Articles

Found 10 Documents
Search

HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KELURAHAN SAWANGAN BARU KOTA DEPOK TAHUN 2015 Mahmudah, Solehatul; Maryusman, Taufik; Arini, Firlia Ayu; Malkan, Ibnu
Biomedika Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i2.2915

Abstract

Beberapa faktor resiko diduga memiliki peran dalam terjadinya hipertensi seperti gaya hidup, pola makan dan usia. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian cross sectional ini diikuti oleh 74 responden dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian in mendapatkan proporsi lansia yang mengalami hipertensi sebesar 26,4%. Analisis bivariat menggunakan uji chisquare dan analisis multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,024 OR=3,596), asupan lemak (p=0,008 OR=4,364), dan asupan natrium (p=0,001OR=6,103) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menunjukkan asupan natrium (OR Exp(B)=4,627)sebagai faktor resiko yang paling berhubungan dengan kejadian hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi, Gaya Hidup, Pola Makan
PEMBERIAN PROBIOTIK TERHADAP PENINGKATAN KADAR KALSIUM DARAH PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK TERMINAL Maryusman, Taufik; Sulchan, M; Chasani, Shofa
GIZI INDONESIA Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.162 KB)

Abstract

Patients with Terminal Chronic Renal Disease (ESRD) generally have impaired metabolism of minerals such as calcium. Probiotics can increase the balance of gastrointestinal microflora. Suplementation probiotics may increase levels of calcium. The aim of this study was to analyze the effect of probiotics on the increase of calcium levels. This study used a true experiment research using a randomized pre-post test control group design involving 24 subjects divided into 2 groups at random. The treatment group was given lactobacillus probiotics  (4.0x109CFU) each day in capsul, while the control group was given standard treatment. Statistical analyzes applied paired t-test and independent t-test. Data regarding characteristics of subject were collected using a structured questionnaire. Calcium levels measured by CPO methods and It conducted before intervension and after the intervention. Calcium levels in the treatment group increased at 0.9 g / dl, or higher than in the control group 0.7 g / dl. The treatment group showed a significant increase of calcium level (p = 0.02). But, this increases did not make a significant difference between the 2 groups. Giving of probiotics increases blood calcium levels even in a small level, therefore it is beneficial to be given to patients with ESRD.ABSTRAK Penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK) terminal pada umumnya mengalami gangguan metabolisme mineral seperti kalsium. Probiotik mampu meningkatkan keseimbangan mikroflora saluran pencernaan. Suplementasi probiotik mampu meningkatkan kadar kalsium. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian probiotik terhadap kadar kalsium darah pada pasien PGK terminal. Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan rancangan randomized pre-post test control group design yang melibatkan 24 subjek yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok perlakuan  diberikan probiotik lactobacillus (4.0x109CFU) per hari dalam bentuk kapsul, sedangkan kelompok kontrol diberikan pengobatan standar. Pengumpulan data penelitian meliputi karakteristik subjek yang dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data kalsium darah diperoleh dari hasil pemeriksaan dengan metode OCP. Analisis statistik yang dilakukan adalah uji paired t-tes dan independent t-test. Kadar kalsium pada kelompok perlakuan meningkat 0,9 g/dl, atau lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol 0,7 g/dl. Kelompok perlakuan menunjukan peningkatan kadar kalsium secara bermakna (p=0,02).  Namun kenaikan ini tidak memberikan perbedaan yang bermakna antara dua kelompok (p= 0,21) Pemberian probiotik meningkatkan kadar kalsium darah walapun tidak banyak, sehingga bermanfaat untuk diberikan kepada pasien PGK terminal.  Kata kunci: probiotik lactobacillus, kadar kalsium, PGK terminal
HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KELURAHAN SAWANGAN BARU KOTA DEPOK TAHUN 2015 Mahmudah, Solehatul; Maryusman, Taufik; Arini, Firlia Ayu; Malkan, Ibnu
Biomedika Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lanjut usia (lansia) merupakan seseorang yang mencapai usia > 60 tahun yang rentan mengalami penyakit yang berhubungan dengan proses menua salah satunya hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler. Seseorang dikatakan hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Beberapa faktor resiko diduga memiliki peran dalam terjadinya hipertensi seperti gaya hidup dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian cross sectional ini diikuti oleh 74 responden dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian ini mendapatkan proporsi lansia yang mengalami hipertensi sebesar 26,4%. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat dengan regresi logistic ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,024 OR=3,596), asupan lemak (p=0,008 OR=4,364), dan asupan natrium (p=0,001 OR=6,103) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menunjukkan asupan natrium (OR Exp(B)=4,627) sebagai faktor resiko yang paling berhubungan dengan kejadian hipertensi. Untuk mengurangi kasus hipertensi perlu adanya cara untuk mencegahnya seperti memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hipertensi dan bagi penderita penyakit hipertensi untuk selalu mengontrol tekanan darah dan menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi.Kata Kunci: Hipertensi, Gaya Hidup, Pola Makan
The Combination of Probiotic and Calcium Carbonate Decrease Monocyte Count of End-Stage Renal Disease Patient Yulistianingsih, Ari; Sulchan, Mohammad; Maryusman, Taufik; Chasani, Shofa
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 3 (2018)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v13i3.10732

