Eka Yulia Fitri, Eka Yulia
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sriwijaya

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Respon Stres Pada Pasien Kritis Fitri, Eka Yulia
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : universitas sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Respon stres baik akibat trauma fisik atau sepsis akan menyebabkan terjadinya perubahan pada sistem metabolik dan hormonal dalam rangka mempertahankan homeostasis tubuh. Respon stres yang berlangsung intensif dan lama akan berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Pada pasien dalam kondisi kritis, sulit untuk melakukan mekanisme pertahanan, sehingga dapat dengan mudah mengalami ketidakseimbangan yang dapat mengancam homeostasis tubuh. Respon metabolik diawali dengan fase ebb, yang ditandai dengan hipoperfusi jaringan dan penurunan aktivitas metabolik secara keseluruhan dan berlangsung selama 12-24 jam, dan berlanjut pada fase flow dengan puncak fase ini adalah sekitar 3-5 hari. Selain itu terjadi hipermetabolisme protein dan glukosa, serta perubahan pada cairan dan elektrolit. Respon hormonal, akan diaktivasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) yang salah satu dampaknya adalah mencetuskan sinyal anti inflamasi sistemik, ditandai dengan penurunan kadar beberapa mediator proinflamasi. Mediator inflamasi (TNF-α, IL-1, dan IL-6) mengeluarkan substrat dari jaringan host untuk membantu aktivitas limfosit T dan B. Mediator inflamasi berperan dalam terjadinya systemic inflammatory response syndrome (SIRS), dan dapat berkembang menjadi multiple organ dysfunction syndrome (MODS).   Kata Kunci: HPA, SIRS, stres, hipermetabolisme.
Pengaruh Hypnoparenting Terhadap Status Gizi Balita Kusumaningrum, Arie; Fitri, Eka Yulia
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : universitas sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Dampak dari gizi kurang yang terjadi pada balita yaitu terhambatnya perkembangan otak, pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, perkembangan mental serta meningkatnya angka kesakitan dan kematian balita. Karena masalah ini dihawatirkan bangsa Indonesia akan mengalami loss generation (Depkes RI, 2002). Suatu metode hipnosis yaitu hypnoparenting dapat mengubah berbagai perilaku negatif anak yang menolak makan guna meningkatkan asupan nutrisi dan status gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hypnoparenting terhadap status gizi balita di Indralaya dengan parameter BB/U, TB/U dan BB/TB.   Metode: Desain penelitian ini adalah quasy experiment dengan non randomised pre test post test design. Populasi pada penelitian ini adalah balita di wilayah kerja puskesmas Indralaya dan sampel didapatkan secara purposive sampling sebanyak 21 responden (10 intervensi, 11 kontrol).   Hasil: Dari penelitian ini didapatkan hasil karakteristik umur rata-rata responden 45,57±18,92, berat badan 15,81±4,00, tinggi badan 99,00±7,69 dan laki-laki 8 (38,09%) dan perempuan 13 (61,90%). Analisis statistik non parametrik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata status gizi sebelum dan sesudah dilakukan hypnoparenting dan tidak terdapat perbedaan rata-rata status gizi antara  kelompok intervensi dan kelompok kontrol.   Simpulan: Perlu adanya investigasi lebih lanjut tentang rentang waktu pelaksanaan hypnoparenting yang efektif dan penelitian lanjut kehadiran peneliti pada saat hypnoparenting.   Kata Kunci: balita, gizi, hypnoparenting
PENGARUH TERAPI NATURE SOUNDS TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA PASIEN DENGAN SINDROMA KORONARIA AKUT Fitri, Eka Yulia; Andhini, Dhona
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terapi nature sounds berpengaruh positif terhadap gangguan tidur yang sering dialami oleh pasien sindroma koronaria akut (SKA). Metode: Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimental dengan desain one group pretest-posttest. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada pasien dengan SKA yang dirawat di ruang CVCU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang berjumlah 13 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan rata-rata kualitas tidur (29,18±13,47,  p value 0,000) dan tingkat kebisingan (19,69±16,68, p value 0,001) sebelum dan setelah pemberian terapi nature sounds. Simpulan: Terapi nature sounds dianjurkan untuk diberikan kepada pasien SKA yang mengalami gangguan tidur karena bersifat sedatif, aman, dan mudah digunakan. Kata kunci: Hospitalisasi, kualitas tidur, nature sounds, SKA, terapi komplementer.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SYSTEMIC INFLAMMATORY RESPONSE SYNDROME PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI ICU Fitri, Eka Yulia; Muharyani, Putri Widita; Andhini, Dhona
