Dino Gunawan Pryambodo, Dino Gunawan
Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir, KKP

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Aplikasi Metode Geolistrik untuk Identifikasi Situs Arkeologi di Pulau Laut, Natuna Pryambodo, Dino Gunawan; Troa, Reiner Arief
KALPATARU Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1695.105 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.82

Abstract

Abstract. Pulau Laut is one of the outer islands in Republic of Indonesia and part of the international shipping lanes during past centuries. The evidence came in form of shipwrecks which also became archaeological sites. The purpose of this study is to determine the distribution of archaeological sites and its depth using Wenner configuration 2D geoelectric method which is achieved by using resistivitymeter multichanel S Field with three lines measurements. Data processing, analysis, and interpretation were performed using software RES2DINV. The results then obtained direction on line one southwest - Northeast, the vessel is allegedly at positions 21-24 m from the southwest, the value of resistivity is between 54, 3-124 Ωm with depth of 0-3 m subsurface. Line two is at the same direction with line one and the vessel is allegedly at positions 21-27 m from the southwest, a subsurface depth of 0-3 m and resistivity values range from 11.5 - 41.4 Ωm. Line three to the direction northwest - southeast is crosslined with track one and track two, allegedly the ship is at position 18-22 m from the northwest with a depth of 0 - 4 m above the ground and resistivity values between 56.7 - 205 Ωm. Abstrak. Pulau Laut merupakan salah satu pulau terdepan wilayah NKRI, merupakan jalur pelayaran internasional selama beradab-abad yang lampau. Terdapatnya situs-situs arkeologi kapal tengelam merupakan buktinya. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan sebaran situs arkeologi dan kedalamnnya berdasarkan metode geolistrik konfigurasi Wenner 2D yang menggunakan resistivitymeter multichannel S Field dengan tiga lintasan pengukuran. Proses pengolahan, analisis serta interpretasi data dilakukan dengan software Res2Dinv. Hasil proses, analisis dan interpretasi data, diperoleh pada lintasan satu dengan arah bentangan kabel barat daya – Timur laut, situs kapal diduga pada posisi 21 – 24 m dari arah barat daya, nilai resistivitas antar 54,3 – 124 Ωm dengan kedalaman 0 – 3 m dari atas permukaan tanah. Lintasan dua dengan arah bentangan kabel yang sama dengan lintasan satu, posisi 21 – 27 m dari arah barat daya,kedalaman 0 – 3 m dari atas permukaan tanah dan rentangan nilai resistivitas 11,5 – 41,4 Ωm diduga terdapat situs kapal. Lintasan tiga dengan arah bentangan kabel barat laut – tenggara merupakan lintasan yang memotong (crossline) lintasan satu dan lintasan dua, diduga keberadaan situs kapal pada posisi 18 – 22 m dari arah barat laut dengan kedalaman 0 – 4 m dari atas permukaan tanah dan nilai resistivitas antara 56,7 – 205 Ωm.
Identifikasi Akuifer Dangkal di Pulau Terdepan NKRI dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D: Studi Kasus Pulau Laut, Kab. Natuna Pryambodo, Dino Gunawan; Pihantono, Joko; Troa, Reiner Arief; Triarso, Eko
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.752 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2667

