Piprim B. Yanuarso, Piprim B.
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

EARLY KANGAROO MOTHER CARE VS. CONVENTIONAL METHOD IN STABILIZING LOW BIRTH WEIGHT INFANT: PHYSIOLOGIC PARAMETERS (PRELIMINARY REPORT) Suradi, Rulina; Yanuarso, Piprim B.; Sastroasmoro, Sudigdo; Dharmasetiawani, Nani
Paediatrica Indonesiana Vol 42 No 11-12 (2002): November 2002
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi42.6.2002.273-9

Abstract

Background Kangaroo mother care (KMC) has been accepted as an effective method in nursing low birth weight infant (LBWI). However, the application of this method in the early life of infants has not been studied in Indonesia.Objective To evaluate some physiologic parameters of LBWI treated with early KMC compared to conventional method.Methods This was a randomized clinical-trial, which compared early KMC to conventional method in stabilizing LBWI in the first 4 hours of life. All LBWI (birth weight 1500-2499 g) bom at Cipto Mangunkusumo Hospital and Budi Kemuliaan Matemity Hospital Jakarta were recruited consecutively in the period of November 2001 until March 2002. The inclusion criteria were spontaneous delivery, APGAR scores 13t and 5th minute 37, and parental consent.Results Sixty-four subjects distributed evenly into early KMC group and control group. One subject in the KMC group and three subjects in the control group were excluded due to respiratory distress. The mean birth weight was 2091 (SO 299.4) g in the KMC group and 2184 (SO 214.9) g inthe control group. The mean gestational-age in both groups was 35.6 (SO 3.0) weeks. There were no statistical differences in mean temperature (P=0.281), heart rate (P=0.956), and respiratory rate (P=0.898) between the two groups during the first 4 hours of life. We found a larger proportion of infants reaching the temperature of 36.5QC in the KMC group, especially at one hour (49% vs. 7%); the difference of proportion was 0.42 (95%CI 0.22 to 0.61).Conclusion Early KMC method is proved to be as safe as conventional method in stabilizing healthy LBWI.
PROCALCITONIN LEVELS IN CHILDREN AGED 3-36 MONTHS WITH SUSPECTED SERIOUS BACTERIAL INFECTION Herawaty, Tuty; Tumbelaka, Alan R.; Widodo, Dwi Putro; Trihono, Partini Pudjiastuti; Setyanto, Darmawan B.; Yanuarso, Piprim B.
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 5 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi50.5.2010.310-5

Abstract

Background Fever in children aged 3-36 months is usually caused by viral infection, however, 11-20% of cases may progress into serious bacterial infection (SBI). A good diagnostic tool is required to detect SBI to reduce mortality and avoid unnecessary use of antibiotics.Objectives To determine procaldtonin (peT) levels, and etiology of bacteremia in febrile children aged 3-36 months old with suspected SBI.Methods A cross-sectional descriptive study was conducted in Cipto Mangunkusumo and Tangerang General Hospital during April-May 2010. Complete blood cells count and acute illness observation score (AIOS) were perfonned on febrile children aged 3-36 months. Subjects meeting the inclusion criteria underwent blood culturing and testing of procalcitonin levels.Results There were 39 children met the criteria. Boys and girls ratio was 1.6 Mth median age of 10 months. Mean of AlOS was 20.5 (4.5 SD) and mean of hemoglobin was 10.2 (SD 2.1) g/dL. Median of leukocyte and absolute neutrophyl count were 18,600/uL and 12,300/uL, respectively. Median of procaldtonin 1.8 (range 0.04-71.60) ng/mL, mean of procalc itonin in bacteremia subgroup 22.60 (SD 27.6) ng/mL and 6.38 in non-bacteremia subgroup (11.0 SB) ng/mL. In children with severely ill appearance, the likelihood of procaldtonin levels ?2 ng/mL was 8.67 times higher (95%CI 1.66 to 50.56) than in moderately or mildly ill-appearing children. In subjects Mth procalcitonin level of ?2 ng/mL, the risk of bacteremia was 8.1 times (95% CI 2.9 to 1051.6) higher and the risk of sepsis was 55.47 times higher than in subjects Mth procalcitonin <2 ng/mL (95% CI 1.22 to 68.02). We observed bacteriemia in 11 of 39 subjects (28.2%). The pathogens isolated from these 11 subjects were Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Serratia marcesens, Staphylococrus saprophyticus, and Serratia liqueafaciens.Conclusion The proportion of bacteremia in children aged 3-36 months old with suspected serious bacterial infection was 28.2% with no predominant microorganism. Elevated procaldtonin level of ? 2 ng/mL was assodated with severe illness apppearance, bacteremia, and sepsis. 
Fungsi Sistolik dan Diastolik Jantung pada Pasien Anak dengan Osteosarkoma yang Mendapat Terapi Doksorubisin Di RS Cipto Mangunkusumo Handojo, Kristin; Sjakti, Hikari Ambara; Yanuarso, Piprim B.; Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.149-56

