Articles

Found 10 Documents
Search

Nilai Diagnostik Dermatophyte Strip Test pada Pasien Tinea Ungium Rizkya, Astrid; Thaha, M. Athuf; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Tjekyan, R.M Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea Unguium(TU) or dermatophytic onychomycosis merupakan infeksi jamur pada kuku jari tangan dan kaki disebabkan dermatofita. Dermatofita dibagi menjadi tiga genus yaitu Trichophyton, Epidermophyton dan Microsporum. Golongan ini mampu mencerna keratin dan dapat menyebabkan infeksi yang mengenai kulit, rambut dan kuku. Kalium hidroksida (KOH) 40% yang rutin digunakan untuk diagnosis TU mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang bervariasi. Dermatophyte strip test merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antigen dermatofita, objektif, cepat dan akurat yang dapat digunakan untuk mendiagnosis TU. Objective: Menentukan nilai diagnostik dermatophyte strip test untuk diagnosis TUdi RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Method: Penelitian observasional analitik laboratorik dalam bentuk uji diagnostik dengan desain potong lintang dilakukan dari bulan November 2014 hingga Januari 2015 pada pasien TU di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Total 110 pasien presumtif TU yang memenuhi kriteria inklusi diambil dengan metoda consecutive sampling. Semua sampel dilakukan pemeriksaan dermatophyte strip test, KOH 40%, dan biakan jamur sebagai baku emas. Result: Dari pemeriksaan didapatkan sensitivitas dan spesifisitas dermatophyte strip test adalah 87,3% dan 89,36% (area under curve 0,89; positive predictive value 92%; negative predictive value 84%; positive likelihood ratio 8,21; negative likelihood ratio0,14; akurasi 89%). Sensitivitas dan spesifisitas of KOH 40% adalah 63,49% dan 65,96% (area under curve 0,647; positive predictive value 71%; negative predictive value 57%; positive likelihood ratio 1,87; negative likelihood ratio 0,55; akurasi 65%). Conclusion: Dermatophyte strip test mempunyai nilai diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan KOH 40% di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang, dan dapat menggantikan KOH 40% untuk diagnosis TU.
Hubungan Hasil Pemeriksaan Autologous Serum Skin Test Dengan Keparahan Klinis Dermatitis Atopik Febrianti, Elvina; Thaha, M. Athuf; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Tjekyan, R.M. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autologous Serum Skin Test (ASST) adalah prosedur penapisan in vivo sederhana untuk mendiagnosis urtikaria kronik idiopatik (UKI) melalui injeksi serum autologus intradermal. Pemeriksaan ASST positif membuktikan adanya histamine releasing factor dalam serum. Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis kambuhan. European Task Force on Atopik Dermatitis (ETFA) mengembangkan suatu indeks penilaian untuk keparahan DA yang disebut Scoring Index of Atopik Dermatitis (SCORAD). Sebuah studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan dari awal Januari sampai Maret 2010 di klinik rawat jalan Alergi Imunologi, Kulit dan Kelamin dari Departemen Dr Mohammad Husein Rumah Sakit Umum Palembang. Sebuah enam puluh pasien DA yang memenuhi kriteria inklusi adalah merekrut oleh berturut-turut random sampling. Semua orang melakukan penilaian SCORAD dan pemeriksaan ASST , hasil yang dinilai oleh peneliti dan hasil lainnya adalah examiners.The ASST positif pada DA ringan adalah empat ( 66,7% ) subyek , DA moderat adalah 21 ( 51,2% ) subyek dan DA parah adalah 13 ( 100% ) subyek , p = 0,006. 44,82 nilai SCORAD ditentukan sebagai cut-off untuk menentukan keparahan DA . Nilai SCORAD a> : . 44,82 dianggap sebagai DA parah dan < 44,82 bukan merupakan salah satu yang parah . Kelompok DA parah memiliki hasil ASST positif 26 ( 43,3 % ) dan kelompok DA non parah memiliki hasil ASST positif dari 12 ( 20 % ) subyek . Pada nilai diagnostik cut-off dari SCORAD 44,82 ASST menghasilkan sensitivitas 68,4, spesifisitas 77.3 , rasio kemungkinan positif 3,01 , rasio kemungkinan negatif 0,41 , nilai prediksi positif 83,9 dan nilai prediksi negatif 58,6 . Hasil ini menunjukkan bahwa pada cut-off SCORAD 44,82 proporsi ofsubjects DA parah 68,4% , masih ada 31,6% negatif palsu. Kepositifan hasil ASST terkait dengan DA tujuh puluh klinis dinilai menggunakan SCORAD berdasarkan kriteria negatif palsu substansial ringan-sedang-berat, tapi di cutsoff ditentukan masih ada
