Articles

Found 13 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Pendapatan Petani Karet di Desa Sako Suban, Kecamatan Batang Hari Leko, Sumatera Selatan Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 24 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.618 KB) | DOI: 10.18343/jipi.24.2.93

Abstract

Revenue is an important thing for farmers, because with the income the farmers can meet the needs of the household. The higher the income then the welfare of farmers will be improved. The purpose of this research is to identify the characteristics of farmers, analyze farmers' income and factors affecting the income level of rubber farmers in Sako Suban Village. The selection of villages was done purposively but the selection of respondents was conducted by accidental sampling. The data used in the primary data were collected by using interview method. Quantitative data processing used linear regression by using a significant level of 10%. The results of the research showed that the education of the farmers was low, the average age of the farmers was 46 years, and the majority of the farmers work as rubber farmers. Rubber contributed 63% to the total revenue and the rest comes from company laborers and loggers and average farmer incomes was IDR733.389/month. Variables that affect farmers' income are rubber prices, farmers groups, and farmers experience in rubber gardening. The variables that have no significant effect on farmers' income are the education of farmers, the labor in the family, and the land area.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU YANG MEMPENGARUHI PETANI MENANAM TANAMAN SELA DIANTARA KARET DI SUMATERA SELATAN Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Agustina, Dwi Shinta; Syarifa, Lina Fatayati
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i1.217

Abstract

Kebiasaan menanam tanaman sela telah lama dilakukan oleh petani. Namun, pada saat pendapatan petani meningkat karena harga karet tergolong tinggi petani karet masih membudayakan menanam tanaman sela. Oleh karena  itu penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi petani konsisten menanam tanaman sela. Penelitian dilakukan di Desa Pangkul (Kabupaten Muara Enim), Desa Lubuk Bandung (Kabupaten Ogan Ilir) dan Desa Marta Jaya (Kabupaten Ogan Komering Ulu). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei melalui wawancara secara terstruktur. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dengan jumlah sampel 43 responden. Pengolahan data menggunakan analisis regresi stepwise. Variabel yang berpengaruh kuat tersebut yaitu pendapatan tanaman sela, pengalaman berkebun, pendidikan petani, tujuan menanam tanaman sela dan pekerjaan pokok petani dengan masing-masing nilai koefesien adalah 0,000001 ; 0,003 ; -0,03 ; 0,16 ; -0,07. Variabel bebas yang berpengaruh positif terhadap perilaku menanam tanaman sela adalah pendapatan tanaman sela, pengalaman berkebun dan tujuan menanam tanaman sela. Sedangkan variabel bebas lainnya berpengaruh negatif. Diterima : 4 Agustus 2015 / Direvisi : 4 Februari 2016 / Disetujui : 16 Maret 2016 How to Cite : Nugraha, I., Alamsyah, A., Agustina, D., & Syarifa, L. (2016). Faktor-faktor penentu yang mempengaruhi petani menanam tanaman sela diantara karet di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 77-88. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/217
KOMODITI GAMBIR SEBAGAI TANAMAN SELA DIANTARA KARET UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KARET (STUDI KASUS : DESA TOMAN, SUMATERA SELATAN) Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Sahuri, Sahuri
Warta Perkaretan Vol 37, No 2 (2018): Volume 37, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v37i2.600

Abstract

Gambir (Uncaria gambir Roxb) adalah salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Komoditas ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani karet melalui sistem usahatani terpadu yaitu sebagai tanaman sela karet. Tujuan tersebut sangat membantu karena saat ini harga karet masih rendah dan dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Di Sumatera Selatan gambir hanya dapat menghasilkan getah yang tinggi di desa Toman karena spesifik lokasi sehingga petani di desa Toman melakukan integrasi gambir dengan karet untuk meningkatkan pendapatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pendapatan yang diterima dari usahatani gambir lebih besar 11 % dibandingkan pendapatan dari karet. Pendapatan gambir sebesar Rp 2.792.944,- per ha per bulan sedangkan pendapatan usahatani karet sebesar Rp 2.507.500,- per ha per bulan. Rendahnya pendapatan dari karet disebabkan oleh harga karet yang belum stabil ditingkat dunia sehingga berdampak kepada harga ditingkat petani. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga pendapatan petani diperlukan tanaman sela gambir dengan modifikasi jarak tanam karet melalui sistem jarak ganda untuk memperpanjang tanaman sela gambir.
DAMPAK POLA PEREMAJAAN PARTISIPATIF TERHADAP PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU PROVINSI SUMATERA SELATAN Syarifa, Lina Fatayati; Agustina, Dwi Shinta; Alamsyah, Aprizal; Nugraha, Iman Satra
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v1i1.283