Abstract

Elevated monocyte count is correlated to the decrease of renal function and disease progressivity on end-stage renal disease (ESRD) patients. Probiotic that utilize lactobacillus species is known to play a role in maintaining imunity system balance by inducing the monocyte apoptosis. The combination between probiotic and calcium carbonate could increase probiotic colonization in the gatrointestinal tract. The aim of this study was to analyze the effect of probiotic and calcium carbonate combination toward reduction of monocyte count on ESRD patient at Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa Bogor Hospital. This study was true experimental research with randomized pre-post test control group design. Twenty four ESRD patient were randomly enrolled into treatment group (n=12) and control (n=12). The treatment group received probiotic and calcium carbonate, whereas control group received standardized calcium carbonate for 21 days. There was a significant decrease of monocyte (p=0.03) after administration of probiotic and calcium carbonate.
Formulation of Flakes Bran Flour Substitution with Fortified Zinc for Fertile-Age Women Ulfa, Atikah; Marjan, Avliya Quratul; Maryusman, Taufik
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2018.2.2.2609

Abstract

There are about 32.9% Indonesian women susceptive to obesity and free radical exposure. Free radicals are resistible to Zn-cofactors and a-tocopherols. The aims of this study was to make flakes formulations with zinc fortification, then analyze the physical and chemical character of flakes (hardness and color degree), and analyze carbohydrate, protein, fat, zinc, and α-tocopherol. The experimental design used for this study was a complete randomized design. The results showed the best formulas that substitution by bran was 25 % and fortified seng was 118,9 mg. The chemical properties of the best formulas should has increased the levels of protein, fat, and Zinc. One serving (55g) of flakes has 208,4 Kal; 3,38 g protein; 0,27 g fat; 48,12 g carbohydrate ; 1,89 mg seng; and 3,53mg α-tocopherol.
Pengaruh Kombinasi Diet Tinggi Serat dan Senam Aerobik terhadap Penurunan Berat Badan Maryusman, Taufik; Fauziyah, A'immatul; Fatmawati, Iin; Firdausa, Nur Indah; Imtihanah, Siti
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat badan berlebih saat ini banyak ditakuti oleh orang yang ingin hidup sehat dan tampil menarik. Selain itu, masalah kesehatan sering muncul dikarenakan berat badan berlebih. Penanganan yang efisien salah satunya dengan cara kombinasi diet dan olahraga. Olahraga yang efektif adalah dengan olahraga secara aerobik, diantaranya senam aerobik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kombinasi diet tinggi serat dan senam aerobik dalam menurunkan berat badan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan randomized pre-post test control group design. Besar sampel 22 orang yang sebagian besar berusia lanjut. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan diet tinggi serat dan senam aerobik dan kelompok kontrol hanya diberikan senam aerobik. Diet tinggi serat diberikan penambahan buah yang mengandung tinggi serat berupa jambu klutuk dan apel merah per harinya. Untuk senam aerobik diberikan 3 kali/minggu dengan lama senam 30 menit. Pengukuran berat badan dilakukan sebelum dan sesudah 2 minggu perlakuan. Rerata penurunan berat badan pada kelompok perlakuan sebesar 1.1 ± 0.005 kg dan kelompok kontrol sebesar 0.41± 0.07. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan berat badan yang bermakna (p<0.05) antara sebelum dan sesudah perlakuan dan juga pada kelompok kontrol (p<0.05). Namun, tidak ada perbedaan penurunan berat badan yang bermakna (p<0.05) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Dengan demikian kombinasi diet tinggi serat dan senam aerobik memiliki pengaruh terhadap penurunan berat badan. Diharapkan tenaga kesehatan selain menyelenggarakan senam bersama masyarakat, juga memberikan edukasi tentang pentingnya mengkonsumsi sayuran dan buah yang mengandung tinggi serat. Kata Kunci: diet tinggi serat, senam aerobik, berat badan
HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KELURAHAN SAWANGAN BARU KOTA DEPOK TAHUN 2015 Mahmudah, Solehatul; Maryusman, Taufik; Arini, Firlia Ayu; Malkan, Ibnu
Biomedika Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v7i2.1899

