Sukanto Sukandar Madio, Sukanto Sukandar
STKIP Garut

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIK MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SMA Sofyan, Deddy; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa SMA dalam pemecahan masalah dan komunikasi matematik melalui pendekatan problem posing dalam pembelajaran matematika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Garut. Sampel penelitian dipilih secara acak berdasarkan kelas, sampelnya adalah kelas XII IPA 1 yang mendapat pembelajaran menggunakan pendekatan problem posing dan siswa kelas XII IPA 3 yang mendapat pembelajaran konvensional. Simpulan hasil penelitian ini adalah bahwa dalam pembelajaran matematika di SMA: 1. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang mendapatkan pendekatan problem posing lebih baik dibandingkan dengan konvensional, 2. Tidak terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematik antara siswa yang mendapatkan pendekatan problem posing dengan konvensional, 3. Tidak terdapat kaitan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematik dengan kemampuan komunikasi matematik pada siswa yang mendapatkan pendekatan problem posing. The purpose of this research is to improve the ability of high school students in problem solving and communication of mathematics through problem posing approach to learning mathematics. The method used is a quasi-experimental method. The study population was one of the students in high schools in Garut. Samples were selected randomly based on the class, the sample is a class XII IPA 1 gets learning using problem posing approach and class XII IPA 3 students who received conventional learning. Conclusion The results of this study is that the study of mathematics in high school: 1. mathematical problem solving ability of students to get a better problem posing approach compared to conventional, 2. there is no difference in the ability of mathematical communication between students who received conventional approach to problem posing, 3. there was no significant association between mathematical problem solving skills with communication skills in students who get a mathematical problem posing approach.
PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP DALAM MATEMATIKA Madio, Sukanto Sukandar
Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.278 KB) | DOI: 10.22342/jpm.10.2.3637.93-108