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya SIRS pada pasien yang dirawat di ICU dengan cepat dan penatalaksanaan dini yang sesuai pada pasien yang berisiko atau pasien yang berada dalam kondisi kritis dapat membantu mencegah perburukan lebih lanjut dan memaksimalkan kesempatan untuk sembuh.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apa saja faktor yang berhubungan dengansystemic inflammatory response syndrome pada pasien yang dirawat di ruang ICU. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal daridata rekam medis pasien yang dirawat di ICU periode tahun 2016 pada RSUP Dr. Mohammad Hoesin dan RS Bhayangkara Palembang, berjumlah 31 sampel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkansecara statistik bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p value = 0,011), jenis kelamin (p value = 0,009), kasus bedah (p value = 0,029), kasus trauma (p value = 0,033), dan terapi ventilator mekanik (p value = 0,029) dengan kejadian SIRS. Sedangkan faktor skor GCS dan kadar glukosa darah tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian SIRS pada pasien yang dirawat di ICU. Simpulan:Pengkajian terhadap usia, jenis kelamin, kasus bedah dan trauma, serta pemantauan terhadap terapi ventilator mekanik sangat perlu dilakukan agar dapat mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami SIRS. Kata kunci:ICU, infeksi, SIRS, trauma.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SYSTEMIC INFLAMMATORY RESPONSE SYNDROME DI RUANG ICU RSUD LAHAT Hedi, Burman; Fitri, Eka Yulia; Hikayati, Hikayati
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan: Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) merupakan respon inflamasi sistemik yang diakibatkan adanya insults atau stimulus yang berbahaya bagi tubuh. Deteksi sedini mungkin adanya tanda SIRS merupakan upaya penting yang bertujuan menurunkan tingginya angka mortalitas pasien kritis di ruang ICU. SIRS  yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan  sepsis, sepsis berat, syok septik dan Multiple Organ Dysfuntion Syndrome (MODS),  Multiple Oran Failure (MOF) hingga menyebabkan kematian.Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik korelasi menggunakan metode observasional dan pendekatan cross sectional  untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian SIRS meliputi usia, jenis kelamin, kasus infeksi, kasus non infeksi serta kasus bedah dan kasus non bedah. Populasi penelitian adalah pasien yang dirawat di ICU, pengambilan sampling menggunakan metode consecutive sampling berjumlah 47 responden. Hasil: Hasil penelitian didapat kejadian SIRS sebanyak 66%, usia dewasa akhir ? 61 tahun sebanyak 57,4%, jenis kelamin laki-laki 63%, kasus infeksi 51,1% dan kasus bedah 61,7%. Hasil anasisis  menggunakan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95% (p value = 0,05)  menunjukkan adanya hubungan bermakna antara usia dengan kejadian SIRS (p value = 0,009), jenis kelamin dengan kejadian SIRS (p value = 0,007), kasus infeksi dengan kejadian SIRS (p value = 0,010) dan kasus bedah dengan kejadian SIRS (p value = 0,014).Simpulan: Faktor usia, jenis kelamin, kasus infeksi serta kasus bedah perlu dipertimbangkan untuk identifikasi SIRS sebagai deteksi dini sepsis.Kata kunci: Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), usia, jenis kelamin, kasus infeksi dan non infeksi, kasus bedah dan non bedah
KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN, DAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PULANG YANG DILAKUKAN OLEH PERAWAT Fitri, Eka Yulia; Herliawati, Herliawati; Wahyuni, Dian
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 4, No 1 (2018): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2018
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan pulang merupakan kegiatan rutin dalam sistem kesehatan yang bertujuan untuk mengurangilama masa rawat dan perawatan ulang di rumah sakit, meningkatkan koordinasi layanan kepada pasiensetelah pulang dari rumah sakit sehingga menjembatani jarak antara rumah sakit dan fasilitas kesehatan dimasyarakat. Perawat merupakan salah satu multidisiplin yang memiliki kompetensi dalam melakukanpengkajian secara komprehensif dan mampu mengelola proses perawatan pasien. Saat ini perencanaanpulang hanya dilakuka pada tahapan-tahapan yang penting saja, dan detail-detail kecil perencanaanpulang seringkali diabaikan pelaksanaannya oleh perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikarakteristik, tingkat pengetahuan, dan pelaksanan perencanaan pulang yang dilakukan oleh perawat.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 63orang perawat di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Hasil penelitian menunjukkan 82,54%responden berjenis kelamin perempuan, 85,71% usia responden dalam rentang usia 21-39 tahun, 39,68%responden dengan latar pendidikan S1/Ners, 61,90% responden bekerja dalam rentang 0-5 tahun, dan55,56% perawat berada dalam level karir PK 1. Sebanyak 49,21% responden memiliki pengetahuan yangbaik tentang perencanaan pulang. 34,92% responden baik dalam melaksanakan perencanaan pulang padasaat pasien masuk atau dirawat di rumah sakit. Sebanyak 28,58% responden baik dalam melaksanakanperencanaan pulang pada satu hari sebelum pasien pulang, serta sebanyak 60,32% responden baik dalammelaksanakan perencanaan pulang pada hari kepulangan pasien. Simpulan: Pendidikan dan penjelasantentang perencanaan pulang sangat diperlukan bagi perawat dalam memahami perencanaan pulang, danperlu dikembangkan model perencanaan pulang yang terstruktur agar memudahkan perawat dalammelaksanakan perencanaan pulang.Kata Kunci : karakteristik, pengetahuan, perencanaan pulang, perawat.
