Articles

Found 20 Documents
Search

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH PADA ANAK OBESITAS Putri, Rahima Ayu; Setiawati, Erna
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.135 KB)

Abstract

Latar belakang: Menurut World Health Organization (WHO) prevalensi obesitas pada anak mengalami peningkatan tiap tahunnya. Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti genetik, nutrisi, faktor perilaku, aktivitas fisik dan faktor sosial ekonomi. Salah satu cara pengukuran obesitas adalah menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) dianggap baik dalam menentukan obesitas anak. Circuit training  merupakan   salah   satu   bentuk   latihan   kardiorespirasi   yang bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran dan mampu menurunkan IMT pada anak obesitas.Tujuan: Membuktikan adanya perbedaan IMT sebelum dan sesudah pemberian circuit training pada anak obesitas.Metode: Penelitian kuasi eksperimental dengan one group pre test and post test design yang dilaksanakan di SDN Bojongsalaman 2, Semarang. Sampel penelitian ini adalah anak obesitas yang berusia 10-12 tahun merupakan siswa SDN Bojongsalaman 2, Semarang (n=14). Indeks Massa Tubuh (IMT) diuukur sebelum dan setelah diberikan circuit training. Uji hipotesis yang diberikan adalah uji paired T-test.Hasil: Penelitian kuasi eksperimental dengan one group pre test and post test design yang dilaksanakan di SDN Bojongsalaman 2, Semarang. Sampel penelitian ini adalah anak obesitas yang berusia 10-12 tahun merupakan siswa SDN Bojongsalaman 2, Semarang (n=14). Indeks Massa Tubuh (IMT) diuukur sebelum dan setelah diberikan circuit training. Uji hipotesis yang diberikan adalah uji paired T-test.Kesimpulan: Perlakuan circuit training selama 6 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu dapat menurunkan IMT, tetapi secara perhitungan statistik, penurunan rerata IMT dianggap tidak bermakna kemungkinan dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti tidak terpantaunya asupan makanan dan aktivitas di luar jam penelitian serta ketidaktepatan gerakan saat melakukan circuit training.
PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA TERHADAP KADAR NITRIC OXIDE PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Setiawati, Erna; Suhartono, Suhartono; Ambarwati, Endang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.8

Abstract

Angka kesakitan dan kematian akibat diabetes melitus di Indonesia cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh latihan Hatha Yoga terhadap peningkatan kadar Nitric Oxide (NO) pada penderita diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian adalah experimental dengan pre-post with control group design. Sebanyak 34 subjek diabetes melitus tipe 2 yang berusia antara 45-75 tahun dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok I mendapatkan latihan Hatha Yoga dan kelompok II tidak mendapat latihan Hatha Yoga. Subjek pada kelompok I melakukan 18 kali latihan dengan frekuensi tiga kali seminggu selama enam minggu dengan durasi 45 menit setiap sesi. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna kadar NO setelah intervensi antara kedua kelompok (p=0,856). Terdapat perbedaan bermakna pada perubahan glukosa darah puasa (p=0,000) dan glukosa darah 2 jam post prandial (p=0,010) antara kedua kelompok, dengan perubahan pada kelompok intervensi lebih baik daripada kelompok kontrol. Latihan Hatha Yoga terbukti dapat memberikan perbaikan perubahan kadar glukosa darah puasa dan glukosa darah 2 jam post prandial namun dampak pada kadar NO belum terbukti.Kata Kunci: Diabetes melitus tipe 2, Hatha Yoga, glukosa darah 2 jam post prandial, glukosa darah puasa, Nitric Oxide 
PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK OBESITAS Wicaksono, Andi; Setiawati, Erna; Margawati, Ani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.218 KB)

