Articles

Found 4 Documents
Search

Ideologi Etis Penyingkap Korupsi Birokrasi Awaludin, Arif
Pandecta: Research Law Journal Vol 11, No 2 (2016): Research Law Journal
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/pandecta.v11i2.7852

Abstract

Birokrasi dan korupsi ibarat dua sisi mata uang. Dimana ada birokrasi disitu ada korupsi. Menyingkap korupsi di lingkungan birokrasi bukanlah perkara mudah, hal itu butuh “orang dalam” untuk menyingkap korupsi tersebut, mereka adalah aparatur sipil negara. Oleh sebab itu, tindakan whistleblowing sangat dibutuhkan untuk menyingkap kasus korupsi birokrasi. Keputusan seorang aparatur sipil Negara untuk menyingkap korupsi adalah keputusan yang didasarkan ideologi etis. Keputusan ideologi etis menjadi modal utama bagi seorang penyingkap korupsi (whistleblower). Penelitian bertujuan untuk mengungkap alasan para aparatur sipil Negara tersebut dalam menyingkap korupsi yang terjadi di lingkungan kerja mereka, serta mendeskripsikan tindakan mereka dalam menyingkap korupsi birokkrasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan socio legal research, informan penelitian ini adalah para aparatur sipil negara yang menyingkap korupsi birokrasi di Jawa Tengah. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa alasan pribadi dan lingkungan merupakan alasan para aparatur sipil negara dalam menyingkap korupsi. Ideologi etis sangat berperan dalam mengungkap terjadinya penyimpangan di tempat kerja, termasuk korupsi birokrasi. Idealisme menjadi pertimbangan etis bagi para penyinngkap korupsi birokrasi. Tipologi ideologi etis yang dimiliki para penyingkap korupsi birokrasi ini adalah Idealisme Absolutists. Idealism absolutis yang dimiliki para whistleblower menjadikan mereka sebagai pihak yang dimusuhi dan disingkirkan di lingkungan birokrasi. Sangat disayangkan, tindakan mereka menyingkap korupsi birokrasi belum mendapat perlindungan hukum. Bureaucracy and corruption are like two sides of a coin. Where no bureaucracy there is no corruption. Exposing corruption within the bureaucracy is not easy. Need an “insider” to expose corruption, they are civilian state apparatus. Whistleblowing action is needed to expose the corruption of the bureaucracy. The decision of a civilian state apparatus to expose the corruption is unethical decision based ideology. Decision ethical ideology is the main basis for a personally-corruption (whistleblowers). The research aims to uncover the reasons the civilian apparatus of the State in exposing corruption in their working environment, and to describe their actions in exposing corruption birokkrasi. The study was conducted with the approach of socio legal research, informants of this study is the civilian state apparatus that exposed the corruption of the bureaucracy in Central Java. Research shows that personal and environmental reasons is the reason the civilian apparatus of the state in exposing corruption. Ethical ideology was instrumental in uncovering of irregularities in the workplace, including bureaucratic corruption. Idealism becomes penyinngkap ethical considerations for bureaucratic corruption. Typology ethical ideology personally owned the bureaucratic corruption are Absolutists Idealism. Absolutist idealism owned by the whistleblower make them as those who despised and excluded within the bureaucracy. Regrettably, their actions expose the corrupt bureaucracy has legal protection.
Ideologi Etis Penyingkap Korupsi Birokrasi Awaludin, Arif
Pandecta: Research Law Journal Vol 11, No 2 (2016): December
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/pandecta.v11i2.7852

