Articles

Found 21 Documents
Search

KULTUR SEL KHUMAIROH, IKA; Puspitasari, Irma M.
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.622 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10810

Abstract

Penelitian menggunakan kultur sel saat ini banyak dilakukan. Kultur sel merupakan proses penghilangan atau perpindahan sel dari manusia, hewan, atau tanaman ke dalam medium terkontrol yang sesuai untuk menumbuhkan sel tersebut. Kultur sel biasanya digunakan untuk pengujian yang tidak mudah dilakukan secara in vivo. Oleh karena itu, pada artikel ini akan dijelaskan mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, keterbatasan kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel, serta aplikasi kultur sel. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dari mesin pencari Google dan PubMed Electronic Database. Dari hasil penelusuran pustaka ini, diperoleh hasil mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, kerugian kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel meliputi sel fibroblast, sel epitel, dan sel limfoblast, serta aplikasi atau penerapan kultur sel dalam penelitian.Kata Kunci : kultur sel, cell line, in vitro.
TEKNIK PEMBUATAN KULTUR SEL PRIMER, IMMORTAL CELL LINE DAN STEM CELL rahmawati, leni; Puspitasari, Irma M.
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.937 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10833

Abstract

Dalam dunia medis, sel yang berasal dari jaringan atau organ tertentu dapat digunakan sebagai sarana untuk penelitian ataupun diagnosis suatu penyakit, misalnya pada penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Sel primer, immortal cell line dan stem cell merupakan jenis sel yang paling banyak digunakan. Teknik pembuatan sel-sel tersebut penting dipelajari untuk memudahkan para peneliti lain melakukan penelitian mendalam secara in vitro mengenai berbagai macam penyakit yang sulit diidentifikasi. Metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu dengan cara penelusuran pustaka dari berbagai jurnal melalui Pubmed Electronic Database dan mesin pencari Google. Dari hasil penelusuran pustaka ini diperoleh beberapa cara pembuatan sel yaitu pembuatan sel primer lambung, immortal cell keratinosit dan mesenchymal stem cell.Kata kunci: Sel Primer, Immortal Cell dan Stem Cell.
SELENIUM SEBAGAI SUPLEMEN TERAPI KANKER: SEBUAH REVIEW Mirdayani, Eli; Puspitasari, Irma M.; Abdulah, Rizky; Surbanas, Anas
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.301

Abstract

Selenium merupakan unsur mikronutrien yang penting bagi kesehatan manusia. Di dalam tubuh, selenium tersebar di semua organ dalam bentuk senyawa terkonjugasi protein (selenoprotein). Senyawa selenoprotein setidaknya mengandung selenosistein yang terdiri dari asam amino sistein. Senyawa selenoprotein pada umumnya bersifat antioksidan. Selenium dihubungkan dengan pengaruhnya terhadap kesehatan manusia termasuk beberapa jenis penyakit kanker. Studi penggunaan suplementasi selenium pada terapi kanker dengan radiasi dan kemoterapi menunjukan  peningkatan kadar selenium pada plasma, meningkatkan efektivitas terapi, menurunkan efek samping dari terapi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Artikel review ini bertujuan untuk menggali dan mengevaluasi pemanfaatan selenium sebagai suplemen terapi pada pasien kanker yang menjalani radioterapi dan kemoterapi. Penelusuran referensi dilakukan melalui database PubMed, Science Direct dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci ?Selenium?, ?Selenoprotein?, ?Selenium and cancer therapy?, ?Selenium and Chemotherapy? dan ?Selenium and Radiotherapy?. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa selenium merupakan unsur mikronutrien yang dapat dikembangkan sebagai komponen suplemen dalam pencegahan penyakit kanker dengan dosis umum 100?400 mikrogram per hari.Kata kunci: Selenium, selenoprotein, terapi kanker Selenium As a Cancer Therapy Supplement: A ReviewAbstractSelenium is an essential element of micronutrients for human health. In the body, selenium is spread in all organs in the form of a conjugated protein compound (selenoprotein). The compound contains at least a selenocysteine consisting of cysteine. Selenoprotein compounds are generally antioxidants. Selenium is linked to its effects on human health including some types of cancer. Studies on the use of selenium supplementation in cancer therapy with radiation and chemotherapy showed elevated plasma selenium levels, increased therapeutic efficacy, reduced side effects, and improved quality of life for cancer patients. This review aimed to investigate and evaluate the utilization of selenium as a supplement in cancer treatment for patients who undergoing radiotherapy and chemotherapy. Database searching was performed through PubMed, Science Direct and Google Scholar using the keywords ?Selenium?, ?Selenoprotein?, ?Selenium and cancer therapy?, ?Selenium and Chemotherapy? and ?Selenium and Radiotherapy?. The results showed that selenium is a micronutrient that can be developed as a supplement component in the prevention of cancer with a therapeutic dose of 100?400 micrograms per day.Keywords: Cancer therapy, selenium, selenoprotein
POLA PENANDA GLIKEMIK DAN INFLAMASI DALAM PERKEMBANGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PRIA OBESITAS SENTRAL Rahman, Miftakh N.; Sukmawati, Indriyanti R.; Puspitasari, Irma M.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.281

