Articles

Found 9 Documents
Search

Identifikasi Mutasi Gen rpob Ser531Leu Mycobacterium tuberculosis Yang Berhubungan Dengan Resistensi Rifampisin Amalia, Ella; Nindatama, Maghfiroh Rahayu; Hayati, Lusia; Handayani, Dwi
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kasus resistensi M. tuberculosis terhadap rifampisin sudah banyak dilaporkan di dunia termasuk Indonesia. Resistensi terhadap rifampisin pada  M. tuberculosis sebagian besar disebabkan mutasi gen rpoB yang menyandi RNA polymerase subunit ß. Mutasi gen rpoB Ser531Leu yang berhubungan dengan resistensi terhadap Rifampisin paling sering terjadi. Adanya mutasi pada rpoB akan  menyebabkan perubahan pada struktur dan aktivitas target obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mutasi gen rpoB Ser531Leu Mycobacterium tuberculosis pada sampel yang diambil dari penderita tuberkulosis paru di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif terhadap 40 penderita tuberkulosis paru di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Identifikasi mutasi gen rpoB Ser531Leu Mycobacterium tuberculosis dilakukan dengan teknik Multiplex Polymerase Chain Reaction menggunakan primer rpoB531. Dari 40 isolat gen rpoB kodon 531 didapatkan 70% (21 dari 30) terjadi mutasi, wild type sebanyak 9 isolat (30%) dan isolat yang tidak menghasilkan pita sebanyak 10 isolat. Telah ditemukan mutasi gen rpoB Ser531Leu Mycobacterium tuberculosis pada penderita tuberkulosis paru di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Prevalence of CYP2C19 Gene Polymorphism and Its Influence In Omeprazole Metabolism As Predictors Of Drug Inoxification In Malay Ethnic In South Sumatra Triwani, Triwani; Hayati, Lusia

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i2.15

Abstract

Cytochrome P450 2C19 (CYP2C19) is an enzyme complex that plays a role in the metabolism of several drugs and is part of the super family of cytochrome P450. Genetic polymorphisms in these enzymes are associated with the emergence of poor metabolic phenotypes (poor metabolizers / PMs and intermediate metabolizers / IMs) that have a poor ability to metabolize the drugs that become substrates. Genotypes and phenotypes were analyzed using PCR-RFLP and bio-analysis of omeprazole levels in 30 subjects from ethnic Malay living in South Sumatra. Markers used to assess the presence of polymorphisms in the CYP2C19 gene are two polymorphic sites of exon 5 (CYP2C19 * 2) and exon 4 (CYP2C19 * 3). 321 bp DNA bands for exon 5 and 271 bp for exon 4 will be produced after DNA amplification by PCR method under denaturation for 5 min at 95oC; followed by 60 seconds at 95oC, 60sec at 53oC and 60sec at 72oC for 30 cycles; as well as the final polymerization for 5 minutes at 72 ° C. Furthermore, DNA cutting was done using the restriction enzyme endonuclease SmaI (CYP2C19 * 2) at 30oC and BamHI (CYP2C19 * 3) with incubation at 37oC for 3 hours. Bioanalysis of omeprazole levels in the blood with LC-MS. The results of this study indicate the presence of polymorphisms on both sites will eliminate the enzyme sites SmaI and BamHI. The results showed that 46.7% of South Sumatran Malay populations were classified as PM consisting of 13.3% homozygous mutandan mutant 33.4% heterozygotes. The high phenotype of PM enzyme CYP2C19 in ethnic Malays in South Sumatra predicted to influence metabolism of drugs become substrates. However, based on spearman correlation analysis, the correlation value was 0.035 with p = 0.875. This means that between the CYP2C19 gene polymorphism and the omeprazole levels in the blood there is a weak and meaningless correlation. The results of this study provide an overview of the high genetic polymorphisms of dyspepsia syndrome patients from the Malay population, ie almost half of the study subjects (46.7%). There is a weak and insignificant correlation between polymorphism and omeprazole levels.
Hubungan Polimorfisme Gen p53 Codon 72 dengan Kejadian Kanker Serviks di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hayati, Lusia; Delvia, Siska