Abstract

Latar Belakang : Obesitas merupakan suatu kondisi dimana terdapat akumulasi lemak abnormal di jaringan adiposa yang mengganggu kesehatan, dimana dapat diketahui melalui Index Masa Tubuh (IMT). Seorang anak dapat dikatakan obesitas apabila IMT ? 95 persentil sesuai grafik pertumbuhan. Salah satu masalah yang dapat ditimbulkan dengan adanya obesitas adalah permasalahan sistem respirasi. Fungsi sistem respirasi dapat diketahui salah satunya dengan pengukuran arus puncak respirasi (APE). Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh obesitas adalah dengan melakukan latihan salah satunya berupa latihan sirkuit. Belum ada penelitian tentang pengaruh latihan sirkuit terhadap APE.Tujuan : Menganalisa perbedaan nilai arus puncak ekspirasi sebelum dan setelah pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas.Metode : Penelitian kuasi eksperimental ini menggunakan metode satu kelompok pretes postes dengan sampel sebanyak 17 anak obesitas. Subjek penelitian diberikan perlakuan dengan latihan sirkuit 2 kali dalam seminggu selama 6 minggu. Subjek penelitian diukur APE menggunakan peak flow meter sebelum dan sesudah 6 minggu pemberian latihan sirkuit.Hasil : Terdapat peningkatan nilai APE anak obesitas setelah melakukan latihan sirkuit selama 6 minggu dibandingkan dengan sebelum melakukan latihan sirkuit . Dimana APE sebelum melakukan latihan sirkuit 232,93 ± 22,29 L?menit menjadi 257,06 ± 21,14 L?menit setelah melakukan latihan sirkuit.Simpulan : Pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas meningkatkan nilai APE
PENGARUH LATIHAN DEEP BREATHING TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PEROKOK AKTIF Destanta, Dayita Sukma; Setiawati, Erna; Putri, Rahmi Isma Asmara
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.615 KB)

Abstract

Latar Belakang: Merokok mengganggu oksigenasi tubuh dan fungsi fisiologis paru akibat kandungan zat karbon monoksida (CO) dan zat-zat lain. Latihan deep breathing dapat meningkatkan fungsi vital paru yang mana dapat memperbaiki pertukaran gas dan mempengaruhi saturasi oksigen. Tujuan: Membuktikkan pengaruh latihan deep breathing terhadap perubahan SpO2 pada perokok aktif. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain one group pre-test post-test. Sampel adalah 10 perokok dewasa aktif yang diseleksi dengan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah timbangan, microtoise, dan pulse oximeter. Latihan deep breathing dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dengan durasi 15 menit per latihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rerata SpO2 pre dan post latihan deep breathing akut adalah 96,9 ± 1,101 dan 98,2 ± 1,033; sedangkan rerata SpO2 post latihan deep breathing kronik adalah 98,4 ± 0,516. Pada analisis uji Wilcoxon didapatkan perbedaan bermakna pada analisis latihan akut (p=0,018) dan latihan kronik (p=0,010). Kesimpulan: Latihan deep breathing secara akut dan kronik memberikan peningkatan bermakna pada nilai saturasi oksigen perokok aktif.Kata kunci: Latihan deep breathing, SpO2, perokok aktif.
PENGARUH SENAM SEHAT ANAK INDONESIA TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH PADA ANAK DENGAN UNDERWEIGHT Irsyada, Azka Hukmu; Setiawati, Erna; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.161 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kondisi underweight dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Olahraga dapat menstimulasi sekresi human growth hormone (hGH) dan endorfin. hGH dapat meningkatkan sintesis protein, meningkatkan massa otot, sementara endorfin dapat memperbaiki mood anak, memperbaiki nafsu makan anak, sehingga asupan makanan anak meningkat.Tujuan: Membuktikan perbedaan indeks massa tubuh sebelum dan sesudah latihan Senam Sehat Anak Indonesia pada anak dengan underweight.Metode: Penelitian eksperimen one group pre post test menggunakan 12 subjek penelitian dengan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan timbangan dan microtoise. Analisis data menggunakan uji t berpasangan.Hasil: Rerata indeks massa tubuh sebelum dan sesudah perlakuan dengan rerata sebelum perlakuan 13,40 ± 0,55 kg/m2 dan 13,9±0,59 kg/m2 setelah perlakuan serta nilai p=0,005.Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna indeks massa tubuh sebelum dan sesudah latihan Senam Sehat Anak Indonesia pada anak dengan underweight
PENGARUH SENAM SEHAT ANAK INDONESIA TERHADAP KINERJA FUNGSI EKSEKUTIF PADA ANAK DENGAN UNDERWEIGHT Riyan, Riyan; Setiawati, Erna; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.843 KB)