Abstract

Kebutuhan akan air bersih untuk menunjang aktivitas masyarakat di bidang perikanan di pulau terluar sangat diperlukan karena di lokasi tersebut kondisinya minim sumber air tawar. Penelitian geofisika dengan metode Geolistrik 2D telah dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan akuifer di Pulau Laut, Kabupaten Natuna sebagai pulau terluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengukuran di lapangan dengan enam lintasan geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner, bentangan kabel 160 meter, untuk mendapatkan kedalaman penetrasi 26,9 meter di bawah permukaan. Data tahanan jenis di Pulau Laut digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan akuifer di daerah penelitian. Akuifer berada pada kedalaman yang bervariasi di dekat permukaan dengan kedalaman 2,5 – 13 m di jalur utara, jalur PDAM, dan jalur Air Paying; 12 – 26,9 m di jalur Kadur, jalur Air Bunga, dan jalur Air Paying. Nilai tahanan jenis untuk setiap akuifer bervariasi di setiap jalur. Nilainya berkisar antara 0,651 – 14 Ωm. Litologi penyusun akuifer adalah satuan batupasir di jalur Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik dan Air Paying; batulanau di jalur PDAM; dan batugamping di jalur utara. The need for fresh water to support community activities in the field of fisheries on the frontier island is necessary because this location has minimal condition to the source of fresh water. Geophysical research with 2D geoelectrical methods conducted to identify the aquifers in the area of Pulau Laut, Natuna Regency as the frontier island of United Country of Republic Indonesia (NKRI). In field, measurement is using six 2D geoelectric lines with Wenner configuration and 160 m cable stretching to obtain 26.9 m sub-surface depth penetration. Resistivity data in Pulau Laut used to identify the aquifer presence in research area. Aquifers are located on varies depth near the surface with a depth of 2.5 – 13 m in north line, PDAM line, and Air Paying line; 12 – 26.9 m in Kadur line, Air Bunga line, and Air Paying line. Resistivity value for each aquifer varies for each line. They are ranging from 0.651 – 14 Ωm. Lithologies, composing the aquifer, are sandstone unit in Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik, and Air Paying lines; silstone in PDAM line; and limestone in the north line.  
ZONASI PENURUNAN MUKA AIR TANAH DI WILAYAH PESISIR BERDASARKAN TEKNIK GEOFISIKA GAYABERAT MIKRO 4D (STUDI KASUS: DAERAH INDUSTRI KALIGAWE - SEMARANG) Pryambodo, Dino Gunawan; ., Supriyadi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 10, No 3 (2015): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.613 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v10i3.6189

Abstract

Difisit airtanah menjadi masalah di kota-kota besar yang berada di wilayah pesisir, hal ini dipicu dengan adanya pengambilan airtanah yang tidak terkendali sehingga menimbulkan dampak krisis airtanah yang di tandai dengan menurunnya muka airtanah dan terjadinya amblesan tanah. Zonasi penurunan muka airtanah di kawasan industri Kaligawe, pesisir Semarang, dengan menggunakan teknik geofisika gayaberat mikro 4D dan gradien vertikal 4D serta dibantu dengan leveling untuk melihat amblesan tanah yang terjadi di daerah penelitian. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Juni 2004 dan Nopember 2005 dalam jarak rentang waktu 16 bulan dengan 47 stasiun pengamatan. Disimpulkan bahwa hampir 70% daerah penelitian mengalami penurunan muka airtanah dan amblesan dan hal itu didukung dengan adanya penurunan muka airtanah yang terpantau dari beberapa sumur pantau yang berada di sekitar daerah penelitian.
PENDUGAAN AIR PAYAU DENGAN TOMOGRAFI GEOLISTRIK DI PULAU KARIMUNJAWA JAWA TENGGAH Pryambodo, Dino Gunawan; Prihantono, Joko
Jurnal Kelautan Nasional Vol 12, No 1 (2017): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.074 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v12i1.6274

Abstract

Daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia umumnya mempunyai sumberdaya air yang payau karena telah terintrusi oleh air laut. Tomografi geolistrik merupakan salah satu teknik untuk mendeteksi nilaiu tahan jenis batuan untuk menduga keberadaan air payau di pulau karimunjawa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tomografi geolistrik dengan konfigurasi elektroda wenner. Pengukuran dilakukan sebanyak 4 lintasan dengan panjang setiap lintasan 190 meter dan diolah menggunakan program Res2Dinv. Hasil dari tomografi geolistrik di pesisir kecamatan karimunjawa puau karimunjawa di beberapa tempat keberadaan air payau sudah mencapai kedalaman 30 meter dari atas permukaan tanah dengan litologi batuan penyususnnya berupa batu pasir, hal ini menunjukkan penurunan kualitas air bersih di tempat tersebut.
Budi daya Rumput Laut dan Pengelolaannya di Pesisir Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan Analisa Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Lingkungan Yulius, Yulius; Ramdhan, Muhammad; Prihantono, Joko; Pryambodo, Dino Gunawan; Saepuloh, Dani; Salim, Hadiwijaya Lesmana; Rizaki, Irfan; Zahara, Ranela Intan
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.774 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.7429