Abstract

Penerapan pola peremajaan karet partisipatif di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) telah berjalan lebih kurang 10 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan penerapan model peremajaan karet partisipatif, serta dampaknya terhadap perkembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten OKU. Penelitian dilakukan dengan metode survei di desa-desa yang menerapkan pola peremajaan karet partisipatif. Pemilihan responden dilakukan secara acak yaitu memilih sepuluh petani peserta program dan lima  petani non peserta program yang berada disekitar proyek di setiap desa. Selanjutnya analisis data dilakukan secara diskriptif. Dari hasil pengamatan disimpulkan bahwa proyek peremajaan partisipatif di Kabupaten OKU telah memberikan dampak positif terhadap petani peserta proyek dan lingkungan sekitarnya. Hal ini tampak dari adanya perluasan areal penanaman karet di desa, bertambahnya areal karet klonal yang dimiliki petani, meningkatnya pengetahuan dan adopsi petani peserta dan non peserta terhadap teknologi perkaretan, dan meningkatnya pengetahuan petani dalam akses perbankan. Namun demikian, petani masih memerlukan pelatihan yang lebih intensif dalam hal penyadapan dan pengendalian penyakit karet. Untuk keberlanjutan program peremajaan, pemerintah daerah setempat telah banyak memfasilitasi kebijakan program pengembangan karet melalui pembiayaan program bantuan bibit untuk kebun usaha tani dan pembibitan, serta pelatihan bagi para petugas teknis dan petani karet.
POTENSI DAN KENDALA DALAM PENGUATAN DAN PENUMBUHAN KELOMPOK PEMASARAN BAHAN OLAH KARET TERORGANISIR DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Syarifa, Lina Fatayati; Agustina, Dwi Shinta; Alamsyah, Aprizal; Nugraha, Iman Satra
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.228

Abstract

Sistem pemasaran terorganisir telah mampu meningkatkan mutu bokar dan bagian harga yang diterima petani. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan untuk memperkuat dan menumbuhkan sistem pemasaran tersebut dengan mengidentifikasi kendala yang menghambat dan potensi yang memperkuat kelompok pemasarannya. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif di: 1) lokasi UPPB/KUD/Gapoktan yang masih aktif melakukan pemasaran bersama melalui lelang atau kemitraan; 2) lokasi yang sudah terbentuk kelompok pemasaran namun belum melakukan pemasaran lelang atau kemitraan; dan 3) lokasi Gapoktan/KUD/UPPB yang sudah tidak aktif lagi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terhadap kelompok pemasaran. Hasil survei menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menghambat penguatan kelompok pemasaran adalah kurangnya komitmen masyarakat untuk terus berkelompok, kurangnya kesadaran untuk menjaga mutu bokar, dan kurangnya keterbukaan antara pengurus dan anggota. Pada kelembagaan pemasaran diperlukan bimbingan dan penyuluhan mengenai pemasaran terorganisir dan bimbingan teknis dalam meningkatkan mutu bokar. Sementara itu faktor pendukung yang dapat memperkuat lembaga pemasaran adalah adanya keterbukaan antara pengurus dan anggota, dan adanya kegiatan yang bersifat dapat mengikat anggota seperti kegiatan simpan pinjam dan penyediaan saprodi atau sembako.
Modification of Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Spacing for Long-term Intercropping Sahuri, Sahuri; Cahyo, Andi Nur; Ardika, Risal; Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Nurmansyah, Nurmansyah
Journal of Tropical Crop Science Vol 6 No 01 (2019): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Journal of Tropical Crop Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.445 KB)

Abstract

Low prices of rubber has been a serious problem to rubber growers in Indonesia. Rubber-based intercropping systems offers a practical solution to this issue and increasing overall productivity, for example by growing upland rice and maize between the rubber tree rows. This study was aimed to determine the suitable spacing in rubber planting to facilitate long-term rubber-based intercropping systems. A field experiment was established in a smallholder rubber plantation in the Tanah Laut Regency, South Kalimantan with area of 50 ha. Two planting patterns of rubber clone PB260 were tested: (1) single row planting pattern (SR) by 6 m x 3 m, and (2) double row planting pattern (DR) by 18 m x 2 m x 2.5 m. The experiment showed that the girth of the rubber trees with the SR system at the 1st tapping year was slightly larger than that in the DR system, even though statistically it was not signifi cant. The latex yield per tree of SR and DR systems were similar, however, latex yield per hectare of SR system was higher than the DR system due to a higher tree population in the SR system. The DR system was technically suitable for long term intercropping, because when the rubber tree reached 8 to 9-year-old, the light penetration was > 80% at distance of about 4 m from the rubber tree rows. Economically, DR system can increase the added values for rubber farmers because it allows long term intercropping. Rubber-based intercropping with DR system is suitable to be applied, especially by smallholders, with a marginal benefi t cost ratio of around 2.07. Keywords: Hevea, intercropping system, rubber planting pattern, spatial arrangement
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI KARET (STUDI KASUS PETANI KARET DI WILAYAH OPERASIONAL PERUSAHAAN MIGAS KABUPATEN MUSI BANYUASIN) Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Agustina, Dwi Shinta
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 36, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v36i2.594

