Articles

Found 8 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG DAN ABU TANDAN SAWIT TERHADAP KARAKTERISTIK LASTON WEARING COURSE DAN BINDER COURSE Kurnia, Aztri Yuli; Pataras, Mirka; Arliansyah, Joni; Firmansya, Jerry; Chandra, Yohanes Christian
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya industri kelapa sawit menjadi salah satu sumber penghasil limbah di Indonesia. Hal ini menyebabkan banyaknya ketersediaan limbah sawit yang dihasilkan. Pada penelitian ini, limbah yang digunakan berupa cangkang dan abu tandan sawit. Pengujian dilakukan dalam 2 tahap yaitu pengujian benda uji standar dan pengujian benda uji campuran. Pada tahap pertama, pengujian benda uji standar dilakukan untuk mendapatkan nilai KAO dan parameter marshall. Pada tahap kedua, pengujian benda uji campuran limbah sawit menghasilkan nilai parameter marshall lalu hasilnya dibandingkan dengan benda uji standar. Adapun standar pengujian yang digunakan dalam penelitian ini berpedoman pada Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 revisi 3. Kadar aspal rencana untuk benda uji standar lapis AC-WC yaitu 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, 7%, dan pada lapis AC-BC yaitu 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5%. Pada benda uji campuran limbah sawit, sebagian dari agregat kasar akan digantikan oleh cangkang sawit dengan variasi 0%, 25%, dan 50% sedangkan abu tandan sawit digunakan sebagai filler, untuk kadar aspal benda uji campuran limbah sawit menggunakan nilai KAO benda uji standar lapis AC-WC yang didapat sebesar 6,35%, sementara itu pada lapis AC-BC didapat sebesar 5,85%. Berdasarkan hasil penelitian, benda uji campuran limbah sawit pada lapis AC-WC dan AC-BC masih memenuhi standar dan dapat digunakan.
PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK BAMBU TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL BINDER COURSE (AC-BC) Dewi, Ratna; Ferdiansyah, Yogie; Pataras, Mirka
Prosiding Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi The 17th FSTPT of International Symposium
Publisher : FSTPT Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AC-BC is Laston layer of concrete asphalt which is an intermediate layer with minimun hardness of 5 cm. Laston is a layer of road construction that consist a mixtures of hard asphalt and material thas has continious gradation mixed, spread, and solidified at a certain temperature. This leads to the fack that mixture of laston is more sensitive to the varieties of a mixtures proportion.This studydiscussed about impact of bamboo powder used as an addtional material for the mixture of asphalt as much as 1% and 2%. The mixtures characteristic include value of VIM,VMA,VFA,Stability,Flow and MQ. Variant were made to 3 types : normal , additonal 1% bamboo powder and addtional 2% bamboo powder. The analysis resultsshowed value of testing characteristic of addtional 1& bamboo powder fulfill the requirement as addtional (addictive), material as a complement material gradation especially filler agregat with certain percentage of compostition.
KARAKTERISTIK LASTON WEARING COURSE MENGGUNAKAN LIMBAH KATALIS DESULFURIZER DAN BOTTOM ASH PT. PUSRI SEBAGAI FILLER Pataras, Mirka; Kurnia, Aztri Yuli; Hastuti, Yulia; Safitri, Arfie; Bindari, Meilianti
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laston adalah campuran aspal dan agregat dengan gradasi menerus yang dikerjakan dengan cara dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu, salah satu jenis laston ialah wearing course (AC-WC). AC-WC merupakan lapisan permukaan paling atas pada perkerasan jalan tipe laston yang berfungsi sebagai lapisan aus. Pada penelitian ini akan dilakukan pemanfaatan limbah katalis desulfurizer dan bottom ash PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang sebagai filler untuk meningkatkan mutu campuran laston. Pada penelitian ini dilakukan pengujian agregat yang bertujuan untuk mengetahui karakteristiknya. Hasil dari pengujian berat jenis limbah katalis desulfurizer ialah 3,48 gr/cm3 dan berat jenis bottom ash sebesar 2,33 gr/cm3 . Rentang kadar aspal yang digunakan yaitu 5%, 5,5%, 6%, 6,5% dan 7%. Berdasarkan hasil pengujian marshall pada campuran laston didapat nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) campuran limbah katalis desulfurizer sebesar 6,315% dan nilai KAO pada campuran limbah bottom ash sebesar 6,325%. Pada hasil pengujian Marshall didapat nilai stabilitas yaitu 1400 kg dan flow sebesar 3,25 mm untuk campuran limbah katalis desulfurizer, sedangkan untuk bottom ash memiliki stabilitas sebesar 1340 kg dan flow sebesar 3,207 mm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limbah katalis desulfurizer dan bottom ash dapat digunakan sebagai agregat pengganti karena memenuhi spesifikasi PU Bina Marga 2010 Revisi 3.