Abstract

Rumput laut (makro alga) merupakan salah satu komoditas sumber daya pesisir yang mermiliki potensi ekonomis, mudah dibudidayakan dengan biaya produksi yang rendah. Perairan Kabupaten Dompu Provinsi, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan kawasan memiliki beragam sumber daya hayati pesisir dan laut (SDHPL), diantaranya rumput laut jenis Eucheuma cottoni dan Kappaphycus alvarezii yang merupakan rumput laut dari 5 jenis yang dimanfaatkan dan dibudidayakan di Indonesia, namun data dan informasi yang menunjang usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu masih sangat minim. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian perairan dan menduga daya dukung lingkungannya untuk budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu. Metode spasial, yaitu metode untuk mendapatkan informasi pengamatan yang dipengaruhi efek ruang digunakan dalam kajian ini. Pengaruh efek ruang tersebut disajikan dalam bentuk pembobotan.  Parameter unsur hara, yaitu Nitrogen (N) dan Phosfat (P) digunakan sebagai dasar untuk menghitung daya dukung lingkungan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas area yang sesuai untuk budidaya rumput laut sekitar 72.515 ha atau 99,49 % dari luas total wilayah kawasan yang dikaji. Luas area budidaya rumput laut yang telah dimanfaatkan hingga saat ini adalah 500 ha atau 3,3 % dari total luasan daya dukung, sehingga luas area yang belum termanfaatkan adalah 14.719 Ha atau 66,7 % dari total luasan daya dukung. Skenario ideal pengembangan usaha budidaya rumput laut yaitu; melalui penambahan bibit unggul dan informasi musim tanam serta melaksanakan budidaya secara optimal sehingga potensi ekonomi pertahun dapat tercapai.
Simulasi Daya Dukung Lingkungan di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dengan Mengandalkan Curah Hujan sebagai Pemenuhan Kebutuhan Air Ramdhan, Muhammad; Husrin, Semeidi; Pryambodo, Dino Gunawan; Prihantono, Joko; Nur Amri, Syahrial; Prihatno, Hari; Sudirman, Nasir; -, Hasanuddin; Iswahyudi, Sachrul
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.529 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i1.6861

Abstract

Hujan merupakan salah satu sumberdaya air yang penting bagi kehidupan manusia. Keseimbangan lingkungan dapat diketahui dari ketersediaan sumber air yang berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satu cara menentukan daya dukung lingkungan adalah dengan pendekatan ketersediaan dan kebutuhan air. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan simulasi terhadap status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air bulanan dari curah hujan dan kebutuhan air di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dalam satu tahun. Metode yang digunakan untuk mengetahui daya dukung lingkungan adalah analisis kuantitatif melalui perbandingan antara penghitungan ketersediaan air dan kebutuhan air. Hasil penghitungan status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air dan kebutuhan air di Gili Ketapang apabila dihitung berdasarkan kebutuhan layak air minum 130 liter/orang/hari adalah defisit sebesar 33.389.799,47 liter/bulan.
Pendugaan Potensi Volume Akuifer Menggunakan Metode Geolistrik di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur Pryambodo, Dino Gunawan; Prihantono, Joko
EKSPLORIUM Vol 40, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.231 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2019.40.1.5415