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i3.41

Abstract

Di Indonesia angka kejadian kanker serviks diperkirakan sekitar 50 per 100.000 penduduk. Diperkirakan ada lebih dari 1 juta perempuan di seluruh dunia dengan kanker serviks dan sebagian besar dari mereka belum didiagnosis atau tidak memiliki akses untuk skrining dan perawatan. Polimorfisme pada gen p53 codon 72 dapat mempengaruhi risiko kanker serviks melalui regulasi proliferasi dan apoptosis sel. Tujuan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen p53 codon 72 dengan kejadian kanker serviks. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Pelaksanaan penelitian dengan pemeriksaan di laboratorium Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dengan pendekatan studi Kasus  Kontrol (Case-Control). Terdapat 70 sampel yang dibagi 2 kelompok, yaitu 35 Kasus dan 35 Kontrol. Penentuan Genotip dan Alotip menggunakan teknik PCR-RFLP. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan signifikan pada karakteristik responden yang diamati antar kelompok kasus dan kontrol. Hasil genotip gen p53 codon 72 pada kelompok kasus terdapat 7 subjek (20,0%) yang memiliki genotip Pro/Pro dan Arg/Arg  5 subjek (14,3%) dan ada 23 subjek (65,7%) yang memiliki memiliki genotip Pro/Arg. Pada kelompok kontrol terdapat 28 subjek (80,0%) yang memiliki genotip Pro/Pro dan Arg/Arg  0 subjek (0,0%) dan ada 7 subjek (20,0%) yang memiliki memiliki genotip Pro/Arg. Frekuensi alel Prolin pada kelompok kasus 37 alel (52,9%) dan alel Arginin 33 alel (47,1%) sedangkan pada kelompok kontrol alel Prolin 63 (90%) dan alel Arginin 7 alel (10%). Hasil uji chi square genotip didapatkan  p value 0.000, OR 1,304 and CI 95% 1,071-5,891, sedangkan pada alel didapatkan ρ value 0,000; OR 8,027 ; CI 95%  3,228 - 19,962.Disimpulkan ada hubungan antara genotip dan alel polimorfisme gen p53 codon 72 dengan kejadian kanker serviks.
Angka Kejadian Korban Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Luar Visum Et Repertum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2011-2013 Singh, Sharanjit Kaur Autar; Nasution, Indra Syakti; Hayati, Lusia
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 47, No 2 (2015): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan yang potensial di Indonesia seiring makin giatnya pembangunan akhir-akhir ini. Jumlah penduduk yang cukup padat dan pembangunan yang pesat menyebabkan mobilitas penduduk menjadi tinggi bisa meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian korban kecelakaan lalu lintas berdasarkan hasil pemeriksaan luar visum et repertum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2011-2013. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan serial kasus. Populasi dalam penelitian ini adalah semua korban mati yang tercatat dari pemeriksaan luar di Bagian Forensik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2011-Desember 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah semua korban kecelakaan lalu lintas di Bagian Forensik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2011-Desember 2013.  Subyek penelitian adalah 184 (50,8%) korban kecelakaan lalu lintas. Mayoritas korban adalah laki-laki (78,35%), usia 21-30 tahun (36,4%), pengendara sepeda motor (89,1%), dan mengalami luka robek (40%). Angka kejadian korban kecelakaan lalu lintas berdasarkan hasil pemeriksaan luar visum et repertum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang adalah (50,8%).
Hubungan Polimorfisme Gen Reseptor Angiotensin II Tipe 1 1166 A/C Dengan Kejadian Preeklampsia Rahmadhayanti, Eka; Hayati, Lusia; Saleh, Mgs. Irsan
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:Preeklampsia adalah kelainan multisistem spesifik pada kehamilan yang ditandai oleh timbulnya hipertensi dan protein uria setelah umur kehamilan 20 minggu. Di Indonesia, preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian maternal disamping perdarahan dan infeksi dengan angka kematian sebesar 30-50%. Polimorfisme gen reseptor angiotensin II Tipe 1 akan meningkatkan aktivitas angiotensin II sehingga terjadi kerentanan terhadap kejadian hipertensi esensial.Tujuan penelitian:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen reseptor angiotensin II tipe 1 1166 A/C dengan kejadian preeclampsia. Metode:Penelitian ini dilakukan mulai bulan April sampai dengan Juli 2013 dengan melibatkan 35 responden kelompok kasus dan 35 responden kelompok kontrol. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan studi kasus kontrol.Pemeriksaan genotip gen reseptor angiotensin II tipe 1 dilakukan dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorfism (PCR-RFLP). Hasil:Tidak ada hubungan yang bermakna pada karakteristik paritas, gravida dan tingkat pendidikan responden. Didapatkan ada hubungan yang bermakna pada riwayat hipertensi dalam keluarga yang diamati antara kelompok kasus dan kontrol dengan kejadian preeklampsia. Frekuensi genotip pada kelompok kasus adalah AA91,4%, AC8,6% dan kontrol adalah AA88,6%, AC11,4%. Frekuensi alel pada kelompok kasus yaitu A95,7%, C4,3% dan kontrol yaitu A94,7%, alel C5,3%. Polimorfismegenotip gen reseptor angiotensin II tipe 1 1166 A/Ctidak berhubungan dengan kejadian preeklampsia (nilai p=1,000). Tidak ada hubungan bermakna antara alel C pada gen reseptor angiotensin II tipe 1 dengan kejadian preeklampsia (p=1,000). Kesimpulan:Dari hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara polimorfisme genotip dan allotipe reseptor angiotensin II tipe 1 1166 A/C dengan kejadian preeklampsia.
THE FIRST INVESTIGATION OF AAC(6’)-Ib ENZYME IN CARBAPENEM-RESISTANT ENTEROBACTERIACEAE ISOLATED FROM INDONESIAN PATIENTS Novianty, Beauty; Amalia, Ella; Maritska, Ziske; Yuwono, Yuwono; Hayati, Lusia
Acta Biochimica Indonesiana Vol 2, No 1 (2019): ACTA BIOCHIMICA INDONESIANA
Publisher : PP PBBMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32889/actabioina.v2i1.32