Hubungan Profil Lipid dengan Keparahan Klinis Pasien Psoriasis di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Subagiyo, Subagiyo; Thaha, M. Athuf; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Tjekyan, RM. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Psorisasis merupakan penyakit kulit kronis ditandai perubahan kulit tipikal baik makroskopis maupun mikroskopis. Profil lipid merupakan indikator yang baik untuk menentukan apakah seseorang mempunyai risiko penyakit jantung, yang diperkirakan akan mengakibatkan respon mediator inflamasi dan hormon yang dapat mempengaruhi keparahan psoriasis. Tujuan: untuk meneliti hubungan profil lipid dan keparahan klinis psoriasis. Metoda: Penelitian laboratorik observasional analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan dari bulan Agustus 2011 sampai Oktober 2011 di Poliklinik Alergi-Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Enam puluh pasien yang memmenuhi kriteria inklusi diterima dengan concecutive sampling. Pemerikasaan profil lipid dilakukan pada semua pasien dan keparahan klinis psoriasis diukur dengan PASI. Hasil: Tidak ada hubungan antara kolesterol, trigliserida, HDL-kolesterol, dan VLDL-kolesterol dengan keparahan klinis psoriasi, masing-masing p=0,416, p=0,219, p=0,796, dan p=0,222. Hanya LDL-kolesterol yang berhubungan dengan keparahan klinis psoriasi (p=0,222). Kovariabel yang mempunyai hubungan dengan skor PASI adalah usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit, masing-masing p-0,000, p=0,022, dan p=0,000. Kesimpulan: LDL-kolesterol, usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit dapat menjadi faktor prediktor keparahan klinis psoriasis
Nilai Diagnostik Skin Surface Biopsy pada Skabies di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Ferdinand, Ferdinand; Thaha, Athuf; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Tjekyan, R.M. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 3 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan kerokan kulit memiliki sensitifitas bervariasi tergantung lokasi dan cara pengambilan sampel. Skin surface biopsy merupakan metoda pengambilan sampel kulit non invasif menggunakan lem cyanoacrylat, yang dapat digunakan untuk mendiagnosa skabies Namun nilai diagnostik SSB pada kudis tidak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai diagnostik Skin surface biopsy pada skabies di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Penelitian observasional analitik laboratorik dalam bentuk uji diagnostik dengan rancangan potong lintang ini dilakukan dari bulan April sampai Mei 2013. Sebanyak 107 pasien pasien presumtif skabies  di Poliklinik IKKK Divisi Dermatologi Infeksi RSUP Dr. Mohammad. Hoesin Palembang yang memenuhi kriteria penerimaan diikutsertakan sebagai subjek penelitian secara consecutive sampling. Semua subjek dievaluasi oleh dermatovenereologist sebagai "gold standard", Skin surface biopsy dan skin scrapings. Sensitifitas (Sn) dan spesifisitas (Sp) SSB adalah 80% dan 58% (area under curve 0,692; positive predictive value 93,8%; negative predictive value 27%; positive likelihood ratio 1,92; negative likelihood ratio 0,34 dan akurasi 77,5%). Sensitifitas (Sn) dan spesifisitas (Sp) KK adalah 43,2% dan 75% (area under curve 0,591; positive predictive value 93%; negative predictive value 14,3%; positive likelihood ratio 1,73; negative likelihood ratio 0,76 dan akurasi 46,7%). Skin surface biopsy merupakan pemeriksaan yang sensitif dan akurat, namun kurang spesifik dibandingkan dengan skin scrapings pada skabies.
Hubungan Peningkatan Interleukin-10 Akibat Infestasi Cacing Usus Nematoda terhadap Spektrum Morbus Hansen Lukas, Rika; Thaha, Athuf; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Tjekyan, R.M. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 47, No 1 (2015): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morbus Hansen (MH) adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang mengenai saraf perifer, kulit, dan organ lain kecuali susunan saraf pusat. Pertahanan terhadap M. leprae tergantung pada respon imun efektif T helper tipe 1 (Th1), di sisi lain, peningkatan Interleukin-10 (IL-10) yang dihasilkan oleh Th2 dikenal sebagai mediator penting dalam pertahanan host terhadap infestasi cacing usus . Tujuan penelitian ini untuk menginvestigasi hubungan peningkatan IL-10 akibat infestasi cacing usus nematoda dengan spektrum Morbus Hansen. Penelitian observasional analitik laboratorik dengan rancangan potong lintang dilakukan dari Desember 2014 sampai Februari 2015 di Departemen Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang dan Rumah Sakit Kusta Dr Rivai Abdullah. Total 158 pasien MH dilakukan untuk pemeriksaan feses dan kadar IL-10 dengan menggunakan teknik sandwich enzym immunoassay kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara durasi pengobatan dan MH spektrum dengan p = 0,002 (p <0,05), infestasi cacing usus dan spektrum MH dengan p = 0,000 (Odds Ratio 52,8; interval kepercayaan 95%: 7018 - 398714) , kadar IL-10 dan infestasi cacing usus dengan p = 0,000000002, kadar IL-10 dan spektrum MH dengan p = 0,0005. Peneliti melaporkan hubungan yang signifikan antara infestasi cacing usus dengan MH bentuk multibasiler (p = 0,000). Hasil penelitian kami menunjukkan infestasi cacing usus yang telah ada sebelumnya dapat memfasilitasi terjadinya infeksi Mycobacterium leprae atau perkembangan bentuk MH yang lebih berat. Penelitian ini menunjukkan infestasi cacing usus merupakan faktor risiko MH multibasiler.
Relationship of Scabies With Pioderma: As a Risk Factor Yahya, Yulia Farida; Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i1.6