PENGARUH GENANGAN AIR HUJAN TERHADAP LASTON WEARING COURSE MENGGUNAKAN MODIFIKASI ASBUTON LGA TIPE 50/30 Pataras, Mirka; Kurnia, Aztri Yuli; Hastuti, Yulia; Person, Rizki Prasetya; Anindita, Nanda Putri
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai pengaruh genangan air hujan terhadap laston ACWC dengan memanfaatkan modifikasi asbuton LGA tipe 50/30. Proporsi yang digunakan pada modifikasi LGA adalah 50% asbuton LGA tipe 50/30 dan 50% aspal penetrasi 80/100. Proporsi tersebut dipilih berdasarkan hasil pengujian karakteristik modifikasi LGA yang memenuhi untuk menggantikan aspal penetrasi 60/70. Berdasarkan pengujian Marshall yang telah dilakukan, didapatkan nilai KAO sebesar 5,8% untuk campuran laston AC-WC standar dan 6,2% untuk campuran laston AC-WC modifikasi. Dari nilai KAO tersebut didapatkan parameter Marshall untuk campuran laston AC-WC standar, yaitu nilai stabilitas senilai 1036,608 Kg dan flow sebesar 3,422 mm. Sedangkan campuran laston AC-WC modifikasi menghasilkan nilai stabilitas senilai 1045,183 Kg dan flow sebesar 3,358 mm. Setelah itu dilakukan perendaman benda uji dengan air hujan yang telah ditampung dengan durasi perendaman 0 jam, 4 jam, 8 jam, 24 jam, dan 48 jam, dan dilanjutkan dengan pengujian Marshall. Persentase perubahan karakteristik pada campuran laston AC-WC standar pada durasi perendaman akhir (48 jam) sebesar -23,12% pada stabilitas dan -4,01% pada flow serta campuran laston AC-WC modifikasi sebesar -21,35% pada stabilitas dan -3,43% pada flow. Sesuai hasil tersebut di atas, modifikasi asbuton LGA tipe 50/30 dapat menjadi alternatif pengganti aspal penetrasi 60/70 pada campuran laston AC-WC.
ANALISIS PENGGUNAAN PASIR PANTAI, DARAT, DAN SUNGAI TERHADAP KINERJA LASTON DAN LATASTON WEARING COURSE Pataras, Mirka; Astira, Imron Fikri; Arliansyah, Joni; Rangkuti, Pandu; Roynaldo, Brian
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkerasan lentur di Provinsi Sumatera Selatan pada umumnya menggunakan pasir sungai sebagai campuran. Dalam hal ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari dan memanfaatkan alternatif lain yang jumlahnya begitu banyak disuatu daerah. Berbagai alternatif material yang bisa dimanfaatkan di daerah Sumatera Selatan dan Bengkulu ialah pasir pantai yang terdapat di Kota Bengkulu khususnya di pesisir pantai Bengkulu, pasir darat yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Musi Rawas, dan pasir sungai yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan khususnya di sepanjang Sungai Musi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari pasir pantai, pasir darat, dan pasir sungai sebagai bahan pengisi dan pengaruhnya pada campuran lapis AC-WC dan HRS-WC. Serta untuk mengetahui perbandingan kinerja karakteristik marshall dari campuran lapis tipis aspal beton yang menggunakan pasir pantai, pasir darat, dan pasir sungai sebagai bahan pengisi campuran AC-WC dan Lataston HRS-WC. Penelitian ini menggunakan campuran jenis AC-WC dengan gradasi menerus dan HRS-WC dengan gradasi semi senjang. Dengan 5 variasi kadar aspal yaitu 6,5%,7%, 7,5%, 8%, dan 8,5% dari berat campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasir sungai lebih ekonomis dibandingkan dengan pasir darat, dan pasir pantai. Karena kadar aspal optimum pasir sungai paling kecil dibandingkan kedua pasir lainnya yaitu sebesar 7,75%.