Abstract

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan design kontrol grup, yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan penalaran matematis dan kemampuan komunikasi matematis siswa melalui pembelajaran berbasis masalah (PBM). Penelitian melibatkan siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama berdasarkan level kemampuan awal matematika (KAM), terdiri dari level KAM tinggi, level KAM sedang, dan level KAM rendah di Kabupaten Garut. Instrumen penelitian mencakup tes kemampuan awal matematika, tes kemampuan penalaran matematis, tes kemampuan penalaran matematis, dan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis, uji gain ternormalisasi, dan asosiasi kontingensi. Hasil penelitian ini adalah: 1) Kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti PBM dengan KAMT dan KAMS lebih baik dari siswa yang mengikuti PBM dengan KAMRI; 2) Tidak terdapat perbedaan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti PBM dengan KAMT dengan siswa yang mengikuti PBM dengan KAMTl; 3) Kemampuan komunikasi matematis siswa yang mengikuti PBM dengan KAMT dan KAMS lebih baik dari siswa yang mengikuti PBM dengan KAMR; 5) Peningkatan kemampuan komunikasi matematis yang mengikuti PBM dengan KAMT  dan KAMS  kategori sedang; sedangkan dengan KAMR kategori rendah; 5) Terdapat asosiasi yang signifikan antara kemampuan penalaran matematis dan kemampuan komunikasi matematis untuk siswa yang mengikuti PBM.  Â DOI: http://dx.doi.org/10.22342/jpm.10.2.3637.93-108
PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA ANTARA KELOMPOK SISWA YANG MENDAPATKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DENGAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENTS DIVISIONS (STAD) Yasa, Yasa; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : This research use two tipe cooperatif learning, they are Teams Games Tournament and Student Teams Achievement Division. The study in this approach guided student’s attention to learn to understand the problem, how to, and what needed to solve matematik problem. The purpose in this research is to know the difference of increase problem solving of mathematics student ability who use Teams Games Tournament and Student Teams Achievement Divisions, with the significant is 5 %. Increase problem solving student of mathematic ability student who gets cooperatife learning type Teams Games Tournament different with students who gets Student Teams Achievement Division learning. Abstrak : Penelitian ini menggunakan 2 jenis pembelajaran kooperatif, yaitu Teams Games Tournament dan Student Teams Achievement Division. Pembelajaran kooperatif ini mengarahkan perhatian siswa untuk mempelajari, memahami masalah, bagaimana, dan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningakatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan metode Teams Games Tournament dan Student Teams Achievement Division. Dengan taraf signifikan 5 %. peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik antara siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berbeda dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran Student Teams Achievement Division.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MISSOURI MATHEMATICS PROJECT (MMP) Latifah, Dewi; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An Abstract: Mathematics is a universal science that underlies the development of technology and have an important role in advancing the human intellect. Problem solving is the focus in the study of mathematics as a problem solving type of learning that most high level and complex. Quasi-experimental study with Nonequivalent Group Pre-test Post-test Design aims to determine the increase in mathematical problem solving ability of student who get Missouri Mathematics Project (MMP) learning model better than students who received conventional learning models, and how the increase in mathematical problem solving ability of students who get the Missouri Mathematics Project (MMP) learning model, as well as students toward learning model Missouri Mathematics Project (MMP). Sampel population in this were students MAN at Garut. The results showed that: (1) Increase in mathematical problem solving ability of student who get Missouri Mathematics Project (MMP) learning model better than students who received conventional learning models, (2) Improvement of students mathematical problem solving abilities that get being interpreted Missouri Mathematics Project (MMP) learning model, (3) Students attitudes toward learning model Missouri Mathematics Project (MMP) interpreted very positive. Abstrak: Matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembangan teknologi dan mempunyai peran penting dalam memajukan daya pikir manusia. Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika karena pemecahan masalah tipe belajar yang tingkatnya paling tinggi dan kompleks. Penelitian kuasi eksperimen dengan Nonequivalent Group Pre-test Post-test Design ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik dari siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional, dan bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP), serta sikap siswa terhadap model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP). Sampel populasi dalam penelitian ini adalah siswa MAN di Garut. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik dari siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) diinterprestasikan sedang, (3) Sikap siswa terhadap model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) diinterprestasikan sangat positif.
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA ANTARA YANG MENDAPATKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN KONTEKSTUAL Lestari, Nursuci; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Quasi-experimental research design the static group pretest- posttest design was aimed to know the differences of students achievement in learn mathematic between students who get cooperative learning in Jigsaw and Contextual types. The technique of collecting data uses subjective tests from description, this instrument is clarified have complied the validity, reliability, and level of difficulty distinguishing power. Data analysis is Mann-Whitney test. The result can be summed up that there are the significance differences in initial ability between students who get cooperative learning in Jigsaw dan Contextual types. As any rate, in data analysis of students affective base on questionnaire which is given, most of these responses are positive. This is because, the average of neutral affective is most little than students affective. Abstak: Penelitian kuasi eksperimen dengan desain kelompok the static group pretest-posttest design ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Kontekstual. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tulis berbentuk uraian, instrumen tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran Kontekstual. Pada analisis data sikap siswa yaitu berdasarkan angket yang diberikan, responnya sebagian besar bernilai positif. Ini terlihat dari rata-rata sikap netral lebih kecil daripada sikap siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun model pembelajaran Kontekstual mempunyai respon positif.
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematik melalui Pendekatan Problem Posing Sofyan, Deddy; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menelaah apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematiksiswa yang mendapatkan pendekatan problem posing lebih baik dibanding yang konvensional.
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIPE TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP Sari, Siska Puspita; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to determine whether the learning outcomes of learning mathematics that uses models of type kooperatipe think pair share ( TPS ) is better than that using learning model konvensional.Dari normality test results of initial test data shows that the initial test scores in the experimental class were normally distributed , whereas scores initial tests on the control class distribution is not normal , so proceed with testing at the Mann Whitney test with significance level 0.05.karena the initial tests at the conclusion can not start capability differences between the experimental class and the control class followed by ternormalisasi.berdasarkan gain test data analysis results can indicate that the initial capacity of the two groups can be concluded there is influence . while the results obtained from the final test at the significant tarap 00:05 . because t > t table then Ho ditolak.dengan It can be concluded that there are significant mathematical achievement of students who use cooperative learning model think pair share .
PERBANDINGAN KEMAMPUAN BERPIKIR REFLEKTIF ANTARA SISWA YANG MENDAPATKAN PENDEKATAN OPEN ENDED DENGAN KONVENSIONAL Andriani, Yofi Nurul; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hasil Peneliti ini yaitu analisis data dan pengujian hipotesis untuk tes akhir diperoleh Zhitung = 2,57 dan pada taraf siginifikansi 0.01 diperoleh Ztabel = 2,33, maka Zhitung (2,57) > Ztabel (2,33), sehingga Ha diterima. Oleh karena itu dapat kesimpuian bahwa hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pendekatan open ended lebih baik dari pada yang menggunakan pembeiajaran konvensional. Ada faktor-faktor lain dari pendekatan open ended terhadap hasil belajar matematika siswa, faktor itu meliputi pemahaman konsep seorang sum terhadap materi dan pendekatan open ended maupun karakter siswa yang heterogen yang menitik beratkan pembeiajaran pada siswa lebih aktif dalam mencari dan menemukan metode dalam menyelesaikan soal matematika. ABSTRACT The results of this Researcher that is data analysis and hypothesis testing to test the end of retrieved Zhitung = 2.57 and at siginifikansi level 0.01 retrieved Ztabel = 2.33, then Zhitung (2.57) > Ztabel (2,33), so the Ha is received. Therefore it can be kesimpuian that the results of the students learn math using the open ended approach is better than using the conventional pembeiajaran. There are factors other than open ended approach against the results of learning math students, factors that include an understanding of the concept of a sum against the material and approach the open ended character of the students as well as heterogeneous pembeiajaran operates on the students more active in seeking and finding method in solving math problems.
MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to analyze, (a) mathematical achievement capability of student after learning by Generative model, (b) mastery learning of student after learning by Generative model, and (c) student activities while learning Generative models. This research is directed to class action research in one of public high school in Garut as population subject are all eleventh grade student by taking one class of 41 sttudents as a sample. The result of research shows, (a) mathematical achievement capability of student after learning by Generative model have been changed (increased) in score that received by student, of cycle I to cycle II, of cycle II to cycle III, and of cycle III to cycle IV, (b) mastery learning of student after learning by Generative models not reached yet on cycle I, but reached on cycle II, cycle III, and cycle IV, (c) Learning Condition of implementation of Generative Model have been increased to be better and student learning activity have been increased to be better too.