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi underweight anak di Indonesia tergolong tinggi dan menjadi masalah serius. Status nutrisi yang rendah pada underweight menyebabkan retardasi pertumbuhan, pengurangan sinaps otak, serta mengurangi metabolisme energi pada otak yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif dan terjadi penurunan kinerja fungsi eksekutif. Penurunan kinerja fungsi eksekutif berdampak pada penurunan konsentrasi dan kemampuan belajar sehingga terjadi penurunan pada prestasi akademik anak. Kinerja fungsi eksekutif dapat ditingkatkan dengan cara melakukan latihan fisik, dimana Senam Sehat Anak Indonesia merupakan salah satu bentuk latihan fisik aerobik yang telah dievaluasi oleh Pusat Penelitian Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia layak untuk diterapkan sebagai materi senam untuk siswa SD dan SMP.Tujuan: Membuktikan Senam Sehat Anak Indonesia dapat meningkatkan kinerja fungsi eksekutif pada anak dengan underweight.Metode: Penelitian eksperimental one group pre and post design di SDN Tembalang, Semarang pada 12 anak underweight berusia 9 tahun di SDN Tembalang. Kinerja fungsi eksekutif diukur dengan Symbol Digit Modality Test. Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji T-berpasangan.Hasil: Rerata kinerja fungsi eksekutif sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan Senam Sehat Anak Indonesia adalah sebesar 34,25 ± 7,30 dan 39,75 ± 10,39. Terdapat perbedaan bermakna pada rerata sebelum dan sesudah perlakuan dengan p = 0,02.Simpulan: Perlakuan Senam Sehat Anak Indonesia selama 6 minggu atau 12 kali dengan frekuensi 2 kali per minggu memberikan perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan, dimana kinerja fungsi eksekutif setelah diberikan perlakuan lebih tinggi.
THE EFFECT OF FORWARD LEAN POSITION AND PURSED LIP BREATHING ON PEAK EXPIRATORY FLOW IN ACTIVE SMOKER Amalia, Lutfia Zein; Setiawati, Erna; Putri, Rahmi Isma Asmara
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.008 KB)

Abstract

Background: Chronic exposure to tobacco smoke cause activation of macrophages which contribute to the release of inflammatory mediators and the establishment of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). In COPD, the airway become narrowed and result in reduced peak expiratory flow (PEF). One form of treatment that improve pulmonary functions and can be given to active smokers is by giving forward lean position and pursed lip breathing (PLB). Aim : To analize the differences of PEF before and after performing forward lean position and PLB both acute and chronic types in active smokers. Methods: The study was quasi-experimental with pretest posttest, respondents of this study are 18 active smokers with purposive sampling. The instrument used in the research are scales, microtoise and peak flow meter. Method used for data analysis was paired and unpaired t-test. Results: PLB increases PEF with the mean of PEF 28.89±47.08 in acute phase and 28.34±40.84 in chronic phase. The combination of PLB and forward lean position increase PEF with the mean of PEF 30.00±34.91 in acute phase and  46.12±89.60 in chronic phase. Conclusions: There were not statistically significant difference of PEF in acute and chronic phase in group A between before and after intervention (p >0.05). There was not statistically significant difference of PEF in chronic phase in group B between before and after intervention. There was statistically significant difference of PEF in acute phase in group B between before and after intervention.  The combination of forward lean position and PLB showed to have a better effect on increasing the value of PEF than PLB without combination both acute and chronic types in active smokers.Keywords: Pursed lip breathing, forward lean position, peak expiratory flow, active smokers
PENGARUH LATIHAN DEEP BREATHING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA PEROKOK AKTIF Dusturia, Ainun Nida; Setiawati, Erna; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.762 KB)