STUDI PENGGUNAAN ASBUTON JBMA-50 PADA FLEXIBLE PAVEMENT AC-WC DAN HRS-WC TERHADAP GENANGAN AIR Haki, Helmi; Pataras, Mirka; Kurnia, Aztri Yuli; Andrian, Ricky; Kurnia, Yovie
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika saat hujan, konstruksi jalan terendam dengan genangan air hujan, yang dapat mempengaruhi kualitas perkerasan aspal. Genangan air hujan ini mengakibatkan terjadinya penurunan daya dukung bagian perkerasan jalan khususnya bagian lapis permukaan.Maka dilakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan karakteristik perkerasan lentur laston wearing course (AC–WC) menggunakan aspal penetrasi 60/70 dan aspal buton modifikasi JBMA-50 apabila terkena genangan air hujan dengan variasi waktu rendaman. Dari hasil pengujian didapat KAO 5,4% untuk campuran menggunakan aspal penetrasi 60/70 dan 5,75% untuk campuran menggunakan aspal JBMA-50. Sedangkan untuk Lataston (HRS-WC), dari hasil pengujian marshall, untuk aspal penetrasi 60/70 didapat nilai KAO sebesar 7,6% dan aspal JBMA-50 sebesar 7,9%. Selanjutnya dibuat bendauji dari KAO masing-masing 2 benda uji untuk tiap aspal dengan waktu rendaman yang telah ditentukan. Hasil pengujian menunjuk kan bahwa nilai flow relative stabil sedangkan nilai stabilitas, MQ, dan VFA mengalami penurunan dan nilai VIM dan VMA mengalami peningkatan. Setelah direndam selama lebih dari 24 jam, nilai VIM sudah melewati batas spesifikasi yang diizinkan menurut spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 3.
EFEK CAMPURAN SOIL BINDER DAN ABU AMPAS TEBU TERHADAP KARAKTERISTK KUAT GESER TANAH LEMPUNG Sutejo, Yulindasari; Dewi, Ratna; Pataras, Mirka; Anugrah, Putra
Simposium II UNIID 2017 Vol 2 (2017)
Publisher : Simposium II UNIID 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lempung ekspansif merupakan kelompok tanah yang tidak baik digunakan pada pembangunan konstruksi. Tanah ini memiliki derajat pengembangan volume yang tinggi. Sehingga dilakukan penelitian mengenai sifat-sifat fisis dan mekanis agar diketahui apakah sifat-sifat tanah tersebut dapat digunakan sebagai dasar bangunan. Metode stabilisasi tanah umum dipakai dalam perbaikan sifat tanah. Pada penelitian ini, bahan stabilisasi menggunakan Soil Binder (SB) dengan variasi 20 gr/liter, 25 gr/liter, serta 30 gr/liter dan Abu Ampas Tebu (AAT) dengan variasi 4%, 8%, dan 12%. Perawatan sampel benda uji dengan variasi 0 hari, 7 hari, dan 14 hari. Berdasarkan pengujian index properties diperoleh: kadar air () 9.44%, berat jenis (Gs) 2.696, batas cair (LL) 68%, batas plastis (PL) 26%, dan indeks plastis (IP) 42%. Klasifikasi tanah di daerah Desa Gasing Tanjung Api-Api diklasifikasikan sebagai tanah lempung anorganik (USCS) dan A-7-6 (AASHTO). Nilai kuat geser (τ) tanah asli yaitu 0.223 kg/cm2, nilai kohesi (Cu) 0,220 kg/cm2, serta nilai sudut geser () 0.7o. Nilai kohesi (Cu) tanah maksimum terjadi pada persentase campuran 20 gr/liter Soil Binder SB dan 4% AAT sebesar 0.69 kg/cm2. Nilai sudut geser () tanah maksimum pada campuran 20 gr/liter SB dan 12% AAT sebesar 6.8˚ dengan persentase perubahan sebesar 871.40%. Serta nilai kuat geser (τ) tanah maksimum pada persentase campuran 20 gr/liter SB dan 4% AAT sebesar 0.709 kg/cm2. Penambahan Soil Binder dan Abu Ampas Tebu terhadap tanah lempung ekspansif dapat meningkatkan parameter kohesi (c), sudut geser(), dan kuat geser tanah (τ).
PENGARUH TUMPAHAN BAHAN BAKAR MINYAK DAN OLI TERHADAP KINERJA CAMPURAN LATASTON-WC DENGAN MENGGUNAKAN METODE MARSHALL Pataras, Mirka; Astira, Imron Fikri; Kurniawan, Fuad Hasan
CANTILEVER Vol 6, No 2 (2017): Cantilever
Publisher : Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35139/cantilever.v6i2.58

Abstract

Road pavement is structural section of traffic lane which has central position in road body. Road pavement age is related to surface durability which can be influenced by oil spill accidently especially for gasoline, diesel oil and lubricant brought by vehicle, so it may decrease road and service age. Because of that, this research will detect the fact of influences by spilling oil out to Lataston-WC. In planning pavement layer model, mix and material testing must be done. There were 15 normal samples in this research with KAR (Pb) to define KAO value and 24 samples with KAO value to be soaked with fuel and lubricant in duration vary from 1, 3 and 5 minutes. Marshall test was done by 1 hour later. Then, it was analyzed and concluded. The result showed that asphalt optimum capacity reached 6,7% which then samples be made and soaked in fuel and lubricant. For normal mix samples, stability value reached 1951,87 kg and soaked samples with 5 minutes duration reached 511,56 kg. It can be concluded that duration of soaking also influences in decreasing stability value.