Abstract

Latar belakang. Doksorubisin merupakan obat golongan antrasiklin yang penting dan efektif pada pengobatan tumor padat pada anak. Doksorubisin mencegah sintesis RNA dan DNA melalui proses interkalasi. Kardiotoksisitas dilaporkan paling banyak karena penggunaan doksorubisin tersebut sehingga penggunaannya masih terbatas.Tujuan. Mengetahui fungsi jantung pada anak dengan osteosarkoma setelah mendapat terapi doksorubisin di RSCM.Metode. Studi deskriptif potong lintang dilakukan di RSCM, Divisi Hematologi-Onkologi IKA dan Sub Bagian Onkologi Orthopedik dan Traumatologi, dengan menelusuri catatan registrasi dan rekam medis pasien anak dengan osteosarkoma sejak 1 Januari 2005 sampai dengan 31 Desember 2012.Hasil. Terdapat 25 subjek penelitian, 21 di antaranya selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin dengan rentang 300 mg/m2 sampai 675 mg/m2. Fungsi sistolik LV mengalami penurunan rerata fraksi ejeksi 3,3% dan pemendekan 2,5% setelah mendapat doksorubisin. Fungsi diastolik LV mengalami penurunan rerata rasio E/A 17,6%. Sembilan dari 18 pasien yang selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin 375 mg/m2 mengalami gangguan fungsi diastolik tidak disertai gangguan fungsi sistolik. Kardiomiopati dilatasi ditemukan pada satu pasien setelah mendapat dosis kumulatif doksorubisin 300 mg/m2 dan satu pasien setelah mendapat dosis 675 mg/m2. Pasien berusia ≥10 tahun dan berjenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami penurunan fungsi sistolik dan diastolik LV setelah mendapat doksorubisin.Kesimpulan. Fungsi sistolik dan diastolik LV menurun setelah pasien mendapat terapi doksorubisin dengan dosis kumulatif 300 mg/m2. Penurunan fungsi diastolik mendahului penurunan fungsi sistolik LV. Dosis, usia, dan jenis kelamin perempuan dapat menjadi faktor risiko penurunan fungsi jantung setelah pemberian doksorubisin.
Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Berat Lahir Rendah Suradi, Rulina; Yanuarso, Piprim B.
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.508 KB) | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.29-35

Abstract

Penggunaan inkubator untuk merawat bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukanbiaya yang tinggi. Akibat terbatasnya fasilitas inkubator, tidak jarang satu inkubatorditempati lebih dari satu bayi. Hal tersebut meningkatkan risiko tejadinya infeksinosokomial di rumah sakit. Metode kanguru (MK) ditemukan pada tahun 1983 olehdua orang ahli neonatologi dari Bogota, Colombia untuk mengatasi keterbatasanjumlah inkubator. Setelah dilakukan berbagai penelitian, ternyata MK tidak hanyasekedar menggantikan peran inkubator, namun juga memberi banyak keuntunganyang tidak bisa diberikan oleh inkubator. Metode kanguru mampu memenuhikebutuhan asasi BBLR dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip denganrahim sehingga memberi peluang BBLR untuk beradaptasi dengan baik di dunia luar.Metode kanguru dapat meningkatkan hubungan emosi ibu-bayi, menstabilkan suhutubuh, laju denyut jantung dan pernapasan bayi, meningkatkan pertumbuhan danberat badan bayi dengan lebih baik, mengurangi stres pada ibu dan bayi, mengurangilama menangis pada bayi, memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, meningkatkanproduksi ASI, menurunkan kejadian infeksi nosokomial, dan mempersingkat masarawat di rumah sakit. Mengingat berbagai kelebihannya, diperlukan upaya yang lebihstrategis untuk mempopulerkan metode yang sangat bermanfaat ini.
Sildenafil Sebagai Pilihan Terapi Hipertensi Pulmonal Pascabedah Jantung Koreksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Prawira, Yogi; Yanuarso, Piprim B.
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.336 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.456-462