Abstract

ABSTRAKPengukuran geolistrik dengan menggunakan konfigurasi schlumberger telah dilakukan di Pulau Gili Ketapang, sebuah pulau kecil yang memiliki kepadatan penduduk mencapai 12.356 jiwa/km2. Pengukuran dilakukan di 8 lokasi menggunakan metode pada 8 titik Vertical Electrical Sounding (VES). Hasil pengolahan data geolistrik menunjukkan nilai tahanan jenis akuifer berkisar antara 2,71?206 ?m pada litologi batugamping pasiran. Potensi volume akuifer terbesar berdasarkan model 2D akuifer air tanah berada di lokasi K-03 dan K-17. Model 3D akuifer air tanah menunjukkan bahwa volume akuifer sebesar 27.689.400 m3 atau sekitar 27.689.400.000 liter. Air tanah di dalam akuifer dapat bertahan selama 68 tahun jika tidak terjadi kenaikan populasi. Selain itu, air tanah juga akan bertahan meskipun tidak terjadi penambahan air di dalam akuifer, baik secara alami ataupun buatan.ABSTRACTGeoelectric measurement using Schlumberger configuration was carried out in Gili Ketapang Island, a small island with a population density of 12,356 people/km2. The measurement conducted at 8 locations using a vertical electrical sounding (VES) method. The result of geoelectric data processing shows aquifer resistivity value ranging from 2.71?206 ?m at the sandy limestone lithology. The largest aquifer volume potency based on the 2D groundwater aquifer model is in the K-03 and K-17 location. The 3D groundwater aquifer model shows that the aquifer volume is 27,689,400 m3 or about 27.689.400.000 liters. The groundwater inside the aquifer will last within 68 years in a condition where there is no population increase. Besides, the groundwater also lasts even there is no water addition inside the aquifer, by natural or artificial
IDENTIFIKASI LIKUIFAKSI DI KAWASAN PESISIR KOTA PADANG DENGAN METODA GEOLISTRIK 2D Pryambodo, Dino Gunawan; Sudirman, Nasir
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v15i3.7732

Abstract

Makalah ini menyajikan studi kasus penyelidikan likuifaksi, dilakukan di kawasan pesisir kota Padang, yang terletak di pesisir barat Sumatra, pada zona ini sering tejadinya gempa bumi. Prediksi dari zona likuifaksi ini daerah kegempaan yang tinggi akan sangat membantu untuk mitigasi bahaya bencana gempa bumi. Geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner telah dilakukan dan bisa membantu untuk menggambarkan zona likuifaksi. Lintasan geolistrik ini terdiri dari empat lintasan yaitu lintasan UBH, lintasan Parak Gadang, lintasan Purus dan lintasan Telkom dengan bentangan kabel sepanjang 160 meter dan dengan kedalaman penetrasi sedalam 26,5 meter. Dengan latar belakang ini, bahwa dalam hubungannya dengan karakteristik tanah dan sedimen menunjukkan hubungan yang tinggi terhadap likuifaksi, dan anomali nilai tahanan jenis akan memberikan informasi penting untuk memprediksi dan mengidentifikasi zona likuifaksi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan lapisan bawah permukaan terdiri dari endapan aluvial yang jenuh air sehingga berpotensi menjadi likuifaksi selama terjadinya gempa bumi. Pada model 2-D geolistrik ini dengan nilai tahanan jenisnya rendah < 2 ?m dan dengan kedalaman rata-rata kurang dari 10 meter dan di lintasan Telkom di beberapa tempat kedalaman likuifaksinya mencapai 20 meter.
APLIKASI METODE GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI SITUS ARKEOLOGI DI PULAU LAUT, NATUNA Pryambodo, Dino Gunawan; Troa, Reiner Arief
KALPATARU Vol. 25 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i1.82