UJI BEDA KADAR ASAM URAT SETELAH DILAKUKAN TERAPI KOMPLEMENTER SENAM YOGA DAN RENDAM AIR JAHE HANGAT PADA PENDERITA GOUT DI LUBUK BAKUNG WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKJO PALEMBANG Herliawati, Heliawati; Fitri, Eka Yulia; Mozarta, Martha

Publisher : Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit GOUT/asam urat dapat menimbulkan rasa nyeri terutama pada bagian tubuh ekstremitas atas ataupun bawah sehingga mengakibatkan gangguan untuk berkativitas sehari - hari hal ini dapat menimbulkan angka ketergantungan penderita GOUT/asam urat dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari.atujuan penelitian ini adalah membandingkan dan menganalisa perbedaan kadar asam urat penderita GOUT setelah perlakuan terapi senam yoga dan rendam air jahe hangat. Uji statistikyang digunakan adalah t-test berpasangan dengan nilai kemaknaan P-Value < 0,05 yang berarti ada perbedaan kadar asam urat dan apabila P-Value (P>0,05). dan uji statistik Man Whitney dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian di dapatkan perbedaan penurunan kadar asam urat responden antara perlakuan senam yoga dan rendam kaki air jahe hangat adalah 0,27. Pelaksanaan terapi komplementer senam yoga dan rendam kaki air jahe hangat dapat dilakukan secara kontinyu terus menerus untuk mencegah komplikasi dari penyakit GOUT dan menurunkan kadar asam urat melalui program promosi kesehatan di instansi kesehatan dan menerapkan dalam praktek sehari hari.Kata kunci : GOUT, rendam kaki air jahe hangat, senam yoga
Faktor yang berhubungan dengan systematic inflammatory response syndrome pada pasien yang dirawat di ICU fitri, Eka Yulia; Muharyani, Putri Widita; Andhini, Dhona
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya SIRS pada pasien yang dirawat di ICU dengan cepat dan penatalaksanaan dini yang sesuai pada pasien yang berisiko atau pasien yang berada dalam kondisi kritis dapat membantu mencegah perburukan lebih lanjut dan memaksimalkan kesempatan untuk sembuh.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apa saja faktor yang berhubungan dengan systemic inflammatory response syndrome pada pasien yang dirawat di ruang ICU. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data rekam medis pasien yang dirawat di ICU periode tahun 2016 pada RSUP Dr. Mohammad Hoesin dan RS Bhayangkara Palembang, berjumlah 31 sampel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan secara statistik bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p value = 0,011), jenis kelamin (p value = 0,009), kasus bedah (p value = 0,029), kasus trauma (p value = 0,033), dan terapi ventilator mekanik (p value = 0,029) dengan kejadian SIRS. Sedangkan faktor skor GCS dan kadar glukosa darah tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian SIRS pada pasien yang dirawat di ICU. Simpulan: Pengkajian terhadap usia, jenis kelamin, kasus bedah dan trauma, serta pemantauan terhadap terapi ventilator mekanik sangat perlu dilakukan agar dapat mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami SIRS. Kata kunci: ICU, infeksi, SIRS, trauma. Abstract Aim: In ICU hospitalized’s patients, a quick recognition of some factors that maybe influence toward SIRS and appropriate early theraphy to it can  prevent patients from bad condition. The purpose of this research was to determine some factors of systemic inflammatory response syndrome in ICU hospitalized patients. Methods: This research was conducted as a corelative descriptive using cross sectional design. Samples was taken from medical record of 31 patients who were hospitalized at ICU in Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital and Bhayangkara Hospital.  Results: Statistical analysis showed that there were a relationship between age (p value = 0,011), sex (p value = 0,009), surgery (p value = 0,029), trauma (p value = 0,033), and also mechanical ventilator (p value = 0,029) wih SIRS.Whereas there were not a relationship between GCS’s score and blood glucose level with SIRS..  Conclusion: It is necessary to assess and observe of age, sex, surgery case, trauma case, and mechanical ventilator theraphy in ICU hospitalized’s patients in order to identify high risk of SIRS. Key words: ICU, infection, SIRS, trauma.