Abstract

Obesitas sentral merupakan masalah kesehatan yang prevalensinya terus bertambah. Obesitas sentral telah diketahui menjadi faktor risiko yang berasosiasi kuat dengan diabetes melitus (DM). Obesitas sentral memicu inflamasi yang menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan fungsi sel beta pankreas sebagai kompensasi hingga akhirnya mengalami kerusakan. Oleh karena itu, perlu diketahui pola penanda glikemik dan inflamasi dalam perkembangan penyakit DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penanda glikemik dan inflamasi dalam perkembangan penyakit DM pada pria dengan obesitas sentral. Penelitian dilakukan dengan pendekatan potong lintang terhadap 70 orang pria berusia 30?50 tahun di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Bogor dengan lingkar perut lebih dari 90 cm yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan diperiksakan HbA1c, insulin puasa, glukosa puasa, serta hsCRP. HOMA-IR dan HOMA-B diperoleh dari permodelan matematika untuk insulin puasa dan glukosa puasa. Rekrutmen dilakukan pada bulan November?Desember 2017. Diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi positif antara lingkar perut dengan HbA1c (r=0,484; p<0,05), insulin puasa (r=0,629; p<0,05), HOMA-IR (r=0,602; p<0,05), HOMA-B (r=0,540; p<0,05), dan hsCRP (r=0,522; p<0,05), juga terdapat pola peningkatan HbA1c, glukosa puasa, insulin puasa, dan HOMA-IR pada setiap tahap perkembangan DM. HOMA-B meningkat hingga pre-DM kemudian turun pada DM. Insulin puasa, HOMA-IR, HOMA-B, dan hsCRP lebih tinggi pada obesitas sentral non-DM dibandingkan kontrol. Terdapat korelasi positif antara hsCRP dengan HbA1c (r=0,484; p<0,05), insulin puasa (r=0,629; p<0,05), HOMA-IR (r=0,602; p<0,05), dan HOMA-B (r=0,540; p<0,05). Terdapat peningkatan insulin puasa dan HOMA-IR pada obesitas sentral dengan pre-DM dibandingkan dengan obesitas sentral non-DM. Penelitian ini memberikan informasi pola penanda glikemik dan inflamasi pria dengan obesitas sentral pada perkembangan penyakit DM. Pengetahuan mengenai pola perkembangan DM dapat memberikan informasi bahwa DM pada obesitas sentral dapat dicegah sedini mungkin sehingga prevalensinya dapat dikendalikan.Kata kunci: Diabetes melitus, inflamasi, obesitas sentral, resistensi insulin Glycemic and Inflammation Markers Pattern of Type 2 Diabetes Mellitus Disease Progression in Centrally Obese Men AbstractCentral obesity is a health problem whose prevalence continues to increase. Central obesity has been known to be a risk factor that is strongly associated with diabetes mellitus (DM). Central obesity triggers inflammation which causes insulin resistance and increases the function of pancreatic beta cells as compensatory mechanism before its exhausted. Therefore, we need to know the patter of glycemic and inflammatory markers in the disease development of DM. This study aimed to determine the pattern of glycemic and inflammatory markers in the development of DM in men with central obesity. This study was conducted with a cross-sectional approach to 70 men aged 30?50 years in Jakarta, Bandung, Semarang, and Bogor with waist circumference of more than 90 cm who met the inclusion and exclusion criteria and examined HbA1c, fasting insulin, fasting glucose, and hsCRP. HOMA-IR and HOMA-B were obtained from mathematical modeling for fasting insulin and fasting glucose. Recruitment is carried out in November?December 2017. The result shows that there was significantly positive correlation between waist circumference with HbA1c (r=0.484; p<0.05), fasting insulin (r=0.629; p<0.05), HOMA-IR (r=0.602; p<0.05), HOMA-B (r=0.540; p<0.05), and hsCRP (r=0.522; p<0.05). There was an increasing pattern of HbA1c, fasting glucose, fasting insulin, HOMA-IR, and hsCRP, in every step of DM progression. Meanwhile, HOMA-B increased until central obesity with pre DM condition and decreased in central obesity with DM condition. There was an increase of fasting insulin, HOMA-IR, HOMA-B, and hsCRP in central obese without DM-men compared to control. There was a positive correlation between hsCRP and HbA1c (r=0.484; p<0.05), fasting insulin (r=0.629; p<0.05), HOMA-IR (r=0.602; p<0.05), and HOMA-B (r=0.540; p<0.05). There was an increase of fasting insulin and HOMA-IR in central obese without DM-men compared to central obese with pre DM-men. This study provides information on patterns of glycemic and inflammatory markers of men with central obesity in the disease development of DM. Knowledge about the pattern of DM development can provide information that DM in central obesity can be prevented as early as possible so that its prevalence can be controlled.Keywords: Central obesity, diabetes mellitus, insulin resistance, inflammation
PELAYANAN FARMASI KLINIS MENINGKATKAN KONTROL GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS Sinuraya, Rano K.; Oktrina, Amalia; Handayani, Nurul K.; Destiani, Dika P.; Puspitasari, Irma M.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.4.271