Abstract

Latar Belakang: Merokok menyebabkan perubahan struktur, fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru. Merokok aktif akan mempercepat penurunan faal paru. Salah satu cara untuk mengetahui fungsi faal paru adalah melalui pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE). Deep breathing dapat meningkatkan compliance paru dan mencegah kolaps sehingga memperbaiki pertukaran gas dan akhirnya memperbaiki nilai APE. Tujuan: Membuktikan perbedaan nilai APE sebelum dan setelah latihan deep breathing tipe akut maupun kronik pada perokok aktif. Metode: Penelitian eksperimen one group pre post test menggunakan 10 subjek penelitian dengan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan timbangan, microtoise dan peak flow meter. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil: Rerata APE tipe akut sebelum dan sesudah perlakuan adalah 546,0 ± 64,1 dan 553,0±63,9; sedangkan rerata APE tipe kronik sebelum dan sesudah perlakuan adalah 522,5±66,7 dan 553,0±63,9. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis tipe akut maupun kronik ( tipe akut p=0,029; tipe kronik p=0,002). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna nilai APE sebelum dan setelah latihan deep breathing tipe akut maupun kronik pada perokok aktif.Kata kunci: Latihan deep breathing, arus puncak ekspirasi, perokok aktif.
HUBUNGAN ANTARA FUNGSI SISTOLIK DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK Alfredo, Alfredo; Sofia, Sefri Noventi; Setiawati, Erna
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.67 KB)

Abstract

Latar Belakang : Gagal jantung adalah sindrom klinis yang ditandai oleh sesak napas, fatigue, edema dan tanda objektif adanya disfungsi jantung dalam keadaan istirahat yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung yang menyebabkan kegagalan jantung memompa darah sesuai dengan kebutuhan jaringan. Gagal jantung kronik dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi menjadi gagal jantung sistolik dan gagal jantung diastolik. Sebagai salah satu penyakit kronik, gagal jantung akan mempunyai dampak terhadap kualitas hidup pasien. Terdapat beberapa penelitian yang meneliti hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pasien, tetapi terdapat hasil yang bertolak belakang satu sama lain.Tujuan : Mengetahui bagaimana hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 32 pasien gagal jantung kronik yang memenuhi kriteria inklusi dengan metode consecutive sampling. Dari hasil ekokardiografi didapatkan nilai fraksi ejeksi ventrikel kiri dan penilaian kualitas hidup menggunakan kuesioner MLHF.Hasil : Hasil uji korelasi antara LVEF dengan skor kuesioner dimensi fisik, dimensi emosi dan skor keseluruhan MLHFQ tidak menunjukkan adanya korelasi karena p > 0,05. Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi fisik dan MLHFQ total didapatkan arah korelasi negatif (-) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2). Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi emosi didapatkan arah korelasi positif (+) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2).Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik, baik dari dimensi fisik, dimensi emosi, maupun secara keseluruhan.
PERBEDAAN KELUARAN MOTORIK PADA PASIEN STROKE ISKEMIK PADA SAAT SERANGAN TERTIDUR DAN TERJAGA Enggarela, Asrina; Muhartomo, Hexanto; Setiawati, Erna
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.751 KB)

Abstract

Latar belakang: Serangan stroke iskemik dapat terjadi pada saat sedang terjaga maupun tertidur. Perbedaan kedua onset tersebut sering dihubungkan dengan etiologi dan subtipe stroke walaupun sebenarnya faktor risiko, manifestasi klinis serta prognosis antara stroke saat tertidur dan terjaga masih menjadi kontroversi. Penelitian di Indonesia mengenai perbedaan stroke iskemik yang terjadi pada saat tertidur dan terjaga masih sangat terbatas.Tujuan: Menganalisis perbedaan keluaran motorik pada pasien stroke iskemik yang mengalami serangan pada saat tertidur dan terjaga.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross sectional). Pengambilan subjek dilakukan dengan cara consecutive sampling. Subjek penelitian adalah 38 pasien stroke iskemik yang dirawat inap di RSUP Dr. Kariadi dan RSUD RAA Soewondo.Hasil: Terdapat perbedaan skor MAS yang bermakna secara statistik (p= 0,0045) antara  pasien stroke iskemik yang terkena serangan pada saat tertidur dan terjaga. Namun, secara klinis perbedaan tersebut tidak bermakna (< 10). Terdapat hubungan yang bermakna (p= 0,037; r= 0,339) antara kadar GDS dan skor MAS serta ditemukan perbedaan tekanan darah diastolik yang bermakna (p= 0,033) antara kelompok stroke iskemik saat serangan tertidur dan terjaga.Kesimpulan: Perbedaan skor MAS antara pasien stroke yang terjadi saat tertidur dan terjaga tidak jauh berbeda. Pasien stroke yang terkena serangan pada saat tertidur cenderung memiliki tekanan darah dan kadar kolesterol total yang lebih tinggi, serta memiliki keluaran motorik yang lebih jelek.