PENGARUH PEER EDUCATION TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA WANITA PEKERJA SEKS TIDAK LANGSUNG Khoradiyah, Hafiza; Natosba, Jum; Fitri, Eka Yulia
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Infeksi menular seksual (IMS) merupakan suatu gangguan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, dan parasit yang dapat ditularkan melalui hubungan seks (baik melalui vagina, oral maupun anus) dengan berganti-ganti pasangan. Penelitiaan ini dalah pendidikan kesehatan salah satunya dengan metode peer education untuk meminimalisir penyebaran dan komplikasi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peer education terhadap pengetahuan tentang infeksi menuar seksual pada wanita pekerja seks tidak langsung.   Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pre dan post tests one groups. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita pekerja seks tidak langsung di panti pijat kota Palembang yang berjumlah 44 orang.   Hasil: Hasil analisis menggunakan uji t-paired menunjukkan bahwa peer education berpengaruh terhadap pengetahuan WPS tidak langsung dengan p value = 0,001 baik pada peer educator maupun pada anggota.   Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian bahwa peer education dapat dijadikan sebagai salah satu metode mempengaruhi pengetahuan WPS tidak langsung terhadap penyakit IMS dan diharapkan penerapan peer education dapat lebih sering diterapkan dan menjadi salah satu program pelayanan kesehatan dinas sosial dan dinas kesehatan untuk mencegah penyebaran dan komplikasi penyakit IMS.
HUBUNGAN SLEEP HYGIENE TERHADAP KUALITAS TIDUR PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 Rahmawati, Fuji; Tarigan, Angeline Hosana Zefany; Fitri, Eka Yulia; Nugroho, Indra Prapto
Proceeding Seminar Nasional Keperawatan Vol 5, No 1 (2019): Proceeding Seminar Nasional Keperawatan 2019
Publisher : Proceeding Seminar Nasional Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakGejala sekunder yang biasa dirasakan oleh penderita Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 adalah gangguantidur. Sleep hygiene merupakan suatu latihan atau kebiasaan yang dapat mempengaruhi tidur.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Sleep Hygiene terhadap kualitas tidur penderitaDiabetes Mellitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Indralaya. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatifdengan rancangan korelasional melalui pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian iniberjumlah 29 responden dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Alat ukur menggunakan kuesioner sleephygiene index (SHI) untuk mengukur skor sleep hygiene dan kuesioner Pittsburgh sleep quality index(PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Pearson ProductMoment. Hasil penelitian didapatkan skor rata-rata sleep hygiene adalah 15,79 dan skor rata-rata kualitastidur adalah 9,31. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sleephygiene dengan kualitas tidur penderita DM Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Indralaya (p value =0,017). Diharapkan pada perawat komunitas yang ada di Puskesmas Indralaya yang salah satu perannyasebagai edukator, memasukkan teknik sleep hygiene dalam pendidikan kesehatan yang harus diberikanpada penderita DM tipe 2.Kata Kunci: Sleep hygiene, kualitas tidur, Diabetes Mellitus tipe 2AbstractA secondary symptom that is commonly felt by people with Diabetes Mellitus (DM) type 2 is sleepdisturbance. Sleep hygiene is an exercise or habit that can affect sleep. This study aims to determine thecorrelation between Sleep Hygiene and sleep quality of people with DM type 2 in the working area ofIndralaya Health Center. This study is a quantitative study with a correlational design through a crosssectional approach. The sample in this study amounted to 29 respondents and selected based on inclusioncriteria. Measuring instruments used the sleep hygiene index (SHI) questionnaire to measure sleephygiene scores and the Pittsburgh sleep quality index (PSQI) questionnaire to measure sleep quality.Data were then analyzed using the Pearson Product Moment test. The results showed an average score ofsleep hygiene was 15.79 and the average score of sleep quality was 9.31. The results of the bivariateanalysis showed that there was a significant relationship between sleep hygiene and the sleep quality ofpatients with Type 2 DM in the working area of Indralaya Health Center (p value = 0.017). It isimportant to the community health nurses at Indralaya Health Center, which one of the roles as aneducator, to include sleep hygiene techniques into health education that must be given to the people withtype 2 DM.Keywords: Sleep hygiene, sleep quality, Diabetes Mellitus type 2