Abstract

Tingginya prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia menjadi perhatian khusus oleh pemerintah karena selain pengobatannya seumur hidup, tingkat kepatuhan pasien cenderung rendah sehingga kadar gula darah pasien sering tidak terkontrol. Apoteker memiliki peranan yang sangat penting dalam mengotrol outcome klinis ini. Peranan apoteker dimulai dari skrining resep, compounding, dispensing, pelayanan informasi obat, konseling hingga monitoring terapi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan outcome klinis antara pasien DM yang menerima pelayanan farmasi klinis dari apoteker dan yang tidak menerima pelayanan farmasi klinis dari apoteker. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain case control yang dilakukan di delapan fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung pada bulan Desember 2017?Maret 2018. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, sebanyak 262 data diperoleh dari rekam medis pasien berupa demografi dan kadar glukosa darah puasa selama tiga bulan berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol glukosa darah puasa memiliki hubungan yang signifikan terhadap jenis kelamin (p 0,019), lama menderita DM (p 0,018), dan riwayat keluarga (p 0,047). Pasien yang memperoleh pelayanan farmasi klinis dari apoteker memiliki kontrol glukosa darah yang baik dengan rata-rata nilai glukosa darah puasa per bulan berada di bawah 126 mg/dL (p 0,000); OR 11,6 (CI 95% 6,282?21,420). Pelayanan farmasi klinis yang dilakukan oleh apoteker meningkatkan kontrol glukosa darah puasa pasien DM sebanyak 11 kali dibandingkan dengan pasien yang tidak memperoleh pelayanan farmasi klinik dari apoteker.Kata kunci: Diabetes melitus, farmasi klinik, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), gula darah puasa Clinical Pharmacy Services Improve Blood Sugar Control of Diabetes Mellitus PatientsAbstractHigh prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia is a government particular concern because it will be a lifetime treatment then, the level of patients? compliance tends to be low and causes patients? blood sugar levels often uncontrolled. Pharmacists have a very important role in controlling this clinical outcome. The role of pharmacists such as prescription screening, compounding, dispensing, drug information, counseling and monitoring therapy can improve patients? quality of life. This study aimed to investigate the differences in clinical outcomes between DM patients who received clinical pharmacy services from pharmacists and who did not receive clinical pharmacy services from pharmacists. This research was an observational study with case control design which conducted at eight Primary Healthcare Centers (PHCs) in Bandung City during December 2017?March 2018. Sampling was conducted using purposive sampling, as many as 262 data obtained from patient medical records such as demographics and fasting blood glucose levels for 3 consecutive months. The results showed that fasting blood glucose control had a significant relationship with gender (p 0.019), duration of DM (p 0.018), and family history (p 0.047). Patients who received clinical pharmacy services from pharmacists had good blood glucose control with an average monthly fasting blood glucose value below 126 mg /dL (p 0,000); OR 11.6 (95% CI 6,282-21,420). Clinical pharmacy services provided by pharmacists can improve patients? fasting blood glucose control up to 11 times compared with who do not receive clinical pharmacy services.Keywords: Clinical pharmacy, diabetes mellitus, fasting blood glucose, primary healthcare center (PHC)
e-Prescription: An e-Health System for Preventing Adverse Drug Events in Community Healthcare Puspitasari, Irma M.; Soegijoko, Soegijardjo
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1385.878 KB)

