saling berhubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan karakter perspektif Thomas Lickona, mengetahui konsep Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 dan mengetahui Perspektif Thomas Lickona dalam Pendidikan Karakter pada Kurikulum 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter menurut Thomas Lickona, memiliki tiga komponen karakter yang saling berhubungan: pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona dan dalam kurikulum 2013 mempunyai relevansi, dalam standar isi yang membahas sikap, tertuang dalam KI-1 yakni tentang spiritual dan KI-2 tentang sosial, dan  dalam Kompetensi Dasar (KD). KD pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas X, XI dan XII dalam Kurikulum 2013, Komponen dan KD yang menunjukkan keselarasan antara Thomas Lickona dengan Kurikulum 2013 yakni, pengetahuan moral: menghayati, perasaan moral: meyakini, dan tindakan moral: menunjukkan sikap hormat, jujur.Kata Kunci : Orientasi, Pendidikan Karakter
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS TASAWUF Suteja, Suteja
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian masyarakat di kota-kota besar sekarang ini, mereka mulai tertarik untuk mempelajari dan mempraktikkan pola hidup sufistik.Hal ini dapat dilihat dari banjirnya buku-buku tasawuf di tokok-toko buku, bermunculannya kajian-kajian tasawuf dan maraknya tayangan-tayangan, televisi dan radio.Fenomena ini menunjukkan bahwa ternyata agama telah dibawa untuk hidup di wilayah industri dan digitalisasi. Kitab suci masuk ruang internet, diolah ke dalam MP3, pesantren virtual, dan lain-lain.Fenomena ini makin menarik dikaji mengingat betapa pongahnya masyarakat modern ketika puncak kehidupannya yang rasional, empiris telah membawa mereka ke puncak peradaban.Peradaban modern yang berkembang di Barat sejak zaman renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya, sehingga umat manusia menjadi ragu akan pertanyaan apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di masa yang akan datang.Akibat dari fenomena di atas, masyarakat Barat, yang sering digolongkan the post industrial society, suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuran materi sedemikian rupa dengan perangkat teknologi yang serba mekanis dan otomat. Bukannya semakin mendekati kebahagian hidup, melainkan sebaliknya, kian dihinggapi rasa cemas  akibat kemewahan hidup yang diraihnya. Mereka telah menjadi pemuja ilmu dan teknologi, sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaannya tereduksi, lalu terperangkap pada jaringan sistem rasionalitas teknologi yang sangat tidak human.Faktor yang paling penting dalam membangun dan membuat identitas muslim masa kini adalah system pendidikan Islam tradisional, sepeti yang diteladankan kaum sufi.  Indonesia mencatat betapa besar pengaruh tasawuf kedalam dunia pendidikan sebelum masa kemerdekaan.Pengaruh tasawuf sudah sejak lama memasuki lembaga-lembaga pendidikan seperti Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Jami’at Khair, Madrasah al-Khaerat, Nahdhatul Ulama dan Pesantren.Kini saatnya Lembaga Pendidikan Islam mensosialisasikan dan menginternasikan  dimensi batiniah Islam kepada peserta didik (murid, tholib) sebagai alternatif.Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Tasawuf, Manusia Modern
PENGARUH PEMBERIAN TUGAS HAFALAN TERHADAP KEMAMPUAN MENGHAFAL SISWA PADA BIDANG STUDI ALQUR’AN HADITS DI MTS HIDAYATUS SHIBYAN DESA KECOMBERAN KECAMATAN TALUN KABUPATEN CIREBON Fahmi, Ahmad; Suteja, Suteja; Suklani, Suklani
Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2019): Inovasi Pembelajaran PAI di Era Digital
Publisher : Al-Tarbawi Al-Haditsah : Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memiliki latar belakang dengan masih ditemukannya minat siswa untuk menghafal Al-Qur’an yang belum sesuai harapan, padahal proses pendidikan di MTs Hidayatus Shibyan Desa Kecomberan Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon sudah baik. Beberapa indikasinya adalah sebagian besar mata pelajaran yang ada di MTs Hidayatus Shibyan memerlukan kemampuan menghafal Al-Qur’an dengan baik, khususnya pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits dan SKL dari Al-Qur’an Hadits tersebut menitik beratkan pada siswanya untuk terampil menghafal Al-Qur’an terutama Juz 30.Kesimpulan hasil penelitian ini yaitu, pemberian tugas hafalan pada bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs Hidayatus Shibyan, memperoleh skor 2,51 termasuk dalam kategori rendah. Kemampuan menghafal siswa pada bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs Hidayatus Shibyan memperoleh skor 2,85 termasuk dalam kategori rendah dikarenakan jumlah hafalan siswa-siswi MTs Hidayatus Shibyan masih belum tercapai sepenuhnya. Pengaruh antara pemberian tugas hafalan terhadap kemampuan menghafal siswa pada bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs Hidayatus Shibyan Desa Kecomberan Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon memiliki tingkat korelasi yang lemah atau rendah, dengan diperoleh nilai koefisien 0,399 yang menunjukkan pada korelasi yang lemah atau rendah, karena berada pada interval 0,20 – 0,40.
MADRASAH VS. SEKOLAH Dikotomi Institusi Pendidikan Indonesia Suteja, Suteja
Al-Tarbawi Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruann, IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tarbawi.v2i2.2068