Abstract

Definisi hipertensi pulmonal (HP) pada anak dan dewasa adalah sama, yaitu bila mean pulmonary arterialpressure ????25 mmHg saat istirahat atau ????30 mmHg saat aktivitas. Pada anak pascabedah koreksi penyakitjantung bawaan (PJB), HP berat merupakan komplikasi yang sangat dikhawatirkan, dengan angka kejadiansekitar 2%. Sildenafil telah digunakan secara luas pada pasien HP dewasa, baik sebagai terapi tunggalmaupun kombinasi. Makalah ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian sildenafil pada anak denganHP pascabedah jantung koreksi. Kedua pasien dirujuk ke RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta (RSCM)dengan keluhan tampak biru, sesak terutama saat menetek, dan berat badan sulit naik. Saat itu keduapasien didiagnosis memiliki kelainan jantung bawaan berupa transposisi arteri besar (TGA), defek septumventrikel (VSD) dan HP. Operasi koreksi total (arterial switch dan penutupan VSD) dilakukan pada saatpasien pertama berusia 3 bulan 10 hari dan pasien kedua berusia 4 bulan 22 hari. Kedua pasien mendapatinhalasi nitric oxide (iNO), inhalasi iloprost, dikombinasikan dengan sildenafil oral, dengan dosis awal 0,5mg/kg berat badan (BB) per kali tiap 6 jam dengan pemantauan tekanan arteri berkala. Pasien pertamadipulangkan pada hari ke-23 pascabedah dan mendapat sildenafil oral dengan penurunan dosis bertahapdalam kurun waktu 6 bulan. Pasien kedua dipulangkan pada hari ke-12 pascabedah dan masih mendapatterapi sildenafil oral dengan dosis yang sama sampai hari ini. Pada kedua pasien tidak dilaporkan kejadianefek samping. Sebagai kesimpulan sildenafil efektif dalam memperbaiki hemodinamika pembuluh darahpulmonal dan bekerja secara sinergik dengan iNO. Sildenafil oral merupakan terobosan terapi yang menarikdan cukup efektif karena mudah pemberiannya dan memiliki efek samping minimal.
Association Between Serum Albumin And The Success Of Fluid Resuscitation In Children Hospitalizen In Cipto Mangunkusumo Hospital Burn Center Dewi, Rismala; Kaltha, Karina; Wardhana, Aditya; Yanuarso, Piprim B.
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 5 No 2 (2018): Vol 5 No 2 (2018): July-December Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.84 KB) | DOI: 10.14228/jpr.v5i2.259

Abstract

Background : Burn injury has a great impact on mortality and morbidity in children. Significant loss of albumin (hypoalbuminemia) in burn patient often leads to serious complications. However, it is still unclear whether serum albumin has a role in the success of fluid resuscitation in children with burn injury. Method : This is a retrospective cohort study based on medical record of children hospitalized with burn injury at Cipto Mangunkusumo Hospital Burn Centre from January 2012-March 2018. The subjects collected with the total sampling method. Result : Most burn injury happen because of scalds, and have grade 2 burn injury with PELOD score<10. Almost all subjects was succesfully resuscitated in the first 24 hour (95,1%). No association was found between the success of fluid resuscitation with either serum albumin [RR 1,175(95%CI 0,3-4,4) p=0,812], or with ureum, creatinin, lactate level, weight and the degree/extent of the burn injury. Conclusion: The success rate of fluid resuscitation in pediatric burn injury was quite high in Cipto Mangunkusumo Hospital Burn Centre. No association was found between serum albumin and the success of fluid resuscitation during the first 24 hour period. Keywords: albumin, burn, pediatric, resuscitation