Abstract

The paper describes development activities of an e-health system for community health center (Puskesmas) with integrated adverse drug events e-prescription module, consist of system design and development, human resource development, e-health system realization, laboratory and implementation test of e-health system. Some e-readiness evaluations were conducted, through a number of field visits and questionnaires. The results had been used in the e-health system design and development, installation of the internet access infrastructure, and implementation of the education and hands-on training for the medical and administrative staff of the healthcare units. After completing the e-health system design and development as well as system realization and laboratory tests stages, a series of field implementation and experiments have been successfully conducted at Puskesmas Babakansari in Bandung. A number of users feed back have been obtained and used for further improvements on both of the software and hardware modules. The e-health system with integrated e-prescription module has successfully developed and shown its expected functions in: patient registration, medical record, paperless prescription, producing the required reports and preventing possible adverse drug events.Key words: Adverse drug events, community health center, e-health, e-prescription  e-Prescription: Sistem e-Health untuk Pencegahan Adverese Drug Event di PuskesmasAbstrakArtikel ini mendeskripsikan pengembangan sistem e-health untuk puskesmas dengan modul e-prescription yang terintegrasi adverse drug event. Modul ini terdiri dari desain sistem dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia, realisasi sistem e-health, laboratorium dan tes implementasi sistem e-health. Beberapa evaluasi kesiapan penggunaan elektronik (e-readiness) dilakukan melalui kunjungan lapangan dan kuesioner. Hasil evaluasi digunakan dalam desain dan pengembangan sistem e-health, instalasi akses internet, implementasi pendidikan dan pelatihan bagi staf medis dan administrasi. Setelah sistem e-health selesai dan dikembangkan sesuai dengan realisasi dan tahapan tes laboratorium, sejumlah implementasi dan eksperimen telah sukses dilakukan di Puskesmas Babakansari di Bandung. Respon yang diperoleh digunakan untuk pengembangan modul lebih lanjut dari segi software dan hardware. Sistem e-health yang terintegrasi dengan modul telah sukses dikembangkan sesuai dengan fungsi yang diharapkan: registrasi pasien, medical record, resep tanpa kertas, pelaporan dan pencegahan kemungkinan adverse drug events.Kata kunci: Adverse drug events, pusat kesehatan masyarakat, e-health, e-prescription
Pengukuran Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pasien Hipertensi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Bandung Sinuraya, Rano K.; Destiani, Dika P.; Puspitasari, Irma M.; Diantini, Ajeng
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.188 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.2.124

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi di dunia. Prevalensi hipertensi semakin meningkat setiap tahunnya dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya dengan menggunakan kuesioner Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang, dilakukan pada bulan Oktober 2017–Februari 2018 di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung. Sejumlah dua ratus dua puluh enam responden terlibat dalam penelitian ini. Responden mengisi mengisi kuesioner MMAS-8 versi Bahasa Indonesia yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53,5% dari responden memiliki tingkat kepatuhan rendah, 32,3% dari responden memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 14,2% dari responden memiliki tingkat kepatuhan tinggi. Data kemudian diolah secara statistik menggunakan analisis Chi-Square sehingga diperoleh hasil bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p>0,05) antara tingkat kepatuhan terhadap gender, tingkat pendidikan, status pekerjaan, riwayat penyakit keluarga, kejadian komplikasi, dan pengalaman mendapatkan informasi mengenai hipertensi dan pola diet. Terdapat korelasi bermakana antara status tekanan darah (terkontrol dan tidak terkontrol) terhadap kepatuhan responden (p=0,000). Lebih dari 50% pasien hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bandung masih memiliki tingkat kepatuhan yang rendah terhadap pengobatanya dengan rate kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatanya sebesar 26,3%.Kata kunci: Hipertensi, tingkat kepatuhan, fasilitas kesehatan tingkat pertamaMedication Adherence among Hypertensive Patients in Primary Healthcare in Bandung CityAbstractHypertension is a disease with high mortality and also mobility all over the world. The prevalence of hypertension is increasing every year and West Java is ranked fourth with a prevalence by 29.4%. This study aimed to measure the level of medication adherence of hypertensive patients by using Eight-Item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire. This study was an observational study using cross sectional design and conducted in October 2017–February 2018 at primary healthcare facilities in Bandung City. A total of two hundred and twenty-six respondents were involved in the study. Respondents are required to fill out the validated Indonesian version of MMAS-8 questionnaire after signing informed consent. The results showed that 53.5% of the respondents had low level of adherence, 32.3% of the respondents had moderate level of adherence, and 14.2% of the respondents had high level of adherence. Then, data were processed statistically by using Chi-Square analysis and the results showed that there was significant correlation (p>0.05) between the level of adherence to gender, education level, occupational status, family history of disease, incidence of complications, and experience with information about hypertension and diet. There was a significant correlation between the status of blood pressure (controlled and uncontrolled) to respondent’s adherence (p=0.000). In addition, more than 50% hypertensive patients in primary health care in Bandung City still has low level of medications adherence with rate of adherence is 26.3%.Keywords: Hypertension, level of adherence, primary health care
Pengukuran Tingkat Pengetahuan tentang Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Kota Bandung: Sebuah Studi Pendahuluan Sinuraya, Rano K.; Siagian, Bryan J.; Taufik, Adit; Destiani, Dika P.; Puspitasari, Irma M.; Lestari, Keri; Diantini, Ajeng
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.091 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.290