Abstract

AbstrakBicara pendidikan di Indonesia tidak lepas dari dua istilah yaitu sekolah dan madrasah. Keduanya memiliki sejarah lahir dan perkembangannya bahkan mengalami polarisasi antar keduanya, terjadi klaim-klaim yang saling menguatkan. Sekolah pada awalnya adalah bentukan colonial Belanda yang kemudian mengantarkan pada ketenarannya seolah tidak ada lembaga pendidikan yang sebenarnya lebih dini jauh sebelum kaum colonial datang ke Nusantara, yaitu pesantren. Bermula dari lembaga pesantren inilah lahir madrasah sebagai wadah para santri/murid menimba ilmu agama bahkan juga ilmu umum dengan metode klasikal.Sejalan dengan perkembangan waktu, madrasah terus mengalami perubahan meskipun secara formal, pengakuan pemerintah terutama Kementerian Agama terhadap Madrasah adalah pasca merdeka negeri ini. Namun bukan hal yang dipungkiri ketika di lapangan, masyarakat masih latah dengan pelabelan nama sekolah daripada madrasah sehingga menimbulkan kesan pengkotomiaan antara sekolah dan madrasah. Madrasah juga terus melakukan inovasi baik dari segi metode, kurikulum, dan desain-desain lainnya.Upaya-upaya kementerian Agama sebagai induk pengayom madrasah terus dilakukan demi terciptanya lembaga pendidikan keagamaan plus, yaitu bernama madrasah sehingga melulusakan output yang kompetitif, memiliki daya jual yang tangguh dengan dibekali ilmu agamaNamaun, pada tulisan ini tidak akan menambah jarak menganga antara keduanya tapi bagaimana madrasah sejajar dengan sekolah ketika memberika pelayanan pendidikan yang baik di kancah nasional.  Kata Kunci: Dikotomi, Madrasah, dan Sekolah
Perilaku Tarik Komposit Laminat Serat Kulit Waru-Aluminium Suteja, Suteja; Purnowidodo, Anindito; Darmadi, Djarot B.; Sari, Nasmi Herlina
Rekayasa Mesin Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jrm.2019.010.01.3

Abstract

Waru fiber-aluminium laminate composite is engineering materials which have high stiffness, strength properties and weight to strength ratio. The aim of this study is to find out the effect of the number of waru fiber to tensile strength on laminate composite waru fiber-Aluminium. The process of laminating composite waru fiber-aluminium is done by vacuum infusion resin method with layers variation 1, 2, 3, 4  and fiber direction 45/45 angle woven basket. The result shows that the tensile strength of the waru-Al fiber composite decreases and the elongation value of the composite increases due to the addition of layers of fiber waru lower bond strength on adhesive-aluminum and adhesive-waru. The lowest tensile strength of 153,642 MPa has occurred in composite with 4 layers of waru fibre.