Abstract

Background: Over the past decade, numbers of Carbapenemase Producing-Carbapenem Resistant Enterobacteriaceae (CP-CRE) has been increasing worldwide and it has been becoming a threat because of its resistance against carbapenem which is considered as the “last resort” antibiotic. Therapy options for its infection are still limited. Aminoglycoside serves as one of the most commonly used antibiotics, but the resistance against it has already been presented for a long time. Aminoglycoside Modifying Enzyme (AME) is the most important resistance mechanism against aminoglycoside. AAC(6’)-Ib enzyme is one of the most common AME produced by the gram-negative bacteria.Objectives: This study wished to identify the gene of this enzyme among CRE isolated from infected Indonesian patients in Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang.Methods: Twenty-eight isolates collected from CRE-infected patients identified by Vitek 2 Compact (bioMerieux, USA) in dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang during September—November 2017. AAC(6’)-Ib gene was identified using PCR method, then visualize by electrophoresis. The result is then analyzed by comparing it with a susceptibility test.  Results: Out of 28 samples, AAC(6’)-Ib is identified in 22 (78.57%) samples. Samples with AAC(6’)-Ib showed to be less resistant to various antibiotics, significantly to amikacin (p=0.023).Conclusion: AAC(6’)-Ib gene is found in most of samples implying its frequent occurrence in Indonesian patients.
CORRELATION BETWEEN SERUM FERRITIN LEVELS AND NUTRITIONAL STATUS OF THALASSEMIA-BETTA MAJOR PATIENTS Rafika, Rafika; Marwoto, Djoko; Hayati, Lusia
Biomedical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v5i2.7986

Abstract

Thalassemia is a chronic disease that requires repeated blood transfusions, due to impaired hemoglobin synthesis due to mutations of one or more globin genes. Continuous transfusion can cause iron accumulation in the body, especially the heart, liver and endocrine organs, and can cause stunted growth and malnutrition or poor nutrition. This study aims to determine the correlation between serum ferritin levels and the nutritional status of thalassemia-betta major patients in RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. This research is an observational analytic study with cross sectional design. The sample of this study was thalassemia-betta major patient who was hospitalized in the Department of Pediatrics. Mohammad Hoesin from October to November 2016 who met the participation criteria. Of the 43 patients, the majority (60.5%) had lean bodies according to their weight index according to age (BW / U) and were short stature according to their height index according to age (TB / U), but only 14.0% of patients had undernourished nutrition BB / TB index. Obtained average values of serum ferritin 2837.69 g / L, with a range of 278.7-13867 g / L. The results of the correlation test between serum ferritin levels and nutritional status indicate p = 0.326 and r = 0.153. There was no significant correlation between serum ferritin levels and the nutritional status of thalassemia-betta major patients.
Prevalence of CYP2C19 Gene Polymorphism and Its Influence In Omeprazole Metabolism As Predictors Of Drug Inoxification In Malay Ethnic In South Sumatra Triwani, Triwani; Hayati, Lusia
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 1 No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i2.15