Abstract

Lanjut usia (lansia) merupakan seseorang yang mencapai usia > 60 tahun yang rentan mengalami penyakit yang berhubungan dengan proses menua salah satunya hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler. Seseorang dikatakan hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Beberapa faktor resiko diduga memiliki peran dalam terjadinya hipertensi seperti gaya hidup dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian cross sectional ini diikuti oleh 74 responden dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian ini mendapatkan proporsi lansia yang mengalami hipertensi sebesar 26,4%. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat dengan regresi logistic ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik (p=0,024 OR=3,596), asupan lemak (p=0,008 OR=4,364), dan asupan natrium (p=0,001 OR=6,103) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menunjukkan asupan natrium (OR Exp(B)=4,627) sebagai faktor resiko yang paling berhubungan dengan kejadian hipertensi. Untuk mengurangi kasus hipertensi perlu adanya cara untuk mencegahnya seperti memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hipertensi dan bagi penderita penyakit hipertensi untuk selalu mengontrol tekanan darah dan menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi.Kata Kunci: Hipertensi, Gaya Hidup, Pola Makan
PENGARUH SEREAL BERBAHAN SAGU DAN MORINGA OLEIFERA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS YANG DIINDUKSI ALOKSAN Herada Putri, Melin Novidinisa; Fauziyah, A'immatul; Maryusman, Taufik
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 6, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.063 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i2.3669

Abstract

The Effects of Cereal Made From Sagu and Moringa oleifera on the Blood Glucose Level of Alloxan-Induced RatsDiabetes Mellitus (DM) type 2 could increase oxidative stress and blood glucose level. Resistant starch compounds in instant cereal Cersa Mori have antidiabetic properties. This research aimed to analyze the effect of Cersa Mori on fasting blood glucose (FBG) levels of diabetic white rats induced by alloxan. This is a true experimental study with a randomized pre-post control group design using 27 male Wistar strain rats divided into 3 groups randomly, i.e (KN) feed and distilled water, (KP) glibenclamide 0.126mg/200gBB/day, (P) Cersa Mori 5g/200gBB/day. KP and P groups were given alloxan 125 mg/KgBB subcutaneously and the intervention was carried out for 30 days. FBG level was measured using the GOD-PAP method. The results of Paired T-Test showed the effect of Cersa Mori on lowering FBG levels in hyperglycemic rats (P = 0,006). One-Way ANOVA test showed that Cersa Mori reduced FBG level, which was equivalent to those given glibenclamide (P = 0,366). It can be concluded that giving Cersa Mori 5g/200gBB/day for 30 days had a significant effect on lowering FBG level. Keywords: alloxan; Cersa Mori; diabetic rats; fasting blood glucose level; resistant strachABSTRAKDiabetes Mellitus (DM)tipe 2 dapat memicu stres oksidatif dan meningkatkan kadar glukosa darah puasa (GDP). Senyawa pati resisten dalam sereal siap saji Cersa Mori memiliki sifat antidiabetik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian Cersa Mori terhadap kadar glukosa darah tikus putih diabetes yang diinduksi aloksan. Penelitian true-experimental ini menggunakan randomized pre-post control group design. Sampel sebanyak 27 ekor tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi 3 kelompok secara acak yaitu; (KN) pakan dan akuades, (KP) glibenklamid 0,126 mg/200gBB/hari, (P) Cersa Mori 5g/200gBB/hari. KP sampai P diberikan aloksan 125 mg/KgBB secara subkutan dan intervensi dilakukan selama 30 hari. Pengukuran GDP menggunakan metode GOD-PAP. Hasil Uji-T menunjukkan pengaruh Cersa Mori dalam menurunkan GDP tikus hiperglikemia (P = 0,006). Uji ANOVA satu arah menunjukkan penurunan GDP pada kelompok Cersa Mori (P) setara dengan tikus yang diberi glibenklamid (P = 0,366). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian Cersa Mori dosis 5g/200gBB/hari selama 30 hari berpengaruh terhadap penurunan GDP secara signifikan.
PENGARUH SINBIOTIK KEFIR TEPUNG PISANG BATU (MUSA BALBISIANA) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS SINDROM METABOLIK - IN PRESS - Salsabila, Dhea Marliana; Maryusman, Taufik; Fatmawati, Iin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 7, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.675 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3730