Abstract

Abstract. Pulau Laut is one of the outer islands in Republic of Indonesia and part of the international shipping lanes during past centuries. The evidence came in form of shipwrecks which also became archaeological sites. The purpose of this study is to determine the distribution of archaeological sites and its depth using Wenner configuration 2D geoelectric method which is achieved by using resistivitymeter multichanel S Field with three lines measurements. Data processing, analysis, and interpretation were performed using software RES2DINV. The results then obtained direction on line one southwest - Northeast, the vessel is allegedly at positions 21-24 m from the southwest, the value of resistivity is between 54, 3-124 ?m with depth of 0-3 m subsurface. Line two is at the same direction with line one and the vessel is allegedly at positions 21-27 m from the southwest, a subsurface depth of 0-3 m and resistivity values range from 11.5 - 41.4 ?m. Line three to the direction northwest - southeast is crosslined with track one and track two, allegedly the ship is at position 18-22 m from the northwest with a depth of 0 - 4 m above the ground and resistivity values between 56.7 - 205 ?m. Abstrak. Pulau Laut merupakan salah satu pulau terdepan wilayah NKRI, merupakan jalur pelayaran internasional selama beradab-abad yang lampau. Terdapatnya situs-situs arkeologi kapal tengelam merupakan buktinya. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan sebaran situs arkeologi dan kedalamnnya berdasarkan metode geolistrik konfigurasi Wenner 2D yang menggunakan resistivitymeter multichannel S Field dengan tiga lintasan pengukuran. Proses pengolahan, analisis serta interpretasi data dilakukan dengan software Res2Dinv. Hasil proses, analisis dan interpretasi data, diperoleh pada lintasan satu dengan arah bentangan kabel barat daya ? Timur laut, situs kapal diduga pada posisi 21 ? 24 m dari arah barat daya, nilai resistivitas antar 54,3 ? 124 ?m dengan kedalaman 0 ? 3 m dari atas permukaan tanah. Lintasan dua dengan arah bentangan kabel yang sama dengan lintasan satu, posisi 21 ? 27 m dari arah barat daya,kedalaman 0 ? 3 m dari atas permukaan tanah dan rentangan nilai resistivitas 11,5 ? 41,4 ?m diduga terdapat situs kapal. Lintasan tiga dengan arah bentangan kabel barat laut ? tenggara merupakan lintasan yang memotong (crossline) lintasan satu dan lintasan dua, diduga keberadaan situs kapal pada posisi 18 ? 22 m dari arah barat laut dengan kedalaman 0 ? 4 m dari atas permukaan tanah dan nilai resistivitas antara 56,7 ? 205 ?m.
PERUBAHAN SPASIAL DAN TEMPORAL LUAS WILAYAH UNTUK PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI BAGAIAN BARAT PULAU GILI KETAPANG PROBOLINGGO JAWA TIMUR Pryambodo, Dino Gunawan; Hasanudun, Muhamad; kusmanto, Edi
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2632.137 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8648

Abstract

Pulau Gili Ketapang yang berpenduduk padat, dengan kepadatan mencapai 12.356 jiwa/ km2 dan mempunyai luasan sebesar 68 hektar atau 0,68 km2 termasuk katagori pulau kecil. Dengan adanya Perda Kab. Probolinggo no15 th.2001 menjadika Pulau Gili Ketapang menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Kab.Probolinggo, pesona pasir putih di barat wilayah dari Pulau Gili Ketapang yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Perubahan luasan wilayah hamparan pasir putih tersebut akan mengurangi wilayah hamparan pasir putih tersebut karena kehilangan hamparan pasir tersebut akan mengurangi keragaman destinasi wisata. Metoda penelitian menggunakan google earth image digunakan sebagai sumber masukan utama untuk membuat peta perubahan wilayah selain penelitian lapangan yang berupa pengukuran garis pantai, batimetri dan pola arus di wilayah perairan Gili Ketapang. Dari data citra Satelit dari tahun 2004 sampai tahun 2018 terjadi penyusutan luas wilayah untuk pasir putih di Barat Pulau Gili Ketapang sebesar 0.288 Ha. Batimetri Perairan Gili Ketapang secara umum memiliki kedalaman terukur antara 0-34 meter, Daerah terdalam terdapat disebelah utara Pulau Gili Ketapang dengan jarak sekitar 1700 m. Sebelah Barat dari Pulau Gili Ketapang memiliki dasar laut yang agak dangkal kurang dari 20 m sehingga sangat cocok untuk dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.