Abstract

Cytochrome P450 2C19 (CYP2C19) is an enzyme complex that plays a role in the metabolism of several drugs and is part of the super family of cytochrome P450. Genetic polymorphisms in these enzymes are associated with the emergence of poor metabolic phenotypes (poor metabolizers / PMs and intermediate metabolizers / IMs) that have a poor ability to metabolize the drugs that become substrates. Genotypes and phenotypes were analyzed using PCR-RFLP and bio-analysis of omeprazole levels in 30 subjects from ethnic Malay living in South Sumatra. Markers used to assess the presence of polymorphisms in the CYP2C19 gene are two polymorphic sites of exon 5 (CYP2C19 * 2) and exon 4 (CYP2C19 * 3). 321 bp DNA bands for exon 5 and 271 bp for exon 4 will be produced after DNA amplification by PCR method under denaturation for 5 min at 95oC; followed by 60 seconds at 95oC, 60sec at 53oC and 60sec at 72oC for 30 cycles; as well as the final polymerization for 5 minutes at 72 ° C. Furthermore, DNA cutting was done using the restriction enzyme endonuclease SmaI (CYP2C19 * 2) at 30oC and BamHI (CYP2C19 * 3) with incubation at 37oC for 3 hours. Bioanalysis of omeprazole levels in the blood with LC-MS. The results of this study indicate the presence of polymorphisms on both sites will eliminate the enzyme sites SmaI and BamHI. The results showed that 46.7% of South Sumatran Malay populations were classified as PM consisting of 13.3% homozygous mutandan mutant 33.4% heterozygotes. The high phenotype of PM enzyme CYP2C19 in ethnic Malays in South Sumatra predicted to influence metabolism of drugs become substrates. However, based on spearman correlation analysis, the correlation value was 0.035 with p = 0.875. This means that between the CYP2C19 gene polymorphism and the omeprazole levels in the blood there is a weak and meaningless correlation. The results of this study provide an overview of the high genetic polymorphisms of dyspepsia syndrome patients from the Malay population, ie almost half of the study subjects (46.7%). There is a weak and insignificant correlation between polymorphism and omeprazole levels.
Hubungan Polimorfisme Gen p53 Codon 72 dengan Kejadian Kanker Serviks di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hayati, Lusia; Delvia, Siska
SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE Vol 1 No 3 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v1i3.41

Abstract

Di Indonesia angka kejadian kanker serviks diperkirakan sekitar 50 per 100.000 penduduk. Diperkirakan ada lebih dari 1 juta perempuan di seluruh dunia dengan kanker serviks dan sebagian besar dari mereka belum didiagnosis atau tidak memiliki akses untuk skrining dan perawatan. Polimorfisme pada gen p53 codon 72 dapat mempengaruhi risiko kanker serviks melalui regulasi proliferasi dan apoptosis sel. Tujuan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen p53 codon 72 dengan kejadian kanker serviks. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Pelaksanaan penelitian dengan pemeriksaan di laboratorium Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dengan pendekatan studi Kasus  Kontrol (Case-Control). Terdapat 70 sampel yang dibagi 2 kelompok, yaitu 35 Kasus dan 35 Kontrol. Penentuan Genotip dan Alotip menggunakan teknik PCR-RFLP. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan signifikan pada karakteristik responden yang diamati antar kelompok kasus dan kontrol. Hasil genotip gen p53 codon 72 pada kelompok kasus terdapat 7 subjek (20,0%) yang memiliki genotip Pro/Pro dan Arg/Arg  5 subjek (14,3%) dan ada 23 subjek (65,7%) yang memiliki memiliki genotip Pro/Arg. Pada kelompok kontrol terdapat 28 subjek (80,0%) yang memiliki genotip Pro/Pro dan Arg/Arg  0 subjek (0,0%) dan ada 7 subjek (20,0%) yang memiliki memiliki genotip Pro/Arg. Frekuensi alel Prolin pada kelompok kasus 37 alel (52,9%) dan alel Arginin 33 alel (47,1%) sedangkan pada kelompok kontrol alel Prolin 63 (90%) dan alel Arginin 7 alel (10%). Hasil uji chi square genotip didapatkan  p value 0.000, OR 1,304 and CI 95% 1,071-5,891, sedangkan pada alel didapatkan ? value 0,000; OR 8,027 ; CI 95%  3,228 - 19,962.Disimpulkan ada hubungan antara genotip dan alel polimorfisme gen p53 codon 72 dengan kejadian kanker serviks.