D. A. Iyai, D. A.
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Sistem, Konstrain, Sustainabilitas, dan Skenario Peternakan Ayam Kampung di Manokwari, Papua Barat Homer, B. E.; Iyai, D. A.; Sangkek, M.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.24-37

Abstract

Ayam kampung telah menjadi ternak primadona bagi peternak lokal Papua. Namun, usaha beternak yang dijalankan adalah masih bersifat ekstensif. Masih banyak dijumpai constraint yang menjadi factor limitasi perkembangan peternakan ayam kampung skala rumah tangga. Penelitian lapang dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) bulan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2016 pada daerah dataran rendah di Kabupaten Manokwari yang meliputi distrik Prafi, Masni, dan Warmare. Metode penelitian yang dipilih adalah metode deskriptif dengan teknik penelitian dan pengambilan sampel adalah teknik survey dan observasi dengan pola snowball sample technique. Jumlah responden yang telah dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 98 peternak yang terdiri dari peternakan ayam etnis Papua dan Non Papua. Sebanyak 30 pertanyaan digunakan dalam kuisioner untuk interview yang terdiri dari aspek-aspek pemeliharaan ayam kampung. Analisis data menggunakan statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak ayam kampung didominasi oleh peternak etnis Non Papua dan tergolong usia produktif. Sumber matapencahariaan utama adalah sebagai Petani dengan jumlah anggota keluarga cukup kecil dan memiliki tenaga kerja per rumah tangga yang efektif. Sistim pemeliharaan secara semi-intensif dengan kandang tradisional dan bahan kandang kayu dan papan.  Tempat pakan dan minum dimiliki dalam kandang ada dengan berbagai jenis bahan yang dibuat seperti ember, gelas plastic, jerigen, alat toko, bambu, dan seng/kaleng. Pakan tambahan diberikan peternak dengan delapan kombinasi pakan dan jumlah pemberian 1-2 kg/hari dan frekuensi pemberian pagi, dan sore. Untuk air minum juga diberikan dengan air mentah, air sumur dan air masak. Permasalahan utama oleh peternak adalah penyakit, kandang/pakan dan modal usaha dan selama ini ppl yang ditemui. Penyuluhan jarang dilakukan, berkisar 1-2 kali/tahun dan peternak jarang ikut pelatihan/kursus, sehingga peternak belum merasa puas.Harapan peternak adalah bantuan bibit, kandang, obatan dan modal usaha.Kata kunci: ayam kampung, sistim peternakan, konstrain, sustainabilitas, Manokwari.
CHARACTERISTIC PERFORMANCES OF THE MAIN FOUR PIG FARMING SYSTEMS IN MANOKWARI, WEST PAPUA Iyai, D. A.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.431 KB)

Abstract

This research aimed to investigate opportunities for improving pig farming systems both in urban and rural areas of Manokwari, Papua Barat province-Indonesia. The research started by assessing the perspectives and perceptions of farmers in group meetings. A number of 386 pigs in cummulative was weighing and measured for life body weights and body condition scores. Papuan pig farmers were represented by Jayapura, Biak, Ambai and Ansus(Serui), Mee(Nabire), Arfak(Manokwari)and Ayamaru(Sorong)tribes. Non-Papuan pig farmers identified with ethnic groups of Batak, Toraja, Manado and Flores. The highest numbers of pigs kept were by semi-penned pig farmers, followed by pen and restrained pig farmers. About two hours per day was devoted to work in the restrained, semi-penned and pen pig keeping systems, while less than 1.5 hours per day was allocated by free-range pig farmers. In urban areas, feeding sources were kitchen and restaurant waste, and likewise crops and agriculture residues were in rural areas. Supplements and concentrates were used on a limited scale. Agricultural residues used were cassava, banana, taro, corn, grain and vegetable wastes. Litter sizes in the four pig farming systems were in average of 6 piglets/farrow/sow. Body condition scores were higher in pen pig keeping, i.e. 2.9 to 3, followed by semi-pen pigs, i.e. 2.1 to 3, free-range pigs, 2.1-2.8 and restrained pigs, i.e. 1.8 and 2.5 at different age levels. Economical and social quantitatives need further studies.
Quick Assessment on the Integrated Livestock Farming System in the Agro-ecological Zone of Manokoari West Papua Iyai, D. A.; Yaku, A.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.465 KB)

Abstract

A modern livestock development needs clarity and state construction, boundary, types and its dynamic production. An explorative study with survey method through Participative Rural Appraisal for one month has been used to gain recordings on resources owned by the farmers in the agroecological zone of Manokwari, including North Manokowari, South  Manokwari, Warmare, Prafi, Masni, Oransbari, Ransiki, Anggi dan Minyambouw. Agroecological characteristics were tabulated using Microsoft Office Visio. Using simple matrix, grouping was carried out according to the criteria, i.e. livestock commodity, crops commodity, fishery commodity, and biophysical components. The findings of this study were that integrated livestock farming systems in the agroecological coastal area was cattle palm farming system (cocobeef) and crops livestock farming system. In addition, backyard poultry farming system was also identified. The farming systems developed in the low-land area were cattle palm farming system, pig palm farming system, goat farming system, poultry farming system and crops livestock farming system. In highland agroecological zone, crop pig farming system, poultry farming system dan backyard cattle farming system have been developed.
Identifikasi Sistim Peternakan di Manokwari, Papua Barat-Indonesia Iyai, D. A.; Yaku, A.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.17.2.94-105.2015