Abstract

Birokrasi dan korupsi ibarat dua sisi mata uang. Dimana ada birokrasi disitu ada korupsi. Menyingkap korupsi di lingkungan birokrasi bukanlah perkara mudah, hal itu butuh orang dalam untuk menyingkap korupsi tersebut, mereka adalah aparatur sipil negara. Oleh sebab itu, tindakan whistleblowing sangat dibutuhkan untuk menyingkap kasus korupsi birokrasi. Keputusan seorang aparatur sipil Negara untuk menyingkap korupsi adalah keputusan yang didasarkan ideologi etis. Keputusan ideologi etis menjadi modal utama bagi seorang penyingkap korupsi (whistleblower). Penelitian bertujuan untuk mengungkap alasan para aparatur sipil Negara tersebut dalam menyingkap korupsi yang terjadi di lingkungan kerja mereka, serta mendeskripsikan tindakan mereka dalam menyingkap korupsi birokkrasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan socio legal research, informan penelitian ini adalah para aparatur sipil negara yang menyingkap korupsi birokrasi di Jawa Tengah. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa alasan pribadi dan lingkungan merupakan alasan para aparatur sipil negara dalam menyingkap korupsi. Ideologi etis sangat berperan dalam mengungkap terjadinya penyimpangan di tempat kerja, termasuk korupsi birokrasi. Idealisme menjadi pertimbangan etis bagi para penyinngkap korupsi birokrasi. Tipologi ideologi etis yang dimiliki para penyingkap korupsi birokrasi ini adalah Idealisme Absolutists. Idealism absolutis yang dimiliki para whistleblower menjadikan mereka sebagai pihak yang dimusuhi dan disingkirkan di lingkungan birokrasi. Sangat disayangkan, tindakan mereka menyingkap korupsi birokrasi belum mendapat perlindungan hukum. Bureaucracy and corruption are like two sides of a coin. Where no bureaucracy there is no corruption. Exposing corruption within the bureaucracy is not easy. Need an insider to expose corruption, they are civilian state apparatus. Whistleblowing action is needed to expose the corruption of the bureaucracy. The decision of a civilian state apparatus to expose the corruption is unethical decision based ideology. Decision ethical ideology is the main basis for a personally-corruption (whistleblowers). The research aims to uncover the reasons the civilian apparatus of the State in exposing corruption in their working environment, and to describe their actions in exposing corruption birokkrasi. The study was conducted with the approach of socio legal research, informants of this study is the civilian state apparatus that exposed the corruption of the bureaucracy in Central Java. Research shows that personal and environmental reasons is the reason the civilian apparatus of the state in exposing corruption. Ethical ideology was instrumental in uncovering of irregularities in the workplace, including bureaucratic corruption. Idealism becomes penyinngkap ethical considerations for bureaucratic corruption. Typology ethical ideology personally owned the bureaucratic corruption are Absolutists Idealism. Absolutist idealism owned by the whistleblower make them as those who despised and excluded within the bureaucracy. Regrettably, their actions expose the corrupt bureaucracy has legal protection.
Perancangan Sistem Informasi Alumni STIKOM Dinamika Bangsa Jambi Berbasis Android amroni, amroni; Awaludin, Arif; Hendri, Hendri
Jurnal Ilmiah Media Sisfo Vol 13 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Media Sisfo
Publisher : LPPM STIKOM Dinamika Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.129 KB) | DOI: 10.33998/mediasisfo.2019.13.1.414

Abstract

Saat ini penyajian Informasi alumni STIKOM Dinamika Bangsa Jambi menggunakan dua cara yaitu majalah dinding (mading) dan secara Online, baik berupa website, maupun halaman Facebook. Dari hasil wawancara yang didapat dari beberapa alumni STIKOM Dinamika Bangsa Jambi menyatakan penggunaan website masih kurang efektif, kendalanya ialah informasi yang tidak up to date, dan hasil observasi menunjukkan tampilan website tidak responsive terhadap tampilan smartphone. Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka diperlukan Sistem Informasi Alumni STIKOM Dinamika Bangsa Jambi Berbasis Android dengan menggunakan metode pengembangan sistem waterfall. Rancangan sistem dibuat dengan alat bantu pemodelan berorientasi objek yaitu Use Case, Activity Diagram, dan Class Diagram. Sistem ini diharapkan dapat membantu akses komunikasi sesama alumni secara lebih efektif, lebih responsive dengan smarthphone dan alumni dapat memberikan ataupun melihat informasi lowongan pekerjaan dan saran
TERCIPTANYA MASYARAKAT YANG BERIMAN, SEHAT, PRODUKTIF DAN KREATIF DI DESA CISEENG Gustiawati, Syarifah; Awaludin, Arif; Farida, Ayu Nur
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.228 KB)

Abstract

Desa Ciseeng merupakan salah satu desa di wilayah kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Latar belakang Pendidikan di Kp. Cibogo sangat tidak di perhatikan oleh masyarakat, Bahkan karena minimnya tingkat pendidikan desa ciseeng banyak perkawinan di bawah umur yang dilakukan oleh masyrakat, namun tidak sedikit juga yang melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak ikan, pedagang, buruh, pegawai negeri, dan lain sebagainya. Kurangnya ide dan pemahaman terhadap usaha yang dijalankan masyarakat menghambat nilai dari usaha itu sendiri. Penduduk mayoritas beragama islam. Setiap seminggu 2/3 kalinya ada pengajian di setiap RT baik bapak-bapak ataupun Ibu-ibunya dan sudah terdapat pondok pesantren di desa ini untuk menimba ilmu Agama Islam. Adat istiadat yang masih sangat kental dan masih di percayai oleh masyarkat asli membuat akulturasi budaya atau pendapat di luar sulit di terima. Sehingga ketidak selarasan antar masyarakat sangat terlihat dan sangat menganggu keharmonisan. Lingkungan hidup yang ada sangat kurang baik, di karenakan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan sangat sedikit. Hampir keseluruhan masyarakat membuang sampah dengan cara di bakar, di buang di pinggir jalan, bahkan masyarakat membuang sampah di sungai sekitar rumah mereka.