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab umum dalam peningkatan angka mortalitas dan mobiditas di masyarakat. Selain merupakan silent killer, prevalensi penyakit ini semakin meningkat di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8% dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien hipertensi terkait penyakit yang dideritanya. Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang dan dilakukan pada bulan Juni–Oktober 2017 di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Kota Bandung. Sejumlah seratus lima puluh responden mengisi kuesioner yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56,7% dari responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 40% dari responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 3,3% dari responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Data kemudian diolah secara statistik sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara setiap kelompok responden terhadap sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien. Hanya sekitar 50% responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, pasien yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan kurang umumnya adalah pasien dengan tingkat pendidikan rendah dan menderita hipertensi kurang dari lima tahun.Kata kunci: Fasilitas kesehatan primer, hipertensi, tingkat pengetahuan Assessment of Knowledge on Hypertension among Hypertensive Patients in Bandung City: A Preliminary StudyHypertension is a common health problems that can increase the mortality and mobility rate in the community. As a silent killer, the prevalence of this disease is increasing worldwide. The prevalence of hypertension in Indonesia is 25.8% and West Java is ranked at top four with prevalence of 29.4%. This study aimed to measure the level of knowledge of hypertensive patients about their disease. This study was an observational study using cross-sectional design in June–October 2017 at Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung City. A total of one hundred and fifty respondents completed a validated questionnaire after signing informed consent. The results showed that 56.7% of respondents have “good” level of knowledge, 40% of respondents have “moderate” level of knowledge, and 3.3% of respondents have “poor” level of knowledge. Data were analyzed statistically, the results showed that there was no significant difference (p>0.05) between each group of respondents to sociodemographic and clinical characteristics of the patients. Only fifty percent of respondents have “good” level of knowledge, patients who have “moderate” and “poor” level of knowledge generally are patients with low levels of education and suffer from hypertension less than five years.Keywords: Hypertension, level of knowledge, primary health care
Terapi Kanker dengan Radiasi: Konsep Dasar Radioterapi dan Perkembangannya di Indonesia Fitriatuzzakiyyah, Nur; Sinuraya, Rano K.; Puspitasari, Irma M.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.8 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.311