Abstract

Metabolic syndrome begins with insulin resistance characterized by hyperglycemia. Synbiotic kefir banana (Musa balbisiana Colla) flour reduces blood glucose level. This study was conducted to analyze the effects of synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour on blood glucose level of metabolic syndrome rats. This study used 24 Sprague Dawley.rats which were divided into four groups, i.e. negative control was given standard diet, positive control was given high fat fructose diet (HFFD), treatment I (PI) and treatment II (PII) were given HFFD and synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour 1.8 mL 200 g?¹ rat BW per day (PI) and 3.6 mL 200 g?¹ rat BW per day (PII), respectively, for three weeks. The result showed a significant difference (p=0.000) in blood glucose after giving synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour. Synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour reduced blood glucose level in metabolic syndrome rats.Keywords: banana flour, blood glucose level, kefir, metabolic syndrome, synbiotic ABSTRAKSindrom metabolik diawali resistensi insulin yang ditandai hiperglikemia. Sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) terhadap kadar glukosa darah tikus sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan 24 tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif yang diberi pakan standar, kontrol positif yang diberi high fat fructose diet (HFFD), dan perlakuan I (PI) serta perlakuan II (PII) yang masing-masing diberi HFFD dan sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) 1,8 mL 200 g?¹ BB tikus per hari (PI) dan 3,6 mL 200 g?¹ BB tikus per hari (PII) selama tiga minggu. Hasil menunjukkan perbedaan kadar glukosa darah setelah pemberian sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) secara signifikan (p=0,000). Sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) menurunkan kadar glukosa darah tikus sindrom metabolik.
Apakah Citra Tubuh dan Risiko Gangguan Makan Berisiko Anemia? Studi Kasus Pada Siswa Putri Maryusman, Taufik; Mawapi, Yunda Puspajati; Syah, Muh. Nur Hasan
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): July
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.195 KB) | DOI: 10.22487/ghidza.v4i1.34

Abstract

Penelitian menunjukkan bahwa remaja tidak puas dengan penampilan mereka dan mempengaruhi perilaku makan mereka serta melakukan diet ketat yang akan berdampak pada peningkatan risiko gangguan makan. Kebutuhan gizi yang tidak mencukupi dalam tubuh akan menyebabkan terganggunya proses pembentukan sel darah merah yang dapat menyebabkan penyakit anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara citra tubuh dan risiko gangguan makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di Sekolah Menengah Kejuruan Kota Bekasi. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian adalah siswa SMK di Kota Bekasi yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil metode diperoleh dengan dianalisis secara statistik dengan Uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja putri dengan citra tubuh negatif yang mengalami anemia adalah 24,3% dan menunjukkan hubungan antara citra tubuh dengan anemia (p = 0,03, OR = 0,579). Anak perempuan yang berisiko mengalami gangguan makan dan mengalami anemia adalah 21,6% dan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara risiko gangguan makan dan anemia (p = 0,27). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa citra tubuh dapat meningkatkan risiko anemia pada remaja putri