Abstract

Musi Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang berkontribusi terhadap produksi karet di Provinsi Sumatera Selatan. Namun disisi lain produksi karet yang dihasilkan oleh petani karet belum optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi produksi karet sehingga produksi karet petani dapat meningkat. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive di 7 desa dengan masing-masing desa terdiri 30 responden. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dan untuk analisis data menggunakan spss 16. Berdasarkan hasil penelitian tingkat pendidikan petani mayoritas hanya mencapai Sekolah Dasar dan memiliki pengalaman berkebun karet selama 15 tahun. Sedangkan faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi karet adalah kepemilikan lahan karet (X2), jumlah tenaga kerja (X3), jenis bahan tanam yang digunakan (X4) dan penggunaan pupuk (X5). Sedangkan pendapatan keluarga sebesar Rp 3.732.000,- per bulan dan karet merupakan  sumber pendapatan terbesar terhadap total pendapatan keluarga dengan kontribusi sebesar Rp 2.024.000,- per bulan sedangkan selebihnya berasal dari kegiatan berdagang dan buruh.
TATA NIAGA KAYU KARET SERTA PENGARUH HARGA KARET TERHADAP PENDAPATAN PEMASOK KAYU KARET: STUDI KASUS DESA SEMBAWA, SUMATERA SELATAN Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Agustina, Dwi Shinta
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.885 KB) | DOI: 10.20886/jpsek.2018.15.3.195-211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi peremajaan kayu karet, tata niaga kayu karet dan pengaruh harga  karet terhadap pendapatan pemasok kayu karet. Sebagai studi kasus, penelitian ini dilaksanakan di Desa Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara dengan responden dengan menggunakan kuisioner terstruktur. Responden terdiri dari : perkebunan besar dan perkebunan rakyat yang melaksanakan peremajaan karet, serta pemasok kayu yang mengambil kayu karet hasil peremajaan. Responden dipilih secara purposive. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan peremajaan kebun karet minimal 917 hektar per tahun dengan potensi kayu karet hasil peremajaan sebesar 73.360 m per tahun. Tata niaga kayu karet yang diamati adalah pekebun–pemasok–pabrik pengolahan kayu/industri batu bata. Pada saat harga karet menurun sebesar 40%, pendapatan pemasok kayu karet dari perkebunan besar menurun sebesar 59%, dan pendapatan pemasok kayu karet dari perkebunan rakyat menurun 54%.
KONTRIBUSI TENAGA WANITA TERHADAP KESEJAHTERAAN KELUARGA PETANI KARET (STUDI KASUS DI KEBUN PERCOBAAN BALAI PENELITIAN SEMBAWA, KABUPATEN BANYUASIN, SUMATERA SELATAN) Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Aji, Martini
Warta Perkaretan Vol 37, No 2 (2018): Volume 37, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v37i2.583

Abstract

Harga karet yang tidak stabil berdampak kepada pendapatan keluarga petani karet. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga diperlukan sumber pendapatan lain, salah satunya dengan memberdayakan tenaga kerja wanita untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur besarnya kontribusi penyadap wanita terhadap tingkat kesejahteraan keluarga petani karet berdasarkan tingkat pendapatan serta kualitas sadapan yang dihasilkan. Metode penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Pemilihan lokasi dan sampel dilakukan secara purposive dengan pertimbangan lokasi tersebut terdapat penyadap wanita. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa penyadap wanita memiliki kontribusi terhadap pendapatan keluarga tani karet sebesar 53%. Curahan tenaga kerja wanita untuk menyadap karet sebesar 31%, bekerja selain menyadap sebesar 9%. Produktivitas tenaga kerja wanita tergolong lebih rendah dibandingkan penyadap laki-laki. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan premi dan produksi yang dihasilkan. Namun, kualitas sadapan yang dihasilkan para penyadap wanita tergolong baik, hal tersebut dapat dilihat dari kedalaman penyadapan dan konsumsi kulit.
STUDI PERKIRAAN HARGA KARET MINGGUAN DI TINGKAT PETANI DENGAN PENDEKATAN PENGELUARAN RUMAH TANGGA DAN BIAYA BERKEBUN KARET DI MUSI BANYUASIN Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Agustina, Dwi Shinta
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v37i1.622

Abstract

Enam tahun terakhir ini harga karet mengalami kecenderungan menurun dan berdampak kepada pendapatan petani, sehingga kebutuhan petani tidak dapat terpenuhi dan tidak dapat melakukan peremajaan karet (membangun kebun karet). Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran perkiraan harga karet mingguan di tingkat petani. Penelitian dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin, dengan menggunakan 210 responden. Pengambilan sampel secara purposive sampling dan pengambilan data menggunakan metode wawancara. Pengolahan data dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan pendekatan biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari dan berkebun karet. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan petani sebesar IDR 935.611,- per minggu dengan proporsi untuk kebutuhan rumah tangga sebesar IDR 712.557,- per minggu dan biaya berkebun karet sebesar IDR 223.054,- per minggu. Dengan rata-rata produksi karet petani sebesar 85 kg – 90 kg, maka perkiraan harga karet ditingkat petani sebesar IDR 10.369,- s.d IDR 11.007,- per kg per minggu. Dengan perkiraan harga tersebut petani akan dapat meningkatkan pendapatan sehingga petani dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membangun kebun karet klonal.