Abstract

Scabies is a parasitic infestation of the skin, that is affecting on the low income and crowded community in many tropical countries, especially developing countries such as Indonesia. Scabies infestation increases the incidence of secondary pyoderma include impetigo, folliculitis, cellulitis, ecthyma, abscess. Secondary pyoderma is a skin infection disease mainly caused by &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;group A Streptococcus&nbsp;(GAS) and Staphylococcus aureus&nbsp;(SA). Pyoderma is a risk factor for the glomerulonephritis infection, rheumatic diseases, which significantly increases morbidity and mortality, causing the government burden.&nbsp;The aim of this study is&nbsp; determining the etiology and correlation of pyoderma infection in scabies patient. To determine sosio-demographic included sex, age in pediatric patients in primary schools (SD) in the district of Kertapati Palembang. The study design was cross sectional, and study samples were new scabies patients in the elementary school (age 6-14-year-old) with or without pyoderma. Clinical findings included history, physical examination and diagnostic procedure, which was investigation of skin scraping specimen material (SSB = skin surface biopsy) in confirmation with dermoscopic polar examination (DS) to show Sarcoptes scabiei&nbsp;mites. Microbiological examination with Gram stain identified the etiology of pyoderma. &nbsp;Results of this study shows that there was a significance relationship between scabies infestation and pyoderma in children in elementary school. Staphylococcus aureus&nbsp;dan GAS are the most common caused of pyoderma in pediatric patients with scabies.&nbsp;Conclusion is there is a significant correlation between scabies and pyoderma. There is &nbsp;a need to provide scabies and pyoderma medication at primary care health center as well as counseling for prevention in Palembang area with crowded population periodically. &nbsp;
Peran Antimicrobial peptide (AMP) pada kusta Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Andarini, Febrina

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i2.61

Abstract

Antimicrobial peptides (AMP) berfungsi sebagai sistem pertahanan innate tubuh pada banyak organisme. Antimicrobial peptide ini memiliki peran dalam respon sistem imunitas dengan cara menjadi garis depan sistem pertahanan melawan infeksi. Ditemukan ada beberapa AMP pada manusia dan mamalia. Namun pada pembahasan makalah ini akan difokuskan pada cathelicidin (LL-37) dan human β-defensin-1 (HBD-1), HBD-2, HBD-3, yang merupakan AMP paling banyak pada manusia. Peran AMP penting terutama terhadap penyakit infeksi. Pada penelitian terbaru ditemukan berbagai peran AMP terhadap penyakit kusta. Antimicrobial peptides dapat juga mengaktifkan dan mengerahkan sel imun, sehingga mengakibatkan penghancuran mikroba dan/atau mengontrol inflamasi. Antimicrobial peptide berperan dalam membunuh mikobakteri pada lesi kusta dan sehingga dapat dihubungkan dengan bentuk klinis penyakit tersebut, namun mekanisme kerja AMP masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kusta ditandai dengan spektrum klinis luas berdasarkan respon imunitas seluler host. Manifestasi klinis dan klasifikasi kusta berhubungan dengan tipe respon imun yang terjadi. Pola ekspresi dan regulasi AMP spesifik pada setiap tipe sel pada masing-masing organ. Telah banyak penelitian mengenai AMP pada berbagai kondisi kulit. Pada keadaaan infeksi, sangat penting untuk mengaktifkan respon imun guna menarik sel imun lain dan juga mengontrol inflamasi.
Relationship of Scabies With Pioderma: As a Risk Factor Yahya, Yulia Farida; Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 1 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i1.6