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian yang tinggi di dunia. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2015 terdapat 8,8 juta kematian yang diakibatkan oleh penyakit kanker. Berdasarkan data riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4% atau sekitar 347.792 orang. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengobati kanker, salah satunya dengan menggunakan terapi radiasi atau radioterapi. Berdasarkan International Agency for Research on Cancer (IARC), dari 10,9 juta orang yang didiagnosis menderita kanker di seluruh dunia setiap tahun, sekitar 50% membutuhkan radioterapi. Penggunaan radiasi untuk terapi kanker belum banyak digunakan dan masih terbatas di Indonesia. Tujuan penulisan review ini adalah untuk memaparkan konsep dasar terapi kanker dengan radiasi dan perkembangan radioterapi di Indonesia melalui penelusuran pustaka. Metode penelusuran pustaka dalam artikel review ini adalah penelusuran pustaka pada mesin pencari Google, Google Scholar dan PubMed basis data dengan kata kunci “basic radiotherapy” “radiation therapy in Indonesia” “novel radiotherapy in Indonesia” serta peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yang berkaitan dengan radioterapi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa teknologi radiasi telah ada di Indonesia sejak tahun 1927. Sampai tahun 2013, terdapat 29 pusat pelayanan radioterapi di Indonesia. Radioterapi telah menjadi salah satu terapi yang penting dalam pengobatan kanker di Indonesia. Pemerintah Indonesia mendukung kemajuan teknologi ini dengan menerbitkan peraturan tentang standar pelayanan radioterapi di rumah sakit. Semakin banyak dan berkembangnya fasilitas radioterapi diharapkan dapat mengurangi prevalensi penyakit kanker di Indonesia.Kata kunci: Kanker, radioterapi, regulasi, terapi radiasi Cancer Therapy with Radiation: The Basic Concept of Radiotherapy and Its Development in IndonesiaCancer is one of the leading causes of death worldwide. According to WHO, 8,8 million deaths in 2015 was caused by cancer. In Indonesia, based on basic health research data in 2013, the prevalence of cancer was 1.4% or 347.792 people in Indonesia suffer from cancer. Various methods have been developed to treat cancer, one of them is by using radiation therapy or radiotherapy. According to International Agency for Research on Cancer (IARC), from 10.9 million people diagnosed with cancer, about 50% require radiotherapy. The use of radiation for cancer therapy has not been widely used and is still limited in Indonesia. This review article was aimed to describe the basic concept of cancer therapy with radiation and its development in Indonesia. Literature review was conducted from Google search engine, Google Scholar and PubMed database with keyword “basic radiotherapy” “radiation therapy in Indonesia” “novel radiotherapy in Indonesia” and radiotherapy regulations in Indonesia. The results revealed that radiation technology has been availabe in Indonesia since 1927. Until 2013, 29 radiotherapy centers were available in Indonesia. Radiotherapy has become one of important modalities for cancer treatment in Indonesia. Indonesian government supports the development of this technology, by issuing regulations on radiotherapy service standards in hospitals. More technology development and radiotherapy facilities are expected to reduce the prevalence of cancer in Indonesia.Keywords: Cancer, radiation therapy, radiotherapy, regulation
Profil Penggunaan Antituberkulosis di Apotek di Kota Bandung Periode 2008–2010 Alfian, Sofa D.; Tarigan, Eva S.; Puspitasari, Irma M.; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.526 KB)

Abstract

Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama yang paling banyak terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu tempat pelayanan kesehatan yang banyak mendistribusikan antibiotik adalah apotek. Oleh karena itu, studi penggunaan antibiotik di apotek sebagai salah satu komunitas farmasi sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik antituberkulosis di Apotek di Kota Bandung tahun 2008−2010. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/ Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug Utilization 90% (DU90%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total penggunaan antibiotik untuk terapi tuberkulosis mengalami penurunan. Nilai DDD/1000 KPRJ tahun 2008, 2009, dan 2010 berturut-turut sebesar 1559,026; 1484,936; dan 1048,111. Selama periode 2008−2010, tingkat penurunan pada tahun 2009 tidak terlalu signifikan, yaitu sebesar 17.783 DDD/1000 Kunjungan Pasien Rawat Jalan (KPRJ), tetapi pada tahun 2010 penurunannya sangat signifikan sebesar 169.416 DDD/1000 KPRJ. Penelitian menyimpulkan bahwa total penggunaan antibiotik antituberkulosis di Apotek di Kota Bandung periode 2008−2010 cenderung mengalami penurunan.Kata kunci: Antibiotik, farmasi, ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose), Drug Utilization 90% (DU90%), infeksiProfile of Antituberculosis Use in Community Pharmacistof Bandung City 2008–2010AbstractInfectious disease is still a major disease in developing countries such as in Indonesia. As one of the healthcare providers which has privilege to distribute antibiotics, it is very important to control the use of antibiotics in pharmacy. The aim of this study is to conduct a profile of anti-tuberculosis use, in all pharmacies in Bandung during the period from 2008–2010. This study was performed using an observational method and retrospective approach. In this study we applied the Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) and Drug Utilization 90 % (DU90%) method. The result showed that the use of anti-tuberculosis tends to decrease. During the period from 2008 to 2010, the use of antituberculosis decreased by 17,783 and 169,416 DDD/1000 inhabitants in 2009 and 2010, respectively. It can be concluded that the totaluse of anti-tuberculosis in all pharmacies in Bandung during the period from 2008 to 2010 tends to decrease.Key words: Antibiotic, pharmacy, ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical/Defined DailyDose), Drug Utilization 90% (DU90%), infection