Abstract

Pembangunan peternakan yang moderen membutuhkan kejelasan dan ketegasan batasan, corak dan dinamika produksinya. Penelitian eksploratif dengan metode survei melalui pendekatan Participative Rural Appraisal selama satu bulan dilakukan untuk mencatat sumberdaya yang dimiliki oleh para peternak berdasarkan kawasan agro-ekologi di Manokwari, yang meliputi Manokwari Utara, Manokwari Selatan, Warmare, Prafi, Masni, Oransbari, Ransiki, Anggi dan Minyambouw. Karakteristik agroekologi dibuat dengan software Microsoft Office VISIO. Matriks sederhana digunakan untuk pengelompokan kriteria komoditi ternak, komoditi pertanian, dan komoditi perikanan dan indikator BioFisik. Sistim peternakan terpadu yang dapat diidentifikasi pada wilayah agroekologi pesisir adalah sistim peternakan sapi berbasis tanaman kelapa (cocobeef) dan tanaman pertanian (crops livestock farming system) serta backyard poultry farming system. Pada daerah dataran rendah sistim yang dikembangkan adalah cattle-palm farming system, pig palm farming system, goat faming system, poultry farming system dan Crops livestock farming system. Pada kawasan Agroekologi Dataran Tinggi, Crop Pig Farming System, Poultry Farming System dan Backyard Cattle farming system sudah dikembangkan.
Analisis Struktur Biaya dan Pendapatan Usaha Peternakan Ayam Pedaging dengan Menggunakan Closed House System dan Open House System Pakage, S.; Hartono, B.; Nugroho, B. A.; Iyai, D. A.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 20, No 3 (2018): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.20.3.193-200.2018

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur biaya dan tingkat pendapatan usaha peternakan ayam pedaging dengan menggunakan closed house system dan open house system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi biaya tetap tertinggi pada closed house system berturut-turut adalah biaya peralatan (81,97%), biaya penyusutan kandang (14,40%), tandon air (1,66%), bangunan listrik (1,20), dan gudang (0,77%), sedangkan pada peternak open house system berturut-turut dari tertinggi adalah biaya kandang (50,26%), biaya peralatan (42,86), biaya tandon air, dan gudang. Proporsi biaya variabel tertinggi pada kedua kelompok peternak adalah biaya pakan, biaya DOC, tenaga kerja, listrik, medicine dan bahan bakar. Proporsi biaya variabel pada kedua kelompok lebih dari 97 % dari total biaya. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh peternak ayam pedaging yang menggunakan closed house system lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan open house system. Pendapatan per periode produksi yang diterima oleh peternak ayam pedaging dengan closed house system lebih tinggi bila dibandingkan dengan peternak open house system. Namun pendapatan per ekor maupun per kg bobot badan terlihat sebaliknya. Demikian juga rasio antara penerimaan dengan biaya (R/C) bahwa pada usaha peternakan ayam pedaging dengan open house system lebih tinggi (1,10) bila dibandingkan dengan pada closed house system (1,07).
Asesmen Cepat Potensi Komoditas Unggulan Peternakan Dataran Tinggi Pegunungan Arfak, Papua Barat Iyai, D. A.; Sumule, A. I.; Sagrim, M.; Baransano, M.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.147 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.2.82-88

Abstract

Penyebaran ternak di Papua Barat khususnya dataran tinggi Pegunungan Arfak telah dilaksanakan sejak dahulu. Komoditi yang telah lama disebarkan adalah ayam kampung, dan babi. Namun saat ini beragam komodoti telah dikembangkan seiring dengan tuntutan ekonomi. Sejauhmana komoditi peternakan ini bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi wilayah, perlu ada kajian lanjut. Penelitian tentang potret potensi unggulan komoditas pertanian telah dilaksanakan pada Tahun 2015 pada bulan November sampai dengan Desember. Interview dilakukan kepada beberapa petani untuk memperoleh data dan informasi kaitan dengan usahataninya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga pelaku peternakan bervariasi dari 7-85%. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga kerja masih relatif ada. Jumlah komoditi ternak yang diusahakan adalah sebanyak 6 komoditi yaitu sapi potong, kambing, babi, ayam lokal, itik dan itik manila. Nilai LQ>1 terbanyak didominasi oleh ayam kampung dan babi diikuti oleh sapi potong dan kambing. Lahan yang tersedia juga bervariasi dan dipengaruhi oleh topografi.  Kata kunci: potensi unggulan, location quotient, komoditi peternakan, dataran tinggi, Pegunungan Arfak.