Abstract

Scabies is a parasitic infestation of the skin, that is affecting on the low income and crowded community in many tropical countries, especially developing countries such as Indonesia. Scabies infestation increases the incidence of secondary pyoderma include impetigo, folliculitis, cellulitis, ecthyma, abscess. Secondary pyoderma is a skin infection disease mainly caused by &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;group A Streptococcus&nbsp;(GAS) and Staphylococcus aureus&nbsp;(SA). Pyoderma is a risk factor for the glomerulonephritis infection, rheumatic diseases, which significantly increases morbidity and mortality, causing the government burden.&nbsp;The aim of this study is&nbsp; determining the etiology and correlation of pyoderma infection in scabies patient. To determine sosio-demographic included sex, age in pediatric patients in primary schools (SD) in the district of Kertapati Palembang. The study design was cross sectional, and study samples were new scabies patients in the elementary school (age 6-14-year-old) with or without pyoderma. Clinical findings included history, physical examination and diagnostic procedure, which was investigation of skin scraping specimen material (SSB = skin surface biopsy) in confirmation with dermoscopic polar examination (DS) to show Sarcoptes scabiei&nbsp;mites. Microbiological examination with Gram stain identified the etiology of pyoderma. &nbsp;Results of this study shows that there was a significance relationship between scabies infestation and pyoderma in children in elementary school. Staphylococcus aureus&nbsp;dan GAS are the most common caused of pyoderma in pediatric patients with scabies.&nbsp;Conclusion is there is a significant correlation between scabies and pyoderma. There is &nbsp;a need to provide scabies and pyoderma medication at primary care health center as well as counseling for prevention in Palembang area with crowded population periodically. &nbsp;
Peran Antimicrobial peptide (AMP) pada kusta Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Andarini, Febrina
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i2.61

Abstract

Antimicrobial peptides (AMP) berfungsi sebagai sistem pertahanan innate tubuh pada banyak organisme. Antimicrobial peptide ini memiliki peran dalam respon sistem imunitas dengan cara menjadi garis depan sistem pertahanan melawan infeksi. Ditemukan ada beberapa AMP pada manusia dan mamalia. Namun pada pembahasan makalah ini akan difokuskan pada cathelicidin (LL-37) dan human ?-defensin-1 (HBD-1), HBD-2, HBD-3, yang merupakan AMP paling banyak pada manusia. Peran AMP penting terutama terhadap penyakit infeksi. Pada penelitian terbaru ditemukan berbagai peran AMP terhadap penyakit kusta. Antimicrobial peptides dapat juga mengaktifkan dan mengerahkan sel imun, sehingga mengakibatkan penghancuran mikroba dan/atau mengontrol inflamasi. Antimicrobial peptide berperan dalam membunuh mikobakteri pada lesi kusta dan sehingga dapat dihubungkan dengan bentuk klinis penyakit tersebut, namun mekanisme kerja AMP masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kusta ditandai dengan spektrum klinis luas berdasarkan respon imunitas seluler host. Manifestasi klinis dan klasifikasi kusta berhubungan dengan tipe respon imun yang terjadi. Pola ekspresi dan regulasi AMP spesifik pada setiap tipe sel pada masing-masing organ. Telah banyak penelitian mengenai AMP pada berbagai kondisi kulit. Pada keadaaan infeksi, sangat penting untuk mengaktifkan respon imun guna menarik sel imun lain dan juga mengontrol inflamasi.
SKIN MICROBIOTA Argentina, Fifa; Rusmawardiana, Rusmawardiana; Garfendo, Grady
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 52, No 1 (2020): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/mks.v52i1.11425

Abstract

The skin is a complex and dynamic ecosystem. It may act as physical barrier to bar the invasion of foreign pathogens while concomitantly providing home to commensals bacteria, fungi and viruses. These microbes were known as microbiota. Over a human?s life span, skin cells, immune cells, and microbiota will integrate to maintain homeostasis of skin?s physiology and immune barrier, both under healthy conditions and also under stresses (infection and wounding). Shifts in the normal microbiota may cause diseases such as atopic dermatitis and psoriasis even though pathophysiology of these conditions is still unknown.